
Pagi ini, Andin berjalan santai ke taman depan komplek rumahnya, dia berniat untuk mencari udara segar dan menyegarkan matanya. Di hadapan kompleks yang dia tinggali berdiri sebuah bangunan apartemen yang mewah, hanya para orang kaya yang bisa tinggal di sana. Andin menikmati suasana di taman, dia bahkan iseng menaiki jungkat jungkit atau main perosotan dan bermain Ayunan yang biasa di pakai oleh anak-anak dari penghuni kompleks.
Dia tidak bisa begini terus, sudah hampir 3 minggu ini dia tidak tentu arah karena tidak punya pekerjaan.
Iseng-iseng Andin berjalan ke pos security, security itu mengenal Andin. Karena menurutnya Andin adalah penghuni kompleks yang ramah dan tidak sombong seperti yang lainnya.
"Mbak Andin masih cuti?" Tanya security yang bernama Tarno tersebut.
"Bukan cuti, Pak! Catet nih, aku sekarang penganguran!" Ujar Andin memproklamirkan diri. Pak Tarno sampai tertawa.
"Enggak usah di tegasin gitu juga kalik, Mbak!"
Andin ikut terkekeh.
"Pak Tarno, itu selebaran apa, Pak? tanya Andin yang terusik dengan selembar kertas yang dipegang oleh Pak Tarno.
"Oh ini, salah satu penghuni paling atas Apartement itu minta tolong di carikan orang yang mau bekerja di tempatnya," jelas pak Tarno sambil.
"Cari Asisten rumah tangga?"
"Iya, Mbak! Pekerjaannya tidak banyak, kok! Karena beliau seorang diri. Dia hanya minta Apartementnya di bersihkan setiap hari sabtu dan minggu saja, yaitu saat dirinya tidak ada di tempat. Beliau biasanya menempati apartmen nya senin-jumat. Selebihnya entah di mana, mungkin di rumahnya yang lain." Ungkap Pak Tarno lagi.
"Bagaimana kalau aku saja yang ambil kerjaan itu, pak? aku lagi gabut, nih!" Tutur Andin. Pak Tarno malah menertawakannya.
"Mbak Andin ini ada-ada saja. Ya enggak mungkin, Mbak Andin yang lulusan sarjana ini, dan pernah bekerja di perusahaan bagus mau jadi Asisten rumah tangga. Pinter ngelawak juga, Mbak Andin ini!
"Serius, Pak Tarno! Bahkan kalau Pak Tarno punya info kerja part time gitu, aku mau kok. Jadi pengangguran itu enggak enak, entar pelan-pelan aku cari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku setelah semua masalahku selesai." Tutur Andin.
"Ini beneran Mbak Andin serius mau bekerja di sana sebagai Asisten rumah tangga?" Tanya Pak Tarno lagi.
__ADS_1
"Iya serius, Pak. Tapi tolong rahasiakan identitas saya, ya? Kalau ada apa-apa biar bapak yang menjadi penghubungnya. Toh, aku datangnya pas di enggak ada, kan?"
Pak Tarno mengangguk.
"Iya pemilik Penthaouse agak nyentrik orangnya, dia maunya sendiri, enggak mau ketemu orang yang bekerja dirumahnya. Tapi orangnya baik, Bapak bisa jamin itu. ART yang sebelumnya bekerja di sana yang cerita, dia terpaksa berhenti karena di minta pulang kampung oleh suaminya." Jelas Pak Tarno.
"Wah, bagus dong kalau begitu, Pak. Saya mau deh! biar ada kegiatan, enggak seperti orang gila luntang lantung enggak jelas." Ucap Andin.
"Oke kalau begitu, nanti biar Bapak kasih tau orangnya, kalau saya sudah menemukan orang yang mau bekerja jadi ART."
"Makasih ya, Pak!" Seru Andin.
Entah apa yang ada si pikiran Andin, sampai dia rela menjadi seorang ART, sebenarnya tabungannya saja sudah cukup, dia sering mendapat bonus yang besar dari setiap proyek yang dikerjakan nya. Sepertinya Andin memang hanya butuh kesibukan.
****
Pak Tarno memberikan kartu akses kepada Andin untuk masuk ke Penthouse milik Pak Rendra Dirgasatya. Siang ini Andin sudah mulai bekerja disana, Pak Renda percaya saja kepada Pak Tarno, karena ART sebelumnya juga Pak Tarno yang mencarikan untuknya. Itulah mengapa ketika Pak Tarno menyodorkan nama Andin, Pak Rendra langsung setuju saja dan memintanya untuk langsung bekerja di tempatnya.
"Oke, Pak Tarno! Terima kasih, ya" Ucap Andin.
