KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 44. Rahasia Rendra Dirgantara


__ADS_3

Angga dan Darwis makan dengan lahap, mereka menyukai masakan Bunda Maia.


"Masakannya enak, Tan!" Puji Angga.


"Ah, Nak Angga bisa saja!" Ucap Bunda Maia tersipu malu.


"Kamu makan pelan-pelam jangan rakus begitu!" Omel Bunda Maia pada anak gadisnya. Sindi cuek saja sambil terus mengunyah makanan didalam mulutnya.


"Nak Angga, Nak Darwis! Kalian jika punya teman yang sudah cukup umur, tua enggak apa-apa yang penting orangnya baik, tolong kenalin keanak bunda ini, ya? Bunda sudah capek jodohin dia, tidak ada satu pun yang bertahan dengannya." Curhat Bunda Maia. Sindi sampai tersedak, Angga dengan sigap memberikan air putih di depannya.


Uhuk Uhuk!


Sindi menepuk-nepuk dadanya, dan meminum air putih yang Angga berikan tadi.


"Bunda!" Seru Sindi. Dia malu Bunda Maia berbicara seperti itu di depan Angga dan Darwis.


"Kenapa? Bunda kesal sama kamu, enggak pernah ngenalin pacar kamu!"


Angga menahan tawa, melihat interaksi anak dan ibu itu. Namun apes baginya, Sindi melihatnya.


"Apa? Kamu ngetawain aku, ya?"


"Enggak, Kok! Mana ada aku tertawa."


"Terus itu senyum-senyum sendiri begitu, kenapa? Nertawain aku, kan? Cecar Sindi.


"Siapa yang nertawain, kamu? GR banget sih"


"Apa sih, enggak mau ngaku! Ya, kamu lah! Emangnya kamu pikir aku nggak liat kamu ngetawain aku!"


Bunda Maia menatap mereka berdua bergantian yang ribuy bagaikan anjing dan kucing, sementara Darwis sudah mulai terbiasa melihat keributan mereka berdua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setiap Weekend Pak Rendra memang delalu tidak ada di Penthouse, karena dia harus mengunjungi seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Dia mendatangi putri semata wayangnya, biasanya kalau tidak jumat sore atau sabtu pagi Pak Rendra akan menemuinya.


"Hello, anak Putri kecil Daddy!" Ucapnya, pada seorang gadis cantik berusia 5 tahun. Dia datang dan berlari menyambut kedatangannya.


"Daddy!" Teriaknya, Mereka berdua kemudian berpelukan.


"Kamu sudah siap?" Tanya Pak Rendra, putri semata wayanya itu mengangguk.


"Karina, aku akan membawa Hana jalan-jalan dulu!" Ucap Pak Rendra pada Karina-Mantan Istrinya.


"Kembalikan dia tepat pada waktunya seperti biasa!" Pesan Karina.

__ADS_1


Pak Rendra tidak senang mendengar perkataan Mantan Istrinya itu.


"Hana bukan barang yang harus di kembalikan secara tepat waktu! Dia sudah besar, sudah bisa menentukan. Aku tidak akan mengembalikannya sampai dia sendiri yang meminta pulang! Biarkan dia memilih untuk tinggal bersama siapa!" Seru Pak Rendra.


"Tidak bisa! Hak asuh perwaliannya jatuh padaku, Rendra!" Jawab Karina sinis.


"Kalau kamu seperti itu terus, aku akan mengajukan banding dan membawa Hana bersamaku!" Ancam Pak Rendra.


"Hahaha,... kamu lupa, bahwa kamu tidak memenuhi syarat untuk itu?"


"Aku akan menikah, aku akan punya Istri dan akan kubawa Hana bersamaku!" Tegas Pak Rendra.


"Ck, itu saja tidak cukup! Bagaimana jika Istrimu tidak,....."


Hana yang menyaksikan perdebatan orabg tuanya pun berteriak.


"Stop! Hana benci melihat Daddy dan Mommy selalu bertengkar terus. Biarkan Hana di panti asuhan saja kalau begitu!" Teriaknya.


Mendengar putrinya berteriak dan berkata seperti itu, Pak Rendra langsung memeluknya.


"Tidak Hana, Maafkan Daddy dan Mommy!"


"Mommy sibuk pacaran dengan si Om, Daddy terlalu sibuk bekerja. Hana ingin punya banyak teman, jadi biarkan saja Hana di panti asuhan!" Ucap gadis kecil itu sambil menangis.


"Oh, jadi begitu kelakuan kamu, Karina! Kamu sibuk pacaran dan membawa Hana bersamamu? Dimana otakmu, hah? Kenapa pacaran bawa-bawa dia? Apa kamu kehilangan moral mu?"


"Kamu siap-siap saja, Karina! Aku akan merebut hak perwalian itu. Dulu aku mengalah karena memang sudah seharusnya anak usia dibawah 5 tahun bersama ibunya, tetapi mendengar kelakuan mu yang tidak bermoral itu aku tidak akan segan-segan akan membawa Hana bersamaku. Aku memang sibuk bekerja, dan akibat kelakuan masalalu mu itu aku jadi membenci wanita. Tetapi kamu tenang saja, aku akan mencari istri untuk membantuku menjaga dan merawat Hana agar tumbuh dengan baik!" Tutur Pak Rendra.


