
Kedua sahabat itu turun ke lantai disco, hingga mereka menjadi pusat perhatian di tempat itu. Penampilan mereka berdua yang cantik dan heboh itu tentu saja membuat mata pria-pria di sekitar mereka tertuju kepada kedua perempuan itu. Banyak yang mendekati mereka, Andin dan Sindi tidak perduli dengan kehadiran para pria di sekitarnya itu. Saat ini mereka hanyalah menginginkan kebebasan di hati mereka.
Andin sangat cantik dan mencolok dengan balutan dress merah maroon, begitu pula dengan Sindi yang tidak kalah cantiknya. Mereka berdua benar-benar menjadi magnet di tempat itu pada malam ini.
Tidak jauh dari mereka sebuah meja yabg berada di ujung, terlihat Pak Rendra bersama kliennya. Mereka baru saja membicarakan tentang masalah bisnis, setelah itu mereka mencoba mencari hiburan di sini. Pandangan mereka tertuju pada dua gadis cantik yang memakai baju berwarna maroon, mereka tengah asyik berjoget dengan gilanya.
"Ndin, haus gak?" Tanya Sindi.
"Kenapa, kamu haus?"
"Kita pesan minum dulu, ya?" Teriak Sindi. Kalau tidak berteriak suaranya pasti kalah dengan irama musik yang di mainkan oleh DJ.
"Ok!"
"Permisi,.. tolong beri kami jalan!" Ucap Andin.
Keduanya mencoba membelah ratusan manusia yang memadati tempat itu untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu. Ini bukan malam minggu entah kenapa tempat itu hari ini begitu penuh. Setelah melalui perjuangan, mereka akhirnya bisa keluar juga dari lingkaran manusia yang sedang asyik berjoget di lantai disko.
"Kita mau pesan apa, nih?"
"Serahkan saja semuanya padaku," ucap Sindi. Dia pergi menuju bartender, setelah itu Sindi memesan minuman untuk dia dan juga Andin. Sindi memesan Tequila, setelah mendapatkan minumannya dia kembali membawa minuman itu dan memberikannya kepada Andin.
"Cheers!" Ucap mereka berdua, Sambil di selingin tawa.
Keduanya kemudian bersulang dan menyesap minuman beralkohol itu. Mereka menikmati alunan musik yang dimainkan oleh DJ itu, kaki dan tubuh keduanya ikut bergoyang mengikuti alunan musik yang pas.
Sindi sudah menghabiskan segelas tequila, kemudian dia memanggil bartender dan memesannya lagi.
"Sudah, Sin. Jangan banyak-banyak nanti kita bisa mabuk." Cegah Andin.
"Biarkan saja, bukan kah tujuan kita kesini untuk mabuk?" Seru Sindi.
Sindi sudah mulai kehilangan kontrol dirinya, ucapannya sudah mulai ngelantur.
***
Angga tadi mendapatkan sebuah pesan dari Andin.
__ADS_1
[Ga, aku sekarang ada di Club X kamu datang ke sini, ya? ] Tulis Andin.
Angga yang mendapat pesan seperti itu langsung kesana untuk menemui Andin. Dia takut kalau Andin sampai mabuk di tempat itu, Angga sangat khawatir terhadap Andin. Meski begitu dia tidak punya hak untuk melarang Andin yang ingin bersenang-senang. Apalagi setelah mengetahui apa yang sudah Andin alami, Andin butuh hiburan untuk menghilangkan setress yang di rasakannya.
Darwis saat ini juga sudah selesai urusannya , sekarang mencoba menghubungi Andin. Ponsel milik Andin di dalam tas bergetar, Andin tidak menjawab panggilan itu karena suara musik yang begitu kencang menghalangi pendengarannya.
"Ndin, angkat dulu telpon kamu itu, tuh!" Ucap Sindi yang walaupun dalam keadaan setengah mabuk tetapi pendengarannya masih tajam.
