KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 7. Mertua Vs Menantu


__ADS_3

"Terserah apa kata mama. Andin juga sudah tidak perduli lagi. Mama mau ngatain Mandul, Durhaka, tidak tahu diri. Terserah Ma terserah! Yang penting Andin dan Mas Samuel akan segera bercerai. Andin bisa terbebas dari Mas Samuel dan Mama. Andin tidak perlu lagi mendengar ocehan mama" teriak Andin.


Lagi-lagi Andin harus mendengar Sumpah dari Mertua nya. Padahal Andin dan Samuel sudah pergi ke dokter untuk di periksa, Andin dan Samuel sama-sama Subur. Mertua nya tidak perduli dengan Penjelasan Dokter, dia hanya perlu percaya apa yang dia lihat dan dia Simpulkan.


"Bagus lah kalian Bercerai. Mama tidak perlu memikirkan lagi cara untuk memisah kan kalian?" kata Arum enteng.


"Pantas saja mama mendukung Mas Samuel Selingkuh. Selingkuh kok di restui. Jadi mama Mertua, kok begitu!" Cibir Andin.


"Oh, jadi kamu sudah tau? Kalau Samuel selingkuh. Bagus lah!" Sahut Arum.


" Jadi Mas Samuel belum Cerita ke mama? Biasa nya kalau ada apa-apa langsung cerita. Sudah tua masih saja jadi Anak Mami." Umpat Andin.


"Andin, Berani sekali kamu menghina Anak Mama." Sambung Arum.


" Fakta nya memang begitu, Ma. Selama ini Mas Samuel adalah Anak Mami, yang selalu manut pada mami nya. Dan juga mama selalu mencampuri urusan Rumah tangga kami terus. Mas Samuel juga tidak punya sikap yang tegas sebagai kepala Rumah tangga. Dia selalu menuruti apa yang mama mau, termasuk mencerai kan Andin!" tutur Andin. Entah mengapa kata-kata itu meluncur melalui Mulut nya.


"Andin!"


"Apa ma! Mama mau nampar Andin lagi? Andin tidak akan diam saja Ma. Andin sudah cukup ber sabar selama beberapa tahun ini memiliki Mertua seperti Mama." Cibir Andin


Andin benar-benar tidak peduli lagi dengan kata-kata yang dia ucap kan. Entah itu akan membuat mertua nya tersinggung atau tidak. Semua kata-kata yang terpendam di dalam dada nya kini berhasil keluar. Betapa Lega rasanya, Seolah sesuatu yang berat telah menghilang.


Arum tidak menyangka jika menantu nya akan seberani itu. Dia mengambil Gelas yang berisi ice jeruk, minuman yang tadi Andin ambil kan untuk nya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah Amplop berwarna Coklat dari dalam Tas nya.

__ADS_1


"'Nih, kamu Baca dan Tanda tangani." Arum melempar Amplop tersebut dengan Kasar.


""Apa ini ma?" Tanya Andin. Sambil mengambil Amplop yang di lempar oleh mertua nya. Andin membuka amplop itu dan membaca nya, selesai membaca Andin langsung merobek kertas itu.


Andin merobek kertas yang dia baca karena isi surat nya membuat nya marah. Semua letak kesalahan ada pada Samuel, dia berselingkuh, dia yang tertangkap basah, dan sekarang mertua nya datang memberikan surat pernyataan yang isi nya, Andin harus menyetujui Penyebab Samuel berselingkuh dan perceraian karena Dia tidak bisa memberikan Anak.


"Apa mama pikir Andin Bodoh? Hanya karena selama ini Andin banyak mengalah dan menerima saja perbuatan mama dan Mas Samuel di rumah ini? Andin tidak akan sudi menandatangani nya." Tegas Andin.


"Andin! Apa yang kau lakukan. Kenapa kau merobek kertas nya!" Pekik Arum.


" Apa mama tidak mikir dulu sebelum mengetik itu semua? Enak saja, yang salah siapa kok Andin yang menanggung nya. Teori dari mana itu." Ucap Andin sinis.


"Kalau kamu mengusir Samuel dari Rumah ini, kamu juga harus keluar dari sini. Mama tidak sudi duit yang sudah Samuel keluarkan untuk membayar Cicilan rumah ini kamu yang menikmati nya. Kemasi barang mu dan Pergi dari sini." Balas Arum sinis.


Arum kehabisan kata-kata dia tidak menyangka Andin akan berani membantah setiap perkataan nya. Padahal dulu Andin adalah seorang yang penurut tidak pernah membantah sama sekali.


Dia menatap tajam Andin, Terlihat dari wajah nya jika dia sedang marah besar.


"Berhenti lah mencampuri Urusan anak laki mama yang sudah Dewasa itu. Kalau mama seperti ini terus Mas Samuel tidak akan pernah Dewasa dengan Siapa pun dia berumah tangga. Mama berhentilah mencampuri urusan rumah tangga Anak dan Menantu Mama. Kalau tidak, Seratus kali Mas Samuel menikah seratus kali juga dia akan gagal! Apa mama mau melihat anak lelaki mama seperti itu?" Sambung Andin lagi.


Arum berdiri dari duduk nya dan langsung pergi begitu saja, dia sudah tidak tahan lagi mendengar Andin menceramahi nya.


Andin merasa lega setelah mertua nya pergi dari rumah nya. Dia juga lega karena bisa mengeluarkan unek-unek yang sudah lama mengganjal di Hati. Andin menarik nafas dalam-dalam kemudia dia pergi ke dapur mengambil Air dingin, Untuk mengompres Pipi nya yang di tampar oleh Mertua nya tadi. Pipi nya masih terasa perih.

__ADS_1


Andin berdiri di depan cermin, dia melihat pipinya yang di tampar tadi, terlihat jelas pipinya meninggal kan jejak kemerahan disana.


"Tega sekali mama menampar ku, padahal jelas-jelas anak nya yang salah!. Dasar Mama mertua Sinting!" Ucap nya


Andin merasa senang, karena telah berani melawan mertua nya itu. Entah setan mana yang merasuki nya saat tadi, sehingga mendapat keberanian yang besar.


"Seharusnya dari dulu saja aku Bar-bar. Jadi mama dan Samuel tidak meremeh kan ku terus". Ucap nya.


Tiba-tiba Ponsel nya berbunyi, Nama Samuel yang muncul pada layar


" Astaga, mau ngapain lagi sih, pakai acara Nelpon segala! Pasti Mama mengadu yang aneh-aneh pada nya." Kata Andin.


Andin mengabaikan panggilan dari Samuel, Telpin berdering lagi namun Andin tetap tidak mau mengangkat nya. Andin hanya akan berbicara pada Samuel jika di pengadilan saja.


Tidak lama kemudian Muncul Notifikasi dari Ponsel nya. Andin segera membuka pesan dari Samuel


[ Andin, kamu habis bertengkar dengan mama ya? Kata mama kamu berani berteriak didepan nya, dan juga kamu ingin menampar mama? Sekarang mama menangis menceritakan perlakuan mu. Kenapa kamu jadi berubah menjadi kurang Ajar begitu, Din? ] Pesan Samuel.


Ingin sekali Andin mentertawakan Mertua nya. Entah apa yang sudah di ceritakan oleh mama mertua nya Pada Samuel. Biasa nya, pengalaman yang sudah-Sudah. Mama Mertua pasti akan memutar balik kan fakta, berasa dia korban nya. Lalu Samuel akan mempercayai nya tanpa bertanya lagi pada Andin.


Andin tetap tidak membalas Pesan Samuel. Dia sudah malas berurusan dengan Samuel.


"Anak sama Mama sama menyakiti Hati ku, Tunggu saja Karma untuk Kalian." Ucap Andin tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2