KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 15. Tidak Betah


__ADS_3

Andin tidak mau kebebasan nya terenggut lagi, bukan nya dia tidak mau hormat dengan kehadiran Mama mertua nya. Hanya saja sekarang, keadaan nya sudah berubah, apalagi saat ini mereka dalam proses bercerai. Tentu saja tidak mudah bagi Andin untuk bertemu mereka lagi seolah olah tidak ada yang terjadi di antara mereka. Bangun tidur begini sudah langsung di suguhi Duo kucing garong, tiba-tiba kepalanya langsung terasa sakit. Aduh, mimpi apa semalam pagi-pagi udah liat nenek lampir beserta anak nya!


"Pagi, Sayang! Kamu sudah bangun. Ini aku sudah buatin kamu sarapan pagi. Sarapan bareng, yuk? "Ajak Samuel, Namun Andin mengabaikan nya.


Rasa nya Andin ingin memaki lalu mencekik Samuel dan Mama Arum, Dia hanya ingin ketenangan dan 2 orang ini enyah dari dari sini.


"Dasar bodoh, harus nya dia yang masak. Kenapa malah kamu yang menyiapkan sarapan? Ucap Mama Arum terus mengomeli Samuel.


"Ma, cukup. Jangan mengomeli ku terus!"


"Kamu lihat sendiri kan, Samuel? Dia tidak sopan pada mama, orang tua ada di sini tidak di sapa dan di sambut dengan baik!" Sindir Mama Arum.


"Untuk apa kalian berdua pagi-pagi sudah ada di sini?" Tanya Andin mendekati mereka berdua.


Mendengar pertanyaan Andin Mama Arum tertawa keras.


"Memang nya kami tidak boleh berada di sini? Samuel juga berhak atas rumah ini! Jangan sok berkuasa, deh! " seru Mama Arum dengan pandangan kesal ke arah Andin.


"Ma, Hentikan please. Pagi-pagi jangan ribut, ayo kita sarapan dulu. Aku sebentar lagi harus berangkat kerja,"ucap Samuel.


"Kalian sarapan saja berdua. Aku bahkan tidak bisa mencerna makanan dengan baik akhir-akhir ini. Aku sulit menelan makanan! Apa lagi jika melihat kalian berdua! " Sindir Andin sekena nya.


Dia benar-benar sudah enggan untuk duduk bareng satu meja dengan mereka berdua. Andin pergi ke kamar mandi, dia masih bisa mendengar Mama Arum yang masih mengomel-ngomel.


"Andin benar-benar keterlaluan! Kalau tidak demi Rumah ini, Mama benar-benar tidak tahan berada di sini! " keluh Mama Arum sambil melirik ke arah kamar mandi.


"Ma, Mama juga jangan keterlaluan! Kalau Mama seperti ini terus, bukan hanya Andin yang kesal sama Mama. Aku juga lama-lama kesal, Ma!"


"Samuel! Kamu jangan kurang ajar ya sama, Mama! Kenapa kamu ikut-ikutan membangkang sama mama, kamu sudah ketularan, Andin! Kamu sudah tidak patuh lagi sama mama!"


"Bukan begitu, Ma. Bagaimana aku bisa bicara baik-baik dengan Andin, kalau mama selalu nyindir dia dan memojok kan nya? Inget, Ma. Di sini yang salah itu aku, anak Mama! Aku yang sudah nyakitin hati Andin." Seru Samuel yang mulai kehabisan kesabaran dengan Mama Arum. Kalau seperti ini saja Samuel waras, giliran di pengadilan gigih tidak mau pisah.

__ADS_1


Mama Arum yang sudah duduk di atas meja membanting sendok yang ada di tangan nya. Kini Anak nya Samuel juga ikut-ikutan melawan dirinya.


"Kamu juga sudah mulai tidak menghormati mama, yang susah payah mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan kamu!" Bentak Mama Arum. Setiap marah dia selalu mengungkit-ungkit itu sehingga Samuel terdiam. Samuel sudah tidak bisa membantah jika mama nya sudah berbicara kodrat.


"Sudah lah, Ma. Ayo kita sarapan." Ucap Samuel mengalah.


Andin keluar dari kamar mandi menuju kamar nya kagi, dia tidak mau bergabung untuk sarapan dengan mereka berdua. Terserah saja dia mau di sebut apa saja oleh Mama Arum. Dia sudah tidak perduli lagi.


