
BONUS EPISODE 2
Author POV
--Desember, 23—
Sekitar pukul 7 pagi, Davide sudah selesai bersiap-siap. Dia
juga segera pergi kerumah kekasihnya, untuk pergi kembali ke Crystal World.
Kira-kira Davide sampai di rumah Citrinia pada puluk 7.30. Saat
memasuki rumah tersebut dilihat Citrinia yang sudah siap dengan pakaian rapi. “Kamu
sudah siap ya, udah sarapan?” tanya Davide.
“Belum hehe, ini mau sarapan” balas Citrinia dengan senyuman
kecil. Sebelum berangkat ke Crystal World mereka sarapan bersama terlebih
dahulu.
Jujur saja Citrinia sangat merindukan saat mereka makan
bersama dikala terjadi ketidak seimbangan dibumi. “Dav, aku takut. Aku takut
untuk kembali ke Crystal World. A-aku tau itu rumahku tapi...” ujar Citrinia
dengan tatapan lesu, Davide dapat mengerti mengapa Citrinia takut untuk
kembali.
Citrinia telah meninggalkan segala hal yang berbau glasir di
Crystal World. Citrinia juga merasa terbebani saat dia harus menjadi seorang
hero. Hal itu karna, sakit hati yang berbekas dihatinya saat melihat begitu
banyak orang yang dicintainya terluka atau bahkan mati tepat didepan matanya. Hal
itu karna keteledoran Citrinia sendiri.
Memang sudah 4 tahun berlalu saat harus merasakan masa-masa
tersebut. Namun Citrinia tetap menyimpan penyesalan tersebut, baginya bila dia
tidak teledor maupun ceroboh semua hal ini tidak akan terjadi.
“Semua yang terjadi bukan salah kamu. Rina jangan simpan
rasa bersalah itu sendiri. Kamu masih menyesal atas kematianku 4 tahun lalu
kan?” ujar Davide, tatapan lesu Citrinia berubah menjadi isak tangis, tanpa
__ADS_1
menjawab dengan kata-kata Davide dapat mengerti apa jawabanya.
Davide berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah
Citrinia, dia berada tepat disamping Citrinia. Dia menggeser kursi tempat Citrinia
duduk, juga dia berjongkok tepat dihadapan Citrinia, kini posisi Davide dapat
menghadap kearah Citrinia yang medudukan kepalanya.
“Ka-kamu bodoh! Dav kamu bodoh, kamu ngorbanin nyawa 2 kali
untuk nyelamatin aku! Itu kesalahanku...” ujar Citrinia dengan isakan.
“Rina... itu bukan kesalahan kamu, aku tidak apa terluka
saat menyelamatkan kamu. Tapi saat aku tidak menyelamatkan kamu padahal aku
bisa, dan kamu terluka itu lebih menyakitkan dari pada saat aku terluka” ujar
Davide sambil menyeka tetesan air mata yang dikeluarkan dari mata kekasihnya itu.
“Kamu mati bukan luka lagi!” ujar Citrinia nadanya sedikit
ditinggikan.
“Aku akan sangaaaaaat menyesal saat aku melihat kamu mati
saat itu. Aku akan menyesal tidak melindungi mu, aku akan menyalahkan diri bila
melihatmu terluka, melihat kamu kelelahan, aku tidak ingin kamu terluka” ujar
Davide.
“Dav, kenapa kamu mencintaiku?” tanya Citrinia, pertanyaan
itu membuat Davide tersenyum tipis. “Aku selalu merepotkanmu, aku tidak pernah
menjadi mandiri didekatmu, aku terus menerus membuatmu terluka...” lanjut Citrinia.
“Apakah cinta membutuhkan alasan? Kamu tidak pernah
merepotkan bagi ku, kamu mandiri. Tapi kita bersama untuk saling melengkapi,
untuk menjadi patner dalam kehidupan ini. Jangan merasa terus menerus kamu
selalu merepotkan ku, aku tidak merasa terepotkan. Bila gak ada kamu kita gak
bisa menang di pertempuran, begitu juga sebaliknya. Kita saling melengkapi
sayang...” ujar Davide, Citrinia mengangguk pelan, diikuti Davide yang
memeluknya dan mengelus kepala Citrinia secara lembut.
__ADS_1
Pukul 9.00, Davide telah menyiapkan portal untuk menuju
Crystal World. Mereka memasuki portal tersebut secara beriringan. Dalam sekejap
mereka sudah berada di Crystal World, negri Kristal. Kehadiran kedua orang
tersebut disambut hangat oleh keluarga dan para rakyat.
“KAKAK!” teriak seorang anak yang belari menuju Citrinia, ya
dia adalah Sam. “Aku merindukanmu...” ujar Sam sambil memeluk Citrinia dengan
sangat kencang.
“Kakak juga merindukan mu, putra mahkota” ujar Citrinia perkataannya
diakhir dengan tawa kecil.
“Sudah berapa kali aku bilang jangan panggil aku putra
mahkota! Ayolah itu sangat tidak nyaman bagiku” ujar Sam dengan bibir yang
semakin kedepan. “Haha, iya iya” balas Citrinia.
“Mama sangat merindukanmu Nana” itu adalah suara dari Milanda,
ibu dari Citrinia. Dan panggilan ‘Nana’ itu mulai terdengar akrab saat Citrinia
dan kedua orang tuanya tidak bersikap dingin.
Citrinia memeluk ibunya, dan menepuk – nepuk punggung
ibunya. “Aku pulang” ujar Citrinia “Aku juga merindukan mama” lanjutnya.
Sedangkan Davide disambut oleh kakaknya, Pangeran Lence. “Kak”
sapa Davide, sambil menghampiri kakaknya tersebut. Pangeran Lence melambaikan
tangannya secara perlahan.
“Akhirnya kamu pulang, Ayahanda dan Ibunda merindukanmu.” Ujar
Pangeran Lence.
“Iya, maaf aku lama kembalinya. Bagaimana kabar kalian?”
“Sama seperti sebelumnya, aku dengar kamu akan menikahi
Citrinia?”
“Iya, ibunda dan ayahanda juga sudah menyetujui hal
tersebut. Nanti aku akan melamarnya” ujar Davide yang disertai anggukan pelan
__ADS_1
oleh Pangeran Lence.