
BONUS EPISODE
31 Desember, pukul 23.00
Keluarga kerajaan Negri Kanaelt berkumpul di taman Istana, taman
yang mereka gunakan adalah taman khusus anggota kerajaan. Mereka berkumpul
untuk merayakan bergantinya tahun ke tahun baru.
“Hah, aku kangen sekali kenangan ini” ujar Davide, bila
dilihat mungkin sudah 5 tahunan Davide tidak merayakan tahun baru bersama
keluarganya, 4 tahun sebelumnya mereka dalam keadaan mala petaka sehingga tidak
sempat untuk merayakan tahun baru.
“Benar juga, udah lama tidak merayakan tahun baru bersama
keluarga” ujar Citrinia menambahkan, sama hal nya dengan Davide perbedaannya
adalah Citrinia tidak kembali ke Crystal World selama 4 tahun.
Pangeran Lence, Ratu, Raja, Davide dan , Citrinia tertawa
bersama di malam tersebut. Sesekali bercerita apa yang terjadi selama 4 tahun
ini. Rasanya malam ini adalah waktu untuk melepas rindu antar keluarga.
Citrinia memang sudah dekat dengan keluarga dari Davide, dan
sebaliknya keluarga Davide sudah menganggap Citrinia sebagai putri mereka.
Namun Citrinia tidak menyangka, keluarga ini bila diberi quality time, akan
memanfaatkannya sebaik baik mungkin. Mereka tidak lagi memetingkan yang namanya
jabatan, mereka tampak layaknya keluarga biasa.
Apa lagi Pangeran Lence, Citrinia tau Pangeran Lence
sebenarnya sosok pria yang hangat dan ramah, sayangnya Pangeran Lence menampakan
dirinya yang memiliki sisi dingin. Malam ini Pangeran Lence selalu menggoda
adiknya dan calok adik iparnya itu.
23.40
Kira-kira pukul sebelas malam lebih 40 menit, Davide menatap
kedua orang tuanya lalu menatap kakaknya. Mereka saling memberi kode dari
tatapan mata. “Citrinia, ikuti aku sebentar. Ayah, Ibu saya izin untuk pergi
sebentar” ujar Davide, dia memegang tangan Citrinia dan membawanya menjauh dari
keluarganya itu.
“Davide, ada apa?” tanya Citrinia kebingungan. “Ikuti aku
sebentar saja ya?” ujar Davide, Davide membuat sebuah portal menuju suatu
__ADS_1
tempat.
Dalam sekejap mata, Davide dan Citrinia berada di sebuah
bukit. Dari Bukit tersebut mereka dapat melihat seluruh negri Kanaelt. Davide
memperhatikan jam sakunya, lalu tersenyum. Citrinia yang masih tidak mengerti
hanya diam saja dan menunggu apa yang ingin dilakukan oleh kekasihnya itu.
Citrinia sangat senang dapat menyaksikan sebuah kota abad
pertengahan yang begitu megah, ditemani dengan cahaya lampu berwarna warm. Rasa
senang Citrinia dapat dilihat dari senyumannya dan tatapan matanya yang lembut.
00.00
Tepat pukul 00.00 lentera-lentera diterbangkan dari kota-kota
di negri Kanaelt. Citrinia sangat kagum dengan keindahan yang terpampang
dimatanya itu, dia mengetahui di Negri Kanaelt terdapat tradisi ini. Namun menyaksikan
secara langsung berkali – kali lebih indah dari pada hanya melihat dilayar.
Citrinia membalikan badannya dan terkejut melihat Davide
yang berjongkok didepannya dan mengangkat sebuah cincin yang begitu indah. “Citrinia,
apakah kamu mau menemaniku dalam suka maupun duka? Dan menemaniku sampai maut
memisahkan? Will you marry me?” ujar Davide yang sontak membuat Citrinia terharu.
kebahagiaan. Davide memasangkan cincin tersebut di jari manis Citrinia. Dia
tersenyum begitu hangat, dan menyeka perlahan air mata Citrinia.
Davide memeluk Citrinia dengan begitu hangat, pelukan
tersebut dibalas oleh Citrinia. Kini tinggal menentukan kapan pernikahan akan
diselenggarakan.
---
“Apakah pengantin wanita sudah siap?” ujar seseorang yang
sepertinya bertugas dalam pernikahan. “Ya pengantin wanita sudah siap”
dibalaskan oleh orang lain.
“Nona, lihat anda sangat menawan. Anda bintang di acara kali
ini!” ujar Caneza pada nonanya itu. “Caneza, aku gugup” balas Citrinia dia
memainkan jemarinya, “Ayolah, ini adalah hari bahagia kalian jangan gugup dan
semangat! Aku mendukung mu!” balas Caneza.
Disisi lain
“BEEEEEEN” teriak Davide, Davide juga sudah siap dia berdiri
__ADS_1
didepan cermin besar. “Aku dibelakang anda tidak perlu teriak!” balas Ben, Ben
sangat senang akhirnya semua hal yang telah dilalui selesai dengan digelarnya
pernikahan nona dan tuannya ini.
“Ben gila aku gugup, parah” ujar Davide sambil
mengibas-ngibaskan tangannya, “Semangat tuan, ini puncak dari perjuangan kita
selama ini” ujar Ben sambil mengepalkan kedua tangannya, sebagai tanda memberi
semangat.
“Oh ya Ben, kamu udah ada pasangan?” tanya Davide dengan
santainya. “Jangan tanyakan itu, pertanyaan itu sangat sensitif bagiku” balas Ben,
perkataan Ben membuat Davide tertawa kecil. Bagaimana tidak? Ben adalah lelaki
yang rupawan, memiliki rambut hitam, serta mata yang sangat tajam, kulit
berwarna sawo matang, dan postur tubuh yang indah, namun dia belum memiliki
kekasih.
Caneza juga mengalami hal yang sama dengan Ben, namun pertanyaannya
sedikit berbeda.
“Caneza... kamu kapan nikah?” ya itulah pertanyaan yang dilontarkan
oleh Citrinia, membuat Caneza tersedak air liurnya sendiri. “Kapan-kapan, masih
dipikirin hehe” balas Caneza dengan senyumnya yang kikuk.
-------------------------------------
“Saya Davide, menerima Citrinia sebagai pasangan hidup saya
dalam suka maupun duka, dan sampai maut memisahkan”
“Saya Citrinia, menerima Davide sebagai pasangan hidup saya
dalam suka maupun duka, dan sampai maut memisahkan”
Itulah janji yang diikarkan oleh Davide dan Citrinia, kini
mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.
--
Sedangkan disisi lain Caneza yang duduk bersama kekasihnya, “Kamu
mau kayak mereka?” tanya sang kekasih. “Hah? Kayak nona dan tuan? Enggak dulu, kamu
mau nempuh karir kan? Kamu juga mau belajar lagi kan? Capai tujuanmu dulu, aku
juga ingin menemuph karir lebih dalam lagi” ujar Caneza.
Sang kekasih senang mendengar hal tersebut dia bahagia menemukan
pasangan hidup yang pas, dan dia sangat yakin Caneza akan menjadi istri yang
__ADS_1
baik dikemudian hari.