
Setelah Gilang keluar dari kamar kakaknya, ia pun langsung kembali ke kamarnya.
Venza yang masih berdiri didekat suaminya, pun memilih untuk diam sebelum mendapat perintah darinya.
"Kalau kamu ingin istirahat, istirahat lah. Kamu masih ada banyak waktu. Tetapi jika kamu ingin memeriksa barang pemberian dari Mama, kamu boleh mengeceknya. Takutnya ada yang kurang, atau belum dibeli." Ucap Razen pada istrinya.
"Aku tidak merasa lelah, aku akan membereskan dulu barang-barang pemberian dari orang tuamu. Oh ya, soal laptopnya bagaimana cara menyambungkan pada ..."
"Nanti aku yang akan memprogram laptop mu. Tapi sebelumnya kamu bereskan dulu dan tata dengan rapi barang barang mu itu di dalam lemari yang kosong itu. Kalau tidak keberatan, tolong ambilkan laptopku di ruang kerjaku. Kamu bisa menggunakannya kalau kamu ingin menyibukkan diri, atau ingin mencari bahan berita atau yang lainnya." Ucap Razen.
Venza mengangguk pelan, kemudian bergegas membereskan barang-barangnya. Setelah itu, dirinya masuk ke ruang kerja suaminya untuk mengambil laptopnya.
Saat baru saja masuk, Venza merasakan sesuatu pada kaki kanannya seperti tengah menginjak sesuatu.
Dengan rasa penasaran, Venza melihat ke bawah.
"Foto, foto siapa?" gumamnya penasaran.
Karena rasa ingin tahu, Venza segera berjongkok dan mengambilnya. Terkejut, itu hal biasa. Lebih lagi suaminya bukan orang biasa, tentunya tidak heran.
"Apakah ini foto pacarnya? tapi, kenapa mesti menikah denganku? Seharusnya kan, perempuan ini yang menikah, dan bukan denganku. Jangan-jangan tidak mendapatkan restu, atau meninggalkannya karena fisiknya. Ah, kenapa aku mesti memikirkannya? udah kek gak ada kerjaan lain." Gumamnya yang bertanya tanya.
Venza yang tidak ingin disangka yang tidak tidak berada di ruang suaminya dengan waktu yang cukup lama, cepat-cepat segera mengambil laptop dan bergegas keluar.
Setelah itu, Venza kembali ke kamar tanpa ia sadari masih memegang foto perempuan yang cantik.
Razen yang dapat melihatnya dengan jelas, pun melotot pada istrinya.
"Yang kamu pegang itu, fotonya siapa?" tanya Razen memergoki istrinya.
Sontak saja, Venza dibuatnya terkejut jika dirinya baru menyadari masih memegangi foto perempuan.
"Eh maaf, aku tidak sengaja menemukan foto perempuan cantik ini. Tadi waktu aku membuka pintu, eee kaki aku menginjak foto. Terus, aku ambil, dan akhirnya aku lupa dan membawanya." Jawab Venza dengan gugup, takutnya akan mendapatkan marah dari suaminya.
"Sobek foto itu menjadi beberapa bagian, dan buang ke tong sampah." Perintah Razen yang masih menatap istrinya yang begitu serius.
"Disobek dan dibuang?" tanya Venza seperti tak percaya, terlalu kejam ketika harus menyobek foto yang tidak bersalah, lebih lagi membuangnya ke tempat sampah, pikir Venza yang tidak tau apa-apa.
"Ya, buang. Bila perlu dibakar sekalian, biar gak bikin mata kotor." Jawab Razen dengan entengnya.
"Foto ini kan, cantik. Sayang sekali kalau harus dibuang."
"Terus, mau diapain kalau tidak dibuang, ha? Kamu mau, suami kamu ini terus memandangi foto perempuan lain, gitu kah? cepat kamu sobek dan buang ke tempat sampah kalau kamu tidak ingin melihatku terus menerus memikirkan perempuan itu." Jawab Razen dengan rasa malas untuk menjelaskannya pada sang istri.
Venza yang masih sulit untuk mencerna ucapan dari suaminya, pun hanya diam dan melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya.
'Ni orang kenapa lah, perasaan dari kemarin tuh sensitif banget. Mana adiknya sendiri juga kena marah, nih lagi kek orang aneh.' Batin Venza sambil menyobek foto milik mantannya Razen.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Razen masih memandangi istrinya yang baru saja menyobek foto mantan kekasihnya.
"Ya, udah aku sobek dan juga sudah aku buang ke tempat sampah. Memangnya foto perempuan tadi itu, siapa? apa kekasihmu?"
Saat itu juga, Venza langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena takut, juga merasa salah berucap.
"Bukan siapa-siapaku lagi, lupakan dan tidak perlu membahasnya. Mana, laptopnya."
Venza langsung mengambilkan laptop yang ada di atas meja, dan memberikannya kepada suami.
"Kamu bisa gunakan sesuai keinginanmu, tapi tidak untuk macam-macam." Ucap Razen sambil memberi peringatan kepada istrinya.
"Ya, makasih sudah mau mengizinkan aku untuk menggunakan laptop milikmu."
Razen mengangguk masih memandangi istrinya.
"Bangunkan aku jam tiga, setelah itu kamu bantu aku untuk belajar berjalan menggunakan tongkat sesuai saran darimu." Ucap Razen berpesan.
Venza mengangguk.
"Ya, aku siap membantumu untuk latihan berjalan menggunakan alat bantu seperti tongkat penyangga. Aku menyarankan untuk menghindari kursi roda, itu saja." Jawab Venza.
