
Kiara dan Nicholas berada di satu ruangan di perusahaan.
Tiba tiba saja langit cerah berubah menjadi sangat gelap.
“Hem? Bukannya ramalan cuaca bilang hari ini cerah?” ujar
Nicholas, dia membuka HandPhone nya dan mengechek kembali ramalan cuaca.
“Ck, Ramalan cuaca akhir akhir ini gak bisa dipercaya.” balas
Kiara, dia kembali fokus kepada dokumen yang berada ditangannya.
Langit yang gelap perlahan meneteskan air, air itu menjadi
deras. “Hujannya sangat deras” ujar Kiara yang berada didepan jendela, perasaan
Nicholas mulai terganggu, ini bukan persaan negatif saja namun ada sebuah
perasaan yang sulit dijelaskan.
“Lebih baik kita pulang” ujar Nicholas, dia berfikir
kejanggalan di dalam dirinya dapat di konsultasikan kepada orang tuanya. Kiara
mengangguk menyetujui.
Sesampainya dirumah...
“Kalian sudah pulang?” ujar Davide di depan pintu. “Pa? Papa
ngapain coba diluar rumah gini? Diusir mama?” ujar Kiara, dengan nada mengejek.
“Dasar kamu, papa hanya ingin diluar saja, sana masuk mama
udah nunggu hus pergi sana hus” balas Davide sambil melambaikan tangannya,
Kiara hanya tertawa dan masuk kedalam rumah.
Sedangkan Nicholas, dia sempat membuat ‘eye contac**t’ dengan ayahnya
itu. Tatapan mata satu sama lain terasa aneh seperti menyiaratkan sesuatu yang
besar akan terjadi.
Kiara dan Nicholas memasuki rumah tersebut dan diikuti oleh
ayahnya, dapat dilihat Citrinia yang sedang membaca buku dengan serius. “Ma? Baca
apa?” tanya Kiara penasaran, Citrinia refleks langsung menutup buku tersebut
dan berkata “Kalian sudah pulang? Ah mama senang sekali akhirnya kalian pulang
cepat, mama baca apa? Cuman baca resep masak doang”
Kiara hanya mengangguk namun dia baru merasa ada yang
janggal, sedangkan Nicholas semakin pusing dengan apa yang terjadi di tengah
keluarga kecil ini.
Kiara dan Nicholas disuruh untuk beristirahat dan kembali saat
makan malam telah tiba.
--
Citrinia yang berada di kamarnya menghubungi Ben melalu
__ADS_1
sambungan telephone.
“Ben? Kamu merasakannya?” ujar Citrinia tanpa basa basi.
“Ya Nyonya, saya merasakannya, Caneza juga merasakannya”
balas Ben disebrang sana.
“Apa yang terjadi sebenarnya...” guman Citrinia. Ben yang
dapat mendengar gumanan itu menjawab “Nona apa mungkin ini sama seperti yang
waktu itu?” ujar Ben, dia merujuk kepada masa dimana malapetaka terjadi di
zaman Citrinia menjadi hero.
“Tidak, ini berbeda. Ini bukan kegelapan yang berada di
Crystal World juga Bumi...” ujar Citrinia.
Nicholas yang berada di depan pintu kamar orang tuanya
tercengan mendengar hal tersebut. Awalnya Nicholas ingin memberikan beberapa
dokumen perusahaan untuk ditandatani oleh Citrinia, namun apa yang didengarnya
menjelaskan sedikit dari rasa janggalnya.
Nicholas mengetuk pintu sebanyak tiga kali, dan memasuki
kamar orang tuanya tersebut. “Ma, ada beberapa dokumen yang harus mama tanda
tangani” ujar Nicholas sambil meletakan dokumen tersebut di meja kerja ibunya.
senyuman itu seperti tidak ada yang terjadi.
