
Sindi menikmati alunan musik yang memenuhi ruangan itu. Sementara Angga hanya duduk du meja tidak jauh dari situ, kedua matanya tidak lepas menatap ke arah Sindi. Itu karena dia sangat tidak ingin melihat Sindi membuat masalah lagi, Angga juga tidak memesan minuman beralkohol dia hanya memesan minuman bersoda untuk mereka berdua.
Sindi semakin Asyik berjoget ketika DJ mulai meramu musik andalannya. Hentakan dan kombinasi nada-nadanya membuat Angga ikut menggoyang-goyangkan kakinya dari tempat duduknya.
Tidak berapa lama kemudian, Sindi menghampiri Angga.
"Kamu tidak mau kesana?" Tanya Sindi lalu meraih minuman bersoda miliknya.
"No! Aku di sini saja," jawab Angga sedikit berteriak karena suara musiknya sangat keras.
"Seru, lho!" Pekik Sindi.
"No, Thanks!" Seru Angga.
Sindi tertawa, dia ingin kembali kesana lagi tetapi dua merasa capek. Jadi dia memilih untuk duduk berdua dengan Angga, setelah beristirahat beberapa saat Sindi memutuskan untuk kembali lagi ke lantai dance. Tampak seorang pria mendekati Sindi, dengan samar-samar Angga dapat melihatnya. Di bawah kerlap kerlip lampu disko, pria tadi terus berjoget di sekitar Sindi.
"Siapa pria itu? Apa dia mengenalnya? Kalau tidak? Bagaimana jika pria itu berniat jahat?" Angga mulai mengkhawatirkan Sindi, dia tahu jika di tempat seperti ini banyak juga pria-pria buaya darat yang sengaja menjerat gadis-gadis yang tengah bersedih.
Angga tidak berhenti mengawasi Sindi, pria itu sepertinya semakin berani mendekat ke arah Sindi.
"Tidak! Kalau pria itu berniat jahat bagaimana?"
Angga menghabiskan minumannya, kemudian dia menghampiri Sindi. Dia menerobos barisan manusia yang tengah asyik berjoget ria di sana.
"Permisi! Saya mau lewat!" Serunya.
Akhirnya dia sampai juga di dekat Sindi, dia melihat Pria dan Sindi saling senyum. Kini Angga berdiri tepat di belakang Sindi namun Sindi tidak menyadari keberadaan Angga, sangking Asyiknya berjoget Sindi tidak sengaja menginjak kaki Angga.
"Aarrgh!" Teriak Angga. Seketika Sindi menghadap kebelakang, tepat saat itu seseorang tidak sengaja mendorongnya sehingga membuat Sindi jatuh terjerambab tepat di dada Angga. Angga menahan tubuhnya supaya tidak jatuh kelantai berakhir dengan memeluk Sindi, keduanya tidak sengaja saling berpelukan.
Sindi dapat mendengar suara jantung Angga.
"Tunggu! Ini suara jantungku atau milik Angga?" Batin Sindi.
Pengunjuk yang berdesakan itu membuat Angga dan Sindi bergeser bebarapa langkah dari tempat semula, Angga harus tetap berdiri kokoh supaya mereka berdua tidak terjatuh. Sindi mendongakkan kepalanya, dia baru menyadari kalau Angga memiliki dada yang bidang dan rahang yang tegas. Dalam keremangan, Sindi dapat melihat guratan tegas wajah Angga, dan wajahnya yang tampan.
Angga tiba-tiba menundukkan pandangannya, sehingga pandangan mereka bertemu. Sindi bukannya menghindar dia malah terus menatap Angga, dia seolah tersihir oleh ketampanan Angga.
"Sin,... Sindi!" Teriak Angga berusaha menyadarkan lamunanan Sindi. Sindi masih diam saja, dia seperti orang bodoh.
__ADS_1
"Hello!" Panggilnya sekali lagi.
"I-iiya," jawab Sindi terbata-bata. Dia langsung membuang pandangannya, dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Angga.
"Astaga! Aku kenapa? Dadaku kenapa jadi berdebar-debar begini?" Ucap Sindi dalam hati. Tidak ingin tertangkap basah dengan apa yang baru saja dia rasakan, Sindi kembali kemejanya. Dia menghabiskan sisa minumannya, Angga segera mengikuti Sindi, dia juga kembali kemejanya.
"Duh, kenapa dia ikut kesini juga?" Gumam Sindi. Dia kemudian menjadi salah tingkah sendiri.
"Siapa pria tadi? Teman kamu?" Tanya Angga.
"Hah, apa?" Sindi tidak mendengar jelas pertanyaan Angga.
Angga menggeser kursinya, kini dia duduk di samping Sindi kemudian mendekatkan wajahnya untuk berbicara kepada Sindi.
"Pria tadi itu siapa? Teman kamu?" Tanya Angga lagi.
"Pria? Pria apa?" Jawab Sindi gelagapan.
"Sudahlah, lupakan saja!"
