
Nicholas dan Kiara mencoba menemukan pintu menuju ruang
rahasia tersebut. Sayangnya kekuatan mereka belum cukup untuk menemukan pintu
tersebut apa lagi membukanya.
Namun, Nicholas dan Kiara terus mencobanya dengan pikiran
dan perasaan yang tenang mereka tidak menyerah ditengah jalan. Waktu terus berjalan, detik per detik, menit
per menit, sampai lebih dari 3 jam merekan berusaha. Kira kira sekarang sudah
menuju pukul 02.00.
Kekuatan mereka sudah terkuras habis, dan tidak bisa
melanjutkannya.
“Sudahlah, kekuatan kita belum bisa menemukannya” ujar
Nicholas kepada Kiara. Kiara hanya mengangguk untuk menyetujuinya.
--
Keesokan harinya, entah mengapa Caneza dan Ben memberi
pelajaran yang berkali-kali lebih keras dari hari sebelumnya.
“Heh! Apa kita melakukan kesalahan?” ujar Kiara sambil
berteriak.
“Hah? Enggak kok emangnya kenapa?” balas Caneza dengan
santainya dan tanpa dosa.
“Latihan ini bukannya berlebihan? Ini terlalu jauh dari
latihan kemarin” ujar Nicholas, dia berhenti sejenak dari latihannya.
“Jika kalian ingin melakukan dan memenangkan sesuatu harus
lebih kuat dari hari sebelumnya. Dan apa yang akan kalian hadapi nanti berkali-kali
__ADS_1
lebih melelahkan dan menakutkan dari latihan ini dan apa yang kalian lakukan
kemarin malam” ujar Ben, perkataan Ben membuat Nicholas dan Kiara terdiam, apa yang
mereka lakukan kemarin malam ternyata diketahui oleh orang lain.
Nicholas dan Kiara terpaksa melanjutkan latihan yang
lebih-lebih menyeramkan dari sebelumnya. Mereka benar-benar ditenpa untuk
mengalahkan kekuatan kegelapan dari dunia ke-3.
--
Pukul 16.00, waktunya makan malam.
Kiara dan Nicholas berjalan bersama menuju ruang makan. “Kita
gak makan bareng paman dan bibi-kan?” ujar Kiara dengan diakhiri helaan nafas
kasar. “Berdoalah gak ketemu sama paman bibi di meja makan” balas Nicholas
dengan menaikan bahunya.
karena tidak ada kehadiran Caneza dan Ben. Melainkan hanya terdapat kedua
orangtuanya.
Kiara berlari pelan menuju Citrinia, ibunya itu. “Maaaa, akhirnya
kalian pulang! Paman dan Bibi sangat jahat huhu” ujar Kiara sambil memeluk
ibunya dengan sangat kencang. Sedangkan Nicholas duduk disebalah ayahnya, dan
memperhatikan tingkah adiknya itu.
“Haha, sudah-sudah duduk sana, keburu makanannya dingin”
ujar Citrinia sambil perlahan melepaskan pelukan anaknya.
“Memangnya Caneza sama Ben ngapain?” tanya Davide kepada
kedua anaknya tersebut.
__ADS_1
“Papa gak tau? Hah, mereka sangat kejam pas lagi ngelatih
kita!” desis Kiara, dengan bibir yang semakin kedepan.
Davide dan Citrinia saling bertatapan dan sedikit tertawa, mereka
teringat saat mereka melatih Caneza dan Ben.
“Itu kan demi kebaikan kalian juga” ujar Davide sambil
mengambil beberapa makanan.
“Ck, iya-iya” decak Nicholas kesal.
Mereka melanjutkan dengan makan malam normal, Nicholas dan
Kiara tidak membahas tentang dunia ke-3. Begitu juga dengan Davide dan
Citrinia.
--
Keesokan harinya
Nicholas dan Kiara berlatih didampingi oleh Caneza dan Ben,
dan seperti hari sebelumnya apa yang diberikan oleh Caneza dan Ben sangat melelahkan.
“Hah, bukankah ini berlebihan? Maksudku, kita ini berada di
bumi, tapi masa dikasih yang begini!” ujar kesal Kiara.
“Heh, jangan mengeluh, kalo tu dua orang denger mati kita”
balas Nicholas dengan menatap Caneza dan Ben.
“Kenapa kalian berhenti?” tiba tiba suara Caneza memecahkan
suasana.
“Hah enggak kok, tadi lagi ngiket tali sepatu aja” ujar
Kiara menghindar, dan segera berlatih kembali. Begitu juga dengan Nicholas.
__ADS_1