KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 26. Ide gila


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Samuel sudah bangun dan berniat jogging. Entah mengapa dia berharap bisa bertemu dengan Andin di jalan, ditaman, di komplek, di coffe shopp, atau dimana saja. Begini rasanya kehilangan seseorang yang masih dicintai, kemarin-kemarin Samuel masih merasa biasa-biasa saja. Karena jika dia pulang kerumah, pasti akan bertemu Andin. Tapi sekarang di mana dia akan menemukan Andin? Tempat tinggalnya saja tidak tau, pesan singkatnya tadi malam juga tidak jawab hanya di baca saja.


"Dimana kamu tinggal sekarang, Ndin? Aku hanya ingin memastikan jika kamu baik-baik saja." Batin Samuel.


Tiba-tiba pikirannya traveling kemana-mana, Samuel pun menghentikan jogging nya.


"Bagaimana kalau Andin ketempat pengacara sialan itu? Bukankah mereka dulu pernah pacaran? Si Darwis sialan itu bisa sok jadi Pahlawan berasa menjadi malaikat penolong Andin. Ah, sial! Terus mereka bermesraan, nonton tv lalu berpelukan? Tidak! Tidak!" Samuel berusaha menghalau pikirannya mengenai Darwis.


"Atau jangan-jangan dia kerumah Angga pria brengsek itu? Bukankah mereka berdua sudah begitu dekat? Bahkan mobil Andin Mogok saja Pria brengsek itu yang menjemput. Ah, Angga brengsek!" Maki Samuel. Bahkan Angga pun jadi sasaran kekesalan Samuel, dia menendang apa saja yang ada di hadapannya.


......................


Pagi ini Andin dan Darwis sepakat akan bertemu, Andin akan menyerahkan surat perjanjian persetujuan perceraiannya dengan Samuel kepada Darwis, agar bisa di masukkan ke dalam perkara persidangan putusan minggu ini.


Andin menghampiri Darwis yang kebetulan ada urusan di Hotel dekat rumahnya. Setelah bertemu, mereka menikmati sarapan pagi menjelang makan siang bersama, tadi sebelum pergi menemui Darwis Andin hanya makan sedikit, asal makan saja. Begitu pula Darwis yang belum sempat sarapan sama sekali.


Andin meraih ponselnya, yang dari subuh dia non aktifkan. Begitu menghidupkannya, dia geleng-geleng kepala melihat notifakasi yang muncul. Siapa lagi kalau bukan Samuel.


Andin menunjukan notifikasi pesan dan panggilan tidak terjawab dari Samuel pada Darwis. Totalnya ada 79 kali panggilan tidak terjawab begitu juga dengan chat nya ada 99 pesan yang masuk.


"Dia beneran tidak waras, Ndin!" Darwis ikut geleng-geleng kepala. Karena penasaran Andin membuka pesan dari Samuel.


[ Andin, apa kabar? ]


[ Selamat lagi, Ndin. Jangan lupa sarapan ya. ]


[ Kok cuma centang 1 Ndin. ]


[ Aku sudah sampai di kantor, kok masih centang 1? ]


[ Andin, kamu tidak memblokir ku kan? ]

__ADS_1


[ Andin, apa kamu baik-baik saja ]


[ Hari ini aku makan siang Gado-gado kesukaan kamu, Ndin. Balas pesanku! Angkat telponku! ]


Andin tidak meneruskan membaca chat Samuel sampai bawah lagi.


"Gila! Aku akan Blokir nomornya kalau urusan di pengadilan sudah beres. Sekarang aku masih belum bisa ngeblok nomornya!" Tutur Andin.


"Dia setiap hari begitu?" Tanya Darwis.


"Iya, sakit jiwa emang itu orang!"


"Mau bikin dia tambah gila enggak?" Ucap Darwis, dia mempunyai ide gila.


"Kita foto Selfie berdua, aku jamin dia pasti langsung kebakaran jenggot!


Andin tertawa mendengar ide gila Darwis


"Oke, Ndin!"


