KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 55. Godaan


__ADS_3

Sindi tidak melanjutkan kalimatnya. Dia tidak tahu harus bercerita ini dari mana. Dia menerobos hujan yang masih turun dengan deras, Sindi tidak perduli. Dia ingin segera sampai di rumah, berendam dalam bathtub mungkin akan membantunya.


"Sin, Tunggu! Hujan masih deras, nanti kamu bisa sakit!" Teriak Angga. Sindi mengabaikannya , dia terus berjalan ke arah mobil Angga yang terparkir di ujung sana.


"Dasar keras kepala!" Angga merogoh kunci mobilnya, dan menekan tombol untuk membuka pintu mobilnya. Sindi masuk lebih dulu kedalam mobil, bajunya basah semua. Jas yang tadi di pinjamkan oleh Angga juga basah karena guyuran hujan yang deras. Angga mau tidak mau menyusulnya kedalam mobil.


Didalam mobil, Sindi tampak kedinginan. Meski begitu darahnya tetap mendesir hebat, dia menoleh ke arah Angga yang bajunya basah kuyup. Baju putihnya itu menerawang karena basah, Sindi dapat melihat otot-otot dada Angga yang menyembul. Sindi menelan salivanya, dia terus menatap Angga yang begitu menggoda di matanya.


Angga merasakan ada yang aneh dari gelagat Sindi, dari tingkahnya tidak jelas dari tadi. Membasahi kepala, lalu menerobos hujan yang deras begini.


"Kamu kenapa dari tadi bersikap aneh?" Tanya Angga.


"A-aaku tidak tahu! Mungkin aku kedinginan," ucapnya.


"Ya iyalah kedinginan. Sejak dari toilet sudah membasahi rambut, lalu sekarang hujan-hujanan!"


Angga menoleh ke belakang kursinya, dia mengambil handuk dan baju yang biasanya dia bawa di dalam mobil. Dia menyerahkan handuknya terlebih dahulu kepada Sindi, agar segera mengeringkan rambutnya. Sementara itu, Angga tengah mencari-cari baju kaos dan celana olahraga miliknya.


"Setelah itu ganti baju kamu yang basah itu dengan ini saja," jelas Angga sambil menyerahkan baju kaos dan celana training miliknya.


Angga mengambil payung, lalu keluar dari mobil. Dia memberi kesempatan kepada Sindi untuk mengganti baju. Setelah selesai berganti baju, dia memberi tahu Angga, untuk masuk kembali kedalam mobil. Angga sendiri sudah berganti baju kaos yang sedikit tebal.


"Ayo, aku antar kamu pulang!" Ucap Angga.


Sindi masih menggigil, Angga menghela panjang napasnya. Dia menjulurkan badannya kebelakang lagi, Angg mencari jaket atau semacamnya di dalam tas daruratnya. Namun dia hanya menemukan hoodie miliknya, itu pun sudah pernah dia pakai.


"Pakai nih, tapi sorry, hoodienya sudah pernah aku pakai."


"Tidak apa-apa yang penting aku tidak kedinginan lagi." Jawab Sindi. Dia langsung memakai hoodie milik Angga itu, Sindi bahkan memakai penutup kepalanya sekalian. Hanya sedikit wajahnya yang kelihatan, Angga tersenyum melihat itu. Aroma parfum dari hoodie milik Angga yang Sindi kenakan itu, malah semakin membuatnya belingsatan.


"Seperti inikah aroma tubuh Angga? Aromanya enak sekali!" Dia mengendus-edus hoodie itu.


Angga menghidupkan mesin mobilnya, Sindi tiba-tiba menahan tangan Angga.

__ADS_1


"Tunggu sebentar!" Ucapnya.


Angga menoleh, dia menunggu apa yang akan Sindi ucapkan.


"Ditempatku pasti sekarang banjir, kamu tahu sendiri area di rumahku itu termasuk kawasan rawan banjir. Aku menginap di tempat Andin saja."


"Oke!" Jawab Angga.


Angga langsung menjalankan mobilnya, dia meninggalkan area parkir temoat hiburan malam tersebut. Memang jarak dari tempat hiburan malam itu lebih dekat dengan Apartment Andin, jika bukan karena gangguan genangan air di jalanan dan derasnya hujan biasanya hanya memerlukan waktu 15 menit saja. Sepanjang perjalanan Sindi gelisah, dia bahkan sampai meringkuk memeluk kakinya sambil menelungkupkan wajahnya. Di dalam hatinya dia berdoa agar hasrat liar yang tidak terkendali itu segera pergi menjauh dari tubuhnya.


