Journey To Another World

Journey To Another World
#39


__ADS_3

Setelah mendapat panggilan suara dari Davide, Citrinia


langsung saja bersiap dan mengajak Ben ikut bersamanya ketempat monster besar


yang meminta dirinya untuk menghancurkan dirinya sendiri.


“Emm, nona apa yang harus kita cari lagi? Bukankah


masalahnya sudah beres?” Tanya Ben, Citrinia tidak menjelaskan apa yang


terjadi, dan membuat Ben kebingungan.


“Ah, kamu benar, Davide menemukan sebuah kristal setelah


membunuh monster. Aku hanya ingin tahu apakah ada kristal dimonster yang kita


kalahkan tadi. Jadi mari mencarinya!” Balas Citrinia, dia melihat sekilas


tempat dia berdiri setelah perkataanya dan diaiakan oleh Ben mereka berpencar


untuk mencari kristal itu.


Setelah beberapa saat mencari.. “Eh? Nona apa ini adalah


kristal yang anda cari? Kekuatanya sangatlah tidak stabil” Ucap Ben sambil


menunjukan kristal bening yang memancarkan cahaya berwarna-warni. Citrinia


langsung saja menghampiri Ben dan melihat kristal tersebut. “Sepertinya ini


kristalnya, terimakasih ben”


Citrinia langsung saja melakukan panggilan suara dengan


Davide setelah dia mengirim gambar kristal tersebut kepada Davide. “Rina, aku


sudah melihat gambar tersebut dan kristal nya mirip” Ucap Davide dari sebrang


sana, “Baik! Tapi aku terpikirkan sesuatu bagaimana dengan dua monster yang


kita kalahkan dulu? Apakah mereka juga mempunyai kristal ini?” Tanya Citrinia.


“Tidak, aku selalu mengecek tempatnya sebelum kita kembali dan


tidak menemukan apapun”


“Hah, baiklah sekarang ada pertanyaan baru. Apakah ini sebuah


petunjuk baru?”


“Ya, Rina untuk sementara kita pegang saja dulu kristalnya


nanti saat kita bertemu lagi kita akan memastikanya”


“Em, baiklah! Hah, kapan aku bisa beristirahat?”


“Pft, istrahatlah malam ini tugaskan Ben untuk berjaga”


“Heeeey, Aku mendengarnya loh! Aku juga manusia woi!” Marah


Ben, karena Citrinia mengaktifkan mode speaker membuat Ben dapat mendengar


semuanya dengan jelas.


“Heey, jadi kamu mau membuat nonamu itu sakit? Lagi pulakan


Citrinia adalah atasanmu karena aku pacarnya berarti aku juga atasanmu dongk? Hmmm”


Balas Davide diikuti oleh tawanya yang manis dan hangat.


“Sudah-sudah, kalian ini haha” Ucap Citrinia ditengah


perdebatan mereka “Tapi dia menyalah gunakan kekuasaan!” Ucap Ben dengan nada


kesal dan tinggi.


“Em, kamu benar juga. Tapi ingatlah janji mu itu!” Setelah


ucapan Citrinia berakhir Ben hanya bisa terdiam dan mengaggukan kepala.


“Janji? Kalian membuat janji apa hey!”


“Janji itu sudah dibuat sebelum aku bertemu lagi denganmu,


janjinya itu seperti sumpah ksatria”


“Em, baiklah. Kalo gak salah disana udah jam 11 malam kan? Tidurlah,


aku akan lanjut partoli disini”


“Baiklah, byebye jaga kesehatan ya!”


“Kamu juga, byebye”


Setelah sambungan suara terputus, Citrinia baru sadar bahwa


selama beberapa hari ini dia kurang istirahat dan kini tubuhnya sangatlah


kelelahan dan serasa seperti akan pingsan. “Ayo pulang, aku lelah” Ajak


Citrinia kepada Ben, Ben mengangguk dan Citrinia menggunakan teleportasi untuk


kembali sedangkan Ben masih harus dengan cara manual agar bisa kembali kerumah.


Citrinia tidak kuasa menahan rasa kantuk dan matanya yang sudah


tidak dapat terbuka lebar, baru saja dia duduk di sofa untuk melepas sepatunya

__ADS_1


dan ingin kembali kekamar, namun dia sudah tertidur disana.