Toktok!


Pintu kamarnya di ketuk dari luar.


"Andin, aku mau berangkat kerja. Nanti malam aku pulang lagi kesini," ucap Samuel berpamitan.


Andin tidak menyahut, saat ini dia sedang berpikir tidak mungkin diri nya lama-lama seperti ini. Kalau Samuel memaksa tinggal lagi di sini, lebih baik diri nya saja yang keluar. Laki-laki egois seperti Samuel itu memang lebih baik di abaikan saja.


...****************...


"Menantu tidak tahu sopan santun, pengangguran saja masih bisa sombong! Lihat saja mau berapa lama dia bertahan." Cibir Arum.


Andin menuju penjual Bubur ayam yang sedang mangkal di dekat rumah nya. Andin memesan bubur ayam, lalu makan di tempat.


"Aku harus makan, aku butuh energi besar untuk bertahan dan melanjutkan hidup." Gumam nya.


Dalam keadaan seperti ini dia harus terlihat waras, jika tidak, dia akan kalah dengan keadaan.


Untuk menghabiskan waktu Andin berjalan kesana kemari melewati jalan berbatu yang biasa nya untuk para penderita rematik. Dia ingin kembali kerumah tetapi langsung teringat Mama Arum. Pasti Mama Arum masih berada di sana, Andin tidak mungkin mengusirnya, nanti bisa-bisa dia drama lagi dan mengadu yang tidak-tidak.


Andin meraih ponsel nya dan membuka market place, Andin mencoba mencari kontrakan di sekitar sini. Dia jelas tidak bisa jika harus tinggal bareng samuel beserta Mama Arum, lebih baik dirinya yang keluar dari sana.


Andin kesal dengan sifat Samuel yang plin-plan dan terus berubah pikirannya. Awalnya setuju bercerai, sekarang ingin memperbaiki rumah tangga. Waktu Andin ingin menjual atau menyewakan rumah dan hasilnya nanti di bagi 2 juga sudah setuju. Entah kenapa sekarang berubah pikiran lagi. Dasar Lelaki Plin-plan!

__ADS_1


Sudah 2 jam lebih Andin berada si luar, dia juga belum mandi. Andin langsung menuju rumah nya dan benar saja dugaan nya, Mama Arum masih belum beranjak dari tempat nya. Dia masih asyik menonton Televisi.


"Astaga, apa dia benar-benar mau tinggal di sini?" Batin Andin.


"Dari mana kamu?" Tanya Mama Arum. Begitu melihat Andin masuk.


"Dari luar, mencari udara segar. Di dalam sumpek! " jawab Andin sedikit menyindir.


Andin meraih handuk nya dan masuk ke kamar mandi, semua gerak gerikny tidak luput dari pandangan Mama Arum.


Selesai mandi, Andin bergegas berganti pakaian. Kali ini entah kemana dia akan pergi, berdiam di rumah membuat nya tidak betah karena kehadiran Mama Arum. Selesai bersiap Andin keluar kamar, dia tidak lupa mengunci kamar dan menyimpan barang berharga dalam brankas serta mengganti password supaya Samuel tidak tahu. Menghadapi mertua seperti Mama Arum dia harus waspada.


"Mau kemana lagi, kamu?" Tanya Mama Arum.


"Ada urusan di luar," Jawab Andin.


"Baru datang sudah pergi lagi. Pengangguran saja sok banyak urusan! " Sindir Mama Arum.


"Terserah aku dong, Ma! Lagian Mama memang nya tidak capek mencampuri urusan ku terus? Berhenti ikut campur urusanku, Ma. anggap saja kita tidak kenal!" ucap Andin sangking Jengkel nya.


"Hm, terus mama makan apa siang ini?"


"Hah, terserah Mama mau makan apa, bukan urusan aku lagi untuk memikirkan makan siang, Mama!" Sahut Andin lagi.


"Dasar menantu durhaka, kamu!" Pekik Mama Arum.


Andin mengabaikan Mama Arum, dia meraih kunci mobilnya dan berlalu pergi. Terserah Mama Mertua nya saja, mau mengutuk atau mengomel, Andin sudah tidak perduli.


mohon dukungan nya ya teman2.


like, komen dan share~

__ADS_1


__ADS_2