
Keesokan harinya Citrinia, Davide, Ben dan Caneza. Berkumpul
disuatu negara, untuk melawan monster. Pada awalnya Caneza takut untuk
berkumpul, anehnya dia takut kepada Citrinia dan Ben.
Setelah mereka berkumpul, Citrinia dan Davide melepas rasa
rindu, dengan pelukan yang sangat erat. Entah mengapa Caneza menundukan
kepalanya, dan hatinya merasa dengki. Sedangkan Ben, merasa jijik dengan aura
yang dipancarkan oleh Davide dan Citrinia.
“Apa kamu iri? Aku peringatkan saja, jangan sentuh hubungan
mereka!” bisik Ben kepada Caneza, dan hati Caneza semakin dengki. “Tapi, apa urusanmu?”
tanya Caneza kepada Ben, ekspresi wajahnya sudah sangat jelas, dia membenci
perkataan Ben.
“Terserah, tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakiti nona
dan tuanku” balas Ben, lalu meningglakan Caneza, begitu juga dengan Caneza yang
pergi dari tempat itu. “Ada apa dengan mereka? Seperti ada ketegangan saja”
ujar Davide yang kebingungan dengan situasi didepan matanya. Sedangkan Citrinia
mengetahui apa yang terjadi diantara Caneza dan Ben.
Setelah mendapat tempat perlindungan baru, mereka ber-4
segera membersihkan dan merapihkannya. Mereka lakukan itu, agar tempat beristirahat
menjadi nyaman. Baru saja selesai membereskan tempat baru, alarm sudah berbunyi
yang berarti ada monster yang melakukan penyerangan atau dia muncul disuatu
tempat.
Dengan sangat gesit, Citrinia dan Davide sudah sampai di
tempat penyerangan monster itu, tentunya mereka menggunakan portal dan
teleportasi. Sedangkan Ben dan Caneza harus pergi secara manual.
Beberapa saat kemudian, saat monster dipastikan tidak akan
bergerak oleh Citrinia dan Davide, Ben dan Caneza datang. “Kalian sudah datang?
Berjagalah mungkin dia akan mengamuk” ujar Citrinia tanpa menengok sedikitpun
kearah belakang. “Kenapa tidak langsung dimusnahkan?” tanya Caneza, memang
perkataanya itu adalah pertanyaan, namun nada bicaranya membuat orang lain
marah.
“1. Kita harus mengetahui kelemahanya 2. Kita harus
memastikan apakah dia, memiliki kristal 3. Apakah dia membawa sekutu? Dan masih
banyak lagi, apakah itu cukup!? Sekarang berjagalah!” ujar Davide menjawab
pertanyaan Caneza. Namun, Caneza semakin kesal karena dia tidak menjadi pusat perhatian
Davide.
Caneza ditarik oleh Ben dan mereka berjaga. Ben diminta melihat
sekeliling apakah monster ini membawa sekutunya atau tidak. Setelah beberapa
saat kemudia Ben kembali dan membawa berita baik “Tidak! dia tidak membawa
sekutu!” ujar Ben, Citrinia dan Davide juga telah selesai.
“Baguslah, monster ini memiliki kristal jadi
berhati-hatilah! Kami akan membuka segelnya!” teriak Citrinia, Ben dan Caneza
sudah berada ditempat yang ditentukan. “Setelah aku membuka segelnya, kamu
langsung membacakan lingkaran sihir, fire!” ujar Davide yang dijawab oleh
Citrinia dengan anggukan.
__ADS_1
Dalam hitungan ketiga mereka akan membuka segelnya. 1...
2... 3.... saat Davide membuka segelnya dan Citrinia sedang membacakan mantra,
monster itu menyerang Citrinia. Citrinia terlempar hingga beberapa meter. “Waw!
Bila aku masih manusia biasa pasti udah mati! Tapi tetep aja ini sangat sakit!”
guman Citrinia, Davide langsung menghentikan pergerakan monster itu dengan membuat
segel lagi.
“Nona! Nona terluka?” teriak Ben yang segera pergi kearah
nonanya itu. “Tidak perlu khawatir! Aku hanya tergores” balas Citrinia sambil
mengacungkan jempolnya keatas langit. “Lalu kenapa anda masih tiduran disana!”
ujar Ben, Citrinia membalas “Heeey, badanku sakit tahu kebentur sekeras itu!”
Setelah itu, Davide mengobati Citrinia dengan menggunakan sihir
pengobatan. “Huwa, aku jadi keinget saat ditubuh Deolinda. Kamu melakukannya
juga!” ujsr Citrinia, kata-kata yang diucapkan Citrinia membuat hati Caneza
semakin membara.
“Iyap, dan dari pengobatan yang aku lakukan aku mengetahui
bahwa kamu bukanlah Deolinda” balas Davide. Setelah selesai mengobati Citrinia,
dan mereka sudah bersiap ditempat yang ditentukan dengan rencana baru.
Sama halnya dengan sebelumnya, dalam hitungan ketiga segel
akan dibuka. Davide membuka segelnya, dan monster itu tenang dan tidak
bergerak. Saat Ben mengucapkan mantra, barulah monster itu bergerak menyerang
Ben. Tepat saat menyeran Ben, Citrinia, Davide dan Caneza melakukan
penyerangan.
Namun, karena keteledoran Caneza, Citrinia ditangkap oleh
bisa melukai Citrinia!”teriak Davide memberi perintah kepada Ben dan Caneza.
“Mundurlah, aku akan mencoba membeskan diri!” ujar Citrinia,
dia memiliki rencana, Davide, Ben dan Caneza hanya bisa mengikuti perkataan Citrinia.
