
Keseokan harinya, waktu untuk aku beristirahat
sejenak. Jujur saja saat di Negri Caara, aku sama sekali tidak bisa tidur.
Entah apa yang aku takutkan disana, sehingga kali ini aku harus beristriahat
secara maksimal, namun aku yang sudah terbiasa bangun pukul 5.00 tidak bisa
tidur lagi setelah terbangun.
“Deolinda kau sudah bangun?” suara Davide dan disusul
dengan ketukan pintu. “Ya sudah, masuklah” Balasku yang berada dibalik pintu
kamar. “Oh, ini ada surat dari adikmu” Davide menyerahkan sepucuk surat dari
Sam. Aku membukanya dan tersenyum melihat tulisan yang sangat rapih tanpa ada
salah penulisan sedikitpun. Surat itu berisi,
Hai kak! Apa kabar disana? Aku terus menjaga benda
pusaka kita sesuai apa yang kakak minta. Disini sedikit terjadi ketidak seimbangan
glasir, ada beberapa warga yang memiliki sedikit spirit air, merasa goncangan.
Lalu sekarang orang-orang pemilik spirit tanah sangat panik. Selain itu
bagaimana hubungan kakak dengan ‘dia’? Apa baik atau kalian terus saja
bertengkar? Aku bercanda, kami sudah sangat merindukan kakak dirumah,
kembalilah dengan selamat tanpa lecet sedikit pun ok! Tidak perlu membalas
suratnya, aku tau kakak pasti lelah dan masih ada banyak kerjaan. Semangat!
“Apa isi surat tersebut, aku penasaran” Aku tidak
menyangka Davide adalah orang yang selalu ingi tahu. “Untuk apa kamu tau? Tidak
ada untungnya juga kan” Aku sedikit mempermainkanya sebenarnya tidak ada
ruginya untuk memberi tahu isi surat dari Sam. “Aku hanya penasaran, mengapa
sam mengirim surat biasa. Itu sangat ketinggalan zaman dan bukankah pelatihanya
sudah bisa mengirim surat atau pesan suara jarak jauh?” Davide pasti selalu
beralasan seperti itu. Dan pada akhirnya aku memberi tahu sedikit dari surat
__ADS_1
Sam.
“Itu masuk akal, Negri kristal adalah pusat Crystal
World, semua pemiliki spirit pasti bermimpi untuk kesana, bahkan tinggal
disana. Tapi untuk orang-orang yang terlahir memiliki kekuatan glasir, tidak
terlalu penting dimana mereka tinggal” Dilanjutkan dengan penjelasan yang
teramat tidak penting untuk kehidupanku. “Kapan kita akan pergi?” aku bertanya
untuk mengganti topik pembicaraa. “Pergi? Besok, bersiaplah pasti akan
melelahkan, hari ini jangan latihan dulu, biar besok badanmu fresh,
ngomong-ngomong bagaimana kalau kita jalan-jalan?” Davide mengajak ku untuk berjalan-jalan.
Pada awalnya aku kira hanya berjalan-jalan sekitar
kastel, namun ternyata tidak kami pergi kedesa terdekat dari istana.
Pemandangan orang-orang disini sangat hangat, setiap berpapasan dengan orang
lain, pasti bertegur sapa walau tidak saling kenal. Aku juga melihat hampir
sebagian kebiasaan penduduk Negri Kanaelt. Karna Negri ini adalah Negri
Dan lain-lain.
“Apa kamu pernah melihat pemandangan seperti ini di
Negri Kristal?” ditengan jalan-jalan tersebut Davide bertanya, aku menghentikan
langkah kakiku dan Davide juga menghentikanya. “Tidak pernah, aku selalu
sakit-sakitan terus, jadi tidak pernah keluar Kastel” Ucapku yang seingatku
Deolinda memang benar sama sekali tidak pernah keluar dari kastel, dikarenakan
tubuhnya yang lemah itu. “Bohong!” Aku tidak mengerti apa maksud dari Davide.
Karna bila aku adalah Deolinda, memang benar aku tidak pernah keluar dari
istana, tapi kalau aku menjadi Citrinia aku juga benar, karna dalam 19 tahun
aku pertama kalinya menginjakan kaki disini 1 bulan yang lalu. Aneh juga karna
aku bisa beradaptasi dengan cepat.
__ADS_1
“Ah, maaf aku hanya asal bicara. Karna melihatmu aku
teringat seorang gadis yang sangat penting bagiku. Eh maaf sudah kembali
keistan saja. Sudah cukup untuk hari ini” Entah mengapa saat dia mengatakan
teringat gadis yang penting baginya. Hatiku terasa tersayat, padahal aku yakin
tidak pernah merasakan cinta diantara kami.
Pada akhirnya kami kembali keKastel, dan berpisah lalu
mengerjakan tugas masing-masing. Sekaligus mepersiapkan diri untuk hari esok,
karna kita akan pergi keNegri Kanaelt.
Sebelum tidur aku melakukan panggilan sihir mungkin di
abad 21 dibumi kita menyebutnya ‘panggilan suara’ serta ‘Vidcall’. Kali ini aku
akan melakukan vidcall bersama Sam, sebelumya aku sempat teringat akan
Deolinda, seharusnya dialah yang merasakan semua ini dan bukan aku.
“eh Halo kak! Kan sudah ku bilang tidak usah membalas
surat ku” \ “Aku tidak membalas aku hanya mehubungimu, kenapa kamu tidak
menggunakan panggilan sihir?” \ “Aku takut kakak sedang sibuk dengan urusan
kakak sendiri” \ “Tidak apa, bila aku sempat aku akan menghubungimu atau
membalasmu mengerti?” \ “Hmmmm ok kak, oh iya, gimana kabar kakak?” \ “Aku
baik hanya sedikit lelah, kamu gimana Sam? Maaf yah aku serahin sebagian besar
pekerjaanku ketanganmu lagi” \ “Bukan masalah besar, tanggung jawab yang
sedang kakak pikul berkali-kali lebih besar dari pada ini” \ “Benarkah
mengapa?” \ “Karna kakak sekarang adalah Heroes” \ “Heroes? Bisa kamu
jelaskan?”|
Dan setengah malam aku terus mengobrol dengan Sam,
untung saja disini tidak ada jaringan jelek. Sampai aku tertidur barulah kami
berhenti mengobrol, dan aku bermimpi tentang rumahku, dimana ada Ben, papa,
__ADS_1
mama dan yang lainya. Tiba-tiba saja aku merindukan mereka.