KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 52. Aku Ikhlas


__ADS_3

Esok paginya, Andin bangun pagi-pagi. Kali ini dia yang menyiapkan sarapan untuk Angga, ini mungkin akan jadi yang terakhir kalinya bagi Andin untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Hari ini Andin akan pindah ke Apartment unit milik Pak Rendra, dia merasa bersykur telah mengenal Angga. Orang yang tulus menolongnya di saat kesusahan.


"Ga, hari ini aku pindah ke Apartement, ya?" Ucap Andin mengutarakan maksudnya.


"Hari ini?" Tanya Angga.


"Iya, kalau butuh apa-apa kabarin, ya? Aku masih boleh menganggap kamu sebagai kakak ku, kan?" Tanya Andin.


Angga hanya tersenyum getir, lagi-lagi dia harus menerima ketika Andin mengucapkan ini sekali lagi. Kalimat penegasan bahwa dia hanya di anggap sebagai kakak, seolah memupuskan semua harapannya. Jujur saja, Angga pernah berharap kalau Andin akan menjadi pasangannya kelak. Namun, melihat Andin yang tidak mempunyai perasaan terhadapnya, Angga harus tahu diri. Dia tidak mungkin memaksakan perasaannya, sejak dia di tinggalkan oleh istrinya itu. Angga merasa merasa beruntung tekah di pertemukan dengan Andin, walau pertemuan mereka berdua itu saat mereka sama-sama sedang di uji dalam masalah. Tetapi mereka berdua seolah menjadi dekat karena masalah itu.


Kini Angga harus mengubur impian itu. Walaupun begitu Angga akan terus mendukung apapun yang Andin lakukan demi kebahagiannya. Level tertinggi mencintai seseorang adalah dengan mengikhlaskan orang tersebut menemukan kebahagiannya sendiri.


"Sure! Aku akan selalu ada untuk mu. Datang saja kapanpun kamu mau," jelas Angga samb tersenyum. Andin membalasnya dengan senyuman lebar.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Angga pamit untuk berangkat kerja. Andin sendiri merapikan barang-barangnya yang akan dia bawa ke apartement. Tiba-tiba bel rumah berbunyi.


"Siapa yang menekan bel pagi-pagi begini?" Gumam Andin. Dia kemudian keluar dari dan menguntip di balik jendela.


"Astaga, Pak Rendra! Padahal sudah aku kasih tahu kalau aku akan ke apartement setelah membereskan semuanya. Benar-benar tidak sabaran!"


Andin kemudian membukakan pintu, Hana dan Pak Rendra terseyum dari balik pintu.


"Tante Andin! Tante tinggalnya di sini, ya?" Tanya Hana yang terlihat begitu senang.


"Iya, Tante Andin lagi beres-beres." Jawab Andin, dia dan Pak Rendra bertatapan penuh arti. Bahkan Pak Rendra diam-diam melakukan skinship dengannya, dia meraih pinggang Andin. Untung saja Hana tidak melihatnya karena Andin segera mendorong Pak Rendra supaya tidak menempel kepadanya.


"Hana nyariin Tante tadi. Daddy bilang, kalau Hana menghabiskan sarapan Daddy akan diajak menemui Tante. Ternyata Daddy tidak bohong saat bilang kalau rumah Tante Andin tidak jauh," celoteh Hana lagi.


"Iya, sayang! Oiya, kalian mau minum apa? Tapi aku tidak yakin di kulkas ada isinya atau tidak. Akh belum mengeceknya," tutur Andin. Dia kemudian nyengir sendiri, bisa-bisanya dia meawaei orang lain minum, padahal dia sendiri tidak tahu punya minuman atau tidak.


"Bagaimana kamu bisa menawari orang lain minum, sementara kamu belum mengecek isi kulkas," ucap Pak Rendra geleng-geleng kepala.


"Sebentar aku cek dahulu, ya?"


"Tidak usah di cek! Aku sudah membawa minuman sendiri sekalian untuk kamu juga," jelas Pak Rendra.


"Anda sungguh perhatian sekali Pak Rendra Dirgantara!"


"Kamu harus berterima kasih padaku hari ini!"


"Ah, tentu saja. Terima kasih banyak duhai Pak Rendra!"


Keduanya kemudian terkekeh bersama.


"Tinggalkan saja Hana denganku kalau ingin berangkat kekantor."


"Tidak, aku memtuskan untuk WFH selama seminggu ini. Aku ingin bersama Hana dan kamu," ucap Pak Rendra malu-malu.


"Seminggu WFH? Enak banget yang jadi karyawan Bapak, pasti mereka berpesta pora, tuh! Mereka merdeka karena tidak ada Pak Rendra seminggu di kantor!" Seru Andin.

__ADS_1


"Ya biarkan saja, aku juga ingin berbagi kebahagian dengan mereka!" Ujar Pak Rendra.


Andin terkekeh mendengar jawaban pak Rendra, sudah pasti karyawan dia di kantor akan bersorak di tinggal bosnya selama seminggu. Hidup mereka akan damai karena tidak ada yang memarahi mereka.


"Lalu, kita mau ngpain hari ini?" Tanya Andin.


"Apa saja, yang penting aku bisa dekat-dekat dengan kamu!"


"Pelan-pelan ngomongnya, nanti Hana dengar," bisik Andin.


Mereka berdua kemudian memandang kearah Hana. Mereka memutuskan untuk pergi ketempat Pak Rendra setelah ini.


