
Saat Citrinia dan Davide pergi kedapur bersama, Ben juga
pergi kekamarnya. Namun, saat menaiki tangga untuk menuju kamarnya, Ben melihat
Caneza dengan wajah sedihnya. “Ada apa denganmu?” tanya Ben dengan rasa
penasaran yang tinggi. “Bisakah kita pergi ketaman, bersama?” tanya Caneza
tanpa menjawab pertanyaan dari Ben, Ben mengiakan permintaan Caneza.
Ditaman, Caneza hanya termenung, dan Ben hanya diam
memperhatikan. “Kamu benar tidak ada celah untuk menjadi seseorangnya Davide,
bahkan menyukainnya saja tidak bisa. Aku baru saja dimarahin sama Davide, dia
berkata jangan pernah melukai Citrinia, dan dia tidak akan pernah melirikku
sebagai wanita. Dia hanya akan melirikku sebagai seseorang yang kenal dengan
Citrinia. Atau bila lebih, teman Citrinia” ujar Caneza, Ben tidaklah kaget saat
mendengar perkataan Caneza.
“Caneza, kamu adalah wanita yang baik dan ramah, hanya terkadang
kamu menjadi buta dan lupa semua hal saat menyukai seseorang, dan tekat untuk
merangkul orang itu terlalu besar, bahkan bila orang itu sudah mempunyai kekasih.”
ujar Ben, “Caneza, apakah kamu ingat saat umur kita 12 tahun, saat kita dilatih
oleh paman dan bibi? Paman dan bibi, menugaskan kita untuk, melindungi,
menyemangati, dan menjadi teman bagi Nona Citrinia.” lanjut Ben, Caneza yang
mendengar hal itu mengangguk dan mengiakan perkataan Ben.
“Tapi satu peringatan yang diberi, jangan pernah kita
mengganggu kehidupan pribadinya, dan kita juga diberi tahu soal benang merah diantara
Nona Citrinia dan Tuan Davide. Sehingga kita dilarang untuk memiliki perasaan
lebih dari sekedar teman dan bawahannya. Dan Tuan Davide sudah menjadi Tuan
kita mulai saat aku dan kamu menjadikan Citrinia sebagai nona kita. Caneza,
kamu sudah melanggar peringatan itu, menyebabkan paman dan bibi menjadi kesal
kepadamu.”
__ADS_1
“Lalu kenapa tadi kamu bilang aku sudah mengambil kasih
sayang nyonya dan tuan besar?”
“Aku mengatakannya karena, saat aku datang lebih dulu dan menjadi
teman Nona barulah kamu datang 1 tahun kemudian, kita tinggal satu atap dengan
paman, bibi dan Nona Citrinia. Memang hubungan mereka sangat dingin, tapi kamu
datang dan menjadikan diri sebagai pusat perhatian, yang dibalaskan oleh paman
dan bibi. Aku percaya merasakan aura kecemburuan dari Nona”
“Tapi aku tidak sengaja, aku hanya ingin beradaptasi saja”
Ben berdiri dari kursi taman, dia berjalan kearah Caneza
lalu menepuk pundaknya “Baiklah, aku minta maaf telah mengataimu. Tapi ingat,
paman dan bibi selalu menerima kita apa adanya. Kita bukan lagi anak tanpa
keluarga seperti dulu.” setelah mengatakannya Ben beranjak pergi dan
meninggalkan Caneza ditaman, air mata Caneza sudah tak terbendung lagi.
Dia menyesal telah menjadi seseorang yang jahat bagi
Sekarang dia bertekad untuk berubah menjadi wanita yang baik, dan menyembunyikan
perasaannya kepada Davide, sampai dia telah melupakan Davide sepenuhnya dan menemukan
belahan jiwanya.
Disisi lain Davide sedang menyiapkan makan malam untuk
berempat. Namun, terjadi kekacauan membuat dapur sangat berantakan, bahkan makanan
yang sedang dimasak menjadi gosong. Sedangkan Citrinia sedang mengambil bahan
makanan dari gudang penyimpanan, saat melihat kekacauan yang dibuat oleh
kekasihnya, Citrinia bingung harus berkata apa.
“Yang Mulia Pangeran 2 dari Negri Kanaelt, apakah anda sama
sekali tidak pernah memasak?” tanya kesal Citrinia dengan senyum mematikan. “Tidak,
kamu adalah pangeran, pastinya pernah pergi berperang atau semacamnya DAPUR
ADALAH DAPUR! BUKAN MEDAN PERANG!” lanjut Citrinia.
__ADS_1
“Hehe, maafkan aku ya, iya aku gak pernah memasak dengan
benar selalu gagal dan gosong” balas Davide, dengan senyum anak anjingnya.
“Tunggu, kalau begitu... makanan apa yang aku makan saat
menjadi Deolinda!” Citrinia sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. “Tenanglah
Rina, aku menyewa seseorang untuk memasak” balas Davide, perkataannya menenangkan
bagi Citrinia dan Davide sedikit malu.
“Waw, apa yang terjadi dengan dapur ini? Aku kira kita akan
makan malam” tiba-tiba saja Ben datang dan duduk disalah satu kursi dekat dapur,
Ben hanya menengok kesatu orang saja yaitu Davide “Aku tidak percaya Tuan-ku
menghancurkan dapur yang indah ini” guman Ben yang dapat didengar oleh Davide
dengan sangat jelas. “Kenapa kamu langsung menargetkan aku?” tanya Davide, dia
tidak tahu harus bersikap seperti apa, bila Ben melihat saat Davide panik
menangani dapur.
“Aku pernah dibuatkan sarapan, makan siang dan malam oleh
Nona Citrinia, dan hasilnya selalu enak! FYI aku dibuatkan makanan dari kita
smp” balas Ben yang membuat kelegaan dihati Davide namun, “Tunggu!? Dibuatkan makan?
Dari SMP, Rina bisa jelaskan?” ujar Davide kepada Citrinia, dan Ben kabur
kekamarnya dia tidak mau menyasikan sebuah pertengkaran rumah tangga.
“Hem? Oh, karna itu hobi ku dan masakan Ben gak enak. Jadi aku
yang buat, lagi pula aku masak itu buat diriku hanya nambahin sedikit porsi. Oh
ya, masakan yang aku buat untuk mu lebih spesial loh! Karena aku memasknya
dengan hati dan logika” ujar Citrinia yang meredakan kecemburuan Davide, “Baiklah!
Mari bereskan dapur dan memasak!” lanjut Citrinia, Davide hanya bisa menurut
saat diperintahkan Citrinia untuk membersihkan dapur dan Citrinia hanya duduk
santai, karena ini terjadi karena perbuatannya.
Bila orang tidak tahu aku ini pangeran, mereka akan mengira
__ADS_1
aku ini pelayan berwajah tampan, hiks. Ujar Davide dalam hati.