
Hari yang dinantikan oleh sepasang calon suami-istri, kini telah tiba waktunya acara akan segera dimulai.
Ersa yang tengah di rias dan di make-up, hatinya tengah berbunga-bunga karena sebentar lagi akan resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang akan menikahinya.
Berbeda dengan Venza, kini tengah melamun di jendela kamar.
Razen yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia langsung mendekati istrinya yang tengah melamun. Kemudian, dengan pelan langsung memeluknya dari belakang. Tentu saja, Venza dibuatnya kaget.
"Kamu sedang melamun apa, istriku? hari ini adalah hari pernikahan saudara tiri kamu, apakah kamu tidak datang di hari pernikahannya?"
Venza langsung memutarbalikkan badan dan menatap suaminya.
"Tentu saja aku akan datang, dan akan memberi ucapan selamat untuknya." Jawab Venza berusaha untuk tersenyum, meski terpaksa.
Razen langsung memeluknya kembali, hingga Venza tidak bisa untuk melepaskannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang? apa kamu merindukan ibumu?" tanya Razen sambil memeluk istrinya.
Venza mengangguk.
__ADS_1
"Aku kangen ibu," jawab Venza yang tiba-tiba terisak berada didalam pelukan suaminya.
Razen berusaha untuk menenangkan hati istrinya, ia mengusap punggungnya pelan. Kemudian, Razen melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
"Daripada kamu bersedih seperti ini, bagaimana kalau kita bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan saudara tiri kamu. Aku tahu posisi kamu saat ini, juga bukan hanya kamu merindukan ibumu, tapi pernikahan Ersa, saudara tiri kamu. Sudahlah, ada kalanya kebahagiaan itu tidak melulu dengan formasi yang lengkap, tapi bagaimana kita menerima kebahagiaan itu sendiri. Ayo, kita bersiap-siap, kita akan datang ke acara saudara tiri kamu. Soal kado, nanti menyusul. Aku sudah meminta pak Erik untuk mencarikannya."
Venza yang mendengar ucapan dari suaminya, pun mengangguk dan tersenyum, meski senyumannya sangat tipis.
"Terima kasih banyak ya, kamu sudah mengingatkan aku. Maafkan aku, jika aku seperti anak kecil yang sulit untuk menerima kenyataan." Jawab Venza, kemudian ia menunduk.
Razen yang melihat istrinya menunduk, ia langsung mengangkat dagunya. Lalu, mendekatkan bibirnya hingga menyentuh bibir ranum milik istrinya dan menci_umnya dengan lembut. Razen benar-benar merasa tengah memenangkan hati istrinya.
Razen yang tidak ingin kebablasan, ia segera menyudahinya. Setelah itu, mengusap bibir milik istrinya.
"Aku tidak akan memaksa mu, aku akan menunggu waktu yang tepat, waktu dimana kamu sudah siap lahir dan batin mu. Lupakan sejenak, ayo kita bersiap-siap." Ucap Razen setelah mengusap bibir milik istrinya yang basah karena ulahnya.
Venza meraih tangan suaminya, dan menggenggamnya.
"Aku siap, kapanpun aku harus mela_yani kamu." Jawab Venza dan langsung memeluk suaminya.
__ADS_1
Razen benar-benar bahagia mendengar jawaban dari istrinya, jawaban yang tidak pernah disangkakannya.
Razen membalas pelukan istrinya, dan dilepaskan kembali.
"Nanti kita terlambat, ayo kita bersiap-siap." Ucap Razen dan mengajak istrinya untuk bersiap-siap.
Venza mengangguk dan keduanya segera bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan saudara tirinya.
Dengan pakaian yang sudah disiapkan sebelumnya, Razen dan Venza tengah mengenakan baju yang begitu serasi dan keduanya terlihat sama-sama cocok untuk menjadi pasangan suami-istri.
"Kamu cantik sekali, sayang. Serasa tidak rela membawamu ke acara pernikahan saudara tiri kamu."
"Kenapa?"
"Kamu terlalu cantik untuk menghadiri acara pernikahan saudara tiri kamu. Takutnya, nanti banyak yang godain kamu."
"Hem.Terus, aku harus ganti baju, gitu kah?"
"Jangan dong, sayang. Ya udah yuk, kita berangkat, takutnya nanti kita terlambat." Jawab Razen dan mengajak istrinya berangkat, Venza mengiyakan.
__ADS_1