
Keesokan harinya,
saat matahari sudah menampakan dirinya. Citrinia, Davide, Ben dan Canez, sedang
berlatih untuk meningkatkan kemampuan mereka. “Ayolah, kalian bisa lebih keras
lagi kan?” ujar Citrinia, sebenarnya dia hanya melihat mereka berlatih tampa
membantu bergitu juga dengan Davide.
“Kalau kami bisa, setidaknya kalian juga berlatih!” balas
Ben, dia bingung mengapa Citrinia dan Davide hanya duduk santai, padahal mereka
yang mendesak untuk berlatih. “Kalau kita berlatih bersama kalian, yang ada rumah
ini hancur.” balas Davide, dia mengatakan hal itu karena, dengan tingkat
kekuatan serta gabungan five forces dan kelima benda pusaka, serta berlatih ditaman
rumah? Sama saja menghancurkan benteng sendiri.
“Mengapa kalian tidak latihan dilangit saja? Sambil terbang”
ujar Caneza, Davide dan Citrinia saling menatap. “Ide bagus!” ujar mereka
berdua secara bersamaan. Dengan satu gerakan, Citrinia dan Davide mereka
terbang dengan begitu cepat namun anggun. Cara mereka berlatih adalah dengan
bertarung melawan satu sama lain.
“OK, itulah sebabnya mereka sangat lincah. Caneza mau
mencobanya?” tanya Ben kepada Caneza, namun saat menengok kearah Caneza. Dilihatnya
Caneza yang merasa geram dan mengepalkan kedua tangannya. “Kamu iri? Hah, Hey
sadarlah! Apa menurutmu Tuan Davide akan melirikmu? Siapa yang sudah mencelakai
Nona Citrinia?” ujar Ben kepada Caneza, perkataanya itu membuat Caneza semakin geram
dengan Citrinia.
“Hey! Bagaimana denganmu? Rasa cintamu kepada Citrinia yang
tidak terbalaskan dari umur 7 tahun? Tapi dia pulang dengan membawa pria lain?”
balas Caneza, terlihat dia berusaha untuk memprovokasi Ben dan Citrinia. “Aku
tidak akan terpengaruh dengan perkataan itu, karena diantara mereka sudah terdapat
benang merah. Dan mengapa kamu harus bersikap seperti ini?” tanya Ben kepada
Caneza.
“Diskriminasi yang aku terima. Kalian selalu menganggap aku
mengambil teman dan orang yang dia suka, dan ramalan itu! Aku hanya berusaha
untuk dekat dengannya dan tau mengenai orang disekitarnya! Aku juga tidak tahu
__ADS_1
mengapa orang yang Citrinia suka, kedepannya pasti aku suka juga!” teriak
Caneza, Ben yang melihat reaksinya tertawa.
“Kamu lebih bodoh dari yang kukira. Ramalan yang menyebutkan
kamu hanya akan menjadi sandungan bagi Citrinia sudah terjadi sejak kamu muncul
dihadapan paman dan bibi! Kamu mengambil kasih sayang yang harusnya diterima
Citrinia! Seharusnya dari awal kamu tidak muncul dikehidupannya dan merebut
semua miliknya” balas Ben, Ben sangatlah geram dengan kehadiran Caneza
dikehidupan ini.
“Diamlah!” teriak Caneza, dia menyerang Ben secara bertubi-tubi.
Ben menyerang balik dengan kekuatannya, dan mereka saling bertarung melawan
satu sama lain.
Setelah kurang lebih 1 jam mereka berlatih dengan begitu
keras, Citrinia menghentikan mereka. “Hah, kalian lebih terlihat seperti
berkelahi dari pada berlatih” ujar Citrinia, tangannya yang berada antara mata
dan diatas hidung menandakan, Citrinia bingung harus berbuat apa kepada kedua
orang didepannya ini.
“Sudahlah, Ben, Caneza istirahatlah. Kekuatan kalian
ujar Davide dengan senyuman, Caneza yang melihat hal itu semakin terpana dengan
Davide. Ben yang menyadari hal tersebut hanya semakin geram.
“Ben, kita perlu bicara” ucap Citrinia kepada Ben, “Ikuti
aku” lanjut Citrinia. Citrinia membawa Ben kesebuah ruangan dan mengunci pintu
masuk serta menyihir ruangan tersebut agar siapapun tidak dapat mendengar
pembicaraan mereka.
“Ada apa nona?” tanya Ben kepada Citrinia “Kenapa tadi kamu
mengusik Caneza soal itu sih?” tanya Citrinia.
“Saya kesal melihatnya yang begitu menginginkan Davide.
Tidak mungkin saya diam saja”
“Bukan, kamu kesal karena dia tahu kamu menyukai ku, dan dia
memprovakasi kita”
Ben begitu terkejut saat Citrinia mengetahui soal perasaanya
“Ba-bagaimana anda tahu?” tanyanya.
__ADS_1
“Apa aku terlihat seperti orang yang tidak peka? Dari umur
kita 7 tahun kamu sudah menyukaiku ya walau itu cinta monyet. Saat kejadian itu
dan kamu diajar oleh kedua orang tuaku, kamu bertekat untuk melindungiku, menjaga
dan menyembunyikan perasaanmu. Apa lagi setelah kamu tahu benang merahku” ujar
Citrinia, suasana menjadi begitu menegangkan bagi Ben.
“Ben, aku menghargai perasaanmu kepadaku. Tapi aku tidak
bisa membalasnya, aku minta maaf. Dan soal Caneza, kamu kan tahu orang tuaku menjadi
kurang menyukainnya, jadi tenang saja. Davide tidak akan terpengaruhi dengan
kehadirannya.” Lanjut Citrinia, Ben yang tidak dapat membendung air matanya lagi,
menangis dihadapan Citrinia.
“Oh ayolah Ben, aku terlihat sedang memarahi seorang adik
nih! Tapi.... tidak apa-apa, saat ingin menangis, menangislah saat ingin marah,
luapkanlah. Aku selalu menganggapmu sebagai adik, kamu selalu menjadi teman dan
sahabat serta keluarga yang selalu berada disisiku. Aku menyayangimu layaknya sayang
kepada kakak dan adik.” ujar Citrinia, Citrinia menenangkan Ben dengan
perkataan dan tepukan lembut dipundak.
“Hiks, hiks kalau benar begitu kenapa anda sering jahat sama
saya?”
“ha? Ya? Memangnya kakak tidak boleh menjahili adiknya. Kata
temenku, kakak yang menjahili dan seperti memperbudak adiknya adalah tanda sayang”
balas Citrinia dengan tawa kecil. “Hah! Sepertinya anda terlalu mendalaminya” balas
Ben yang membuat tawa Citrinia semakin meluap.
“Sudah jangan menangis lagi, kamu terlihat lucu menangis diumur
20 tahun, tidak lebih lucu saat menangis diumur 9 tahun. Oh iya, Davide juga
mengetahui soal perasaanmu”
“Ha!? Apa? Gimana? Aku gak bakal matikan ditangan Davide?”
“Apa-apaan reaksi itu? Tidak kok, dia juga tau soal perasaan
Caneza, kami menguping pembicaraan kalian, dia malah marah kepada Caneza”
Setelah beberapa menit kemudian Ben dan Citrinia keluar dari
ruangan tersebut, dan Davide sudah menunggu dari tadi “Sudah selesai?” tannya
Davide, “Em, kamu menunggu dari tadi? Aku haus, ayo kedapur” balas Citrinia,
__ADS_1
dia menggandeng tangan Davide dan mereka berdua bersama- sama pergi kedapur.