Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Merasa beruntung


__ADS_3

Venza yang lebih dulu bangun pagi, dirinya segera melakukan ritualnya setelah bangun tidur. Kemudian, Venza bergegas keluar dari kamar dan pergi ke dapur membantu asisten rumah untuk membuatkan sarapan pagi.


"Selamat pagi Bi Darmi," sapa Venza ketika masuk ke dapur dan mendapati Bibinya.


"Eh Nona, kirain siapa. Selamat pagi juga, Nona Venza." Jawab Bi Darmi dengan senyum yang lebar.


"Bi Darmi kan, gak lucu deh. Jangan panggil aku Nona lagi dong, Bi. Panggil aja Venza, aku kan keponakannya Bibi, masa iya panggil Nona." Ucap Venza merasa risih ketika statusnya keponakan namun dipanggil dengan sebutan yang terlalu berlebihan, pikirnya.


"Mau bagaimanapun, kamu itu seorang istri dari majikannya Bibi. Jadi, tetap harus pakai sopan santun. Kalau kamu dan Bibi berada di lingkungan keluarga kita, Bibi baru bersedia memanggilmu dengan panggilan Venza. Sudah lah, mendingan kamu kembali ke kamar. Nanti kalau suami kamu mencarimu, bagaimana? sudah sana kembali ke kamar menunggu suami bangun tidur." Ucap Bi Darmi yang tidak ingin menambah masalah.


"Tapi kan Bi,"


"Kenapa mesti takut, kalian berdua ini keluarga. Mau sampai kapanpun, kalian tetap bersaudara. Kami sekeluarga tidak akan melarangnya. Mau panggil namanya, keponakan tersayang, atau apalah, terserah kalian. Yang terpenting jangan sampai ada permusuhan atau perdebatan diantara kalian. Juga, Bi Darmi pun bagian dari keluarga kami." Ucap Ibu mertuanya Venza yang tiba-tiba sudah berada di dapur.


Venza dan Bi Darmi tersenyum lega, lantaran tidak ada batasan antara keponakan dan bibinya.

__ADS_1


"Terimakasih banyak, Nyonya." Jawab Bi Darmi merasa lega.


"Saya juga, Ma, terimakasih banyak." Ucap Venza ikut bicara sedikit menunduk karena malu.


Ibu mertuanya pun tersenyum.


"Ya udah, Bi Darmi boleh lanjutkan pekerjaannya. Untuk Nak Venza, kamu boleh temani Mama. Kebetulan Mama pingin banyak mengobrol sama kamu, ayo kita bersantai di taman belakang rumah."


"I-i-iya, Ma." Jawab Venza mulai gugup, lantaran masih terasa grogi ketika berhadapan dengan ibu mertuanya.


Sambil berjalan beriringan, detak jantung Venza berdegup kencang.


"Duduklah, Mama ingin berbagi cerita saja sama kamu, Nak." Ucap Ibu mertuanya sambil mengajak Venza untuk duduk bersebelahan.


"I-iya, Ma." Jawab Venza berusaha untuk tetap tenang agar kegugupannya sedikit berkurang.

__ADS_1


"Bagaimana hubungan mu bersama Razen? apakah ada konflik? maafkan Mama jika bertanya hal pribadimu. Mama hanya takut saja, kalau kamu tertekan menikah dengan Razen yang tidak sempurna seperti Gilang adiknya." Ucap ibunya memberi pertanyaan pada Venza menantunya.


Venza yang mendapat pertanyaan dari Ibu mertuanya, pun tersenyum.


"Hubungan kami baik-baik saja kok, Ma. Juga, kami akan menjalani hubungan pernikahan ini bagai air tenang yang mengalir. Yakni, berusaha mengikuti takdir yang sudah ditentukan." Jawab Venza sesuai yang diucapkan pada suaminya.


"Syukurlah kalau begitu, Mama sedikit tenang. Mama hanya bisa mendoakan kamu dan Razen, semoga kalian bahagia dengan pernikahan kalian. Maafkan Mama yang memaksakan kamu untuk menjadi istrinya Razen yang jauh beda dengan Gilang yang tidak mempunyai kekurangan dalam kondisi fisiknya." Ucap Ibu mertua.


"Sempurna itu tidak melulu dari kondisi fisiknya, Ma. Tetapi dari segi dimana sosok itu memerankan dirinya sendiri. Terkadang kita dilupakan dengan yang tidak sempurna dimata, padahal itu yang terbaik untuk kita. Juga, kadang kita lupa dan hanya mementingkan egonya kita sendiri dalam menilai seseorang. Venza tidak mengeluh dengan kondisi suami Venza, apapun dengan kondisinya, Tuhan lah yang menentukan takdir kita." Jawab Venza meyakinkan Ibu mertuanya.


Saat itu juga, Ibu mertua langsung memeluk menantunya begitu erat.


"Mama sangat beruntung mempunyai menantu seperti mu, mau menerima kondisi putra kami yang tidak sempurna seperti yang lain. Mama berharap, kamu akan terus bersamanya. Mama doakan, semoga kamu bahagia dengan pernikahan kamu dengan Razen." Ucap ibu mertua hingga meneteskan air matanya dengan perasaan haru dan bahagia.


Venza mencoba untuk melepaskan pelukan dari ibu mertuanya, dan menatapnya dengan lekat.

__ADS_1


"Terima kasih, Ma, atas doanya, serta restu dari Mama dan keluarga. Venza akan menerima pernikahan ini sebagaimana takdir ini memang yang terbaik untuk Venza." Jawab Venza sambil memegangi kedua tangan ibu mertuanya.


Suasana haru pun tengah diperhatikan oleh Gilang yang sudah berdiri dengan jarak yang tidak begitu jauh.


__ADS_2