KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 42. Tamu tidak Di undang


__ADS_3

Andin terkejut melihat Pak Rendra dan Doni supir pribadinya sudah berdiri di depan pintu sambil menenteng makanan.


"Kok Bapak tau saya tinggal di sini?" Tanya Andin penasaran.


"Oh itu, kemarin malam setelah pulang dari Club saya tidak sengaja melihat Kamu dan juga Pacar palsu kamu itu masuk ke rumah ini. Jadi saya pikir kamu tinggal disini," Elak Pak Rendra. Padahal, dia emmang sengaja membuntuti mobil Andin dan Angga.


"Oh,... begitu" jawab andin sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Saya membawa makan siang, untuk kalian." Ucap Pak Rendra yang kemudian masuk kedalam Rumah Angga.


"Kenapa bapak jadi repot-repot begini?" Jawab Andin.


"Aku tahu kalian tidak sempat masak. Don, taruh makanannya di sana!" Seru Pak Rendra dia menyuruh Doni menaruh makanan di atas meja. Setelah itu Doni berpamitan menunggu di mobil.


"Terima kasih ya, Don!" Ucap Andin.


"Iya, Non." Jawab Doni.


"Pak Rendra perhatian sekali, semua asisten bapak pasti betah kalau di perhatiin begini." Celetuk Sindi.


"Enggak juga, sih!" Jawab Pak Rendra sambil tersenyum menatap Andin. Itu membuat Andin mulai salah tingkah sendiri.


"Duh, aku boleh GR nggak sih! Pak Rendra selalu baik dan perhatiam begini sama aku," batin Andin. Agar tidak tertangkap basah kalau dia salah tingkah, Andin memilih pergi ke kamar Angga.


"Sebentar ya, aku mau bangunin Angga dulu."


Andin bergegas ke kamar Angga, dia membangunkannya karena tadi malam Angga bilang akan ada meeting bersama kliennya.


"Ga, bangun! Katanya kamu mau ada meeting. Ini sudah jam 12 siang!" Seru Andin, mendengar itu Angga seketika meloncat dari tempat tidurnya.


"Hah, jam 12 siang?" Pekiknya. Angga tidak menyangka tidurnya akan selama itu.


"Ya sudah sana, buruan mandi. Setelah itu kita makan bareng," jawab Andin


"Iya, Ndin!"


Angga mengacak-acak rambutnya , dia tidak menyangka kalau sudah tertidur lama. Dia kemudian mengambil handuk dan pergi mandi.


Sementara Andin masuk ke kamar Angga, Sindi menghampiri Pak Rendra. Dia menatapnya penuh selidik, kepalanya di penuhi pertanyaan-pertanyaan untuk Pak Rendra.


"Pak Rendra sebenarnya naksir Andin, ya?" Tanya Sindi. Bukannya menjawab Pak Rendra malah balik bertanya.


"Menurut kamu?"


"Loh, kan saya nanya Pak? Gimana sih? Kalau menurut saya nih, ya! Bapak sekarang sedang mendekati Andin, iya kan?"

__ADS_1


"Kalau kamu sudah berkata seperti itu, ya sudah!" Jawab Pak Rendra sambil tersenyum, walaupun jawabannya "iya" tidak mungkin dia memproklamasikan kalau dia kini tengah menyukai Andin.


Pak Rendra mentap Sindi yang terlihat tidak puas dengan jawaban atas pertanyaannya. Sindi terlihat ngederumel sendiri, Andin yang baru saja keluar dari kamar Angga merasa Aneh dengan kelakuan Sindi tersebut.


"Kamu kenapa, Sin? Kayak orang lagi baca Mantra gitu?"


"Mbah dukun kali ah, baca mantra!" Sahut Sindi. Di balas dengan Gelak tawa dari Andin.


Andin kemudian menuju dapur, dia melihat makanan begitu banyak diatas meja.


"Pak, ini makananya terlalu banyak, bisa buat makan satu RT. Banyak banget," ucap Andin.


"Bukankah kamu memelihara ribuan pengemis di dalam perutmu itu? Saya malah tidak yakin jika makanan itu cukup," jawab Pak Rendra.


"Hehehe, Bapak bisa aja, Kan saya jadi malu ketahuan makannya banyak." Ucap Andin malu-malu.


Andin kemudian memindahkan makanan itu kedalam wadah, lalu menatanya diatas meja.


"Pak sekalian makan di sini ya? Saya siapin." Ucap Andin.


Tanpa di suruh 2 kali Pak Rendra langsung pindah tempat duduk ke meja makan. Merek menunggu Angga saja yang masih mandi. Tidak berapa lama Angga ikut bergabung di meja makan, wajahnya sudah lumayan segar dari pada saat tadi.


"Apa makanan ini, Pak Rendra sendiri yang memasaknya?" Tanya Sindi.


"Tidak, itu tadi sopirku yang beli dalam perjalanan kesini. Kenapa, Apa ada yang kamu tidak suka?" Tanya Pak Rendra. Sindi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Pak Rendra juga mengambil udang bakar kemudian dia mengupasnya lalu menaruh di piring Andin. Angga dan Sindi yang memperhatikan perlakuan manis Pak Rendra tersebut, Pak Rendra mungkin lupa kalau saat ini dia tidak sedang berdua dengan Andin saja. Atau mungkin dia sengaja melakukan itu supaya Angga dan Sindi melihatnya, entahlah. Hanya Pak Rendra sendiri yang tau motif sebenarnya.


