
Kini tinggallah ayah dan ibu mertua beserta adik ipar yang tengah berada di ruang tamu bersama Venza. Perasaan gugup yang seumur hidupnya tidak pernah terbayang akan dipertemukannya dengan pernikahan yang sama sekali tidak ada dalam benak pikirannya.
"Nandini, antar kakak ipar kamu ke kamarnya." Perintah ibunya.
"Ya Ma, nanti Nandin antar Kak Venza ke kamar." Jawab Nandin dibarengi anggukan.
"Nak Venza, kamu jangan takut. Suami kamu memang mempunyai sikap dingin, besok Mama akan ceritakan semuanya padamu agar tidak kaget saat menghadapi suami kamu. Sekarang kamu boleh masuk ke kamar dan beristirahat. Kalau ada apa-apa, kamu boleh minta tolong sama asisten rumah. Ya udah ya, Mama juga mau istirahat, selamat malam." Ucap Ibu mertuanya begitu santun, juga terlihat mudah untuk dekat dengan menantunya.
"I-i-iya Ma, selamat malam." Jawab Venza dengan gugup.
Ibu mertua tersenyum ramah saat hendak pergi ke kamar.
Venza yang tidak lagi melihat bayangan ibu mertua ataupun ayah mertua, seolah akan menghadapi masalah baru.
"Ayo Kak, aku antar Kakak ke kamarnya Kak Razen, suami Kakak." Ajak Nandin sambil menggandeng tangannya.
Venza masih diam, terasa berat untuk melangkahkan kakinya menuju kamar suaminya. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya karena gugup dan juga takut.
__ADS_1
"Kak Venza gak usah takut, Kak Razen gak jahat kok, cuma galak aja. Ya gak galak sih, cuma dingin, juga sedikit ada perubahan atas suasana hatinya." Ucap Nandin dan nyengir kuda.
"Kakak hanya takut aja, soalnya Kakak belum mengenalinya sama sekali, Nan." Jawab Venza dengan gugup.
"Besok Kak Venza bakal tahu tentang Kak Razen dari Mama, soalnya aku tidak lagi mempunyai waktu untuk bercerita dengan Kakak. Jadi, biar Mama yang akan menceritakan semuanya sama Kakak. Karena ini sudah malam dan waktunya untuk istirahat, lebih baik Kak Venza segera beristirahat. Yuk, aku antar Kakak sampai ke kamar." Ucap Nandin mencoba untuk meyakinkan kakak iparnya dan mengantarkan sampai di dalam kamar.
"Kak Gilang ngagetin saja deh. Ngomong-ngomong Kak Razen lagi ngapain? belum tidur, 'kan?"
Gilang yang baru saja keluar dari kamar kakaknya, pun mengangguk saat mendapat pertanyaan dari adik perempuannya.
Venza hanya tersenyum juga mengangguk. Kemudian, Nandin segera mengajak kakak iparnya masuk kedalam kamar.
"Kakak takut, Nan." Ucap Venza saat pintu kamar dibuka oleh Nandin.
"Kak Venza gak perlu takut, masuk aja ke dalam. Tenang aja, Kak Razen gak bakal memangsa kok, serius. Sudah buruan Kak Venza cepetan masuk." Jawab Nandin sambil mendorong tubuh kakak iparnya hingga terdorong masuk kedalam kamar.
Saat itu juga, Nandin langsung menutup pintunya dan membuang napasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Maafkan aku ya Kakak ipar, karena gak mungkin juga aku ikutan masuk ke kamar, yang ada Kak Razen menjadi sensitif, ujung ujungnya aku juga bakal diusir sama Kak Razen." Gumamnya sambil bersandar di pintu.
Sedangkan Venza yang tengah berdiri di dekat pintu, pun bingung dibuatnya, dan tidak tahu harus ngapain dan bicara apa. Lebih lagi belum mengganti pakaiannya, tentu saja semakin gugup dan tidak karuan pikirannya.
Dengan gemetaran, Venza mere_mas baju sampingnya karena gugup dan juga ada rasa takutnya.
"Mau sampai kapan kamu akan terus berdiri di situ, ha? cepat kamu ganti bajumu, bila perlu mandi sekalian, setelah itu istirahatlah. Aku tidak mau ada drama darimu, seolah teraniaya dan terpaksa. Jadi, cepetan kamu bersihkan badanmu itu. Semua baju ada didalam lemari bagian pinggir sebelah kiri, semua kebutuhan kamu sudah ada di dalamnya." Ucap Razen dengan tatapan yang begitu datar dan terdengar dingin.
Venza yang berusaha mencerna semua yang sudah diucapkan oleh suaminya, dirinya segera bergegas pergi ke kamar mandi. Namun sebelumnya baru ingat jika belum mengambil baju ganti.
Setelah mengambilnya, Venza cepat-cepat masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan diri. Saat kedua matanya menghadap pada cermin, sungguh tidak menyangka jika dirinya telah bersuami.
'Andai saja Mama masih hidup, mungkin tidak akan seperti ini nasibku. Papa juga, kenapa begitu teganya menukar putrinya dengan uang. Sungguh aku merasa hina dihadapan suamiku sendiri.' Batinnya dan tanpa sadar tengah meneteskan air matanya.
Venza yang tidak ingin mendapatkan masalah dari suaminya karena mandi dengan waktu yang lama, secepatnya segera membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi.
Disisi lain, Razen yang belum bisa tidur, dirinya mencoba menyibukkan diri dengan ponselnya.
__ADS_1