
Setelah mendapat panggilan suara dari Davide, Citrinia
langsung saja bersiap dan mengajak Ben ikut bersamanya ketempat monster besar
yang meminta dirinya untuk menghancurkan dirinya sendiri.
“Emm, nona apa yang harus kita cari lagi? Bukankah
masalahnya sudah beres?” Tanya Ben, Citrinia tidak menjelaskan apa yang
terjadi, dan membuat Ben kebingungan.
“Ah, kamu benar, Davide menemukan sebuah kristal setelah
membunuh monster. Aku hanya ingin tahu apakah ada kristal dimonster yang kita
kalahkan tadi. Jadi mari mencarinya!” Balas Citrinia, dia melihat sekilas
tempat dia berdiri setelah perkataanya dan diaiakan oleh Ben mereka berpencar
untuk mencari kristal itu.
Setelah beberapa saat mencari.. “Eh? Nona apa ini adalah
kristal yang anda cari? Kekuatanya sangatlah tidak stabil” Ucap Ben sambil
menunjukan kristal bening yang memancarkan cahaya berwarna-warni. Citrinia
langsung saja menghampiri Ben dan melihat kristal tersebut. “Sepertinya ini
kristalnya, terimakasih ben”
Citrinia langsung saja melakukan panggilan suara dengan
Davide setelah dia mengirim gambar kristal tersebut kepada Davide. “Rina, aku
sudah melihat gambar tersebut dan kristal nya mirip” Ucap Davide dari sebrang
sana, “Baik! Tapi aku terpikirkan sesuatu bagaimana dengan dua monster yang
kita kalahkan dulu? Apakah mereka juga mempunyai kristal ini?” Tanya Citrinia.
“Tidak, aku selalu mengecek tempatnya sebelum kita kembali dan
tidak menemukan apapun”
“Hah, baiklah sekarang ada pertanyaan baru. Apakah ini sebuah
petunjuk baru?”
“Ya, Rina untuk sementara kita pegang saja dulu kristalnya
nanti saat kita bertemu lagi kita akan memastikanya”
“Em, baiklah! Hah, kapan aku bisa beristirahat?”
“Pft, istrahatlah malam ini tugaskan Ben untuk berjaga”
“Heeeey, Aku mendengarnya loh! Aku juga manusia woi!” Marah
Ben, karena Citrinia mengaktifkan mode speaker membuat Ben dapat mendengar
semuanya dengan jelas.
“Heey, jadi kamu mau membuat nonamu itu sakit? Lagi pulakan
Citrinia adalah atasanmu karena aku pacarnya berarti aku juga atasanmu dongk? Hmmm”
Balas Davide diikuti oleh tawanya yang manis dan hangat.
“Sudah-sudah, kalian ini haha” Ucap Citrinia ditengah
perdebatan mereka “Tapi dia menyalah gunakan kekuasaan!” Ucap Ben dengan nada
kesal dan tinggi.
“Em, kamu benar juga. Tapi ingatlah janji mu itu!” Setelah
ucapan Citrinia berakhir Ben hanya bisa terdiam dan mengaggukan kepala.
“Janji? Kalian membuat janji apa hey!”
“Janji itu sudah dibuat sebelum aku bertemu lagi denganmu,
janjinya itu seperti sumpah ksatria”
“Em, baiklah. Kalo gak salah disana udah jam 11 malam kan? Tidurlah,
aku akan lanjut partoli disini”
“Baiklah, byebye jaga kesehatan ya!”
“Kamu juga, byebye”
Setelah sambungan suara terputus, Citrinia baru sadar bahwa
selama beberapa hari ini dia kurang istirahat dan kini tubuhnya sangatlah
kelelahan dan serasa seperti akan pingsan. “Ayo pulang, aku lelah” Ajak
Citrinia kepada Ben, Ben mengangguk dan Citrinia menggunakan teleportasi untuk
kembali sedangkan Ben masih harus dengan cara manual agar bisa kembali kerumah.
Citrinia tidak kuasa menahan rasa kantuk dan matanya yang sudah
tidak dapat terbuka lebar, baru saja dia duduk di sofa untuk melepas sepatunya
__ADS_1
dan ingin kembali kekamar, namun dia sudah tertidur disana.