Saat Angga selesai mengupas Udang, Sindi memberi kode agar dia melakukan hal yang sama seperti Pak Rendra tadi. Namun Angga tidak paham maksudnya Sindi, karena kesal melihat Angga yang tidak peka Sindi mengambil udang yang Angga kupas tadi lalu menaruh di piringnya kemudian dia memakannya. Dia ingin merasakan ada yang mengupaskan udang untuknya juga, Angga tentu saja melongo. Dia kemudian mengupas kulit udang lagi lalu buru-buru memakannya, takut di serobot Sindi lagi.


Saat mereka asyik menikmati makan siang bersama, bel berbunyi. Pak Rendra berdiri dari duduknya, dia mengira mungkim itu Doni supir pribadinya. Namun, Angga menahannya.


 "Biar aku saja yang membu pintunya, kalian teruskan saja makan siangnya." Ucap Angga beranjak dari meja makan.


Saat pintu terbuka, Angga melihat Samuel berdiri di sana.


"Ada perlu apa kesini?" Ketus Angga. Jujur saja Angga tidak suka melihat Samuel, apalagi waktu itu Samuel pernah memukulnya saat dia bersama Andin.


"Aku ingin bertemu Andin sebentar," jawab Samuel.


"Katakan saja, nanti akan aku sampaikan," seru Angga.


"Aku tidak perlu izinmu untuk menemuinya!"


"Hei, Bro. Kamu perlu izinku untuk masuk kedalam rumah ini!" Balas Angga.

__ADS_1


Samuel tidak perduli, dia langsung menerobos masuk kedalam rumah Angga. Benar-benar tidak punya sopan santun sama sekali, Angga sampai meneriakinya.


"Samuel! Tunggu, apa kau tidak mempunyai sopan santun?" Teriak Angga.


Samuel tidak perduli dengan teriakan Angga.


"Ndin, kamu dimana? Kamu di dalam bukan?" Teriak Samuel sambil berjalan.


Angga tidak mampu mencegah Samuel, yang kini sudah sampai di ruang keluarga. Andin, Sindi dan juga Pak Rendra menoleh ke arah sumber suara, Samuel terlihat kesal begitu melihat Pak Rendra ada di sana dan duduk di samping Andin. Namun dia dengan cepat mengontrol emosinya, saat ini dia tidak boleh lagi tantrum dihadapan mereka. Cukup hatinya saja yang marah melihat kebersamaan mereka.


"Ada perlu apa lagi? Kenapa kamu menerobos ke rumah orang begini? Seperti tidak lunya sopan santun saja!" Ucap Andin. Semua memandang ke arah Samuel menunggu jawabannya.


"Ini, aku cuma mau mengembalikan handphone kamu yang tertinggal." Jawab Samuel memperlihatkan ponsel milik Andin.


"Hah, handphoneku di tempat kamu?" Tanya Andin kaget, dia mengingat-ingat kapan terakhir kali dia memakai ponselnya.


"Astaga, iya! Aku meninggalkan ponselku di sofa ruang tamu." Pekik Andin.


"Kebiasaan teledor kamu itu enggak hilang-hilang. Lain kali cobalah untuk tidak teledor lagi!" Seru Samuel sambil menyerahkan ponsel milik Andin. Andin menerima gawainya dari tangan Samuel.


"Terima kasih!" Ucap Andin Singkat.


"Kamu di sini juga, Sin?" Sapa Samuel. Sindi malas menggubris basa basi Samuel dia memilih melanjutkan mengunyah makanannya. Sindi memang begitu, kalau sudah tidak suka dengan orang dia akan langsung menunjukkan ketidaksukaannya itu di hadapan orangnya tersebut.


"Apa Anda mau bergabung makan siang dengan kami?" Tawar Pak Rendra. Seketika Andin dan Sindi menatap sinis Pak Rendra. Dan menghentakkan sendom diatas piring mereka, Melihat itu Samuel segera peka terhadap keadaan, kalau dirinya memang tidak di harapkan berada di antara mereka.


"Tidak, aku hanya ingin mengembalikan ponsel Andin saja. Aku tidak mau merusak selera makan siang kalian," ujar Samuel.


"Baguslah kalau kamu tahu diri!" Timpal Sindi.


"Silahkan kalian melanjutkan makan siang kalian, aku permisi dulu." Pamit Samuel.


Karena datang sendiri bukan karena di undang, maka mereka membiarkan saja dia berjalan kearah pintu sendiri.


"Tunggu pembalasanku nanti!" Batin Samuel. Seketika wajahnya berubah, dia tidak suka melihat Andin di kerubungi 2 orang itu.


Di dalam rumah Angga, Samuel masih bisa bersikap tenang. Namun, ketika sudah berada diluar emosinya sudah tidak bisa di kontrol lagi.


"Kurang ajar! Tunggu saja nanti, aku akan memisahkan kalian dari Andin!" Pekiknya.


Samuel masih saja di penuhi rasa cemburu, namun dia harus menyembunyikan dari orang-orang. Memang benar penyesalan itu datangnya terlambat, seharusnya Samuel menyadari itu. Sejak awal tujuannya berselingkuh dengan Amel adalah supaya melancarkan posisi jabatannya dikantor. Sekarang dia harus menerima konsekuensinya dengan melihat Andin menjauh darinya atau mungkin Andin menemukan kebahagiannya bersama laki-laki lain.


Bersambung


tinggalin Jempol kalian semua bestie!

__ADS_1


Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah


__ADS_2