
Tiba-tiba terdengar suara seseorang sedang memasukkan sandi rumah Angga. Saat ini jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Angga dan Sindi yang sedang berpelukan mendadak saling melepaskan diri.
Angga langsung berlari kedapur, setelah utu dia kembali lagi keruang keluarga, lalu menuju kamarnya. Dia kebingungan sendiri seperti orang yang mau digrebek warga.
Sindi tercengang melihat aksi Angga yang malah mondar mandir tidak jelas begitu. Tidak lama kemudian, Andin masuk dan langsung berteriak sambil berlari kedalam.
"Sin,.. Sindi!" Teriaknya. Dia langsung mencari keberadaan Sindi, pertama-tama dia langsung membuka kamar yang dulu dia tempati, karena tidak menemukan Sindi di sana Andin bergegas keluar lagi. Andin mengecek ruang tamu keluarga, dia begitu lega mendapati Sindi yang duduk termenung di depan TV, tubuhnya masih di baluti selimut.
"Sindi!" Seru Andin.
"Hah, Ndin?"
Sindi juga sama saja seperti Angga menjadi bego, dia masih saja terlena dengan apa yang dia dan Angga lakukan beberapa saat lalu.
"Aku kaget waktu terbangun dan melihat notifikasi pesan dari Angga. Kamu juga ada nelpon aku berkali-kali. Aku khawatir terjadi sesuatu denganmu! Ada apa? Kenapa kamu bisa bersama dengan Angga dan ada di rumahnya begini?" Cerocos Andin tanpa henti.
"I-itu,..."
"Kamu sakit? Wajah kamu memerah begini! Angga mana?"
"A-angga ada di kamarnya," jawab Sindi terbata-bata. Andin memegang jidad Sindi, suhu tubuhnya memang memanas.
"Ini ceritanya bagaimana? Kenapa kamu bisa seperti ini?"
"Aku tadi kehujanan, terus badanku basah semua. Lalu aku ikut Angga kesini, "jelas Sindi. Andin memicingkan matanya.
"Gitu aja? Tiba-tiba ketemu Angga?" Tanya Andin sambil menatap Sindi penuh kecurigaan. Sindi tidak berani menatap balik sahabatnya ini. Angga keluar dari kamarnya, dia berpura-pura menguap. Akan terlihat sangat aneh jika dia mengumpet di kamar.
"Ga, Sindi kenapa? Begitu melihat pesanmu, aku langsung bergegas kesini," ucap Andin begitu Angga mendekat kearahnya.
"Padahal besok pagi juga enggak apa-apa, Ndin. Itu tadi Sindi kehujanan dan badannya panas, jadi aku bawa saja ke sini. Tadinya mau ku antar ketempat kamu tapi kamunya tidur di telpon nggak di angkat."
"Kenapa kamu tidak antar kerumahnya saja?"
__ADS_1
"Ehm, itu,... karena sudah larut malam. Aku takut Bunda Maia malah berpikiran yang tidak-tidak," jelas Angga.
"Memangnya kalian berdua habis dari mana?" Tanya Andin, dia mirip Pak RT yang sedang mengintrogasi warganya yang kedapatan berduaan malam-malam.
Angga dan Sindi saling pandang.
"Karaoke," jawab Sindi.
"Club malam," jawab Angga. Yang berbarengan dengan Sindi. Angga dan Sindi saling menatap sementara Andin menatap mereka bergantian.
"Jadi yang benar yang mana?" Tanya Andin memastikan.
"Kenapa kamu terlalu jujur, sih?" Seru Sindi.
"Lebih baik kamu jujur deh, buruan cerita sebelum aku ngadu ke Bunda Maia!" Ancam Andin.
"Eh, jangan dong!" Seru Sindi. Dia menghembuskan napasnya dengan kasar, setelah itu dia mulai bercerita kepada Andin.
"Awalnya aku gabut sepulang kerja gara-gara kesal dengan Amel. Saat berada di suatu tempat yang aku tidak ketahui itu dimana aku tidak sengaja bertemu Angga. Awalnya aku tidak sengaja menendang kaleng kosong dan mengenai mobil Angga yang tengah parkir di sana. Angga memberiku tumpangan untuk mengantarkan aku pulang, sebelum itu aku mengajak Angga mampir untuk karaoke. Setelah dari karaoke kita berdua pergi ke club malam. Sumpah aku nggak ada minum alkohol, ya! Aku tidak mabuk!" Jelas Sindi panjang lebar.