Angga kemudian menggeser lagi tempat duduknya. Andai saja ruangan itu tidak remang-remang, wajah Sindi yang merah merona itu pasti akan kelihatan dengan jelas.
"Pulang?" Tanya Angga memastikan, dia kemudian melirik arloji di pergelangan tangannya. Tidak terasa kalau sudah hampir jam 12 malam. Sindi mengangguk.
"Oke! Tunggu di sini, aku akan membayar tagihannya dulu."
Angga bergegas menuju kasir membayar tagihan mereka, Sindi mengikutinya dari belakang. Setelah itu mereka berdua meninggalkan club malam tersebut.
Sesampainya di lobby mereka melihat di luar hujan turun sangat deras, beberapa jalanan di penuhi genangan air. Udara dingin menusuk sampai ketulang.
"Bagaimana ini, Ga? Malah turun hujan deras!" Ucap Sindi. Sudah bisa di tebak, jalanan pasti banjir kalau seperti ini. Apalagi sepanjang jalan menuju rumah Sindi terkenal dengan kawasan banjir.
"Apa kita tunggu sampai reda?" Usul Angga.
"Iya, tunggu sampai agak reda!" Jawab Sindi. Mereka kembali masuk ke dalam lobby, sambil menuju hujan reda.
30 menit sudah berlalu, dan hujan masih mengguyur deras. Sindi memberi kabar kepada Bunda Maia kalau dia masih terjebak hujan deras dan belum bisa pulang. Sindi aman, karena Bunda Maia sudah tidur, pesan yang dia kirimkan belum di baca.
Beberpa saat kemudian Sindi merasakan hawa panas menjalar di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Eh, aku kenapa ini? Kenapa tubuhku tiba-tiba panas? Dan, tidak,... hasrat apa ini?"
Sindi blingsatan sendiri, dia tiba-tiba keringatan. Dia tidak merasakan keinginan menggebu-gebu seperti ini sebelumnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Angga. Dia khawatir karena Sindi tiba-tiba berkeringat begitu, padahal saat ini udara sedang dingin karena pengaruh hujan diuar.
"Jangan mendekat!" Seru Sindi. Dorongan hasrat luar biasa sedang menguasai diri Sindi, dia tidak tahu mengapa bisa merasakan ini. Seingatnya dia tadi hanya memesan minuman bersoda.
"Apa yang terjadi padaku?"
Dimata Sindi saat ini, Angga begitu menawan dan seksi. Dia melihat Angga terseyum manis kepadanya sambil menjulurkan tangannya.
"Tidak! Tidak!" Teriak Sindi tiba-tiba. Dia bergegas mencari toilet, Angga yang bingung dengan sikap Sindi mengikutinya dari belakang.
"Sin, kamu mau kemana?" Teriak Angga.
Sindi menemukan keberadaan toilet, dia langsung masuk dengan napasnya yang memburu. Gairah di dalam tubuhnya meletup-letup, Sindi membasuh wajahnya berharap hawa panas di dalam tubuhnya menghilang.
Flash Back!
Beberapa waktu lalu saat Angga meninggalkan mejanya, datang seorang pria yang tidak di kenal mendekati mejanya. Pria itu menaruh obat perangsang kedalam minuman Sindi, orang itu ternyata salah sasaran harusnya meja sebelahnya lagi yang dia beri obat terkutuk itu. Di meja sebelah mereka tadi, duduk seorang gadis belia bersama dengan om-om buaya darat. Gadis belia itu sepertinya akan menjadi target bejat om-om buaya darat itu, mungkin kurang breafing atau apa, orang suruhannya itu tadi salah tempat dan salah orang.
Flashback selesai.
Saat ini Sindi sedang kebingungan, bagaimana cara dia mengatasi keadaannya? Hasratnya tiba-tiba meninggi, pacar dia tidak punya, kemana dia akan meredakan hasrat gilanya itu? Sindi membasuh wajahnya lagi, kali ini dia juga membasahi rambutnya berharap agar hasrat gilanya itu hilang dari dirinya. Dia keluar dari toilet dengan rambut basah, Angga yang nenunggunya di depan toilet wanita itu bingung sendiri. Dia tercengang melihat Sindi dengan rambutnya yang basah itu.
"Kamu kenapa, Sin? Itu rambut kenapa di basahi? Ini kan dingin? Kalau sakit nanti gimana?"
Angga melepaskan jas yang di pakainya, dia kemudian memakaikan kepada Sindi. Sindi sendiri tidak menjawab, tatapan matanya kosong kedepan.
"Ga, bagaimana ini?"
"Apa? Kalau tidak cerita bagaimana aku bisa tahu? Aku bukan cenayang bisa tahu pikiran kamu!" Geram Angga.
"A-aaku,..." Sindi tidak melanjutkan kalimatnya. Dia tidak tahu harus bercerita ini dari mana.
Bersambung!
Tuan dan Nyonya tolong Suportnya ya!
__ADS_1