KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 48. Meratapi


__ADS_3

Hati Samuel menangis, dia teriris melihat kondisi mamanya seperti itu.


"Ma,.. kenapa Mama masih saja mengingat Andin? Kenapa mama jadi seperti ini," batin Samuel benar-benar menangis.


Sikap Mama Arum jadi berubah begitu, dia selalu menyebut nama Andin. Samuel menduga mungkin itu wujud penyesalan Mamanya karena dulu terlalu menyakiti hati Andin, sekarang bagi Mama Arum tiada hari tanpa menyebut nama Andin. Mama Arum masih menganggap jika Andin masih sebagai menantunya, tempo hari dia pernah menganggap Amel sebagai Andin. Mama Arum terus menerus menyebut Amel sebagai Andin, tentu saja itu membuat Amel marah dan mengamuk hingga membuat Mama Arum sampai menangis.


Pada saat itu, Samuel bingung harus membela siapa. Membela ibunya, Amel akan semakin marah. Jika membela Amel juga tentu tidak benar, karena saat ini Mamanya sedang dalam kondisi sakit.


Samuel terpikir untuk menemui Andin sekali lagi, dia ingin meminta maaf dengan benar terutama mengenai mamanya. Entah doa apa yang Andin panjatkan saat itu, sehingga mamanya memdapat karma seperti ini.


"Ma, ayo kembali kekamar. Andin bilang mama suruh istirahat, mama sudah makan apa belum?" Tanya Samuel sambil menyuruh mamanya keluar dari tenda-tendaan itu.


"Mama belum makan, Sam. Kan tadi Andin bilang mama suruh tunggu di sini, dia sedang memasak di dapur."


Dalam pikiran Mama Arum saat ini Andin sedang memasak untuknya.


"Bu Arum sudah makan, Pak! Belum ada satu jam yang lalu," lapor perawat itu.


"Bohong! Dia bohong, Sam! Mama belum makan sama sekali, mama nungguin Andin selesai masak!" Teriak Mama Arum. Dia bahkan keluar dari tenda-tendaan miliknya menuju dapur, namun dia tidak menemukan Andin di sana.


"Sam, Andin pergi? Dia marah sama Mama, dia pergi ninggalin mama." Tangis Mama Arum.


Samuel benar-benar menangis kali ini. Semakin hari Mamanya semakin parah, dia selalu membicarakan Andin, Andin, dan Andin.


"Ma, ayo kita kekamar. Nanti aku yang mencari Andin," bujuk Samuel.


"Iya, nanti kalau mama ketiduran, Andin sudah di sini bangun mama, ya?"


Mama Arum langsung kembali kekamarnya. Perawat yang menjaga Mama Arum bergegas membersihkan seluruh ruangan, setelah selesai dia pun ikut masuk kedalam kamar Mama Arum.

__ADS_1


Samuel tertunduk di sofa menatap kosong ke arah televisi. Kondisi Mamanya seperti ini, tidak mungkin malam ini dia membawanya kerumah Amel. Pasti nanti Mamanya akan semakin histeris dan membuat Amel semakin kesal dan marah.


Samuel memijit-mijit pelipisny, kepalanya pusing sejak tadi. Dia ingin berbakti kepada Mamanya, namun dengan kondisi yang begini, dia sudah dapat membayangkan bagaimana rumah tangganya nanti.


Amel pasti akan marah dengannya setiap hari jika melihat Mama Arum yang seperti itu. Tidak akan ada kedamaian didalam rumahnya, apalagi pada dasarnya Amel tidak menyukai Mama Arum.


Mungkin sebaikny seperti ini saja, Samuel membayar orang untuk merawat dan menjaga Mamanya. Dia bisa datang ke sini setiap waktu, dari pada menaruhnya di panri jompo.


Tetapi, Samuel bimbang. Jika Mama Arum tinggal dirumah ini, mamanya hanya akan berinteraksi dengan perawatnya saja. Namun jika di panti, dia akan memiliki banyak teman untuk beraktivitas dan teman mengobrol.


Besok adalah hari pernikahannya, harusnya dia menjadi pengantin pria yang bahagia. Namun keadaan malah sebaliknya, keadaan Mama Arum membuatnya tampak berpikir akan bagaimana rumah tangga yang dia jalani bersama Amel nanti.


