Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Mencoba untuk tidak egois


__ADS_3

Gilang masih memperhatikannya.


"Venza benar-benar seorang istri idaman untuk setiap lelaki, Kak Razen pasti sangat beruntung memilikinya. Aku memilih untuk mundur, dan juga terlalu egois jika aku mengharapkannya." Gumam Gilang sambil memperhatikan ibunya bersama kakak iparnya yang tengah duduk bersama saling berbagi cerita.


Tanpa disadari Gilang juga, rupanya sang ayah berdiri di belakang putranya dan dapat mendengarkannya.


"Kamu tidak perlu berkecil hati, anakku. Suatu saat nanti kamu juga akan menemukan seorang istri yang baik seperti kakak iparmu, semoga." Ucap ayahnya berbicara dibelakang putranya.


Gilang yang dikejutkan dengan ucapan ayahnya, pun langsung menoleh ke sebelahnya.


"Papa, sejak kapan Papa ada di belakang ku?"


"Sejak kamu memperhatikan Mama kamu dan kakak ipar mu. Terkadang jodoh itu datang tanpa kita duga, juga tanpa kita ketahui sebelumnya. Ada dari jarak dekat, bisa juga dengan jarak yang jauh. Bersabarlah, mungkin setelah ini gantian kamu yang akan meraih kebahagiaan sama seperti kakakmu Razen."


"Semoga saja, Pa. Gilang tidak begitu menggebu, biarkan semua mengalir apa adanya." Jawab Gilang berusaha untuk tetap terlihat tenang tanpa gelisah.


Sang ayah pun tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Dari pada kamu kesepian di rumah, bagaimana kalau Papa kirimkan kamu ke luar negri. Kebetulan Papa melakukan kerja sama dengan rekan bisnis Papa, yaitu Tuan Fadil, bagaimana menurutmu?"


Gilang memijit pelipisnya sambil berpikir.


"Gimana ya, Pa? Gilang pikir-pikir dulu ya, PaPa. Takutnya nanti menggantung dan membuat Papa kecewa. Jadi, Gilang mau pikir-pikir dulu, Pa." Jawab Gilang yang belum berani memberi keputusan langsung pada ayahnya.


"Ya, enggak apa-apa. Kamu tida perlu buru-buru untuk memutuskannya." Ucap ayahnya untuk tidak memaksakan kehendaknya.


Gilang mengangguk dan tersenyum tipis.


Sedangkan yang ada di kamar, rupanya baru saja bangun tidur.


Razen mengamati disekelilingnya, juga tak mendapati sosok istrinya yang tak juga nampak.


"Venza, Venza, Venza!" panggil Razen dengan suara yang pelan hingga suara terdengar keras, pun tak juga istrinya datang.


Karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil, Razen dengan terpaksa harus bangkit dari posisinya dan untuk berpindah ke kursi roda.

__ADS_1


"Awas ...!" teriak Venza yang langsung menangkap tubuh suaminya yang hampir saja terjatuh ke lantai karena usahanya yang hendak bangkit dari posisinya.


Razen yang shock karena bercampur rasa takut akan keselamatan dirinya, detak jantungnya pun berdetak cukup kencang karena perasaan takutnya.


Begitu juga dengan Venza sendiri, sama halnya yang tengah dirasakan oleh suaminya sendiri.


Keduanya pun sama-sama saling menatap satu sama lainnya, antara Razen dan juga Venza belum juga merubah posisinya ke semula.


"Maaf, aku sampai lupa untuk memeriksa mu di kamar." Ucap Venza yang merasa bersalah pada suaminya.


"Tidak apa-apa, aku tidak mempermasalahkan kamu soal telat masuk ke kamar. Aku tahu kok, kalau kamu tadi barusan sedang mengobrol bersama Mama, 'kan?"


Venza yang mendengar ucapan dari suaminya, pun merasa jika dirinya tengah diawasi oleh suaminya.


"Terima kasih banyak, karena aku tidak perlu untuk memberi laporan." Jawab Venza yang kemudian kembali memilih untuk berusaha


tetap diam, dan tidak menambah amarah pada suaminya.

__ADS_1


__ADS_2