“Hujannya masih sangat deras” ujar Nicholas mencari bahan
perbincangan. “Hem, oh iya, sama derasnya dengan tadi sore. Hanya ini dokumennya?”
ujar Citrinia yang selesai membaca dokumen yang diberikan oleh anaknya itu.
“Iya hanya itu, ma..” perkataan Nicholas mengantung, saat
dia berfikir kembali apakah harus membicarakannya sekarang atau tidak.
“Kenapa Nic?” tanya Citrinia dengan wajah kebingungannya. “Nicholas
seorang elected kan?” tanya Nicholas kepada ibunya. “Iya” balas Citrinia.
“Jadi hal wajar kalo Nicholas bisa menggunakan sihir dan
merasakan hal yang janggal?” tanya Nicholas lagi. Citrinia mengerutkan
keningnya dia tahu arah perbincangan ini kemana.
“Itu benar, tapi untuk saat ini yang terbaik bagi kamu adalah
diam dan pura pura tidak mengetahuinya” ujar Citrinia.
“Ke-kenapa? Nicholas dan Kiara sudah besar dan....”
“Nic, mama tau kamu ingin menolong, kamu mendengar
perbincangan mama dan Ben kan?” Nicholas terdiam setelah mendengar perkataan ibunya
__ADS_1
itu.
“Dengan Nic, kali ini mungkin memang akan terjadi mala
petaka baru, tapi kekuatan kegelapan kali ini berbeda. Mama akan memanggil mu dan
kiara saat sudah waktunya. Sebagai seorang Elected dan 5 forces mama yakin kamu
dan Kiara dapat mengerti.” Ujar Citrinia.
“1 Bulan, 1 bulan kamu jangan urus pekerjaan kantor serahkan
dulu kepada sekretarismu. Latihlah kekuatannmu itu bersama Caneza atau Ben atau
papa, bersama Kiara. Kamu butuh persiapan sebelum terjun ke medan perang, sekarang
ayo makan malam” lanjut Citrinia, setelah menyelesaikan perkataannya dia menarik
baju putranya untuk pergi makan malam.
--
“Kak?” Kiara memasuki kamar Nicholas tanpa mengetuk pintu
ataupun meminta izin. “Udah malem kenapa masih bangun?” balas Nicholas tanpa
menatap mata adiknya itu.
“Akan terjadi malapetaka baru?” ujar adiknya yang langsung kepada
intinya, membuat Nicholas tidak dapat berkata – kata, Nicholas berusaha tetap
tenan didepan adik perempuannya itu.
“Jaga perkataanmu, mungkin ini hanya kekuatan kegelepan yang
bocor” ujar Nicholas sambil memandang jendela, dapat dilihat hujan memang sudah
berhenti namun awan awan masih sangat gelap dan mencengkam.
“Bocor? Heh! Sampai kapan kakak akan membohongi ku? Aku dapat
merasakannya ini bukan kekuatan kegelapan dari Crystal World maupun bumi” ujar
Kiara sambil mengangkat alisnya dan meninggikan nada bicaranya.
“Kamu tau dari mana?” tidak sengaja Nicholas mengatakan hal
tersebut yang secara tidak langsung perkataan adiknya benar.
“Aku seorang 5 Forces” balas Kiara.
“Kekuatan mu bukan di kegelapan!” ujar Nicholas.
Kiara mengangkat bahunya dan salah satu alisnya “Memang
benar kekuatan utama ku bukan disitu tapi, 5 FORCES salah satunya ada kegelapan...
aku pernah latihan sekali sama papa soal kegelapan”
Nicholas terdiam sesaat, “Hah baiklah, dengar kata mama kita
harus berlatih selama 1 bulan, berarti dalam 1 bulan kita harus meningkat
secara pesat O.K? Kita bisa melindungi dua dunia, aku sebagai elected generasi
terakhir juga kamu sebagai 5 forces” ujar Nicholas, dan diikuti oleh anggukan
__ADS_1
pelan dari Kiara.