Beberapa saat kemudia Ben sampai di depan rumah, dia membuka


pintu perlahan karena lampu yang masih menyala dia mengiran Citrinia lupa untuk


mematikannya. Langkah berhenti setelah Ben melihat Citrinia terlelap disofa,


Ben baru sadar wajah nonanya itu pucat.


Dia berjalan kearah Citrinia, menggunakan kekuatanya dia


mengambil selimut dan menutupi tubuh Citrinia dengan selimut. Ben melihat kearah


nonanya itu “Terimakasih ya, berkat anda aku masih bisa hidup, tanpa anda aku sudah


mati ‘disana’ terimakasih” Ucap Ben dengan wajah tersenyum.


Malam ini giliran Ben yang berjaga, dia membuat secangkir


kopi lalu pergi keruang tengah tempat Citrinia tertidur. Dia berdiri didekat


jendela dan menyenderkan badanya, seketika dia teringat akan masal lalu dan


bagiamana dia bertemu dengan Citrinia.


-----


Malam itu saat umur Citrinia 9 tahun begitu juga dengan Ben.


Orang tua Ben adalah tangan kanan Adam diperusahaan begitu juga ayah Ben


seperti sobat bagi Adam. Malam yang seharusnya berlangsung meriah malah menjadi


bencana. Untuk merayakan tahun baru, sebuah perusahaan yang berkerja sama


dengan perusahaan keluarga Citrinia mengundang Adam sekeluarga dan keluarga Ben


untuk merayakan tahun baru disebuah vila mewah.


Pertengahan acara tiba-tiba saja terjadi ledakan, semua


orang panik. Tempat anak anak yang umurnya kurang dari 10 tahun berkumpul


terkepung oleh api, untungnya anak-anak bisa keluar namun saat menuju ruang


acara utama mereka juga terperangkap oleh api.


“Ayah! Ibu!” Teriak anak-anak begitu juga dengan Ben, namun


tidak ada tanda-tanda orangtua disana. “Aya..h i iibu?” Ucap Ben yang melihat


jasad kedua orangtuanya terpampang didepan mata. “Semuanya! Tenanglah, kita


keluar bersama-sama jangan panik!” Teriak Citrinia entah dorongan dan kekuatan


“Ben! Ayo pergi!” Ajak Citrinia menarik lengan Ben begitu


keras “Tidak biarkan aku mati bersama kedua orangtuaku disini kuomohon


tinggalkan aku” Ucap frustasi Ben “Bodoh, mereka pasti tidak ingin melihatmu


seperti ini! Ayo pergi!” Citrinia berhasil menarik tangan dan tubuh Ben untuk keluar


dari sana.


Anak-anak lainnya juga mengikuti Citrinia untuk mencari


jalan keluar sebelum vilanya runtuh. Setelah beberapa saat didalam api mereka


berhasil keluar tanpa cedera parah. Banyak keluarga yang berterimakasih atas


keberanian Citrinia karena telah menolong anak mereka.


“Citrinia? Apa kamu melihat ayah Ben?” Tanya Adam kepada


Citrinia “Ya, setengah dari tubuh mereka sudah terbakar, aku masih bisa melihat


wajahnya” Adam menghembuskan nafasnya, begitu juga Milanda.


“Ayah, apa ayah bisa mengabulkan permohonanku?” Tanya


Citrinia kepada ayahnya “Apa yang ingin kamu minta?” Balas Adam, Milanda


menatap penasaran dengan permintaan Citrinia yang baru saja keluar dari kobaran


api.


Citrinia melihat kearah Ben “Ben, dia pasti harus melakukan


rehabitilasi, jadikanlah dia anak angkat walau tidak berada di KK tolong rawat


dia sampai dia bisa menghasilkan uang sendiri” Ucap seorang gadis berumur 9


tahun itu, membuat Milanda terharu.


“Baiklah, hah aku berduka mereka gagal melarikan diri dan mati


begitu saja”


“Apa ayah kira kematian adalah kegagalan?”


