
^^^Nb : Untuk memudahkan para pembaca, Zelin diganti Elin^^^
•
•
•
•
"Helloo gaess, Elin comeback." Elin berteriak saat memasuki kelas.
"Loh kok kalian diem aja sih?" Tanya Elin heran.
Para murid-murid berbisik-bisik satu sama lain, mereka semua heran dengan tingkah laku Elin, sebelumnya Elin terkenal irit bicara, cuek, memperhatikan penampilan.
Namun yang mereka lihat sekarang adalah Elin yang cerewet, tidak terlalu perduli dengan penampilannya.
Jangan heran biasanya Elin ke sekolah rambut di gerai indah, tak lupa memakai kardigan elegan jangan lupakan riasan tipis di wajahnya, menampakkan cantik yang elegan.
Sedangkan hari ini, Elin mengucir kuda rambutnya, seragam bagian lengannya ia linting, roknya di atas lutut, dan juga paling ga mungkin, dia tanpa make-up sedikitpun.
"Lo sehat Lin?" Tanya salah seorang teman kelasnya.
"Gue?" Elin tertawa "sehat kok. Btw lo siapa? Gue ga kenal Lo."
"Lo ga inget siapa gue?" Ucap cewe tadi.
"Engga, gue ga tau semua orang di sini kecuali Zafran" ucapnya sembari menunjuk Zafran.
"Dia lupa ingatan" jawab Zafran singkat.
Seisi kelas ber oh bersamaan, mereka cuma tau bahwa Elin terlibat kecelakaan lalulintas saja.
"Hehehe, jadi gue mau perkenalan lagi." Ucap Elin bersemangat.
Elin berdiri di depan kelas lalu "haii semuanyaaa, kenalin nama gue Elinnata Widya Pratama, gue suka dipanggil Elin, gue mmmmmm... Oh yaa gue suka coklat, es krim, sama permen. gue ga suka sama tahu, tauge. Terus..."
"Lo perkenalan apa mau ngapain woi" potong salah seorang murid disana.
"Hehehe, maap maap. Janji ga di ulangi lagi," Elin tersenyum "Kalo ga lupa" lanjutnya.
Elin lalu berjalan ke meja teman temannya, lalu menanyakan nama, alamat hobi, sama cita-cita, jangan lupa dah punya pacar atau belum.
"Okeyy, gue udah inget semua nama kalian. makasih," lalu ia duduk di salah satu bangku kosong.
"Eh zaf, si Elin kok kaya gitu?" Tanya frido ke Zafran.
"Ga tau. gue juga kaget, waktu gue jemput dia, dia udah bener bener berubah." Jelas Zafran.
__ADS_1
"Aneh banget, gak mungkin kan amnesia bisa ngerubah perilaku orang?" Ucap Frodo lagi.
"Tapi kayaknya engga deh do." Balas Zafran.
***
"Eh, lo tadi namanya siapa?" Elin menyenggol bahu cewek di sebelahnya, "setela?" Tanyanya.
"Bukan setela, tapi stela!"
"Sama aja woii. SE-TE-LA"
"Beda. S - T - E - L - A. STELA" Stela menekan setiap hurufnya.
"Au ah, penting setela."
Stela menghela nafas, dia mencoba untuk bersabar dalam menghadapi temannya yang satu ini.
"Setela, ke kantin yuk, laper gue. Belum sarapan tadi." Elin mencengkram lengan Stela, Stela pasrah saja. Toh cuma ke kantin.
Di kantin
"Buk mau beli" ucap Elin ke penjual kantin.
"Mau beli apa neng Elin?" Ucap Ibu kantin.
"Mau beli seblak ada gak buk?"
"Eh, nasi Padang nya ada buk?" Elin berbinar
"Ya enggak lah neng. Ini kantin bukan warung" ibu kantin geleng-geleng kepala.
"Yahhhh, kirain ada buk, padahal..."
"ELIN! MAKSUD LO APAAN NYAKITIN RARA!" Bentak seseorang dari belakang.
Saat Elin menoleh kebelakang pipinya langsung merasakan rasa nyeri, Elin memegangi pipinya. Dia masih diam tak berkutik. Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan.
"Eh, Lo gila ya? Dia adek Lo woi!" Stela angkat bicara.
"Udah stel, biarin," Elin menarik lengan baju stela "Gue gapapa ko." Elin tersenyum, di pipinya masih terlihat bekas merah tamparan.
