Jodohku Pria Lumpuh

Jodohku Pria Lumpuh
Pernikahan yang sah


__ADS_3

Pak Hantoro selalu ayahnya, langsung memeluk putrinya.


"Maafkan kesalahan Papa mu ini Nak, yang sama sekali tidak memikirkan kamu kedepannya, juga Papa benar-benar sudah dibutakan dengan naf_sunya dunia. Andai saja waktu bisa diputar, Papa tidak akan melakukan kesalahan ini Nak." Ucap sang sang ayah yang berakhir dengan penyesalan karena sudah menukarkan kebahagiaan anaknya dengan sebuah pernikahan yang tidak diinginkannya.


Venza yang tidak mampu untuk menyalahkan atas kesalahan ayahnya, hanya berusaha untuk menunjukkan sikapnya yang tenang dan seolah dirinya baik-baik saja.


Tetap saja, seorang ayah tidak bisa dibohongi dengan kepalsuan ekspresi dari putrinya.


"Semua sudah terjadi dan tidak ada yang terlanjur. Doakan saja putrimu ini, Pa. Semoga putrimu mampu melewati segala rintangan dan biduk rumah tangga nantinya. Doa dari Papa yang sangat berarti untuk Venza, tidak ada yang istimewa selain doa dari Papa." Jawab Venza setelah melepaskan pelukan dari ayahnya.


"Papa doakan, semoga pernikahan kamu tidak hanya kontrak, tetapi membawa kebahagiaan untukmu dan juga suami kamu nanti. Mana tahu dengan namanya sesuatu yang tidak mungkin, siapa tahu nanti suami kamu akan sembuh dan berbahagia bersamamu untuk selamanya." Ucap sang ayah memberi doa yang baik untuk putrinya, juga untuk rumah tangganya setelah menikah.


Ibu tiri yang mendengarnya, pun melihatnya dengan ekspresi tidak suka. Bahkan senyumnya saja begitu getir untuk dilihat.


'Bahagia dari mananya, jelas-jelas lumpuh.' Batin ibu tirinya Venza dengan tanggapan yang tidak suka.


"Ekhem! semuanya sudah pada kumpul, dan sekarang saatnya untuk mengantarkan kamu duduk disebelah calon suamimu. Mama sudah bosan berada di kota, terasa panas, dan pastinya pingin cepat-cepat pulang dan bawa uang. Jadi, ayo Mama antar kamu duduk bersebelahan dengan calon suamimu yang lumpuh itu." Ucap ibu tirinya begitu teganya.

__ADS_1


"Melani, jaga ucapan mu itu di depan Venza." Ucap ayahnya Venza memarahi ibu tirinya.


"Ups! lupa Pa, maaf." Jawab ibu tirinya Venza.


Karena sudah ditunggu, Ibu tiri dan Bi Darmi membantu Venza berjalan sampai didekat calon suaminya, lantaran pakaian yang dikenakan begitu mewah dan elegan.


.


.


Razendra yang ditemani adik laki-lakinya, sama sekali tidak menoleh maupun penasaran dengan calon istrinya. Bahkan, pandangannya tetap lurus ke depan.


Gilang yang melihat calon kakak iparnya kesulitan untuk duduk, langsung tanggap dan membantunya untuk duduk disebelah kakaknya.


"Istrinya Kakak sangat cantik, yakin nih tidak penasaran?" bisik Gilang yang sengaja memancing kakaknya agar menoleh.


Tetap saja dengan keras kepalanya hingga malas untuk menoleh.

__ADS_1


Gilang yang tidak direspon sama kakaknya, pun tidak kecewa, justru ingin lagi dan lagi menggoda kakaknya agar mau menoleh ke arah calon istrinya.


"Percaya deh, Kak Razen tidak akan menyesal." Bisik Gilang kembali menggoda kakaknya.


Tetap saja Razen tidak berubah, dirinya sama sekali tidak menoleh juga. Sedangkan Gilang sendiri akhirnya menyerah.


Waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba, acaranya pun segera dimulai. Kalimat demi kalimat, kini giliran melakukan tanya jawab sebelum kalimat sakral diucapkannya.


Setelah dirasa cukup memberi pertanyaan kepada kedua calon mempelai pengantin, acara selanjutnya pun dimulai.


Razen dengan tegas dan juga dengan pengucapannya yang lantang, akhirnya kalimat sakral telah dilontarkan lewat mulutnya dengan sangat jelas, dan kini keduanya telah sah menjadi suami istri.


Semua yang ada diacara tersebut turut bahagia ketika melihat Razendra yang akhirnya menikah dan mempunyai pendamping hidupnya.


Meski yang dijalaninya penuh persyaratan seperti pernikahan kontrak, setidaknya tidak membuat isu buruk tentang keluarga Pratama.


Satu persatu para saksi tamu undangan tengah member ucapan selamat serta doa untuk kedua pengantin.

__ADS_1


__ADS_2