Andin kemudian mengendus-endus Sindi. Sindi langsung membuka mulutnya lebar-lebar.
"Terus, kenapa wajah kamu memerah begitu?" Tanya Andin lagi.
"Ini mungkin karena pengaruh kehujanan," jawab Sindi.
"Memangnya di dalam mobil tidak ada payung? Kenapa memilih hujan-hujanan?"
"Aku lagi pengen main hujan aja," Jawab Sindi asal.
"Alasan kamu tidak masuk akal! Tengah malam kok main hujan, semua orang juga tahu resikonya nanti bisa sakit!"
"Udah ah, kamu bawel banget. Ayo ketempat kamu saja, di sini bahaya!" Tutur Sindi.
"Di sini bahaya? Bahaya kenapa? Kamu tambah aneh deh, Sin! Aku sudah pernah tinggal di sini aman-aman saja. Bahaya dari mana? Bahaya dari siapa?" Andin semakin curiga dengan maksud perkataan Sindi.
__ADS_1
Angga dan Sindi saling menatap.
"Kalian berdua mencurigakan! Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi?" Tanya Andin semakin penasaran.
"Enggak ada apa-apa kok, Ndin!" Sahut Angga.
"Kamu tidak lagi bohong kan, Ga?"
Angga terdiam. Dia ingin menjelaskan secara detail namun Sindi memelototinya dengan tajam. Angga jadi takut.
"Udah, Ndin. Aku ngantuk, ayo kita ketempat kamu saja!" Ajak Sindi.
"Kalian berdua, berhutang penjelasan kepadaku besok! Aku akan menagihnya."
Sindi kemudian berdiri, dia pamit untuk pergi ke apartement Andin.
"Aku ketemoat Andin, ya?" Ucapnya lirih. Angga mengangguk. Mereka berdua pergi ke Apartement Andin.
Begitu Andin dan Sindi pergi Angga menjadi lega.
"Ah, akhirnya. Kenapa rasanya tadi aku seperti di sidang oleh hakim, ya? Deg-deg an."
"Mungkin kah Sindi akan menceritakan semua kejadian tadi? Kenapa juga aku tadi melakukan itu, bahkan pertama kali aku bertemu dengannya aku tidak begitu menyukainya. Sifatnya yang absurd dan mulutnya suka nyablak, rasanya pengen ku sumpal. Tetapi kenapa harus dengan bibiru menyumpalnya? Akkh,.. sepertinya aku sudah tidak waras!" Gumam Angga sambil mengacak-acak rambutnya.
"Aku tidak mungkin menyukainya! Tetapi, rasa apa yang saat ini aku rasakan? Jantungku berdetak kencang saat memeluknya tadi, hasratku bangkit untuk menciumnya dan parahnya lagi aku tidak bisa berhentikan untuk melakukannya. Dan sekarang aku terbayang ciuman itu terus, Sial! Bagaimana aku menghilangkan bibir lembut itu yang kini tengah menari-nari di kepalaku? Apa karena aku memang butuh belaian? Aku kan Duda, jadi wajar saja jika aku butuh belaian? Atau memang aku diam-diam menyukai Sindi tanpa aku sadari? Aku berharapnya Andin, kenapa yang nyangkut sahabatnya?"
Angga tidak berhenti berbicara dengan dirinya sendiri. Dia seperti orang gila, kadang bicara, kadang tersenyum lalu marah-marah sendiri.
"Bagaimana ini? Orang Absurd seperti Sindi kenapa jadi begitu imut dan menggemaskan dimataku? Tidak bisa di biarkan, besok aku harus pergi ke dokter mata. Sepertinya mataku sudah mulai rabun atau mungkin katarak!"
Angga coba memejamkan matanya, namun yang terjadi bayangan Sindi yang sedang menari-nari di kepalanya. Angga membekap kepalanya dengan bantal.
Bersambung!
NYONYA dan TUAN
__ADS_1
Tolong tinggalkan Jempol kalian. Please!! Komen juga!
Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah!