
Kini dunia telah stabil tidak ada lagi mala petaka yang
terjadi. Dan untuk taman sihir yang membuat Davide kehilangan nyawanya
memang membutuhkan sebuah korban, namun korbannya tidak bisa sembarangan, si
korban harus memiliki kekuatan yang stabil didalam dirinya dan bukan pengguna
aura.
Keluarga Davide telah merelelakan Davide untuk pergi, bagi
mereka percuma saja berlarut-larut dalam kesedihan toh Davide tidak akan
hidup kembali. Keluarga Davide juga tidak menyalahkan Citrinia atas kepergian
Davide. Mereka percaya Davide yang memang ingin melakukan ini.
Bangsawan lain dan teman-teman Davide juga telah merelelakan
kepergian Davide. Mereka semua merasa sedih atas kematian Davide namun, pemikiran
mereka adalah ‘Kematian bukan kegagalan melainkan jalan akhir, karena setiap
orang akan mengalami kematian.’ Bagi mereka lebih baik Davide tiada dari pada
harus melihat dia sengsara dan merasakan kesakitan baru tiada.
Pada awalnya Citrinia larut dalam kesedihan, dalam beberapa
hari Citrinia tidak memiliki nafsu makan. Orang tua Citrinia, Ben dan Caneza
dapat mengerti hal itu. Davide telah mengorbankan nyawanya untuk kedua kali, agar
Citrinia tidak mati.
Setiap hari Citrinia terus menyalahkan dirinya atas yang
__ADS_1
terjadi pada Davide, dia merasa dia terlalu gegabah dalam mengambil keputusan,
merasa dirinya paling kuat.
Karena tekanan batin yang dialaminya membuat tubuh Citrinia
menjadi lemah, dan tidak dapat menampung ke-5 benda pusaka didalam dirinya.
Citrinia segera mengembalikan ke-5 benda pusaka kepada 5 kerajaan.
Citrinia juga memilih untuk melanjutkan kehidupannya di
bumi, dan kembali menjadi manusia normal.
Keadaan di Bumi sudah seperti sedia kalanya, perbedaanya
adalah banyak orang kini menjadi peduli akan lingkungan mereka hidup. Mereka
telah mengetahui selain sihir kegelapan monster itu juga mendapat konsumsi dari
dan ramah lingkungan.
Masyarakat Bumi juga mengetahui siapa yang telah membantu
mereka saat malapetaka terjadi. Setelah Citrinia kembali kebumi, begitu banyak
orang yang berkabung atas kepergian Davide. Mereka juga sangat berterimakasih
atas kemauan Citrinia untuk membantu bumi.
----
Citrinia POV
Hai, aku Citrinia, kini umurku telah beranjak 21 tahun. Kini
aku bukanlah manuisa terkuat, penyihit terkuat dan apapun itu. Aku sudah
__ADS_1
memutuskan untuk hidup menjadi manusia normal, aku merasa saat kehidupanku dipenuhi
oleh fantasi, begitu banyak yang harus kukorbankan. Aku tidak ingin lagi
melihat orang yang kusayangi dan kucintai mati atau semacamnya didepanku.
Sekarang aku berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik
lagi, aku ingin membuka diri untuk banyak orang dan membantu mereka. Oh iya,
kuliah yang sempat tertunda karena mala petaka kemarin telah dilanjutkan kembali,
kini aku seorang mahasiswi.
Aku juga memutuskan untuk melanjutkan bisnis orang tuaku,
papa dan mama lebih memilih untuk hidup di Crystal World. Sekarang mereka hidup
dibumi sampai aku lulus kuliah dan dapat mengurus perusahaan. Aku tidak sendiri
dalam petualangan baru ini, aku ditemani oleh Ben dan Caneza.
Aku juga telah merelakan kepergian Davide, namun masih ada
rasa penyesalan yang teramat dalam. Saat aku terpuruk dengan kepergian Davide
begitu banyak orang yang menyemangati ku. Kini aku mulai berpikir bila saat itu
Davide tidak menjadi perisai manusia dan aku tiada, penyesalan Davide mungkin
akan sama atau lebih dari yang aku alami. Aku juga menjadi lebih bersyukur,
karena dipertemukan oleh orang-orang yang menyangi aku apa adanya buka ada apanya.
Kelas selanjutnya sudah dimulai sampai jumpa lain waktu.
*belum tamat*
__ADS_1