Journey To Another World

Journey To Another World
#17


__ADS_3

Hari pertama


aku mencoba untuk menguasai Emerlad Stone, lebih sulit dari pada apa yang


dikatakan dari pada yang terlihat. Saat baru memasuki ruangan pusaka, aku sudah


mendapat tekanan sihir sangat besar, spirit dan kekuatan glasir  sangatlah besar. “Mungkin karna Emerlad Stone


berada dialatarnya” Aku berusaha semakin mendekati Emerlad Stone, untuk


mendekatinya saja membutuhkan kekuatan yang sangat besar.


“Bila hari


ini aku bisa mendekati altar dan belum mendapatkan Emerlad Stone, setidaknya


besok aku bisa mendekati altar dengan lebih mudah” Membutuhkan waktu lebih lama


dari pada yang aku pikirkan hanya untuk medekati Emerlad Stone. Saat sudah


sampai didekat altar, aku berdiam diri sebentar, setidaknya mengembalikan


sedikit dari kekuatanku yang terkuras.


Saat aku


sudah merasa mampu, barulah aku mencoba untuk menguasai Emerlad Stone. Aku


mulai membacakan mantra, lalu mencoba untuk menguasai Emerlad Stone “Emerlad


Stone sang penguasa Tanah dan Tumbuha, atas perintahku dan izin dari Langit.


Aku perintahkan untuk tunduk padaku dan meminjamkan kekuatanmu” dan ternyata


aku gagal, karna Pusakanya berada di’rumah’-nya sendiri, kekuatan akan lebih


besar, dan aku kalah kuat.


“Uhuk-uhuk,


hah....” aku batuk berdarah, karna terlalu mengeluarkan energi yang banyak.


“Sudah cukup untuk hari ini aku akan melakukaknya lagi besok” Ya aku harus


beristirahat. Aku keluar dari ruangan pusaka dengan sangat kelelahan dan


merasakan bahwa aku akan pingsan. “Deolinda! Hey sadarlah, aku akan membawamu


untuk beristirahat” Davide nampak panik saat melihatku hampir pingsan. dia


membawaku pergi menjauhi Ruang Pusaka.


Sekarang aku


berada ditaman, sekalian menghirup udara segar. “Hah, sangat melelahkan aku


tidak menyangka akan menguras kekuatan sampai sebesar itu” Ucapku sambil


meminuh teh yang sudah disiapkan. “Aku sudah menduganya, tapi kamu tidak


mengaktifkan Emerlad Stone kan?” Aku tidak tahu apakah Davide


mengkhawatirkanku, atau mencurigaiku. “Tidak kok, tenanglah kamu harus percaya


padaku ok?” Setelah aku mengatakan ‘percaya padaku’ dengan tekanan, Davide


nampak terkejut, sesaat wajahnya berubah menjadi sedih namun kembali ceria


setelah persekian detik.


“Tentu, aku


akan selalu mempercayaimu, Deolinda” Setelah pemebicaraan itu, dilanjutkan


dengan obrolan yang berujung pada basa-basi. Setelah waktu istirahat usai kami


kemabli bekerja untuk menjaga Emerlad Stone, aku dan Davide berjaga didalam dan


para Kesatria ada beberapa yang diluar dan didalam ruang pusaka. “Jangan


mencobanya lagi dulu, kamu akan sakit nanti” Ucap Davide yang berarti untuk


sementara waktu lebih baik aku memulihkan tenaga dan tidak mencoba untuk


menguasai Emerladd Stone setidaknya sampai hari berganti.

__ADS_1


“Ok, aku


mengerti tapi kamu tidak bisa menghentikanku untuk mempelajarinya” Setelah aku


berkata demikian, Davide menghela nafas panjang. “Baiklah, aku tidak bisa


melawanmu” Davide menyerah untuk beradu mulut denganku, mungkin karna kemarin


saat beradu mulut dia tahu seberapa kehebatanku. Tidak, aku sudah berjanji


untuk berubah, tidak boleh sombong Citrinia!


‘Menguasai


dunia memliki jalan yang panjang, karna dari air timbulah tanah dan tumbuhlah


segala macam tumbuhan, dari udara yang dihasilkan timbulah angin. Tidak semunya


baik karna mereka semua dapat menghasilkan kegelapan dan kehancuran berupa api.


Namun semua itu adalah kesatuan yang utuh dan saling melengkapi’ Ungkapan yang


selalu diberikan saat seseorang berusaha menjadi yang terkuat. Dari air


timbulah tanah dan tumbuhlah tumbuhan..... apa itu kuncinya.


“Davide,


bila tidak salah kamu salah satu dari ‘Five Forces’ bukan?” Mungkinkah Davide


bisa membantuku dengan kekuatanya? “Ya kamu benar, tapi kekuatan itu belum


bangkit. Baru Water saja yang bangkit. Kenapa?” Pas sekali aku membutuhkan


kekuatan Water! “Besok saat aku berusaha untuk menguasai Emerlad Stone kamu


harus membantuku ok!” Davide nampak bingung, karna biasanya untuk menguasai


pusaka, dilakukan sendiri tanpa campur tangan pihak ketiga. “Ok kalau itu bisa


membantumu” baguslah Davide tidak ada keraguan untuk membantuku!