“Hah, semoga ini berhasil. THE STRONGEST HERILOM! FIRE
CRYSTAL! Api yang mehancurkan, akan menhancurkan mu!” Citrinia membacakan
mantra dan dia diserang lagi oleh monster itu, tapi Citrinia tetap bertahan dan
mencoba lagi, namun dia diserang lagi.
“Woah! Aku sudah tidak kuat lagi... Coba potong tanganya...”
namun, belum melakukan rencana cengkraman monster kepada Citrinia semakin kuat
dan kuat. “AAAAAAAAAAAKKH” teriak Citrinia kesakitan, “Hah, tulangku....
bersabarlah tulangku....” guman Citrinia.
“Sial! Ben, lilitkan api dilehernya! Caneza atur arah angin!”
Davide memberi perintah, sebenarnya dia takut kehilangan Citrinia, dia takut
tidak bisa menyelamatkan Citrinia, apa lagi setelah melihat wajah Citrinia yang
kesakitan.
“Ignis!” ujar Ben, dari tangannya munculah semburan api yang
sangat kencang “Caneza giliranmu!” teriak Ben, “Ventum!” ujar Caneza, namun
tidak ada yang terjadi “Ven, Ventum!” ujarnya untuk kedua kalinya tidak ada
yang terjadi.
“Wind! Ignis Orbem!” ujar Davide, yang seharusnya dilakukan
oleh Caneza menjadi Davide yang melakukannya. Citrinia yang pingsan, dilepaskan
__ADS_1
dari cengkaraman monster itu. Dengan cepat Ben terbang dan menangkap Citrinia.
Sedangkan Davide, dengan beberapa serangan sihir tingkat atas. Dia berhasil melumpuhkan
monster itu, dan segera mengambil kristal yang dijatuhkannya.
Segera Davide menemui Citrinia yang masih tidak sadarkan
diri. “Mukanya sangat pucat, aku akan membawanya ke rumah!” ujar Davide, tidak
dapat dipungkiri bahwa Davide sangat khawatir dan takut. “Aku akan menggunaka portal!”
lanjut Davide, Ben mengiakan perkataan Davide. Sedangkan Caneza menundukan kepalanya,
mungkin dia terlihat sedih dan menyesal, namun hatinya sangatlah kesal melihat
kekhawatiran Davide kepada Citrinia.
Sesampainya dirumah, Davide langsung saja melakukan sihir
penyembuhan, dia tidak mempedulikan badannya yang sudah sangat kewalahan karena
sihir. “Kumohon sadarlah” gumannya ditengah penyembuhan, Davide menggunakan
sihir yang lebih besar lagi untuk mengobati luka Citrinia. Sampai pada akhirnya
Citrinia terbangun, langsung saja Davide memeluknya dengan sangat erat.
Beberapa saat setelah Citrinia sadar, Ben dan Caneza juga telah
kembali. “Ben, jaga Citrinia dulu, aku akan buatkan teh hangat” ujar Davide kepada
Ben, dan Ben mengiakannya. “Nona, anda baik-baik saja? Saya benar-benar minta
maaf” ujar Ben kepada Citrinia, dengan muka yang masih pucat dia tersenyum.
“Tidak usah khawatir, aku baik-baik saja hanya perlu istirahat”
ujar Citrinia, Caneza menyusul dan berkata “Aku minta maaf, serius aku tidak
tahu mengapa sphaeram ku tidak keluar”. Davide yang sudah selesai membuat teh
hangat, dan memberikannya kepada Citrinia.
“Sphaeram adalah kekuatan aura yang memiliki batas. Hari ini
kamu tidak menggunakan aura dengan benar. Kecuali, ada kejanggalan dihatimu”
ujar Davide, dia menyilangkan tangannya. Dari kekuatan five forces, Davide
mengetahui ada sedikit kegelapan dihatinya.
“Sudahlah tidak apa, Caneza pasti juga kelelahan istirahatlah
dan Ben juga” ujar Citrinia, dia mengatakan itu selain agar suasana tidak
semakin memburuk sekarang dia hanya ingin beristirahat.
“Aku minta maaf ya, seharusnya aku bisa lebih melindungimu
tapi jadinya kayak gini” ujar Davide dengan lesu, dia sekarang duduk disebelah
Citrinia sambil mengelus-ngelus rambut Citrinia. “Seriuslah, tidak apa-apa itu
bukan kesalahan kalian kok! Davide..” ujar Citrinia, sekaligus dia memanggil nama
Davide, Davide menengok dan menunggu Citrinia untuk melanjutkan perkataanya.
“Aku lelah dan mengantuk, jangan pergi selama aku tertidur
ya?” lanjut Citrinia, mata Davide memancarkan bahwa ia sangat terkejut, dan
mulutnya tidak dapat membendung tawa lagi. “Apa ini masih Citrinia? Sejak kapan
kamu menjadi manja?” tanya Davide dengan tawa.
“Kalau tidak mau, pintu keluar terbuka lebar kok!” mulut
Citrinia membentuk mulut bebek, dan hal itu membuat Davide tertawa semakin
keras. “Aku minta maaf, baiklah aku akan menemani tidur disini, sekarang istirahat
ok?” ujar Davide, Citrinia tidak ada pilihan lain selain mengiakannya karena dia
sudah tidak memiliki tenaga lagi.
Davide mengelus-elus kepala Citrinia dengan kembut, dan
__ADS_1
dalam sekejap Citrinia tertidur pulas.