*****


Malam ini, Sindi kesal setengah mati. Amel memberinya pekerjaan yang tidak ada habisnya, mentang-mentang dia lagi cuci menikah. Sindi bekerja dari pagi sampai malam, dia benar-benar tidak betah. Untuk itu dia berencana untuk resign. Sindi sudah tidak kuat lagi, bukan dia tidak bertanggung jawab, Sindi sangat baik dalam hal pekerjaan. Hanya saja Amel sepertinya punya dendam pribadi kepadanya, dia terlalu sentimen kepada Sindi sehingga pekerjaan yang seharusnya jadi pekerjaannya dia limpahkan ke Sindi. Mentang-mentang keponakan pemilik perusahaan.


Sindi menghembuskan napasnya dengan kasar, dia sedang berjalan di sebuah gang yang di sendiri juga tidak tahu dimana. Dia melihat kaleng cola di tepi jalan, kemudian menendangnya kuat-kuat sambil berteriak " Amel sialan!"


Kaleng tersebut mengenai mobil seseorang yang sedang menepi di pinggir jalan, karena pengemudinya sedang menerim telpon.


Klontang!


Pemilik mobil kaget mendengar suara keras dari belakang mobilnya, dia pun keluar bermaksud untuk mengecek keadaan mobilnya.


Sindi terkejut saat menyadari kelakuan isengnya menendang kaleng bekas tadi mengenai mob seseorang.


Mengetahui pemilik mobil turun, dia pun menghampirinya. Jalanan itu sedikit gelap, jadi Sindi tidak mampu mengenali pemilik mobil itu. Namun begitu mendekat, dia lega karena pemilik mobilnya adalah orang yang dia kenal.


"Kamu?" Serunya.


Keduanya saling bertatapan, Sindi merasa lega setelah melihat kalau pemilik mobil tersebut adalah Angga.


"Untung saja ini mobil kamu, Ga!" Seru Sindi lagi.


Angga menghembuskan napasnya kasar, setelah mengetahui siapa pelaku penendang bekas kaleng cola tersebut adalah Sindi. Dia segera mengakhiri panggilan telpon dengan temannya.


"Ternyata kamu pelakunya!" Seru Angga.


"Iya, maafkan kegabutanku, Ga!" Tutur Sindi sambil memamerkan gigi kelincinya.


"Ini di daerah mana? Kenapa kamy bisa sampai kesini? Bukankah ini jauh dari rumah kamu?"


Sindi terlihat celingak-celinguk sebentar, kemudian dia berkata.


"Iya, aku tadi sepulang kerja niatnya cari udara segar. Jadi aku asal jalan kaki saja, aku juga nggak tahu sekarang berada di mana."


Angga geleng-geleng kepala, Sindi selalu berbuat absurd begitu.


"Bahaya di jalanan gelap begini. Ayo aku antar pulang," ucap Angga.

__ADS_1


"Aku malas pulang, sebagai gantinya ayo temani aku melepas setress!"


"Memangnya kamu mau kemana?"


"Belum tahu, yang penting kita pegi dulu dari sini."


Setelah berkata begitu, Sindi langsung naik ke mobilnya Angga. Mau tidak mau Angga segera masuk kedalam mobilnya.


"Kita mau kemana, nih?" Tanya Angga setelah selesai memakai sabuk pengaman.


"Pergi dulu deh dari sini, selanjutnya pikirkan saja nanti."


"Apa aku antar pulang kerumah saja?"


"No! Jangan sekarang. Aku lagi malas dengerin omelan Bunda!"


Angga menjalankan mobilnya menunu jalan raya, dia sendiri tidak tahu mau oergi kemana.


"Andin sudah pindah ke Apartment, ya?"


"Iya, hari ini tadi dia pamit untuk pindah." Jawab Angga, ada sedikit nada kesedihan di sana.


"Kamu sedih ya, Andin pindah?"


"Sedikit!" Ucap Angga, dia sebenarnya nyesek tapi gengsi mengakuimya di hadapan Sindi. Sindi meliriknya, kemudian dia mengajak Angga untuk menghilangkan setress.


"Eh, ketempat karaoke saja, yuk?" Ajaknya.


"Apa serunya karaoke kalau cuma kita berdua?"


"Haruskah aku menelpon Andin dan mengajaknya?" Ucap Sindi.


"Dia sedang sibuk menjaga Hana, mungkin dia tidak bisa." Jawab Angga.


"Ya sudah kita berdua saja kalau begitu. Ayolah! Temani aku. Aku benar-benar butuh hiburan, kali ini kesabaranku sudah habis. Aku mau resign!"


"Kenapa lagi? Kenapa harus resign?"


"Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi terhadap Amel. Aku rasa dia sudah menggunakan sentimen peribadi terhadapku, dia dengan bangga menggunakan power dia untuk menindasku!" Ucap Sindi menggebu-gebu.


"Yakin mau Resign?"


"Iya, yakin! Kita ini sudah hidup di zaman kemerdekaan." Sungut Sindi kesal.


Angga meliriknya, dia merasa tidak tega juga kepada Sindi. Dia tahu kalau Amel pasti akan memperlakukan Sindi berbeda, setelah kejadian di NightClub waktu itu. Tanpa kejadian itu pun, dia sudah semena-mena terlebih dahulu pada Sindi karena dia teman dekatnya Andin.


bersambung!


Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya a

__ADS_1


__ADS_2