Hari sudah


Saat sudah siap untuk mencobanya kembali aku meminta Davide untuk membuat


lingkaran sihir Water secara bertingkat didekat altar. Walau Davide bingung dia


tetap mau melakukanya, sykurlah.


Aku berjalan


mendekati altar, dan benar dugaanku kemarin bahwa setelah memcahkan masalah


mendekati altar aku akan bisa dengan mudahnya mendekat kealtar. Aku memberi


kode untuk Davide agar membuat lingkaran sihir Water tingkat 1. Dan aku


menggunakan kekuatan Blue Crystal untuk menambah sedikit lingkaran sihir.


“Dari air


timbulah tanah” lalu aku memberi kode lagi untuk Davide untuk menaikan tingkat


sihir menjadi tingkat 2, dan aku menggunaka Blue Crystal lagi. “Dari air


timbulah tanah dan tumbulah tumbuhan” lingkaran sihir menjadi tingkat 3 begitu


juga kekuatan Blue Crystal. “Tanah yang tandus berubah menjadi subur” Lingkaran


sihir menuju tingkat 4 dan Blue Crystal juga. “Tanah yang subur, menumbuhkan


tumbuhan” Lingkaran sihir menjadi tingkat 5 dan Blue Crystal juga. “Dari


tumbuhan yang tumbuh subur, mahluk hidup dapat tumbuh dan berkembang” lalu aku


memaksimalkan kekuatan Blue Crystal untuk menekan kekuatan Emerlad Stone.


Aku mulai


membacakan mantra dan mengucapkan hal yang sama seperti kemarin “Emerlad Stone


sang penguasa Tanah dan Tumbuha, atas perintahku dan izin dari Langit. Aku


perintahkan untuk tunduk padaku dan meminjamkan kekuatanmu” Kali ini berhasil,

__ADS_1


Emerlad Stone menjadi sangat bercahaya, juga sudah menerima ku sebagai tuanya.


Aku sangat senang dengan pencapaian yang luar biasa ini.


“Waw,


terimakasih atas aktifnya Emerlad Stone, aku akan ambil alih dari sini”


tiba-tiba saja muncul seseoran, bukan Pangeran Syetna namun Lauren. Para


Kesatria sudah mepersiapkan penyerangan, namun terlambat Lauren hampir saja


menjadi penguasa untuk Emerlad Stone. Aku berusaha untuk mepercepat waktu agar


Emerlad Stone berada ditanganku. “Cepatlah Ketangan Deolinda kumohon” Ucap


Lauren yang terbang didekat Emerlad Stone.


“Hah?


Emerlad Stone kemarilah akulah yang mengaktifkanmu” Emerlad Stone masih berputar-putar


dialtarnya. Dan tak lama kemudia Emerlad Stone menerimaku sebagai tuanya.


“Dasar Pusaka bodoh” entah mengapa Lauren berkata demikian, dia seolah-olah


menarik Emerlad Stone kedirinya, namun sebenarnya tidak, dia mendorong Emerlad


Stone kediriku. Dan saat sepenuhnya kekuatan Emerlad Stone berada ditanganku.


“Tunggu saja, aku akan kembali mengambil kedua pusaka darimu!” kata-kata yang


mengancam namun nadanya membuatku ragu.



“Apa yang


kalian lakukan tangkap Lauren!” Perintah Davide untuk para Kesatria, namun


sudah terlambat Lauren pergi seperti saat mengambil Blue Crysta. Pergi layaknya


debu. “Deolinda, mengapa kamu tidak menangkapnya! Kamu sudah menguasai Emerlad


Stone!” Davide nampak geram akan kehadiran Lauren. “Lauren sama sekali tidak


bersalah, aku tidak berhak menangkapnya” Apa yang aku katakan adalah benar,


dari cara Lauren yang memberikan benda pusaka terhadapku saat ini dan beberapa


waktu lalu.


“Apa


maksudmu? Dia adalah Lauren, si penghianat Keluarga Trabem!” Isu itu salah, itu


adalah berita bohong. “Dia adalah orang baik, jangan melihat orang dari luarnya


saja!” tanpa sadar aku mendukung Lauren. “Jelaskan padaku kenapa kamu


mendukungnya, dia adalah orag yang berbahaya” apa hanya perasaan aku saja, tapi


Davide sangat membenci Lauren.  Aku mengambil


nafas panjang lalu mengeluarkanya, dan mulai mengatakan padanya apa yang


terjadi dengan Blue Crystal dan Emerlad Stone.


“Itu tidak


masuk akal, pasti ada udang dibalik batu” Davide tidak memiliki sedikitpun


kepercayaan pada Lauren. “Terserah padamu kamu akan percaya apa yang aku


katakan atau tidak, tapi aku sudah menceritakan yang sebenarnya. Terimakasih


atas bantuanmu tadi, lebih baik kita bertemu dengan Pangeran Syetna, lalu


istirahat dan pergi keNegri Valaiva, Dabaysha Stone menjadi targetnya sekarang”


Kami menemui


Pangeran Syetna, dan berterimakasih ‘atas bantuanya’ yang merepotkan. Dan pamit


undur diri dari Keyna.

__ADS_1


__ADS_2