
Selesai sarapan pagi, Venza dan suami segera kembali ke kamar. Kemudian, Venza segera bersiap-siap untuk berangkat bersama adik iparnya. Sedang Razen tengah mengambil sesuatu di dalam lemari kecil yang terdapat laci. Kemudian ia mengambil sesuatu yang ada di dalamnya berupa ponsel.
"Aku berangkat ya, nanti aku panggilkan Pak Erik." Ucap Venza berpamitan.
"Gak perlu kamu panggilkan Pak Erik, aku bisa memanggilnya sendiri. Kalau kamu mau berangkat, berangkat aja. Ini ponsel untuk kamu. Jika aku tengah menelpon mu, segera kamu terima panggilan dariku." Jawab Razen dan memberi istrinya sebuah ponsel baru, entah sejak kapan sudah membelinya.
"Gak perlu, aku sudah punya ponsel sendiri."
"Kenapa? apa kamu tidak mau aku hubungi?"
"Bukan begitu, ponselku masih bisa aku pakai. Jadi, mendingan aku kasih nomor ponselku sama kamu, bagaimana?"
"Aku tidak butuh nomor ponselmu, lupakan." Ucap Razen yang entah kenapa berubah menjadi sensitif.
"Aku minta maaf. Baiklah aku akan gunakan ponsel darimu, aku berangkat." Jawab Venza berpamitan.
Razen sama sekali tidak menanggapinya, dan memilih untuk masuk ke ruang kerjanya. Sedangkan Venza yang tidak ingin membuat kedua adik iparnya menunggu lama, ia segera keluar dari kamar.
"Kakak sudah siap untuk berangkat?" tanya Nandin.
"Sudah, tapi ..."
"Tapi kenapa Kak?"
"Gak ada apa-apa, Kakak cuma kepikiran sama suami Kak Venza aja. Takutnya marah dan tidak mengizinkan Kak Venza untuk kuliah, hanya itu aja sih Nan."
Nandini tersenyum saat mendengar keluhan kakak iparnya.
"Berarti Kak Razen takut kehilangan Kakak, cie ...."
__ADS_1
"Kok Cie, saling kenal aja belum, takut kehilangan. Kamu ini ya, sama aja kek Pak Erik, suka meledek Kakak."
"Sudahlah Kak, yuk kita berangkat. Kasihan Kak Gilang sudah menunggu kita di depan rumah, biarin aja Kak Razen ditemani Pak Erik." Ucap Nandin yang langsung meraih tangan kakak iparnya dan menariknya untuk segera keluar dari rumah.
Selama perjalanan, Venza terus melihat jalanan lewat jendela kaca. Ingatannya kembali di kampung halamannya, sungguh kehidupan yang berbeda jauh dengan suasana di kampung dengan di kota.
Saat itu juga, Venza dikagetkan dengan suara deringan ponselnya.
"Terima saja loh Kak, tidak apa-apa kok. Jugaan kita tidak merasa diganggu, siapa tahu aja penting." Ucap Nandin.
"Serius?" tanya Venza memastikan.
Nandin sendiri menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Ya Kak, Terima aja tidak apa-apa, takutnya penting." Timpal Gilang ikut menimpali sambil fokus dengan setirnya.
"Ya Ardo, ada apa?" tanya Venza dengan menyebut nama si penelpon.
Dengan fokus, Venza mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Ardo, teman yang ada di kampungnya, juga lelaki yang sudah berkali-kali mengungkapkan perasaan cintanya.
"Apa! kamu mau ke kota? maksudnya kamu mau kerja di kota begitu kah?"
Seketika, Nandin maupun Gilang dipenuhi dengan perasaan curiga dengan siapa kakak iparnya bicara lewat panggilan telepon.
"Oh, begitu ceritanya. Aku doakan semoga kamu berhasil dan juga sukses. Soal untuk bertemu sepertinya aku tidak bisa menentukan, maaf. Ya udah ya, aku buru-buru ada sesuatu yang penting untuk aku kerjakan, sampai jumpa." Ucap Venza yang tidak ingin membuat kedua adik iparnya bertambah curiga.
"Siapa Kak tadi yang menelpon?" tanya Nandin dengan berani.
"Teman Kak Venza yang ada di kampung. Katanya sih mau bekerja di kota, tapi gak tau juga. Kakak hanya menyemangatinya saja, juga mendoakan, bukankah begitu sebagai seorang teman?"
__ADS_1
"Iya Kak, benar. Kirain tadi pacarnya Kakak di kampung, secara pernikahan Kak Venza dan Kak Razen kan sebuah perjodohan. Tidak menuntut kemungkinan jika Kak Venza mempunyai kekasih. Maaf Kak, jika aku sudah berlebihan." Ucap Nandin karena penasaran.
"Tidak apa-apa, kamu gak berlebihan. Justru pertanyaan kamu itu benar. Kak Venza tidak punya pacar, dan laki-laki barusan yang menelpon memang sering mengungkapkan perasaan cintanya, tapi entah kenapa sedikitpun Kakak tidak bisa tertarik, dan Kakak juga selalu menolaknya. Kak Venza hanya menganggapnya teman, tidak lebih. Soalnya dia itu baik dan selalu membantu Kakak saat Kakak ada kesulitan." Jawab Nanti dan akhirnya berterus terang.
"Ya iya lah Kak, baik dan mau membantu, kan suka sama Kakak. Tapi salut juga sih sama Kak Venza, mempunyai pendirian yang positif. Aaaa ... apa ini yang namanya jodoh itu gak akan kemana, jodohnya Kak Razen maksudnya. Nandin benar-benar sangat beruntung mempunyai Kakak ipar seperti Kak Venza." Ucap Nandin dan langsung merangkul kakak iparnya.
"Ekhem, diam lah dan jangan berisik." Timpal Gilang ikut bicara meski sambil menyetir mobilnya.
"Ya deh ya, Kakak kedua." Jawab Nandin dan menggoyangkan badannya sambil merangkul kakak iparnya.
Begitu juga di lain tempat, tepatnya di ruang kerja ada Razen tengah senyum-senyum sendiri saat fokus dengan ponselnya. Bahkan, tanpa ia sadari bahwa pak Erik tengah memperhatikannya.
"Tuan, tumben senyum senyum sendiri. Jangan-jangan Tuan sedang memikirkan Nona Venza, benarkah Tuan?"
"Dih! pak Erik sok tau, aku lagi memikirkan jika aku sudah bisa berjalan, hem."
"Kirain, Tuan."
"Hem. Oh ya Pak Erik, bisa minta tolong gak?"
"Minta tolong apa, Tuan?" tanya Pak Erik penasaran.
Lebih lagi jika majikannya tengah berubah pesat setelah menikah, tentunya dipenuhi dengan rasa penasaran dan juga menyimpan sejuta pertanyaan.
"Pesankan alat bantu untuk berjalan, maksudnya tongkat penyangga." Jawab Razen.
"Tuan serius? memangnya Tuan mau memakainya?"
"Jangan banyak protes, segera pesankan." Jawab Razen yang tidak sabar.
__ADS_1