"Aku foto selfie dulu, setelah itu kita foto bergenggaman tangan." Ucap Andin.


Setelah mengambil gambar, Andin kemudian mengirimkannya kepada Samuel.


Seperti yang Andin dan Darwis duga, tidak ada satu menit gambar kirimannya itu langsung ceklis 2. Beberapa detik kemudian Samuel menelpon, bukan panggilan biasa melainkan video call.


"Kamu lihat, reaksinya? Aku belum bisa tenang kalau belum ketok palu dan status kami jelas. Dia akan terus menerorku seperti ini, aku yakin kalau Amel tahu dia pasti akan marah melihat Samuel masih terus menghubungiku," tutur Andin.


Panggilan video call dari Samuel terputus, taii dia pantang menyerah. Samuel mencoba terus menerus untuk menelpon Andin.


Samuel saat ini memang masih berada dirumah, dia belum berangkat ke kantor. Dia sudah meminta izin untuk datang terlambat karena ada alasan mendesak. Faktanya dia masih merasa sedih atas kepergian Andin, dan berharap Andin akan kembali kerumah.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, kok marah-marah?" Tanya Mama Arum.


"Sstt! Mama diam aja! Aku lagi pusing!" Ucap Samuel.


Dia berjalan mondar-mandir sambil menatap layar ponsel miliknya, dia baru saja mengirimkan pesan kepada Andin agar menerima panggilan telponnya. Dia ingin mengetahui di mana keberadaan Andin saat ini, siapa laki-laki yang tangannya dia genggam itu.


"Ayo dong, Ndin! Angkat telponnya. Kamu sudah membaca chat dariku, kenapa masih tidak mau mengangkatnya? Cepat angkat dong!" Samuel rasanya mau gila diabaikan oleh Andin.


Andin tidak merespon panggilan dari Samuel, banyak chat lainnya yang belum di balas.


"Sorry, Mas! Aku mau balesin Chat dulu, ya?" Ucap Andin pada Darwis. Di balas anggukan oleh Darwis.


Andin membuka chat dari Angga terlebih dahulu.


[ Hai, Ndin! Sepertinya aku akan pulang minggu ini, karena pekerjaan ku sudah selesai. Aku tidak mau berlama-lama di sini! ] Tulis Angga.


[Halo, Angga! Wah, beneran? Asyik! Jadi aku ada temannya lagi, dong! ] balas Andin.


Kemudian ada juga pesan dari Sindi, yang mengajak Andin untuk ke Club malam minggu besok, Sindi butuh hiburan. Karena akhir-akhir ini dia setres dengan pekerjaannya yang menumpuk.


[ Aku belum bisa mastiin, tunggu besok ya Bestie! ] tulis Andin.


Setelah di rasa tidak ada lagi pesan yang harus di balas, Andin kembali meletakkan Ponselnya dan kembali Fokus pada Darwis. Ponsel yang di letakkan di atas meja itu terus bergetar. Andin tahu jika yang terus menelponnya itu adalah Samuel.


"Ponsel kamu terus bergetar, Ndin?" Tanya Darwis.


"Biarin saja, Mas! Biar handphone ku meledak juga enggak akan aku angkat" Jawab Andin. Darwis dapat melihat kesungguhan di mata Andin, bahwa dia benar-benar muak dan enggan dengan Samuel, bahkan hanya sebatas menjawab telponnya.


Tanpa mereka berdua ketahui, teman Samuel yang kebetulan hari itu juga berada di hotel yang sama dengan Darwis. Dia melihat Andin berpegangan tangan dengan pria lain, teman Samuel ini tidak tahu kalau Andin dan Samuel dalam proses cerai dan sedang menunggu ketok palu. Dia iseng memotret Andin yang saat itu sedang menggenggam tangan pria lain lalu mengirimnya kepada Samuel. Di juga tidak tahu bahwa Andin dan Darwis sengaja berpoto bergenggaman tangan untuk memanas-manasi Samuel.


Note! Tolong tinggalkan Jempol kalian. Please!!

__ADS_1


Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah!


__ADS_2