“Ya, dalam kasus ini ayah mengatakanya kegagalan”


“Bagiku tidak seperti itu, bagiku itu adalah jalan akhir. Bayangkan


bila mereka berhasil keluar namun dengan luka parah disetiap sudut tubuh

__ADS_1


mereka, mereka akan hidup dengan menderita begitu juga dengan Ben”


“Aku terkadang berfikir apakah kamu seorang gadis berumur 9


tahun?” Ucap Adam dengan menatap Citrinia, Citrinia hanya mengangkat bahunya dengan


muka datar.


---


“Hah, kamu bukan hanya menyelamatkanku tapi, menyelamatkan


semua anak disana. Aku berhutang hidup kepadamu nonaku” Guman Ben dengan


menatap wajah Citrinia yang masih tertidur pulas, dan dia juga menjadi teringat


tentang janji yang dia buat untuk Citrinia.


---


Tok-tok suara pintu ruangan Citrinia berbunyi “Ya, masuklah”


Balas Citrinia dari balik pintu “Nona maaf saya mengganggu waktu belajar anda


tapi ada tamu” Ucap seorang pelayan “Ya, persilahkan dia masuk” Balas Citrinia,


perlahan Ben yang sudah berumur 15 tahun muncul dari balik pintu.


Citrinia nampak tekejut, lalu dia melambaikan tangan kepada


pelayan yang mengisyaratkan untuk dia keluar. “Ben? Masuklah, kamu sudah pulang


rupanya selamat datang kembali” Sambut Citrinia, walau nampak hangat namun


Citrinia melakukanya dengan dingin dan sambil mengerjakan tugasnya.


“Kedatanganku kurang pas rupanya, terimakasih atas sambutan


anda. Saya disini untuk menjadi pendamping dan pengawal pribadi anda, atas


inisiatif saya” Ucap Ben dengan lantang dan dengan wajah yang menatap Citrinia,


setelah perkataanya selesai Citrinia menghentikan pekerjaanya.


“Hmm, kenapa aku harus menjadikanmu bawahanku?” Tanya


Citrinia kedua tanganya menyangga kepalanya diatas meja.


“Karena andalah yang menyelamatkan hidup saya dan membantu


saya dari kobaran api itu. Mulai dari situ dan saat saya direhat saya bertekad


untuk melindungi anda sebagai bawahan anda”


“Perkataan itu, sangat tidak cocok untuk anak umur 15 tahun,


tapi baiklah aku terima kalau begitu kamu akan masuk sekolah yang sama denganku?”


“Ya benar nona, biarkan saya membuat janji dengan anda”


“Janji? Janji apa?”


“Mulai saat ini saya Ben, akan mendampingi, melindungi,


menuruti perintah  dan menjadi teman bagi


anda. Apakah anda mau dibuatkan janji secara tertulis?”


“Hahaha, itu seperti sumpah ksatria, tidak perlu secara tertulis,


cukup sampai disitu saja. Aku harap hubungan kita bisa dekat Ben”


“Saya juga nona”


---


“Diumurnya yang masih 9 dan 15 tahun dia sudah sangat


dewasa, kapan masa kecilnya sih?” Guman Ben, dia menghelakan nafasnya dan


sedikit tertawa mengingat masa lalunya bersama Citrinia dari umur 8 saat


pertama kali bertemu, umur 9 menghadapi garis kematian atau kehidupan bersama,


dan dari umur 15 tahun selalu bersama.


Serta mengingat kelakuan satu sama lain saat bersama,


terkadang Ben juga menjadi tidak tahu diri. Tapi Citrinia tidak terlalu mempermasalahkanya,


karena Ben juga adalah sobatnya yang tidak melihat latar belakang.


“Aduhduh, umur kita saja baru memasuki kuliah tapi sudah


mengjadapi banyak hal. Hemm, nona juga sudah memegang banyak kendali dari umur


18 tahun untuk perusahaan. Ini seperti sebuah cerita saja” guman Ben, sebenarnya


perasaan Ben lebih besar dari kata patner dan sobat.


Hanya saja karena mengetahui tentang Davide saat diajar oleh


Milanda dan Adam untuk menggunakan kekuatan sihir, dia menyembunyikan


perasaanya. Karena prioritasnya adalah Citrinia seorang, dan tuanya diamasa


depan yaitu Davide.

__ADS_1


__ADS_2