Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Ada yang menyindir


__ADS_3

Acara makan malam bersama, pun tengah berlangsung. Venza yang begitu perhatian dengan suaminya, dengan telaten ia mengambilkan makanan untuk sang suami.


"Sudah, biarin aku aja yang mengambilnya." Ucap Razen sambil menahan tangan Venza yang hendak mengambilkan lauk.


"Gak apa-apa, aku yang akan mengambilkannya untukmu." Jawab Venza yang tetap mengambilkannya untuk sang suami.


Razen yang tidak bisa melarang istrinya, pun nurut.


"Ini, makan lah. Kamu tak perlu sungkan, dan abaikan saja mereka-mereka jika membicarakan kamu atau diriku." Ucap Venza sambil meletakkan satu porsi makan malam di hadapan suaminya.


Razen tersenyum saat mendengar ucapan dari istrinya.


'Kamu benar-benar istriku yang istimewa, sikap mu begitu baik, dan tidak menyimpan kebencian apapun meski kamu sudah diabaikan.' Batin Razen sambil memperhatikan istrinya.

__ADS_1


"Kok bengong, ayo makan. Apa perlu aku suapi?" ucap Venza mengagetkan suaminya.


"Enggak, enggak perlu. Aku bisa makan sendiri, kamu makan aja." Jawab Razen menolak.


Venza pun mengangguk dan menikmati makan malamnya bersama sang suami, juga bersama anggota keluarganya.


"Ersa, suami kamu masih muda, 'kan? bisa jalan, 'kan? ups! maaf, tidak ada maksud apapun."


Saudara sepupunya pun sedikit tengah menyindir Venza maupun Razen yang tengah menikmati makan malam. Rasanya sih memang kesal, tapi keduanya berusaha untuk tetap bersikap tenang dan tidak mudah terpancing dengan ejekan lewat sindiran.


Razen yang merasa dongkol saat hinaan telah didengar begitu jelas, ingin rasanya bangkit dari posisi duduknya di kursi roda. Namun, niatnya diurungkan.


Begitu juga dengan Venza, hanya bisa menjadi pendengar dari obrolan Ersa dengan keluarga ibunya. Sedangkan sang ayah yang tengah menikmati makan malam bersama, langsung berhenti makan.

__ADS_1


"Ersa, jaga bicaramu. Habiskan makanan kamu, setelah itu, kamu cari tempat yang bisa untuk mengobrol." Ucap ayahnya Venza mengingatkan anak tirinya.


"Ya deh, ya, Pa." Sahut Ersa sambil melengos.


Venza yang telah hilang selera makan, terpaksa menghabiskan makanannya. Begitu juga dengan Razen, sama halnya yang tengah dirasakan oleh istrinya yang merasa kesal dan juga geram dengan sikap Ersa bersama keluarga ibunya.


Setelah makan malam, Venza dan Razen segera meninggalkan ruangan tersebut dan mencari tempat yang kiranya lebih nyaman.


"Maafin saudara tiri kamu ya, Nak. Kamu kan sudah paham, seperti apa sikapnya Ersa dan keluarga ibunya. Jadi, kamu tidak perlu kamu masukkan kedalam hati, anggap saja angin berlalu." Ucap sang ayah mencoba untuk tidak membuat putrinya sakit hati atas sikap saudara tirinya.


"Ya, Pa, tidak apa-apa. Karena sudah malam, Venza mau langsung pulang ke rumahnya Bi Darmi. Juga, suami Venza butuh istirahat yang cukup. Besok pagi Venza sama suami datang lagi kesini, kebetulan juga Venza belum nyari kado. Jadi, Venza mau nyari kado buat Ersa." Jawab Venza yang memilih untuk pulang.


"Ya udah kalau kalian ingin istirahat, jugaan sudah malam. Kalau tidak sempat, gak perlu juga kamu memberi kado kepada Ersa, toh si Ersa juga tidak memberimu kado. Tapi, jika kamu memaksa, Papa tidak akan melarang kamu. Ingat loh, istirahat nomor satu. Soal kado nomor sekian, yang terpenting kesehatan suami kamu. Sudah malam, pulang dan istirahat lah, besok datang lagi kesini untuk ikut acara pernikahannya Ersa." Ucap sang ayah.

__ADS_1


Venza tersenyum.


"Ya, Pa. Kalau gitu kita berdua pamit pulang, selamat malam, Pa." Jawab Venza dan bergegas pulang ke rumah Bi Darmi bersama sang suami.


__ADS_2