"Sudah sana duduk, aku ingin istirahat." Kata Razen dan langsung mengubah posisinya untuk miring ke kiri, karena tidak memungkinkan dirinya untuk miring ke kanan, sakit yang tengah dialaminya bagian kakinya yang kanan.
Venza yang tidak ingin mengganggu suaminya istirahat, dirinya segera duduk di sofa sambil menyalakan laptopnya.
Meski berasal dari kampung, Venza juga pernah kuliah, hanya saja harus gagal disaat cita-citanya hampir tergapai.
"Andai saja Mama masih hidup, mungkin aku sudah sibuk dengan karirku untuk bekerja di kantoran. Tapi, kenyataannya Mama meninggalkan aku untuk selamanya, dan saat itulah aku harus berhenti kuliah, hanya demi Ersa yang dimanja." Gumam Venza yang kembali teringat dengan masa lalunya.
Karena tidak ada yang perlu ia mencari kabar berita atau yang lainnya, Venza memilih untuk mencari kesibukan lainnya. Namun, tiba-tiba pandangannya Venza tertuju pada file.
'Aku ini siapa? lancang sekali jika aku membukanya. Biarlah, urusannya yang akan menjadi urusannya, bukan urusanku.' Batin Venza dan memilih untuk mematikan laptopnya.
Karena tidak ada yang penting untuk mencari informasi, Venza memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya untuk memeriksa pesan masuk ke alamat @mail-nya, atau pesan dari media sosial lainnya.
Benar saja, deretan pesan masuk tengah mengantri untuk dibaca.
"Ardo, ada apa dengannya? tumben sekali kirim pesan sebanyak ini." Gumam Venza merasa ada rasa takut jika ketahuan suaminya.
Karena tidak ingin ketahuan, Venza cepat-cepat membacanya.
"Venza, aku sedang dalam perjalanan ke kota. Doakan aku ya, semoga diterima kerja, dan bisa bertemu denganmu lagi. Kamu tahu gak, aku kangen banget sama kamu, Ven. Rasanya hampa di rumah tidak pernah melihat kamu, aku kangen dan ingin banget kita bertemu." Ucap Venza dengan lirih saat membaca pesan masuk dari Ardo.
'Aku harus jawab apa? tidak mungkin juga jika aku mengatakannya langsung dengan statusku yang sekarang ini, yang ada aku gak tahu apa jadinya. Mungkin dengan cara bertemu, aku baru bisa mengatakan yang sejujurnya.' Batin Venza yang tengah bingung.
"Aw!" pekik Venza saat punggungnya mendapat lemparan bantal dari suaminya.
__ADS_1
"Berikan ponselmu padaku, cepat." Perintah Razen sambil menatap istrinya.
"Untuk apa?" tanya Venza dengan gugup.
"Cepat berikan padaku sekarang jugaa, cepat."
Kini nada suara Razen semakin meninggi.
Venza yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau akhirnya memberikannya kepada suaminya. Takut, itu sudah pasti. Lebih lagi pesan masuk dari Ardo sangatlah menakutkan jika suaminya membacanya.
Belum juga sempat menghapus, rupanya ketahuan suaminya tengah sibuk dengan ponselnya.
Dengan langkah kakinya yang pelan, Venza mendekati suaminya. Kemudian, Razen meminta istrinya untuk menyerahkan ponselnya.
"Kok tegang gitu, kamu sedang tidak melakukan kesalahan, 'kan?"
Venza masih diam. Dirinya tidak tahu antara memang salah, atau memang tidaklah bersalah.
Razen yang baru saja menerima ponsel dari istrinya, pun segera membukanya.
"Berapa kodenya?" tanya Razen masih menatap wajah istrinya yang terlihat gelisah.
"Tiga kosong satu kosong tujuh tiga, itu nomor kode ponselku." Jawab Venza sambil mere_mas ujung bajunya karena takut dan juga gugup.
"Oh, ok." Ucap Razen dan langsung membuka layar ponsel dengan kode yang diberikan istrinya.
Setelah layar kunci terbuka, Razen membuka panggilan masuk terlebih dahulu. Kosong, tidak ada panggilan masuk ataupun panggilan tidak terjawab. Juga, tidak ada panggilan keluar.
Razen mendongak dan menatap wajah istrinya kembali. Kemudian, ia kembali fokus dengan layar ponsel milik istrinya
Rasa penasaran yang masih tersimpan dalam benak pikirnya, pun pikirannya tertuju pada pesan masuk yang belum ia buka. Awalnya membuka pesan masuk lewat pesan biasa, kosong.
Razen mengatur napasnya, dan dilanjut membuka pesan masuk lewat media sosial yang kebanyakan orang pakai.
Lagi-lagi Razen mendongak pada istrinya, dan menatapnya penuh selidik.
Karena masih penasaran, Razen membukanya dan mengoreksi pesan masuk.
"Ardo." Ucap Razen menyebut nama kontak yang belum lama pesan telah masuk ke nomor ponsel milik istrinya.
Razen kembali mendongak, Venza semakin gugup dibuatnya.
"Siapa Ardo?" tanya Razen terdengar menyelidik.
"Teman di kampung, tidak lebih." Jawab Venza seperti tengah diinterogasi.
"Serius hanya teman? kamu sedang tidak bohong, 'kan?" tanya Razen kembali.
__ADS_1
"I-i-iya, aku serius. Dia memang menyukaiku, tapi aku tidak pernah menerimanya." Jawab Venza yang akhirnya berterus terang.
Razen tidak menanggapinya, dan memilih untuk membaca pesan masuk dari Ardo.