Setelah mendapat kartu aksesnya Andin langsung menuju ke kediaman Pak Rendra. Dia menuju unit apartement yang paling tinggi di apartement itu, sebuah Penthouse mewah yang ditempati oleh orang yang bernama Rendra Dirgasatya.
Andin menaiki lift untuk membawanya menaiki puncak tertinggi apartmen itu. di pintu lift keluar sebelah kanan, terdapat sebuah pintu yang hanya dapat di akses oleh orang yang memiliki kartu akses khusus. Saat ini Andin memegang kartu akses itu, dia menempelkan kartu akses itu dan pintunya langsung terbuka.
"Pasti itu Penthousenya!" Ucap Andin setelah melihat sebuah unit yang nomor unitnya persis sama dengan kartu akses masuknya.
Andin berjalan kearah sana dan menempelkan kartu akses masuknya, pintu itu pun terbuka. Andin bergegas masuk kedalamnya.
Seperti yang Pak Tarno deskripsikan, Penthouse ini sangat mewah. Terdapat lukisan mahal yang tergantung di dinding, lampu kristal yang menggantung indah di ruang tamu. Sofa ratusan juta teronggok di sana. Andin bergerak menuju jendela kaca, dia menyibakkan gorden berwarna Silver itu. Pemandangan kota yang indah menghampar di hadapannya, jika malam hari tentu pemandangan akan terlihat lebih indah.
__ADS_1
Andin menuju keruang dapur yang juga terlihat mewah, berbagai perkakas dapur dan kitchen set lengkap ada di sana. Dapur modern dan juga meja makan besar yang muat sampai belasan orang ada di sana. Andin lalu melihat catatan tangan yang di tempel pada white board yang mengganrung di dinding, dia meraihnya kemudian membaca satu persatu tugas yang harus dia kerjakan.
Tugas utama Andin sesuai list yang di berikan oleh Pak Rendra adalah membersihkan dapur. Andin memindai seluruh dapur, semua barang tersusun rapi di tempatnya. Lantai juga bersih, mejanya juga tidak terlihat berdebu.
"Ah, aku harus terlihat seperti orang bekerja," ucap Andin. Dia mengamb Vacum cleaner lalu menbersihkan debu yang ada di lantai.
Tugas kedua membersihkan ruang tamu. Andin membersihkan sofa dan juga karpet yang membentang di sana. Pandangan Andin menyapu seluruh ruangan, namun tidak satu pun dia menemukan foto Pak Rendra di sana.
"Pak Rendra sepertinya sangat misterius," ucapnya.
Andin mengerjakan satu persatu tugasnya sesuai catatan yang di tulis oleh Pak Rendra. Membersihkan dapur, ruang tamu, kamar mandi, kamar tamu dan yang terakhir adalah kamar tidur utama Pak Rendra. Di kamar Pak Rendra lagi-lagi Andin tidak menemukan foto pribadinya. Kamarnya begitu luas, di mana di dalamnya ada ruangan khusus walkin closet yabg berisi wardrobe milik Pak Rendra.
Di sebuah meja besar menunjukkan koleksi jam tangan, sepatu, dasi serta ikat pinggang. Andin menduga kalau Pak Rendra adalah seorang pengusaha yang sukses tetapi masih lajang, karena Andin tidak melihat barang-barang lain selain miliknya.
"Astaga, kenapa aku jadi penasaran sekali dengan Pak Rendra Dirgasatya!" Ansin menoyor kepalanya sendiri.
Saat membersihkan kamar Pak Rendra, Andin sengaja menyetel musik dari ponselnya untuk menemaninya agar tidak terasa sepi. Dia bahkan ikut bernyanyi walaupun dejmngan suara seperti kumbang terjepit. Suaranya memang bagaikan langit dan bumi dengan suara aslinya.
Andin tidak sadar jika ada yang masuk keaprtemen. Saat ini orang itu bahkan sudah berdiri di depan pintu kamar, namun Andin tidak menyadari kehadirannya. Orang itu tampak memperhatiakan Andin.
"Mungkinkah dia ART yang Pak Tarno rekomendasikan?" Batinnya.
Andin masih terus bernyanyi sambil mengelap kaca yang ada di walkin closet milik Pak Rendra. Sesekali dia ikut ngerep saat musiknya ngebeat dan mengikuti gerakan dance penyanyinya. Dia menari meliuk-liuk
Orang itu sampai menahan tawa menyaksikan ulah Andin. Dia bahkan tidak menegurnya tapi malah membiarkan Ansin bertindak Absurd seperti itu, dia seperti mendapat hiburan gratis.
Jempolnya yang kenceng dong, Bestie!! Kalau jempolnya banyak saya mau Up 2x sehari.
Note! Tolong tinggalkan Jempol kalian. Please!!
__ADS_1
Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah!