Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Sedikit khawatir


__ADS_3

"Venza, kamu mau kemana?" tanya Ardo yang baru saja datang.


"Eh Ardo, ini aku mau bekerja bareng Bibi aku, kenapa? maaf ya, aku gak sempat berpamitan sama kamu."


"Seriusan, kamu mau bekerja bareng Bibi kamu?" tanya Ardo yang penasaran, lebih lagi penampilan Venza yang sedikit terlihat berbeda dan tidak seperti biasanya yang haya mengenakan kaos oblong, jaket, dan celana jeans.


Tapi tidak dengan sekarang, penampilannya justru tidak jauh beda dengan anak kuliahan yang mengenal fashion. Tentu saja membuat Ardo menyimpan banyak tanda tanya di dalam benaknya.


"Ya Nak Ardo, Venza mau ikut Bibi bekerja di kota. Soalnya bekerja di kampung sini pendapatan minim, juga lama ngumpulnya." Jawab Bi Darmi yang memberi jawaban atas pertanyaan dari Ardo.


"Ya Do, yang dikatakan Bi Darmi itu benar. Ya sudah ya, aku pamit dulu. Sampai bertemu lagi di kesempatan waktu, maafkan aku yang sudah membuat ibumu marah. Nanti kalau aku sudah dapat uang, aku bakal bayar hutang ku sama kamu yang dulu itu." Ucap Venza.


"Gak perlu kamu membayarnya, aku sudah ikhlasin kok Ven. Kamu yang hati-hati kerjanya, aku tunggu kamu pulang." Kata Ardo.


Karena tidak ingin pulangnya kemalaman, Bi Darmi segera mengajak Venza maupun ibu tiri dan abangnya Bi Darmi sendiri.


Selama dalam perjalanan, Venza memilih untuk bersandar di jendela kaca mobil. Sejauh melewati jalanan, rupanya membuat sosok Venza terlelap dari tidurnya. Bahkan, tidak terasa juga sudah sampai di halaman rumah tanpa disadari oleh Venza, lantaran selama perjalanan memilih untuk tidur, ia bangun ketika waktu jam makan siang.

__ADS_1


"Nak Venza, kita sudah sampai." Panggil Bi Darmi sambil menggoyangkan badan Venza untuk membangunkannya.


Venza yang masih belum penuh kesadarannya, ia mengucek kedua matanya. Juga, pelan-pelan ia membuka kelopak matanya untuk menyempurnakan penglihatannya.


"Kita ada dimana Bi?" tanya Venza yang justru balik bertanya bukannya menjawab panggilan Bibinya yang mengatakan sudah sampai.


Venza yang masih merasa ngantuk, berkali-kali dirinya kembali menguap lagi dan lagi.


"Kita ini sudah sampai, ayo turun."


"Apa Bi! sudah sampai?"


"Ya Nak Venza, kita sudah sampai. Ayo kita turun, nanti kita lewat garasi mobil, biar kamu gak langsung bertemu majikannya Bibi. Takutnya nanti kamu malu duluan, jadi Bibi maunya kamu mandi dulu. Setelah itu, baru deh Bibi akan pertemukan kamu dengan majikan, maksudnya calon mertua kamu."


"Begitu ya Bi, tapi aku takut."


"Jangan takut, majikannya Bibi itu orangnya sangat baik. Sudahlah jangan dibuat pusing, ayo kita rurun." Ajak Bi Darmi dan mengajak keponakannya masuk lewat garasi mobil sesuai perintah majikannya untuk membersihkan diri agar tidak terasa lesu ketika bertemu.

__ADS_1


Venza yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa nurut. Sedangkan orang tuanya yang tidak dalam satu mobil, pun baru saja sampai.


"Wah, besar banget halaman rumahnya Pa. Pasti sangat tajir, kalau gitu nanti kita minta tambahan ya Pa. Sayang loh, kesempatan emas disia-siakan." Kata ibu tirinya Venza.


Meski pak supir sudah keluar dari mobil, percakapannya pun terekam tanpa sepengetahuan ayah Venza dan ibu tirinya.


Saat itu juga, keduanya dibawa ke ruang tamu oleh salah satu asisten rumah yang sudah diperintahkan oleh pemilik rumah.


Sedangkan Venza sendiri sudah diajak Bi Darmi masuk ke rumah yang begitu besar dan mewah. Kemudian, mengajaknya ke kamar yang sudah disiapkan oleh majikannya.


Kamar untuk tamu, tetap terlihat mewah dan juga nyaman.


"Bi, ini kamar gede banget. Mana bagus banget lagi, kamar tidurku saja kalah, bahkan sangat jauh perbandingannya."


"Namanya juga kamarnya orang kaya, Nak. Ini mah belum seberapa dengan kamarnya calon suami kamu. Kamarnya tuh lebih luas dari ini, juga lebih bagus lagi. Ini mah kamar tamu, siapa saja bisa tidur di sini." Jawab Bi Darmi sambil menyiapkan pakaian lengkap untuk keponakannya yang ia ambil dari paper bag dari majikannya yang memang sudah disiapkan.


"Ini, kamu mandi dulu, dan setelah itu, ini baju kamu pakai. Ingat ya, jangan gugup."

__ADS_1


"Ya Bi, semoga aja gak gugup." Kata Venza, yang sebenarnya memanglah gugup dan juga dipenuhi rasa kekhawatiran.


__ADS_2