Journey To Another World

Journey To Another World
#42


__ADS_3

Keesokan harinya Citrinia, Davide, Ben dan Caneza. Berkumpul


disuatu negara, untuk melawan monster. Pada awalnya Caneza takut untuk


berkumpul, anehnya dia takut kepada Citrinia dan Ben.


Setelah mereka berkumpul, Citrinia dan Davide melepas rasa


rindu, dengan pelukan yang sangat erat. Entah mengapa Caneza menundukan


kepalanya, dan hatinya merasa dengki. Sedangkan Ben, merasa jijik dengan aura


yang dipancarkan oleh Davide dan Citrinia.


“Apa kamu iri? Aku peringatkan saja, jangan sentuh hubungan


mereka!” bisik Ben kepada Caneza, dan hati Caneza semakin dengki. “Tapi, apa urusanmu?”


tanya Caneza kepada Ben, ekspresi wajahnya sudah sangat jelas, dia membenci


perkataan Ben.


“Terserah, tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakiti nona


dan tuanku” balas Ben, lalu meningglakan Caneza, begitu juga dengan Caneza yang


pergi dari tempat itu. “Ada apa dengan mereka? Seperti ada ketegangan saja”


ujar Davide yang kebingungan dengan situasi didepan matanya. Sedangkan Citrinia


mengetahui apa yang terjadi diantara Caneza dan Ben.


Setelah mendapat tempat perlindungan baru, mereka ber-4


segera membersihkan dan merapihkannya. Mereka lakukan itu, agar tempat beristirahat


menjadi nyaman. Baru saja selesai membereskan tempat baru, alarm sudah berbunyi


yang berarti ada monster yang melakukan penyerangan atau dia muncul disuatu


tempat.


Dengan sangat gesit, Citrinia dan Davide sudah sampai di


tempat penyerangan monster itu, tentunya mereka menggunakan portal dan


teleportasi. Sedangkan Ben dan Caneza harus pergi secara manual.


Beberapa saat kemudian, saat monster dipastikan tidak akan


bergerak oleh Citrinia dan Davide, Ben dan Caneza datang. “Kalian sudah datang?


Berjagalah mungkin dia akan mengamuk” ujar Citrinia tanpa menengok sedikitpun


kearah belakang. “Kenapa tidak langsung dimusnahkan?” tanya Caneza, memang


perkataanya itu adalah pertanyaan, namun nada bicaranya membuat orang lain


marah.


“1. Kita harus mengetahui kelemahanya 2. Kita harus


memastikan apakah dia, memiliki kristal 3. Apakah dia membawa sekutu? Dan masih


banyak lagi, apakah itu cukup!? Sekarang berjagalah!” ujar Davide menjawab


pertanyaan Caneza. Namun, Caneza semakin kesal karena dia tidak menjadi pusat perhatian


Davide.


Caneza ditarik oleh Ben dan mereka berjaga. Ben diminta melihat


sekeliling apakah monster ini membawa sekutunya atau tidak. Setelah beberapa


saat kemudia Ben kembali dan membawa berita baik “Tidak! dia tidak membawa


sekutu!” ujar Ben, Citrinia dan Davide juga telah selesai.


“Baguslah, monster ini memiliki kristal jadi


berhati-hatilah! Kami akan membuka segelnya!” teriak Citrinia, Ben dan Caneza


sudah berada ditempat yang ditentukan. “Setelah aku membuka segelnya, kamu


langsung membacakan lingkaran sihir, fire!” ujar Davide yang dijawab oleh


Citrinia dengan anggukan.

__ADS_1


Dalam hitungan ketiga mereka akan membuka segelnya. 1...


2... 3.... saat Davide membuka segelnya dan Citrinia sedang membacakan mantra,


monster itu menyerang Citrinia. Citrinia terlempar hingga beberapa meter. “Waw!


Bila aku masih manusia biasa pasti udah mati! Tapi tetep aja ini sangat sakit!”


guman Citrinia, Davide langsung menghentikan pergerakan monster itu dengan membuat


segel lagi.


“Nona! Nona terluka?” teriak Ben yang segera pergi kearah


nonanya itu. “Tidak perlu khawatir! Aku hanya tergores” balas Citrinia sambil


mengacungkan jempolnya keatas langit. “Lalu kenapa anda masih tiduran disana!”


ujar Ben, Citrinia membalas “Heeey, badanku sakit tahu kebentur sekeras itu!”


Setelah itu, Davide mengobati Citrinia dengan menggunakan sihir


pengobatan. “Huwa, aku jadi keinget saat ditubuh Deolinda. Kamu melakukannya


juga!” ujsr Citrinia, kata-kata yang diucapkan Citrinia membuat hati Caneza


semakin membara.


“Iyap, dan dari pengobatan yang aku lakukan aku mengetahui


bahwa kamu bukanlah Deolinda” balas Davide. Setelah selesai mengobati Citrinia,


dan mereka sudah bersiap ditempat yang ditentukan dengan rencana baru.


Sama halnya dengan sebelumnya, dalam hitungan ketiga segel


akan dibuka. Davide membuka segelnya, dan monster itu tenang dan tidak


bergerak. Saat Ben mengucapkan mantra, barulah monster itu bergerak menyerang


Ben. Tepat saat menyeran Ben, Citrinia, Davide dan Caneza melakukan


penyerangan.


Namun, karena keteledoran Caneza, Citrinia ditangkap oleh


bisa melukai Citrinia!”teriak Davide memberi perintah kepada Ben dan Caneza.