"Gimana gue bisa diem aja Lin," Stela menatap lekat wajah sahabatnya, Elin. "lo itu sahabat gue dari dulu. Lo yang selalu bantu gue, lo yang selalu ada buat gue. pokoknya gue ga terima kalo temen gue disakitin," Stela memegang bekas tamparan di pipi Elin. "apalagi yang nyakitin itu kakaknya sendiri." Sorot mata Stela berubah saat menatap Calvin, kakak Elin.
"Jangan salahkan gue kalau gue jahat sama dia," Calvin menunjuk kearah Elin. "Salahkan dia karna udah ngerusak hidup orang!" Ucap Calvin.
"Maksud lo apa? Elin aja..."
"Udah Stel. Biarin aja, toh kalau dia tau apa yang sebenarnya, dia bakalan minta maaf ke gue." Ucap Elin.
__ADS_1
"MINTA MAAF? kenapa gue harus minta maaf ke lo? Harusnya lo yang minta maaf ke Rara atas segala perbuatan lo ke dia." Balas Calvin.
" Karna saya telah anda tampar," Elin berjalan kearah Calvin dan Rara, disana Rara masih menangis dibalik punggung Calvin. "apakah anda tidak merasa bersalah TUAN CALVIN?" Elin menekan setiap kata-katanya.
Calvin kaget dengan perubahan sifat adeknya, sampai-sampai dia mundur beberapa langkah kebelakang.
"En-ngga, gue ga salah. Yang salah itu lo, lo yang udah buat Rara sampai kaya gini"
Calvin menarik lembut lengan Rara. Rara menampakkan wajahnya, diwajahnya terdapat beberapa lebam-lebam.
Rara masih saja menangis, dia menunduk, tak berani menatap wajah Elin.
"Apa?" Elin menatap lekat wajah gadis didepannya. "lo takut ma gue?" Elin memiringkan kepalanya hingga dia bisa melihat wajah Rara yang sedang berpura-pura menangis.
Calvin segera menarik Rara ke belakangnya, dia takut terjadi sesuatu dengan Rara.
"Kenapa lo? Takut?" Elin tersenyum smrik.
Calvin menggeleng, "ngapain gue takut sama lo? Lo aja ga bisa apa-apa." Ucapnya.
"Oh yaa..." Elin tersenyum lagi "mmm Gue bisa..."
Elin menarik rambut panjang milik Rara. Rara berteriak kencang, sampai benar-benar menangis. "Gue bisa ini" ucapnya sembari memamerkan aksinya didepan Calvin.
"Ka Calvin sakit" Rara memegangi rambut yang ditarik oleh Elin. "Kaa sakitttt" rengeknya ke Calvin.
"ELIN! apa yang lo lakuin!" Ucap Calvin, dia berusaha melepaskan Rara dari tangan Elin "lepasin ga?" Calvin melirik Elin dengan tatapan tak suka.
"Oh lepasin, okey." Elin melonggarkan jambakannya, "tapi boong. Hahaha" Elin mencengkram lebih erat lagi.
"Ka Vin, sakit" Rara terus saja meminta pertolongan. Para siswa-siswi hanya mengerubungi mereka dan menonton pertunjukan gratis.
"ELIN!!!" Calvin sudah kehabisan kesabaran. Dia merasa kelakuan adeknya ini sudah diluar batas.
"Heum? Kenapa? Ga suka ya? Nyesel?" Elin melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Rara.
"Liat tuh ayang lo, makeup nya dah luntur semua gara-gara air matanya." Ucap Elin sembari mengangkat dagu Rara tinggi.
Sontak seisi kantin menatap Rara, dan memang benar lebam-lebam yang diwajahnya itu semua adalah makeup. karna tangisannya tadi, makeup diwajahnya luntur semua.
Calvin diam tak berkutik, dia tak bisa membela Rara, karna ternyata itu semua tuduhan palsu, sedangkan dia tidak memiliki muka lagi untuk meminta maaf kepada Elin.
"Makanya, cari tau dulu apa yang sebenarnya terjadi, jangan main nuduh. Mana yang di tuduh adek sendiri lagi." Ucapnya kepada Calvin.
Calvin segera meninggalkan kantin, dia juga meninggalkan Rara yang masih mematung karna kebohongannya terbongkar.
Gomeennnn jadwalnya padat banget megang hp aja jarang, wkwkwkw
Gini amat kelas 12
__ADS_1
Semoga kalian sukaaa
See you again