Beberapa saat kemudia Ben sampai di depan rumah, dia membuka
pintu perlahan karena lampu yang masih menyala dia mengiran Citrinia lupa untuk
mematikannya. Langkah berhenti setelah Ben melihat Citrinia terlelap disofa,
Ben baru sadar wajah nonanya itu pucat.
Dia berjalan kearah Citrinia, menggunakan kekuatanya dia
mengambil selimut dan menutupi tubuh Citrinia dengan selimut. Ben melihat kearah
nonanya itu “Terimakasih ya, berkat anda aku masih bisa hidup, tanpa anda aku sudah
mati ‘disana’ terimakasih” Ucap Ben dengan wajah tersenyum.
Malam ini giliran Ben yang berjaga, dia membuat secangkir
kopi lalu pergi keruang tengah tempat Citrinia tertidur. Dia berdiri didekat
jendela dan menyenderkan badanya, seketika dia teringat akan masal lalu dan
bagiamana dia bertemu dengan Citrinia.
-----
Malam itu saat umur Citrinia 9 tahun begitu juga dengan Ben.
Orang tua Ben adalah tangan kanan Adam diperusahaan begitu juga ayah Ben
seperti sobat bagi Adam. Malam yang seharusnya berlangsung meriah malah menjadi
bencana. Untuk merayakan tahun baru, sebuah perusahaan yang berkerja sama
dengan perusahaan keluarga Citrinia mengundang Adam sekeluarga dan keluarga Ben
untuk merayakan tahun baru disebuah vila mewah.
Pertengahan acara tiba-tiba saja terjadi ledakan, semua
orang panik. Tempat anak anak yang umurnya kurang dari 10 tahun berkumpul
terkepung oleh api, untungnya anak-anak bisa keluar namun saat menuju ruang
acara utama mereka juga terperangkap oleh api.
“Ayah! Ibu!” Teriak anak-anak begitu juga dengan Ben, namun
tidak ada tanda-tanda orangtua disana. “Aya..h i iibu?” Ucap Ben yang melihat
jasad kedua orangtuanya terpampang didepan mata. “Semuanya! Tenanglah, kita
keluar bersama-sama jangan panik!” Teriak Citrinia entah dorongan dan kekuatan
“Ben! Ayo pergi!” Ajak Citrinia menarik lengan Ben begitu
keras “Tidak biarkan aku mati bersama kedua orangtuaku disini kuomohon
tinggalkan aku” Ucap frustasi Ben “Bodoh, mereka pasti tidak ingin melihatmu
seperti ini! Ayo pergi!” Citrinia berhasil menarik tangan dan tubuh Ben untuk keluar
dari sana.
Anak-anak lainnya juga mengikuti Citrinia untuk mencari
jalan keluar sebelum vilanya runtuh. Setelah beberapa saat didalam api mereka
berhasil keluar tanpa cedera parah. Banyak keluarga yang berterimakasih atas
keberanian Citrinia karena telah menolong anak mereka.
“Citrinia? Apa kamu melihat ayah Ben?” Tanya Adam kepada
Citrinia “Ya, setengah dari tubuh mereka sudah terbakar, aku masih bisa melihat
wajahnya” Adam menghembuskan nafasnya, begitu juga Milanda.
“Ayah, apa ayah bisa mengabulkan permohonanku?” Tanya
Citrinia kepada ayahnya “Apa yang ingin kamu minta?” Balas Adam, Milanda
menatap penasaran dengan permintaan Citrinia yang baru saja keluar dari kobaran
api.
Citrinia melihat kearah Ben “Ben, dia pasti harus melakukan
rehabitilasi, jadikanlah dia anak angkat walau tidak berada di KK tolong rawat
dia sampai dia bisa menghasilkan uang sendiri” Ucap seorang gadis berumur 9
tahun itu, membuat Milanda terharu.
“Baiklah, hah aku berduka mereka gagal melarikan diri dan mati
begitu saja”
“Apa ayah kira kematian adalah kegagalan?”
