Journey To Another World

Journey To Another World
#60 BONUS EPISODE 4


__ADS_3

BONUS EPISODE


31 Desember, pukul 23.00


Keluarga kerajaan Negri Kanaelt berkumpul di taman Istana, taman


yang mereka gunakan adalah taman khusus anggota kerajaan. Mereka berkumpul


untuk merayakan bergantinya tahun ke tahun baru.


“Hah, aku kangen sekali kenangan ini” ujar Davide, bila


dilihat mungkin sudah 5 tahunan Davide tidak merayakan tahun baru bersama


keluarganya, 4 tahun sebelumnya mereka dalam keadaan mala petaka sehingga tidak


sempat untuk merayakan tahun baru.


“Benar juga, udah lama tidak merayakan tahun baru bersama


keluarga” ujar Citrinia menambahkan, sama hal nya dengan Davide perbedaannya


adalah Citrinia tidak kembali ke Crystal World selama 4 tahun.


Pangeran Lence, Ratu, Raja, Davide dan , Citrinia tertawa


bersama di malam tersebut. Sesekali bercerita apa yang terjadi selama 4 tahun


ini. Rasanya malam ini adalah waktu untuk melepas rindu antar keluarga.


Citrinia memang sudah dekat dengan keluarga dari Davide, dan


sebaliknya keluarga Davide sudah menganggap Citrinia sebagai putri mereka.


Namun Citrinia tidak menyangka, keluarga ini bila diberi quality time, akan


memanfaatkannya sebaik baik mungkin. Mereka tidak lagi memetingkan yang namanya


jabatan, mereka tampak layaknya keluarga biasa.


Apa lagi Pangeran Lence, Citrinia tau Pangeran Lence


sebenarnya sosok pria yang hangat dan ramah, sayangnya Pangeran Lence menampakan


dirinya yang memiliki sisi dingin. Malam ini Pangeran Lence selalu menggoda


adiknya dan calok adik iparnya itu.


23.40


Kira-kira pukul sebelas malam lebih 40 menit, Davide menatap


kedua orang tuanya lalu menatap kakaknya. Mereka saling memberi kode dari


tatapan mata. “Citrinia, ikuti aku sebentar. Ayah, Ibu saya izin untuk pergi


sebentar” ujar Davide, dia memegang tangan Citrinia dan membawanya menjauh dari


keluarganya itu.


“Davide, ada apa?” tanya Citrinia kebingungan. “Ikuti aku


sebentar saja ya?” ujar Davide, Davide membuat sebuah portal menuju suatu

__ADS_1


tempat.


Dalam sekejap mata, Davide dan Citrinia berada di sebuah


bukit. Dari Bukit tersebut mereka dapat melihat seluruh negri Kanaelt. Davide


memperhatikan jam sakunya, lalu tersenyum. Citrinia yang masih tidak mengerti


hanya diam saja dan menunggu apa yang ingin dilakukan oleh kekasihnya itu.


Citrinia sangat senang dapat menyaksikan sebuah kota abad


pertengahan yang begitu megah, ditemani dengan cahaya lampu berwarna warm. Rasa


senang Citrinia dapat dilihat dari senyumannya dan tatapan matanya yang lembut.


00.00


Tepat pukul 00.00 lentera-lentera diterbangkan dari kota-kota


di negri Kanaelt. Citrinia sangat kagum dengan keindahan yang terpampang


dimatanya itu, dia mengetahui di Negri Kanaelt terdapat tradisi ini. Namun menyaksikan


secara langsung berkali – kali lebih indah dari pada hanya melihat dilayar.


Citrinia membalikan badannya dan terkejut melihat Davide


yang berjongkok didepannya dan mengangkat sebuah cincin yang begitu indah. “Citrinia,


apakah kamu mau menemaniku dalam suka maupun duka? Dan menemaniku sampai maut


memisahkan? Will you marry me?” ujar Davide yang sontak membuat Citrinia terharu.


kebahagiaan. Davide memasangkan cincin tersebut di jari manis Citrinia. Dia


tersenyum begitu hangat, dan menyeka perlahan air mata Citrinia.


Davide memeluk Citrinia dengan begitu hangat, pelukan


tersebut dibalas oleh Citrinia. Kini tinggal menentukan kapan pernikahan akan


diselenggarakan.


---


“Apakah pengantin wanita sudah siap?” ujar seseorang yang


sepertinya bertugas dalam pernikahan. “Ya pengantin wanita sudah siap”


dibalaskan oleh orang lain.


“Nona, lihat anda sangat menawan. Anda bintang di acara kali


ini!” ujar Caneza pada nonanya itu. “Caneza, aku gugup” balas Citrinia dia


memainkan jemarinya, “Ayolah, ini adalah hari bahagia kalian jangan gugup dan


semangat! Aku mendukung mu!” balas Caneza.


Disisi lain


“BEEEEEEN” teriak Davide, Davide juga sudah siap dia berdiri

__ADS_1


didepan cermin besar. “Aku dibelakang anda tidak perlu teriak!” balas Ben, Ben


sangat senang akhirnya semua hal yang telah dilalui selesai dengan digelarnya


pernikahan nona dan tuannya ini.


“Ben gila aku gugup, parah” ujar Davide sambil


mengibas-ngibaskan tangannya, “Semangat tuan, ini puncak dari perjuangan kita


selama ini” ujar Ben sambil mengepalkan kedua tangannya, sebagai tanda memberi


semangat.


“Oh ya Ben, kamu udah ada pasangan?” tanya Davide dengan


santainya. “Jangan tanyakan itu, pertanyaan itu sangat sensitif bagiku” balas Ben,


perkataan Ben membuat Davide tertawa kecil. Bagaimana tidak? Ben adalah lelaki


yang rupawan, memiliki rambut hitam, serta mata yang sangat tajam, kulit


berwarna sawo matang, dan postur tubuh yang indah, namun dia belum memiliki


kekasih.


Caneza juga mengalami hal yang sama dengan Ben, namun pertanyaannya


sedikit berbeda.


“Caneza... kamu kapan nikah?” ya itulah pertanyaan yang dilontarkan


oleh Citrinia, membuat Caneza tersedak air liurnya sendiri. “Kapan-kapan, masih


dipikirin hehe” balas Caneza dengan senyumnya yang kikuk.


-------------------------------------


“Saya Davide, menerima Citrinia sebagai pasangan hidup saya


dalam suka maupun duka, dan sampai maut memisahkan”


“Saya Citrinia, menerima Davide sebagai pasangan hidup saya


dalam suka maupun duka, dan sampai maut memisahkan”


Itulah janji yang diikarkan oleh Davide dan Citrinia, kini


mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.


--


Sedangkan disisi lain Caneza yang duduk bersama kekasihnya, “Kamu


mau kayak mereka?” tanya sang kekasih. “Hah? Kayak nona dan tuan? Enggak dulu, kamu


mau nempuh karir kan? Kamu juga mau belajar lagi kan? Capai tujuanmu dulu, aku


juga ingin menemuph karir lebih dalam lagi” ujar Caneza.


Sang kekasih senang mendengar hal tersebut dia bahagia menemukan


pasangan hidup yang pas, dan dia sangat yakin Caneza akan menjadi istri yang

__ADS_1


baik dikemudian hari.


__ADS_2