Journey To Another World

Journey To Another World
#18


__ADS_3

Saat kami datang menemui Pangeran Syetna diruangan


kerjanya banyak terjadi hal yang diluar dugaan. “Jadi Deolinda sudah menguasai


Emerlad Stone milik Keyna begitu?” Entah mengapa rasanya seperti Pangeran


Syetna membenciku yang telah menguasai Emerlad Stone. “Benar begitu, maaf atas


kelancangan saya, namun saya terpaksa juga melakukanya” Benar cara inilah yang


paling aman untuk sementara waktu. “Mohon toleransinya Pangeran, inilah cara


yang paling aman. Dan kami kemari untuk memberi kabar dan pamit undur diri dari


Negri Keyna” dari cara bicara Davide nampak dia ingin untuk sesegera mungkin


meninggalkan Negri Keyna.


“Jadi maksudmu, ingin kabur sambil membawa benda


pusaka milik Keyna” Aku tahu dia seakan-akan berusaha memprovakasi kami. “Bukan


seperti itu, kami harus melindungi Ventum Stone!” Davide semakin marah dengan


sikap yang ditunjukan Pangeran. “Sudah mengambil Emerlad Stone, mau kabur, dan


marah-marah. Aku tidak percaya Puteri negri Kristal dan Pangeran Kanaelt


seperti ini” benar tujuanya adalah memprovakasi kami, tapi mengapa, apa


tujuanya?


“Pangeran! Apa maksud perkataan anda, bukankah itu


tidak sopan untuk membawa nama Negri kami? Kami bertujuan untuk melindungi


Crystal World dari malapetaka. Kenapa anda begitu keras kepala?” tanpa sadar,


sikap terus terang akan kekecewaan saat menjadi Citrinia terbawa kesini. “Tidak


Sopan! Kembalikan Emerlad...... “ Sebelum Pangeran Syetna selesai bicara, sudah


ada yang memotong pembicaraanya, dia adalah Raja Keyna.


“Syetna! Kamulah yang tidak sopan, mereka kemari dengan


tujuan yang mulia, ingatlah kamu sedang bicara dengan siapa! Heroes, Elected


dan Fice Forces!” Entahlah perkataan Sang Raja memang memojokan Pangeran


Syetna. Tapi kenapa keistimewaan kami dibawa-bawa? “Papa, mereka mengambil


Emerlad Stone! Seharusnya hanya aku yang bisa menguasainya!” Ternyata dia iri


dengan kekuatan seorang elected, dan Five Forces. “Dasar, maafkan kelakuan anak


ini para Heroes. Saya teramat senang benda pusaka kami berada ditangan yang


tepat. Anda bisa pergi Kenegri Valaiva sekarang” akhirnya kami mendapat izin


untuk pergi dari Negri Keyna.


Aku dan Davide keluar dari ruangan yang menyebalkan


itu, dan segera kemabali kekamar untuk membereskan barang-barang serta pergi ke


Negri Valaiva. Namun saat semua sudah siapa dan kami akan segera pergi terdapat


seorang pengirim pesan yang mengatakan berita buruk.


“Para Heroes yang agung, maaf menggagu. Namun Ventum


Stone telah hilang,dan – dan eee” Perkataan pengirim pesan itu terpotong atas

__ADS_1


keraguanya sendiri. “Ada apa, cepat beritahu” disaat-saat  seperti ini memang Davide menjadi tidak


sabaran. “Raja dan Ratu negri Valaiva terbunuh.... kini hanya tinggal Puteri


Eklesia” Berita duka yang sangat mendalam.


“Deolinda, ayo kita pergi sekarang! Siapa tahu mereka


masih disana!” Davide menggenggam tanganku dan langsung memasuki portal menuju


Negri Valaiva. Kami berada dipekarangan kastel utama Neggri Valaiva, dan dapat


dilihat semuanya menjadi kacau, seperti tidak ada kehidupan. Aku berlari


memasuki kastel “Apa ada orang!?” dan berteriak, karna yang kulihat hanyalah


kastel yang berantakan.


“He-heroes, tolong kami Ventum Stone menghilang


tolonglah kami” Semua pelayan menjadi ketakutan akan terjadinya malapetaka.


“Dimana Puteri Eklesia!?” Davide bertanya karna satu-satunya penerus di Negri


Valaiva kini hanya Eklesia. “Saya disini” ucap singkat seorang gadis dengan


bibir yang bergetar, kehilangan kedua orang tua pasti sangat sulit banginya.


“Puteri, saya turut berduka cita. Maafkan saya yang lancang, apakah anda


melihat mereka semua?” aku tahu, untuk berkata demikian pada seseorang yang


belum 1 hari kehilangan kedua orang tuanya, sama seperti menabur garam diatas


luka.


