
Pernikahan. Hari dimana yang sama sekali tidak terlintas dalam benaknya Venza, akhirnya kini dirinya akan mendengarkan langsung kalimat sakral yang akan diucapkan oleh lelaki yang akan menjadi suaminya nanti.
Begitu juga dengan Razendra Pratama, sedikitpun tidak terbesit akan menikah dengan perempuan pilihan kedua orang tuanya.
Kekasih yang diharapkannya akan setia, namun kenyataannya jauh dari apa yang diimpikannya. Perempuan yang ia cintai justru meninggalkannya saat jatuh sakit dan terpuruk dalam karirnya.
Razendra masih terdiam duduk di kursi roda seorang diri, rasa kecewa terhadap orang yang dicintainya sangat menyakitkan untuk diterima.
"Kak Razen, sudah siapkah untuk berangkat?" tanya Gilang yang sudah berdiri dibelakang kakaknya.
Razendra menganggukkan kepalanya.
"Ya, Kakak sudah siap kapanpun asal Mama dan Papa senang." Jawab Razen masih menatap lurus pada cermin.
"Memangnya Kak Razen tidak senang? senang dong seharusnya, karena sebentar lagi Kakak tidak lagi kesepian. Juga, Kak Razen tidak sendirian lagi, ada sosok istri yang siap menemani Kakak dalam waktu dua puluh empat jam untuk melayani Kakak kapanpun." Ucap Gilang meyakinkan kakaknya.
__ADS_1
"Kamu tahu apa tentang kesepian? ha! semua perempuan itu sama saja, pengkhianat." Kata Razen dengan emosinya.
Gilang yang mengerti akan kondisinya kakaknya, menarik kursi dan ikut duduk disebelahnya.
"Kalau perempuan itu sama, alias pengkhianat, terus bagaimana dengan Mama dan Nandini? mereka berdua perempuan yang patut kita sayangi dan juga lindungi. Jadi, perempuan itu sangat spesial jika perempuan itu mampu mengendalikan diri dan mempunyai karakter tersendiri." Ucap Gilang yang akhirnya menyempatkan waktunya untuk mengobrol dengan sang kakak.
"Omong kosong, tentu saja Mama dan Nandini berbeda. Karena mereka berada dalam lingkungan yang terdidik, pastinya berbeda dengan perempuan di luaran sana." Kata Razen yang tetap mencari jawaban tersendiri.
Gilang yang mendengarnya, pun hanya tersenyum.
"Sudi amat aku menjaga pacarmu, mana ada istriku seolah menjadi pacarmu." Jawab Razen yang entah mendapat kalimat itu darimana, hingga membuat Gilang merasa berhasil membuat kakaknya sedikit memberinya reaksi yang positif.
"Sudah ah, yuk kita berangkat. Mama sama Papa sudah menunggu Kakak dari tadi, juga dengan Nandini." Ucap Gilang mengajak kakaknya untuk berangkat.
Razen yang tidak begitu peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh adiknya sekalipun mengajaknya berangkat, dirinya sama sekali tidak menolak meski sebenarnya memang ingin menolak secara terang-terangan.
__ADS_1
Sedangkan Venza yang sudah lebih dulu berada di gedung serba guna milik keluarga Pratama, kini tengah ditemani Bi Darmi dan ayah bersama ibu tirinya juga.
Selesai di make-up dan juga sudah mengganti pakaiannya yang sudah disiapkan oleh pihak keluarga laki-laki, kini Venza sudah berpenampilan yang cukup membuat orang yang melihatnya terpesona dan juga kagum dengan keanggunan serta keluwesan dan dandanannya yang terlihat sangat cantik.
"Sempurna." Kata Bi Darmi memujinya.
"Bibi mah bisa aja kalau memuji. Padahal kan, keponakan Bibi ini tidak cantik cantik amat, biasa aja dan hanya pas-pasan." Jawab Venza dan tersenyum saat mendapat pujian dari Bi Darmi yang berstatus adik dari ayahnya.
"Hus. Gak boleh bicara seperti itu, tidak baik. Oh ya, kalau sudah siap, nanti akan Bibi antar kamu di depan khalayak para saksi lainnya. Untuk sekarang ini sementara menunggunya disini dulu, soalnya takut terjadi hal gak mengenakkan, itu saja Nak."
"Iya Bi, Venza nurut saja sama Bibi. Oh ya, Papa dimana ya Bi?"
"Papa ada disini, Nak." Sahut sang ayah saat mendapati putrinya mencari keberadaannya.
Venza tersenyum tipis, meski sebenarnya ingin memecahkan tangisannya, namun dirinya tak kuasa, takut akan menambah masalah dengan ibu tirinya.
__ADS_1