“Mundurlah, aku akan mencoba membeskan diri!” ujar Citrinia,


dia memiliki rencana, Davide, Ben dan Caneza hanya bisa mengikuti perkataan Citrinia.


“Hah, semoga ini berhasil. THE STRONGEST HERILOM! FIRE


CRYSTAL! Api yang mehancurkan, akan menhancurkan mu!” Citrinia membacakan


mantra dan dia diserang lagi oleh monster itu, tapi Citrinia tetap bertahan dan


mencoba lagi, namun dia diserang lagi.


“Woah! Aku sudah tidak kuat lagi... Coba potong tanganya...”


namun, belum melakukan rencana cengkraman monster kepada Citrinia semakin kuat


dan kuat. “AAAAAAAAAAAKKH” teriak Citrinia kesakitan, “Hah, tulangku....


bersabarlah tulangku....” guman Citrinia.


“Sial! Ben, lilitkan api dilehernya! Caneza atur arah angin!”


Davide memberi perintah, sebenarnya dia takut kehilangan Citrinia, dia takut


tidak bisa menyelamatkan Citrinia, apa lagi setelah melihat wajah Citrinia yang


kesakitan.


“Ignis!” ujar Ben, dari tangannya munculah semburan api yang


sangat kencang “Caneza giliranmu!” teriak Ben, “Ventum!” ujar Caneza, namun


tidak ada yang terjadi “Ven, Ventum!” ujarnya untuk kedua kalinya tidak ada


yang  terjadi.


“Wind! Ignis Orbem!” ujar Davide, yang seharusnya dilakukan


oleh Caneza menjadi Davide yang melakukannya. Citrinia yang pingsan, dilepaskan

__ADS_1


dari cengkaraman monster itu. Dengan cepat Ben terbang dan menangkap Citrinia.


Sedangkan Davide, dengan beberapa serangan sihir tingkat atas. Dia berhasil melumpuhkan


monster itu, dan segera mengambil kristal yang dijatuhkannya.


Segera Davide menemui Citrinia yang masih tidak sadarkan


diri. “Mukanya sangat pucat, aku akan membawanya ke rumah!” ujar Davide, tidak


dapat dipungkiri bahwa Davide sangat khawatir dan takut. “Aku akan menggunaka portal!”


lanjut Davide, Ben mengiakan perkataan Davide. Sedangkan Caneza menundukan kepalanya,


mungkin dia terlihat sedih dan menyesal, namun hatinya sangatlah kesal melihat


kekhawatiran Davide kepada Citrinia.


Sesampainya dirumah, Davide langsung saja melakukan sihir


penyembuhan, dia tidak mempedulikan badannya yang sudah sangat kewalahan karena


sihir. “Kumohon sadarlah” gumannya ditengah penyembuhan, Davide menggunakan


sihir yang lebih besar lagi untuk mengobati luka Citrinia. Sampai pada akhirnya


Citrinia terbangun, langsung saja Davide memeluknya dengan sangat erat.


Beberapa saat setelah Citrinia sadar, Ben dan Caneza juga telah


kembali. “Ben, jaga Citrinia dulu, aku akan buatkan teh hangat” ujar Davide kepada


Ben, dan Ben mengiakannya. “Nona, anda baik-baik saja? Saya benar-benar minta


maaf” ujar Ben kepada Citrinia, dengan muka yang masih pucat dia tersenyum.


“Tidak usah khawatir, aku baik-baik saja hanya perlu istirahat”


ujar Citrinia, Caneza menyusul dan berkata “Aku minta maaf, serius aku tidak


tahu mengapa sphaeram ku tidak keluar”. Davide yang sudah selesai membuat teh


hangat, dan memberikannya kepada Citrinia.


“Sphaeram adalah kekuatan aura yang memiliki batas. Hari ini


kamu tidak menggunakan aura dengan benar. Kecuali, ada kejanggalan dihatimu”


ujar Davide, dia menyilangkan tangannya. Dari kekuatan five forces, Davide


mengetahui ada sedikit kegelapan dihatinya.


“Sudahlah tidak apa, Caneza pasti juga kelelahan istirahatlah


dan Ben juga” ujar Citrinia, dia mengatakan itu selain agar suasana tidak


semakin memburuk sekarang dia hanya ingin beristirahat.


“Aku minta maaf ya, seharusnya aku bisa lebih melindungimu


tapi jadinya kayak gini” ujar Davide dengan lesu, dia sekarang duduk disebelah


Citrinia sambil mengelus-ngelus rambut Citrinia. “Seriuslah, tidak apa-apa itu


bukan kesalahan kalian kok! Davide..” ujar Citrinia, sekaligus dia memanggil nama


Davide, Davide menengok dan menunggu Citrinia untuk melanjutkan perkataanya.


“Aku lelah dan mengantuk, jangan pergi selama aku tertidur


ya?” lanjut Citrinia, mata Davide memancarkan bahwa ia sangat terkejut, dan


mulutnya tidak dapat membendung tawa lagi. “Apa ini masih Citrinia? Sejak kapan


kamu menjadi manja?” tanya Davide dengan tawa.


“Kalau tidak mau, pintu keluar terbuka lebar kok!” mulut


Citrinia membentuk mulut bebek, dan hal itu membuat Davide tertawa semakin


keras. “Aku minta maaf, baiklah aku akan menemani tidur disini, sekarang istirahat


ok?” ujar Davide, Citrinia tidak ada pilihan lain selain mengiakannya karena dia


sudah tidak memiliki tenaga lagi.


Davide mengelus-elus kepala Citrinia dengan kembut, dan

__ADS_1


dalam sekejap Citrinia tertidur pulas.


__ADS_2