"Hah, memangnya handphoneku bunyi?"
"Iya, angkat dulu cepat!" Perintah Sindi.
Andin kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
"Ah iya, benar. Darwis yang menelponku." Ucap Andin.
"Halo, Mas Darwis?" Jawab Andin.
"Kamu ada di mana Ndin, Kok suaranya berisik sekali?" Tanya Darwis di sana.
"Serius, Ndin. Kamu ada di mana, aku akan menyusul kamu ke sana?" Ucap Darwis.
"Kami ada di Club X" teriak Sindi.
"Club X? Baiklah aku akan segera kesana," ucap Darwis mematikan sambungan telponnya.
"Itu tadi siapa yang telpon?" Tanya Sindi.
"Darwis, dia orang yang ingin aku kenalkan kepadamu."
"Oh, Darwis si Lowyer itu, ya?"
"Iya, Darwis yang itu." Jawab Andin.
"Tolong suruh si Darwis menuntut Amel si nenek lampir itu," teriak Sindi.
Andin tertawa mendengar perkataan Sindi.
__ADS_1
"Ayo, kita tuntut nenek lampir itu bersama-sama. Lalu kita cebloskan di kepenjara, biar dia membusuk selamanya di sana!" seru Andin.
Sindi tampak puas mendengar jawaban Andin, dia sudah sejak dahulu kesal dengan Amel.
"Amel adalah musuh kita berdua, kuta harus menjatuhkan bersama, jangan beri dia ampun!" Seru Andin.
"Jangan beri dia ampun kepadanya!"
Keduanya kembali menenggak minuman mereka lagi, mereka berdua kini sudah setengah mabuk. Pembicaraan mereka sudah tidak tentu arah, Andin bahkan mulai merasakan kepalanya berputar.
"Sin, bola lampu itu berputar-putar, kenapa dia lucu sekali? Itu bintang, bukan lampu!" Ucap Andin meracau tidak karuan.
"Kamu salah, itu Bulan hahaha," sahut Sindi. Sindi juga semakin kacau. Mereka masih memperdebatkan seputar lampu yang berkelap kelip itu.
Diujung sana, Pak Rendra memperhatikan dua orang gadis yang memakai dress maroon itu, dari jauh dia seperti mengenal salah satu di antaranya. Namun Pak Rendra tidak yakin dengan pandangannya, apa lagi saat ini suasana di ruangan itu remang-remang oleh gemerlap lampu.
"Sepertinya aku mengenalnya, apa mungkin dia Andin? Tidak, tidak. Mana mungkin dia datang ketempat seperti ini," Batin Pak Rendra.
"Pak Rendra sepertinya mau turun ke sana? Silahkan saja, Pak! Jangan malu-malu. Kita semua juga butuh hiburan," ucap salah satu klien nya.
"Bukan begitu Pak Zen, saya hanya melihat seperti orang yang saya kenal. Namun saya tidak yakin kalau itu dia," jawab Pak Rendra.
"Apakah dia seorang perempuan cantik? Jika, Iya. Samperin saja, Pak!" Ujar klien lainnya.
"Tidak usah, saya perhatikan dari sini saja " Jawab Pak Rendra lagi. Dia kemudian menyesap minuman miliknya yang ada di atas meja. Pandangannya tetap tertuju kepada kedua perempuan berbaju maroon itu.
Sementara itu, Angga kini sudah sampai di tempat parkir. Karena tempat parkirnya penuh di berebutan dengan salah satu pengunjung saat melihat satu tempat yang kosong.
"Sorry, Bro. Gue sampai lebih dulu!" Ucap Angga dari mobilnya.
"Gue juga dari tadi mau masuk dan mau parkir di sini," ujar Pria yang berada di dalam mobil rubicon.
JEmpol mana jempol! jempol dong Bestie!!
Note! Tolong tinggalkan Jempol kalian. Please!!
Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah!
__ADS_1