Journey To Another World

Journey To Another World
#43


__ADS_3

 Keesokan harinya,


saat matahari sudah menampakan dirinya. Citrinia, Davide, Ben dan Canez, sedang


berlatih untuk meningkatkan kemampuan mereka. “Ayolah, kalian bisa lebih keras


lagi kan?” ujar Citrinia, sebenarnya dia hanya melihat mereka berlatih tampa


membantu bergitu juga dengan Davide.


“Kalau kami bisa, setidaknya kalian juga berlatih!” balas


Ben, dia bingung mengapa Citrinia dan Davide hanya duduk santai, padahal mereka


yang mendesak untuk berlatih. “Kalau kita berlatih bersama kalian, yang ada rumah


ini hancur.” balas Davide, dia mengatakan hal itu karena, dengan tingkat


kekuatan serta gabungan five forces dan kelima benda pusaka, serta berlatih ditaman


rumah? Sama saja menghancurkan benteng sendiri.


“Mengapa kalian tidak latihan dilangit saja? Sambil terbang”


ujar Caneza, Davide dan Citrinia saling menatap. “Ide bagus!” ujar mereka


berdua secara bersamaan. Dengan satu gerakan, Citrinia dan Davide mereka


terbang dengan begitu cepat namun anggun. Cara mereka berlatih adalah dengan


bertarung melawan satu sama lain.


“OK, itulah sebabnya mereka sangat lincah. Caneza mau


mencobanya?” tanya Ben kepada Caneza, namun saat menengok kearah Caneza. Dilihatnya


Caneza yang merasa geram dan mengepalkan kedua tangannya. “Kamu iri? Hah, Hey


sadarlah! Apa menurutmu Tuan Davide akan melirikmu? Siapa yang sudah mencelakai


Nona Citrinia?” ujar Ben kepada Caneza, perkataanya itu membuat Caneza semakin geram


dengan Citrinia.


“Hey! Bagaimana denganmu? Rasa cintamu kepada Citrinia yang


tidak terbalaskan dari umur 7 tahun? Tapi dia pulang dengan membawa pria lain?”


balas Caneza, terlihat dia berusaha untuk memprovokasi Ben dan Citrinia. “Aku


tidak akan terpengaruh dengan perkataan itu, karena diantara mereka sudah terdapat


benang merah. Dan mengapa kamu harus bersikap seperti ini?” tanya Ben kepada


Caneza.


“Diskriminasi yang aku terima. Kalian selalu menganggap aku


mengambil teman dan orang yang dia suka, dan ramalan itu! Aku hanya berusaha


untuk dekat dengannya dan tau mengenai orang disekitarnya! Aku juga tidak tahu

__ADS_1


mengapa orang yang Citrinia suka, kedepannya pasti aku suka juga!” teriak


Caneza, Ben yang melihat reaksinya tertawa.


“Kamu lebih bodoh dari yang kukira. Ramalan yang menyebutkan


kamu hanya akan menjadi sandungan bagi Citrinia sudah terjadi sejak kamu muncul


dihadapan paman dan bibi! Kamu mengambil kasih sayang yang harusnya diterima


Citrinia! Seharusnya dari awal kamu tidak muncul dikehidupannya dan merebut


semua miliknya” balas Ben, Ben sangatlah geram dengan kehadiran Caneza


dikehidupan ini.


“Diamlah!” teriak Caneza, dia menyerang Ben secara bertubi-tubi.


Ben menyerang balik dengan kekuatannya, dan mereka saling bertarung melawan


satu sama lain.


Setelah kurang lebih 1 jam mereka berlatih dengan begitu


keras, Citrinia menghentikan mereka. “Hah, kalian lebih terlihat seperti


berkelahi dari pada berlatih” ujar Citrinia, tangannya yang berada antara mata


dan diatas hidung menandakan, Citrinia bingung harus berbuat apa kepada kedua


orang didepannya ini.


