
“Citrinia?”
panggil seorang lelaki dari belakanngnya, saat Citrinia menengok kebelakang dia
melihat bahwa yang memanggilnya adalah Pangeran Lence, kakak dari Davide,
berserta orang tua dari Davide dan Lence.
Bagaimana
ini? Aku merasa sangat menyesal, bersalah dan malu kepada mereka. Davide mati
demi menyelamatkan ku. – Ujar Citrinia dalam hati.
“Tidak perlu
merasa bersalah, ini bukanlah kesalahanmu. Bila kamu yang menjadi korban disana
apa yang terjadi kepada 5 benda pusaka? Tidak ada yang tahu bukan? Davide sudah
memutuskan untuk melindungi dirimu apapun caranya bahkan mengorbankan nyawanya
dia bersedia” ujar Pangeran Lence.
“Citrinia, jangan
salahkan dirimu nak. Putra kami mencintai dirimu lebih dari 10 tahun, dan aku
sangat yakin dia tidak mau melihat dirimu menyalahkan diri sendiri karna
kematiannya” ujar Ratu dari negri Kanaelt sekaligus ibu dari Davide dan Lence.
Citrinia
hanya dapat membalas dengan anggukan ringan. Dalam hatinya yang paling dalam
dia tetap menyalahkan dirinya sendiri, dia telah menyesal menjadi egois dan
sombong.
Air mata
Citrinia sudah tidak bisa dibendung lagi, dia berlari pergi ke kamarnya yang
berada di Istana negri Kristal. Citrinia meringkuk di pojok ruangan dan
menangis.
“NAK? JANGAN
__ADS_1
SALAHKAN DIRIMU INI SUDAH MENJADI TAKDIR DARI DAVIDE” ujar seseorang yang
Citrinia yakini adalah suara Dewa.
“Tetap saja,
aku merasa sedih dan bersalah. Aku tahu semua ini sudah direncanakan, tapi...”
ujar Citrinia dia sudah tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi.
“BAIKLAH,
JANGAN BERSEDIH TERLALU LAMA, SESALI LAH APA YANG MEMANG PANTAS KAMU SESALI DAN
AKU AKAN MEMBERIMU KEKUATAN DARI TEMAN DAN KELUARGAMU” ujar Dewa, setelah
perlataan itu semuanya kembali sunyi.
Waktu terus
berjalan, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 4 sore dan Citrinia masih
berada dikamarnya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya, dia membuka
pintu perlahan, dia adalah Sam.
“Kak? Aku tau
ragu untuk melanjutkan perkataanya. Citrinia menghapus air matanya walau
matanya sangat sembab.
“Apa
acaranya sudah dimulai? Aku tidak apa ayo” ujar Citrinia dia beranjak dan
keluar dari kamar diikuti oleh Sam.
Saat didalam
peralanan menuju aula keadaan sangat sunyi. Sam melihat tatapan Citrinia, tatapan
nya walau lurus kedepan namun dipenuhi oleh kesedihan dan tidak memperhatikan
arah jalannya.
“Besok pagi-pagi
sekali, kakak Davide akan dipindahkan ke Negri Kanaelt. Acaranya akan
__ADS_1
berlangsung selama 4 hari di Negri Kanaelt” ujar Sam, yang hanya dibalaskan
oleh annggukan ringan.
Kira-kira
pukul 9.30 malam acara telah selesai untuk malam ini. Citrinia pergi ke kamarnya,
setelah berbersih diri dia bersiap untuk tidur namun dia sama sekali tidak
dapat memejamkan mata.
Sampai pukul
00.30 dia baru berhasil tertidur. Pukul 5.00 pagi Citrinia membuka matanya dan
segera bersiap-siap, tepat pukul 5.30 Sam datang, rencananya untuk membangunkan
Citrinia namun ternyata Citrinia sudah siap dengan pakaian serba hitam.
“Kakak? Kakak
istirahat kan? Kakak tidur kan?” tanya Sam, “Aku tidur kok” balas Citrinia. “Jam
berapa? Jam berapa kakak bisa tertidur?” tanya Sam untuk kedua kalinya. “Mungkin
jam 12, atau jam 1” balas Citrinia yang direspon oleh hembusan nafas berat dari
Sam.
Citrinia
keluar dari kamarnya dan diikuti Sam dibelakang. Sesampainya diruang makan,
sudah banyak orang diruangan tersebut. “Maaf, saya terlambat” ujar Citrinia
dengan sedikit membungkukan badannya.
Citrinia duduk
disebuah kursi yang sudah disiapkan, mereka sarapan dengan sangat sunyi.
Setelah sarapan kira-kira pukul 7.00 mereka pergi ke Negri Kanaelt.
Berbagai acaran
dan upacara dilaksanakan selama 4 hari. Di hari terakhir upacara pemakaman
dilaksanakan. Citrinia juga perlahan demi perlahan bangkit bersama keluarga dan
__ADS_1
teman-teman nya.