Eklesia hanya menangis dan dengan bibir dan suara yang


yang menjadikan semua ini terjadi. “Deolinda, kita harus kembali ke Negri


Kristal, secepatnya sebelum semua terlambat” Davide benar, lebih baik aku


kembali ke Negri Kristal dan menguasai The Strongest Heirloom, agar bisa


memenangkan ini semua, dan mengembalikan kekadaan sedia kalanya.


“Puteri, benar yang dikatakan Pangeran Davide, puteri


tidak perlu khawatir. Kami akan berusaha semampu kami mendapatkan apa yang


seharusnya dimiliki puteri. Sekarang Puteri adalah pemimpin, pemimpin boleh


lelah dan jenuh namun tidak boleh menyerah. Saya tahu puteri mengerti apa yang


saya katakan” ucapku pada Puteri Eklesia, berusaha menenangkan pikiranya dan


membuat sedikit pencerahan.


“Puteri Deolinda benar, saya tidak boleh menyerah.


Saya percaya pada Heroes akan mengembalikan semuanya kesedia kala. Mohon


bantuanya, balaskan dendam saudara-saudara saya balaskan dendam orang tua dan


rakyat saya” Beruntung Puteri Eklesia seorang yang berkepribadian kuat. Aku


memelukanya dan memberinya semangat.


“Davide ayo pergi, kita harus mendapatkanya” Dan saat


itu juga kami langsung kembali ke Negri Kristal. Dan Berada diruangan utama


kastel. Ruangan Raja, ayah dari Deolinda. “Ayah, maaf baru bisa pulang

__ADS_1


dikeadaan yang mendesak seperti ini” aku menunduk memberi salam, begitu juga


Davide.


“Bangunlah anak-ku, kamu kemari untuk menguasai The


Strongest Heirloom bukan?” Raja, sudah mengetahuinya. “Benar, saya datang untuk


menguasai The Strongest Heirloom, tanpa 2 benda pusaka” Ini akan lebih susah


dari apa yang aku bayangkan, melewati 2 jalur menuju langsung kepuncaknya sama


saja mencari mati.


“Bukankah itu berbahaya, kakak bisa saja mati saat


melakukanya” Sam datang bersama Ratu. “Sam, benar apa yang dikatakan Sam, namun


bila kami mencari ke-2 benda pusaka tersebut. Saya tidak ada kepercyaan diri


untuk melakukanya” \ “Menurut ku sebagai Ratu, Deolinda harus melakukanya” \


“Tapi bu, kakak bisa saja mati” \ “Kita harus percaya pada Deolinda, maaf atas


kelancanganya. Namun menurutku sebagai teman yang sudah berlatih bersama dan


mengorbankan banyak hal yang sama Deolinda harus melakukanya. Bukan sebagai


Heroes namun sebagai Elected” \ “Benar apa yang dikatakan Davide, ayah dan ibu


kumohon berikanku izin” \ “Benar, Deolinda tugas terberatmu sebagai Elected


baru saja dimulai” \ “Apa yang dikatakan Baginda Raja benar” Ucap Davide, aku


mengangguk. Dan pergi dari ruangan tersebut bersama Sam.


Sam masih menolak bila aku memang harus pergi


menguasai The Strongest Heirloom. Aku sendiri ragu untuk mealakukannya, namun


tidak ada pilihan lain. Aku merasakan Lauren telah menguasai Ventum Stone.


Cuaca menjadi sangat buruk, sepertinya akan terjadi badai. Sam yang masih


menolak untuk aku melakukanya, aku tinggalkan sendiri tanpa bicara satu kata


apapun. Hanya untuk membuat Sam berfikir jernih dan tidak mikkirkan hal buruk


yang akan terjadi. Saat aku berlalu pergi, Sam kembali masuk kedalam ruangan


utama, dan Davide belum juga keluar dari ruangan tersebut.


Aku masuk kekamar Deolinda dan menangis, ini pertama


kalinya dalam hidupku aku ragu dan merasa gagal. “Deolinda kumohon hibur aku


dan keluarlah sekarang!” Aku ingin bertemu dengan Deolinda, melampiaskan rasa


sedih dan kesalku. Dan seketika aku tertidur, lalu bertemu dengan Deolinda


“Akhirnya kamu datang diwaktu yang tepat” Ucapku padanya sambil menangis.


“Maaf membawamu keujung jurang, tapi kamu memang harus


mencobanya, besok aku yakin kamu akan berhasil untuk mengambil The Strongest


Heirloom. Aku akan membantumu” Hanya kata-kata itu saja yang diucapkanya, lalu


dia menghilang begitu saja. Menyisakan mimpi tentang jerih payahku dari aku


saat menjadi Citrinia serta saat aku menjadi Deolinda. Aku yakin aku menangis


sambil tertidur.

__ADS_1


__ADS_2