“Sudahlah, Ben, Caneza istirahatlah. Kekuatan kalian


ujar Davide dengan senyuman, Caneza yang melihat hal itu semakin terpana dengan


Davide. Ben yang menyadari hal tersebut hanya semakin geram.


“Ben, kita perlu bicara” ucap Citrinia kepada Ben, “Ikuti


aku” lanjut Citrinia. Citrinia membawa Ben kesebuah ruangan dan mengunci pintu


masuk serta menyihir ruangan tersebut agar siapapun tidak dapat mendengar


pembicaraan mereka.


“Ada apa nona?” tanya Ben kepada Citrinia “Kenapa tadi kamu


mengusik Caneza soal itu sih?” tanya Citrinia.


“Saya kesal melihatnya yang begitu menginginkan Davide.


Tidak mungkin saya diam saja”


“Bukan, kamu kesal karena dia tahu kamu menyukai ku, dan dia


memprovakasi kita”


Ben begitu terkejut saat Citrinia mengetahui soal perasaanya


“Ba-bagaimana anda tahu?” tanyanya.

__ADS_1


“Apa aku terlihat seperti orang yang tidak peka? Dari umur


kita 7 tahun kamu sudah menyukaiku ya walau itu cinta monyet. Saat kejadian itu


dan kamu diajar oleh kedua orang tuaku, kamu bertekat untuk melindungiku, menjaga


dan menyembunyikan perasaanmu. Apa lagi setelah kamu tahu benang merahku” ujar


Citrinia, suasana menjadi begitu menegangkan bagi Ben.


“Ben, aku menghargai perasaanmu kepadaku. Tapi aku tidak


bisa membalasnya, aku minta maaf. Dan soal Caneza, kamu kan tahu orang tuaku menjadi


kurang menyukainnya, jadi tenang saja. Davide tidak akan terpengaruhi dengan


kehadirannya.” Lanjut Citrinia, Ben yang tidak dapat membendung air matanya lagi,


menangis dihadapan Citrinia.


“Oh ayolah Ben, aku terlihat sedang memarahi seorang adik


nih! Tapi.... tidak apa-apa, saat ingin menangis, menangislah saat ingin marah,


luapkanlah. Aku selalu menganggapmu sebagai adik, kamu selalu menjadi teman dan


sahabat serta keluarga yang selalu berada disisiku. Aku menyayangimu layaknya sayang


kepada kakak dan adik.” ujar Citrinia, Citrinia menenangkan Ben dengan


perkataan dan tepukan lembut dipundak.


“Hiks, hiks kalau benar begitu kenapa anda sering jahat sama


saya?”


“ha? Ya? Memangnya kakak tidak boleh menjahili adiknya. Kata


temenku, kakak yang menjahili dan seperti memperbudak adiknya adalah tanda sayang”


balas Citrinia dengan tawa kecil. “Hah! Sepertinya anda terlalu mendalaminya” balas


Ben yang membuat tawa Citrinia semakin meluap.


“Sudah jangan menangis lagi, kamu terlihat lucu menangis diumur


20 tahun, tidak lebih lucu saat menangis diumur 9 tahun. Oh iya, Davide juga


mengetahui soal perasaanmu”


“Ha!? Apa? Gimana? Aku gak bakal matikan ditangan Davide?”


“Apa-apaan reaksi itu? Tidak kok, dia juga tau soal perasaan


Caneza, kami menguping pembicaraan kalian, dia malah marah kepada Caneza”


Setelah beberapa menit kemudian Ben dan Citrinia keluar dari


ruangan tersebut, dan Davide sudah menunggu dari tadi “Sudah selesai?” tannya


Davide, “Em, kamu menunggu dari tadi? Aku haus, ayo kedapur” balas Citrinia,

__ADS_1


dia menggandeng tangan Davide dan mereka berdua bersama- sama pergi kedapur.


__ADS_2