Journey To Another World

Journey To Another World
#53


__ADS_3

“Citrinia?”


panggil seorang lelaki dari belakanngnya, saat Citrinia menengok kebelakang dia


melihat bahwa yang memanggilnya adalah Pangeran Lence, kakak dari Davide,


berserta orang tua dari Davide dan Lence.


Bagaimana


ini? Aku merasa sangat menyesal, bersalah dan malu kepada mereka. Davide mati


demi menyelamatkan ku. – Ujar Citrinia dalam hati.


“Tidak perlu


merasa bersalah, ini bukanlah kesalahanmu. Bila kamu yang menjadi korban disana


apa yang terjadi kepada 5 benda pusaka? Tidak ada yang tahu bukan? Davide sudah


memutuskan untuk melindungi dirimu apapun caranya bahkan mengorbankan nyawanya


dia bersedia” ujar Pangeran Lence.


“Citrinia, jangan


salahkan dirimu nak. Putra kami mencintai dirimu lebih dari 10 tahun, dan aku


sangat yakin dia tidak mau melihat dirimu menyalahkan diri sendiri karna


kematiannya” ujar Ratu dari negri Kanaelt sekaligus ibu dari Davide dan Lence.


Citrinia


hanya dapat membalas dengan anggukan ringan. Dalam hatinya yang paling dalam


dia tetap menyalahkan dirinya sendiri, dia telah menyesal menjadi egois dan


sombong.


Air mata


Citrinia sudah tidak bisa dibendung lagi, dia berlari pergi ke kamarnya yang


berada di Istana negri Kristal. Citrinia meringkuk di pojok ruangan dan


menangis.


“NAK? JANGAN

__ADS_1


SALAHKAN DIRIMU INI SUDAH MENJADI TAKDIR DARI DAVIDE” ujar seseorang yang


Citrinia yakini adalah suara Dewa.


“Tetap saja,


aku merasa sedih dan bersalah. Aku tahu semua ini sudah direncanakan, tapi...”


ujar Citrinia dia sudah tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi.


“BAIKLAH,


JANGAN BERSEDIH TERLALU LAMA, SESALI LAH APA YANG MEMANG PANTAS KAMU SESALI DAN


AKU AKAN MEMBERIMU KEKUATAN DARI TEMAN DAN KELUARGAMU” ujar Dewa, setelah


perlataan itu semuanya kembali sunyi.


Waktu terus


berjalan, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 4 sore dan Citrinia masih


berada dikamarnya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya, dia membuka


pintu perlahan, dia adalah Sam.


“Kak? Aku tau


ragu untuk melanjutkan perkataanya. Citrinia menghapus air matanya walau


matanya sangat sembab.


“Apa


acaranya sudah dimulai? Aku tidak apa ayo” ujar Citrinia dia beranjak dan


keluar dari kamar diikuti oleh Sam.


Saat didalam


peralanan menuju aula keadaan sangat sunyi. Sam melihat tatapan Citrinia, tatapan


nya walau lurus kedepan namun dipenuhi oleh kesedihan dan tidak memperhatikan


arah jalannya.


“Besok pagi-pagi


sekali, kakak Davide akan dipindahkan ke Negri Kanaelt. Acaranya akan

__ADS_1


berlangsung selama 4 hari di Negri Kanaelt” ujar Sam, yang hanya dibalaskan


oleh annggukan ringan.


Kira-kira


pukul 9.30 malam acara telah selesai untuk malam ini. Citrinia pergi ke kamarnya,


setelah berbersih diri dia bersiap untuk tidur namun dia sama sekali tidak


dapat memejamkan mata.


Sampai pukul


00.30 dia baru berhasil tertidur. Pukul 5.00 pagi Citrinia membuka matanya dan


segera bersiap-siap, tepat pukul 5.30 Sam datang, rencananya untuk membangunkan


Citrinia namun ternyata Citrinia sudah siap dengan pakaian serba hitam.


“Kakak? Kakak


istirahat kan? Kakak tidur kan?” tanya Sam, “Aku tidur kok” balas Citrinia. “Jam


berapa? Jam berapa kakak bisa tertidur?” tanya Sam untuk kedua kalinya. “Mungkin


jam 12, atau jam 1” balas Citrinia yang direspon oleh hembusan nafas berat dari


Sam.


Citrinia


keluar dari kamarnya dan diikuti Sam dibelakang. Sesampainya diruang makan,


sudah banyak orang diruangan tersebut. “Maaf, saya terlambat” ujar Citrinia


dengan sedikit membungkukan badannya.


Citrinia duduk


disebuah kursi yang sudah disiapkan, mereka sarapan dengan sangat sunyi.


Setelah sarapan kira-kira pukul 7.00 mereka pergi ke Negri Kanaelt.


Berbagai acaran


dan upacara dilaksanakan selama 4 hari. Di hari terakhir upacara pemakaman


dilaksanakan. Citrinia juga perlahan demi perlahan bangkit bersama keluarga dan

__ADS_1


teman-teman nya.


__ADS_2