Journey To Another World

Journey To Another World
#34


__ADS_3

Citrinia dan Davide yang ditinggalkan berdua, hanya diam


termenung. Citrinia berjalan kearah pohon besar dan rimbun, lalu duduk dibawah


naungan pohon tersebut. Sedangkan Davide hanya berdiri disamping Citrinia,


dibawah naungan pohon.


“Aku tidak mengerti, rusa itu hanya monster tapi bisa


menggoyahkan hatiku!” Kesal Citrinia, sambil mengacak-acak rambutnya. Davide


hanya diam dan tidak menanggapi perkataan Citrinia.


Didalam lubuk hati Davide, ada sebuah lentera harapan untuk


menyelamatkan manusia dan bumi tanpa adanya pertumpahan darah. Namun lentera


itu mati dan tidak bisa lagi menyala, dia tahu tidak bisa membiarkan bumi terus


seperti ini, namun disatu sisi dia ragu.


“Davide, apa memang tidak ada cara untuk menyelamatkan


mereka? Seperti membuat mereka hidup berdampingan dengan manusia. Mereka bisa


rukun satu sama lain!” Ujar Citrinia, rupanya lentera harapan dihatinya masih


menyala walau redup.


Davide mengubah posisinya yang semulanya berdiri menjadi


jongkok tepan didepan Citrinia.


“Rina, berpikirlah logis. Apakah para manusia bisa menerima


mereka yang ttelah menghancurkan semuanya? Dan apakah para monster bisa


menerima untuk tinggal dengan manusia?” Ujar Davide , tangan kanan Davide


memegang tangan mungil Citrinia dan tangan satunya lagi membelai lembut rambut


Citrinia.


“Kenapa gak kita coba? Bukanya semua hal itu mungkin saat


kita berusaha?” Tanya Citrinia, sisi keras kepala Citrinia muncul, ia ragu


untuk membunuh monster.


“Rina, aku tanya lagi ya, kamu bisa menghilangkan naluri


mereka? Sedikit saja merasakan aura jahat mereka bisa menghancurkan bumi lagi,


dan dilihat dari arietes mons, mereka tersiksa dengan keadaan mereka sekarang


ini. Sekarang tugas kita menghancurkan monster-moster lalu minimal membuat


dunia kembali kesedia kalanya, dan bila bisa menjadi lebih baik dari


sebelumnya” jelas Davide, dia tetap menenangkan Citrinia padahal hatinya

__ADS_1


sendiri sedang gusar.


Citrinia menundukan kepalanya, ia sadar telah keras kepala


dan tidak berpiki sampai sejauh itu. Namun dia tetap terdiam, dia ingin sekali


membuat para monster itu hidup lebih baik dengan menarik semua sihir hitam dari


mereka, dan membuat dunia lebih baik. Sayangnya takdir berkata lain, dia harus


meemilih untuk membunuh untuk menyelesaikan semuanya atau menarik sihir hitam


tetapi ada kemumgkinan untuk mereka kambuh.


“Baiklah, ayo kita harus menyelesaikan mereka walau akan


terjadi pertumpahan darah” Ujar Citrinia, dia berdiri dan mengeluarkan The Strongest


Heirloom. Davide berdiri dia menyiapkan five forcesnya.


Mereka berjalan menuju kawanan arietes mons, dan sebelum


membantai kawanan tersebut Citrinia mengucapkan kata-kata terakhirnya untuk


para rusa “Aku sungguh minta maaf tapi kami sudah memutuskan”.


Pemimpin Arietes Mons menengok kearah Citrinia dan Davide,


mukanya terlihat lega dan koloninya pun begitu. “Kamu memutuskan hal yang


benar. Gunakanlah kekuatan fire serta lingkaran sihir fire” Ujar pemimpin


arietes mons. Para rusa yang lain berkumpul disekeliling pemimpinnya dan siap


Davide membacakan mantra dan menyiapkan lingkaran sihir,


tempat dimana para rusa itu berpijak adalah berada didalam lingkaran sihir.


Sedangkan Citrinia berada dilingkaran sihir kedua yang berada didepan lingkaran


sihir untuk para rusa.


Citrina mengayunkan The Strongest Heirloom, lalu


menancapkanya ketanah dengan penuuh tenaga, aliran sihir yang nampak seperti


petir menyambar dari The Strongest Heirloom. Air mata jatuh dari mata Citrinia,


gerak mulut yang mengatakan maaf terlihat begitu jelas.


Davide menggerakan tangannya dan, secara bersamaan sihir


dari Citrinia dan Davide membuat api yang begitu besar dan membuat rusa-rusa


itu terbakar, rasa gusar di hati hilang menjadi rasa sedih yang baru.


“Padahal aku sudah berjanji pada kalian, untuk mengembalikan


kalian kehabitatnya maafkan aku” Ucap Citrinia yang tidak bisa menepati


janjinya.

__ADS_1


Setelah api sihir itu hilang karna sudah ditarik kembali


oleh Citrinia dan Davide. Begitu juga dengan rusa-rusa itu menghilang karena


mereka sudah mati.


“Rina, kita sudah selesai ayo pulang” Ujar Davide, tetapi


setelah menengok kearah kekasihnya dia melihat kekasihnya yang sedang terduduk


lemas. Tanpa berfikir panjang dia langsung berlari menghampiri Citrinia dan


memeluknya.


“Berhenti menangis, kamu juga menyakitiku” Ucap Davide, yang


juga menjadi ingin menangis setelah melihat kekasihnya menangis.


“Dav, kenapa tidak ada sisa dari rusa-rusa?” Tanya Citrinia


yang sadar tidak ada satupun sisa pembakaran.


Davide menengok, dan dia menghela nafasnya dia kembali


menengok kearah Citrinia. Davide memegang kedua pundaknya dan mulai berbicara


“Sekarang kita mengetahui satu hal baru, untuk monster yang berasal dari mahluk


hidup, pada dasarnya mereka telah mati karena tubuh mereka yang tidak bisa


menahan sihir hitam” jelas Davide.


“Kalau begitu walau kita menarik kembali sihir hitamnya,


sama saja percuma dan mereka akan mati?”


“Itu benar, atau bila mereka tidak mati, mereka dapat


sewaktu-waktu kambuh. Dan kamu udah menuhin janji kamu kepada mereka, karena


mereka mati dihabitatt asli mereka” Ucap Davide.


Perasaan Citrinia semakin membaik dan sekaranng mereka telah


kembali kerumah, dan ada satu hal yang harus mereka diskusikan.


“Kita harus berpencar, dunia akan semakin cepat untuk


kembali kesedia kalanya” Ucap Davide, yang teringat masih ada beberapa monster


yang harus ditangani.


“Iya, kita harus membagi tugas. Dan ingat untuk tetap


berkomunikasi selama tugas, bila dalam keadaan darurat harus segera menghubungi


satu sama lain” Balas Citrnia.


“Baik, ayo kebola infromasi, kita akan bagi tugas” Ucap


Davide, sambil berlalu menuju bola infromasi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2