Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Belajar memasak untuk suami


__ADS_3

"Kakak tahu kalau kamu masih berdiri dibelakang pintu. Sekarang juga cepetan kamu pergi, jangan berani beraninya memancing emosi." Ucap Razen.


"Ya, aku akan pergi. Tapi, jangan marahi Kakak ipar, dia tidak bersalah. Kalau mau marah, marah saja denganku, tapi tidak untuk Kakak ipar." Jawab Gilang yang akhirnya menjawab ucapan dari kakaknya.


"Mau marah atau enggaknya, itu urusanku. Dia istriku, bukan istrimu." Ucap Razen dengan kesal.


"Baiklah, aku akan pergi. Aku minta maaf, jika aku sudah membuat Kak Razen marah." Jawab Gilang dan bergegas pergi meninggalkan dapur.


Sedangkan Venza merasa takut ketika mendapati suaminya tengah emosi.


'Semoga saja Bi Darmi segera datang kemari, setidaknya aku ada alasan agar aku tidak melulu selalu dimarahi.' Batin Venza sedikit gemetaran.


"Buatkan aku sup iga, juga ikan panggang yang ditabur dengan daun bawang, jahe iris, bawang putih cincang halus, terus kecap asin, jangan campuri bahan yang lainnya. Setelah matang, kamu bisa membawanya ke taman belakang. Kalau kamu tidak bisa memasak, kamu bisa minta bantuan sama asisten lain, atau Bi Darmi." Ucap Razen memberi perintah kepada istrinya.


"I-i-iya, aku akan memasakkan nya untuk kamu." Jawab Venza setengah membungkuk.

__ADS_1


"Satu lagi, sup iganya cukup dengan jahe geprek dan bawang putih geprek, dan garam secukupnya." Ucap Razen memberi pesan kepada istrinya.


Venza mengangguk dan menyiapkan bahan makanan untuk suaminya. Setelah itu, dirinya baru akan meminta bantuan kepada asisten rumah.


Razen yang tidak mau perasaan kesalnya semakin menambah ketika dirinya harus menunggu istrinya, Raze memilih untuk pergi ke taman dengan kursi rodanya.


Bi Darmi yang baru saja diomongin oleh Gilang untuk segera pergi ke dapur, segera melihatnya.


"Nona Venza, lagi sibuk ya?" tanya Bi Darmi mengagetkan.


"Bi Darmi, ngagetin aja deh. Kok panggil Nona segala sih Bi, panggil aja seperti biasanya. Venza kan keponakannya Bibi, masa begitu panggilannya."


Bi Darmi justru tersenyum mendengarnya.


"Kamu ini ngomong apa sih, mulai sekarang dan seterusnya, kamu tetap Nona muda di rumah suami kamu."

__ADS_1


"Dih, Bi Darmi mah ngada ngada kalau ngomong. Keponakan, selamanya akan menjadi keponakan, gak lebih." Kata Venza yang menolak dengan panggilan yang baru dari adik ayahnya.


"Kamu ini kan sudah menjadi istri majikannya Bibi, tentu saja harus menghormati suami kamu dan juga mertua kamu." Ucap Bi Darmi.


"Terserah Bibi saja, mau panggil Venza juga boleh, Nona juga boleh, tapi geli dengernya Bi. Sudah kek macam dunia novel aja." Jawab Venza sedikit risih dengan panggilan Nona.


"Kalau boleh tahu, kamu mau ngapain, masak?"


"Iya nih Bi, Venza mau masakin buat suami. Tapi, Venza belum begitu bisa. Bukannya gak bisa, cuma belum mengerti caranya bagaimana. Bibi mau kan, ajarin Venza masak?"


"Tentu saja, Bibi akan ajarin kamu masak. Soalnya Tuan Razen tidak menyukai masakan diluar, bisa dikatakan jarang makan di luar. Tuan Razen lebih suka masakan di rumah, katanya lebih terjamin dan tidak diragukan lagi dari segi apapun."


"Ya kah Bi? syukur lah kalau lebih suka makan di rumah, jadi Venza mempunyai kegiatan lain selain merawat suami. Tentu saja tidak jenuh dan juga bosan. Ya udah deh Bi, sekarang ajarin Venza masak." Ucap Venza dan meminta diajarin.


Bi Darmi pun tersenyum dan mengajari keponakannya untuk memasak.

__ADS_1


Di lain sisi, Razen tengah bersantai di taman belakang. Saat itu juga, Gilang menghampiri dan ikutan duduk santai di dekat kakaknya.


__ADS_2