"Ck, silahkan saja, Rendra! Kamu pikir gampang mencari perempuan yang bisa mengimbangi sikap perfeksionis kamu itu! Carilah sampai ke lubang buaya, bila perlu sampai ke ujung neraka, dan jangan lupa selami lautan dan daki pegunungan. Cari sampai dapat!" Ucap Karina sambil tertawa.


Pak Rendra menatap tajam me arah Karina.


"Tunggu dan lihat saja, Karina! Aku pasti akan mendapatkan perempuan itu. Perempuan yang bisa menerima kekuranganku!" Ucap Pak Rendra lalu dia segera pergi dari sana membawa Hana.


"Ayo, Nak! Kita pergi jalan-jalan sekarang. Maafin Daddy dan Mommy, ya?" Ucap Pak Rendra sambil mengelus kepala Gadis ciliknya.


Pak Rendra menggenggam tangan mungil Hana.


"Hana, kamu kenapa tidak bilanv pada Daddy kalau Mommy suka jalan sama pacarnya dan tidak memperhatikan kamu?" Tanya Pak Rendra Lembut.


"Hana kasihan sama Mommy, dia juga kelihatannya kesepian, Dad!"


"Lalu, kenapa setiap baby sister yang Daddy kirim untuk menjaga Hana selalu mengundurkan diri?" Tanya Pak Rendra lagi.


"Mommy yang memecat mereka, Dad!"

__ADS_1


"Oh, jadi itu perbuatan Mommy kamu?"


Hana mengangguk, Pak Rendra terlihat menahan amarahnya. Dia tidak paham dengan jalan pikiran Karina, banyak Nanny yang dia kirim untuk mengasuh Hana dengan benar malah dia pecat. Sementara dia sendiri tidak becus merawat Hana, Pak Rendra tidak masalah jika Karina mau berpacaran dengan laki-laki mana pun. Yang penting jangan mengajak Hana untuk hal-hal seperti itu.


"Hana, kamu senang kalau habis jalan dengan Daddy?"


"Senang banget," ucap Hana sambil memegangi boneka Rabbit hasil dari main capit mesin.


"Boneka bari, ya? Mommy yang beliin?" Tanya Pak Rendra heran, karena dari tadi Hana selalu memeluk boneka itu.


Hana menggeleng.


"Bukan, ini hadiah dari temannya Hana, Dad." Jawab Hana.


"Oh ya, Hana sekarang ounya teman? Bolehkah kita berkunjung kerumahnya lalu kita traktir dia makan Ice Cream?"


Hana kembali menggelengkan kepalanya.


"Hana tidak tahu dimana rumah Tante cantik."


"Tante cantik? Siapa dia? Orang dewasa?"


"Dia yang memberikan boneka ini pada Hana."


Pak Rendra menghela napasnya, mungkin Tante cantik yang di maksud Hana adalah hanya khayalannya semata. Karena setahu Pak Rendra Hana tidak mempunyai teman, dia semakin kasihan pada putrinya. Ini tidak boleh di biarkan lebih lama lagi dia akan mengambil hak asuh Hana. Walaupun syarat untuk mengambil Hak asuh tersebut adalah menikah kembali, dia akan melakukan itu.


Pak Rendra kemudian menelpon pengacaranya.


"Pak Rino, tolong urus pengambilan hak asuh Hana. Suruh orang mengawasi Karina 24 jam. Ingat 24 jam, itu artinya saya tidak perduli walaupun harus membayar banyak orang asalkan ada yang mengawasinya 24 jam. Temukan dan kumpulkan bukti kelemahan Karina apa pun itu, walaupun harus menyelam kedasar lautan!" Titah Pam Rendra.


"Baik, Pak Rendra!"


Pak Rendra melirik ke arah Hana, gadis kecil itu sibuk menciumi boneka Rabbitnya.


"Dady, sebenarnya Hana kasihan sama Mommy dia sering menangis sendiri. Jadi tidak tega ninggalin Mommy, tapi Hana juga ingin tinggal sama Daddy. Hana ingin setiap oagi berangkat sekolah Daddy yang anterin, supaya tidak ada lagi yang mengejek Hana tidak punya ayah." Tutur Hana.


Deg!


Sakit rasanya Pak Rendra mendengar itu. Ternyata anak sekecil Han harus menahan sesak ya di bully. Ayahnya masih hidup, masih sehat tapi di bilang tidak memiliki ayah, lasti sedih sekali rasanya.


"Maafkan Daddy, Nak!"


Kini tekad Pak Rendra semakin bulat. Untuk mengambil alih hak asuh Hana dan membahagiakannya.


bersambung

__ADS_1


Maafkan kemarin sempat libur Up, , semog masih setia baca Novel KAP, ya~


__ADS_2