"Jujur kepadaku, kamu itu sebenarnya kenapa, Sin?" Berkali-kali Angga melirik Sindi yang gelisah itu.


"Ga, sebenarnya tadi kamu pesan minuman apa?" Tanya Sindi Akhirnya.


"Minum? Bukannya kamu yang pesan Cola?"


"Iya, aku tahu. Aku pikir kamu minta di tambahkan apa gitu? Aku merasakan tubuhku aneh, sekujur tubuhku panas dan hasratku begitu menggebu-gebu." Jelas Sindi.


"Hah? Ha-hasrat apa?" Tanya Angga dengan polosnya. Selama ini dia minum cola tidak pernah merasakan hasrat apapun kecuali hasrat ingin buang air kecil.


"Mereka kini sudah sampai di Apartement Andin, saat ini Angga tengah memarkir mobilnya. Begitu selesai, dia langsung bergegas turun begitu juga dengan Sindi.


"Kamu sudah memberitahu Andin kalau mau menginap di tempatnya?"


"Astaga, aku lupa!" Sindi bergegas mengambil ponselnya. Dia menelpon Andin, beberapa kali di telpon Andin juga tidak mengangkatnya.


"Tidak diangkat ya? Kalau begitu tidur saja di tempatku, kamar yang biasa Andin tempati." Ucap Angga.


Sindi mengangguk. Mereka kembali masuk kembali kedalam mobil lalu menuju rumah Angga yang tepatnya di sebrang Apartment Andin. Sindi masih merasakan hawa panas yang menjalar di tubuhnya, dia mencoba me jauh dari Angga dengan duduk memunggunginya sambil memejamkan matanya, agar otaknya tidak berpikir bahwa Angga adalah pria seksi yang menggoda.


Angga yang masih tidak mengerti keadaan Sindi malah menepuk punggungnya dan sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Sindi.


"Sindi!"

__ADS_1


Refleks Sindi menoleh, wajah Angga begitu dekat dengannya. Dimatanya, kini Angga sedang tersenyum manis padanya.


"Tolong jangan dekat-dekat denganku!" Seru Sindi sambil mendorong wajah Angga.


"Aduh!" Pekik Angga.


Sindi tidak menyangka akan mendorong wajah Angga dengan keras, dan membuat Angga mengeluh kesakitan.


"Ga, kamu enggak apa-apa? Sorry, aku tidak sengaja." Ucap Sindi merasa bersalah. Dia kemudian mengelus-elus wajah Angga dengan lembut.


"Sakit, ya?" Ucap Sindi lagi.


Angga menggeleng, walau sakitpun dia akan menahannya.


"Kamu kenapa sih, dari tadi bersikap aneh, dan wajah kamu juga memerah begitu?"


Sindi terlihat menghela napasnya, dia kemudian memberanikan dirinya.


"Ga, mungkinkah tadi seseorang menaruh sesuatu ke minumanku?" Tanya Sindi.


"Menaruh sesuatu keminuman? Misalnya obat dan semacamnya begitu? Aku kan tadi duduk terus di meja," Sahut Angga. "Eh, tapi kan tadi aku menghampiri kamu sebentar ketika ada laki-laki asing yang mendekati kamu. Apa mungkin saat itu?" Ucap Angga meralat ucapnnya.


"Aku tidak tahu, saat ini aku tidak bisa mengontrol diriku. Sepertinya hormon Endorfin, Adrenalin, dan Dopamin dalam tubuhku sedang bekerja. Itu membuat tubuhku menjadi panas, jantungku juga berdegup kencang, dan aliran darah di dalam tubuhku meningkat!" Jelas Sindi.


"What?" Angga terkejut mendengar pernyataan Sindi. Sindi terlihat memunggungny, dia tidak mau melihat Angga.


Kini mereka sudah tiba di rumah Angga.


"Ayo turun, kita sudah sampai. Kita masuk dulu setelah itu kita cari solusinya," ajak Angga.


Sindi mengangguk. Mereka berdua kemudian masuk kedalam rumah, begitu sampai di dalam Sindi berlari ke arah kamar mandi. Dia langsung menyalakan shower dan berdiri di bawahnya membiarkan guyuran shower membasahi seluruh badannya. Sindi pikir, otaknya harus dingin supaya tidak memikirkan hal-hal panas lagi. Berada di dekat Angga untuk saat ini, saat berbahaya baginya.


[ Kalau terbangun dan baca pesanku. Segera langsung datang ke Apartmentku, Sindi ada di tempatku. ] tulis Angga lalu mengirimnya pada Andin.

__ADS_1


Bersambung!


Tuan Dan Nyonya tolong suportnya ya! Like, koment, dan beserta gerombolan lainnya.


__ADS_2