“Ya, dalam kasus ini ayah mengatakanya kegagalan”
“Bagiku tidak seperti itu, bagiku itu adalah jalan akhir. Bayangkan
bila mereka berhasil keluar namun dengan luka parah disetiap sudut tubuh
__ADS_1
mereka, mereka akan hidup dengan menderita begitu juga dengan Ben”
“Aku terkadang berfikir apakah kamu seorang gadis berumur 9
tahun?” Ucap Adam dengan menatap Citrinia, Citrinia hanya mengangkat bahunya dengan
muka datar.
---
“Hah, kamu bukan hanya menyelamatkanku tapi, menyelamatkan
semua anak disana. Aku berhutang hidup kepadamu nonaku” Guman Ben dengan
menatap wajah Citrinia yang masih tertidur pulas, dan dia juga menjadi teringat
tentang janji yang dia buat untuk Citrinia.
---
Tok-tok suara pintu ruangan Citrinia berbunyi “Ya, masuklah”
Balas Citrinia dari balik pintu “Nona maaf saya mengganggu waktu belajar anda
tapi ada tamu” Ucap seorang pelayan “Ya, persilahkan dia masuk” Balas Citrinia,
perlahan Ben yang sudah berumur 15 tahun muncul dari balik pintu.
Citrinia nampak tekejut, lalu dia melambaikan tangan kepada
pelayan yang mengisyaratkan untuk dia keluar. “Ben? Masuklah, kamu sudah pulang
rupanya selamat datang kembali” Sambut Citrinia, walau nampak hangat namun
Citrinia melakukanya dengan dingin dan sambil mengerjakan tugasnya.
“Kedatanganku kurang pas rupanya, terimakasih atas sambutan
anda. Saya disini untuk menjadi pendamping dan pengawal pribadi anda, atas
inisiatif saya” Ucap Ben dengan lantang dan dengan wajah yang menatap Citrinia,
setelah perkataanya selesai Citrinia menghentikan pekerjaanya.
“Hmm, kenapa aku harus menjadikanmu bawahanku?” Tanya
Citrinia kedua tanganya menyangga kepalanya diatas meja.
“Karena andalah yang menyelamatkan hidup saya dan membantu
saya dari kobaran api itu. Mulai dari situ dan saat saya direhat saya bertekad
untuk melindungi anda sebagai bawahan anda”
“Perkataan itu, sangat tidak cocok untuk anak umur 15 tahun,
tapi baiklah aku terima kalau begitu kamu akan masuk sekolah yang sama denganku?”
“Ya benar nona, biarkan saya membuat janji dengan anda”
“Janji? Janji apa?”
“Mulai saat ini saya Ben, akan mendampingi, melindungi,
menuruti perintah dan menjadi teman bagi
anda. Apakah anda mau dibuatkan janji secara tertulis?”
“Hahaha, itu seperti sumpah ksatria, tidak perlu secara tertulis,
cukup sampai disitu saja. Aku harap hubungan kita bisa dekat Ben”
“Saya juga nona”
---
“Diumurnya yang masih 9 dan 15 tahun dia sudah sangat
dewasa, kapan masa kecilnya sih?” Guman Ben, dia menghelakan nafasnya dan
sedikit tertawa mengingat masa lalunya bersama Citrinia dari umur 8 saat
pertama kali bertemu, umur 9 menghadapi garis kematian atau kehidupan bersama,
dan dari umur 15 tahun selalu bersama.
Serta mengingat kelakuan satu sama lain saat bersama,
terkadang Ben juga menjadi tidak tahu diri. Tapi Citrinia tidak terlalu mempermasalahkanya,
karena Ben juga adalah sobatnya yang tidak melihat latar belakang.
“Aduhduh, umur kita saja baru memasuki kuliah tapi sudah
mengjadapi banyak hal. Hemm, nona juga sudah memegang banyak kendali dari umur
18 tahun untuk perusahaan. Ini seperti sebuah cerita saja” guman Ben, sebenarnya
perasaan Ben lebih besar dari kata patner dan sobat.
Hanya saja karena mengetahui tentang Davide saat diajar oleh
Milanda dan Adam untuk menggunakan kekuatan sihir, dia menyembunyikan
perasaanya. Karena prioritasnya adalah Citrinia seorang, dan tuanya diamasa
depan yaitu Davide.
__ADS_1