Kakau dia mundur dan membatalkan pernikahan itu, pasti Amel akan membunuhnya. Ponselnya berdering, tetaoi Samuel mengabaikannya. Itu adalah panggilan dari Amel, Samuel sengaja tidak mengangkatnya.


"Sialan! Dasar laki-laki berengsek! Dia tidak mau mengangkatnya!" Teriak Amel.


Amel terlihat semakin kesal karena Samuel tidak menjawab telponnya.


Amel menjadi tidak tenang, karena sudah berjam-jam Samuel pergi kesana. Sekarang bahkan panggilan telponnya tidak di jawab oleh Samuel, tanpa pikir panjang Amel menyambar kunci mobilnya. Dia berniat menuju ke rumah calon mertuanya itu.


"Bagaimana caranya aku menyingkirkan perempuan tua itu, ya? Dia benar-benar menjadi pengganggu antara aku dan Samuel. Penyakitny itu benar-benar menyusahkan, dia selalu saj menganggap menantunya itu adalah Andin!"


Amel semakin bertambah kesal setiap kali membicarakan kondisi calon mertuanya itu. Itulah kenapa dia paling malas bertemu dengannya.


Amel menambah kecepatan mobilnya supaya segera sampai di rumah calon mertuanya itu. Dia berpikir untuk menjual saja rumahnya itu, biar Mama Arum tidak lagi tinggal di sana. Karena rumah itu memang miliknya, Amel yang membeli runah itu dari Andin dan juga Samuel saat itu.


Tidak lama kemudian Amel tiba di kediaman Mama Arum, dia melangkah dengan cepat menuju rumahnya itu. Kemudia dia menekan pasword pintu masuk rumah, setelah itu ria masuk kedalam dengan emosi yang membara di dadanya. Amel langsung bergegas menuju kamar Samuel, dia menemukan Samuel sedang tidur.


"Enak sekali kamu malah tidur di sini?" Maki Amel. Dia terlihat marah melihat Samuel yang sedang tidur.

__ADS_1


Amel menarik selimut Samuel, bisa-bisanya sore begini Samuel malah tidur. Padahal dari tadi dia menelpon untuk memintanya mengantar ke salon, dia sudah membuat janji di sana untuk melakukan perawatan supaya besok wajahnya glowing saat hari pernikahan.


"Bangun! Buruan bangun!" Teriak Amel lagi. Samuel hanya menggeliat dan merubah posisi gaya tidurnya lalu melanjutkan tidurnya lagi.


"Bangun tidak!" Teriak amel, kali ini dia sangat marah. Suaranya melengking bertambah satu oktaf.


Samuel seketika terbangun mendengar lengkingan teriakan Amel, dia langsung membuka mata.


"Beb,.. kamu di sini?"


"Kamu ini, ya! Malah enak-enakan tidur di sini. Kamu tahu tidak kalau kita berdua ada janji di salon untuk melakukan perawatan?"


"Ah, itu. Sorry! Aku ketiduran," Jawab Samuel.


"Bangun sekarang dan kita pergi ke salon!" Seru Amel. Dia bergegas membuka baju lemari Samuel dan mengambil salah satu baju Samuel lalu melemparnya kearah Samuel.


"Buruan ganti bajumu!"


Samuel menurut saja, dia bergegas mengganti baju dengan baju yang Amel lempar tadi. Lagi-lagi Samuel membandingkan perlakuan Amel dengan Andin saat jadi istrinya dahulu. Kalau itu Andin, dia tidak akan mungkin melemparkan baju kepadanya. Andin akan lemah lembut membangunkannya, lalu menyiapkan baju yang dia pakai dengan lipatan yang rapi di atas meja.


Samuel menghela napasnya dalam-dalam.


"Kamu kenapa kelihatan marah dan kesal begitu?" Tanya Samuel setelah selesai mengganti bajunya. Amel meliriknya dengan tajam.


"Kamu masih bertanya kenala wajahku kesal begini? Coba kamu cek ponsel kamu itu. Berapa kali aku menelpon dan kamu tidak mengangkatnya!"


"Ah, Maaf. Aku ketiduran. Kamu tahu sendiri beberapa hari ini aku selalu gelisah setiap kali hendak tidur!"


Bersambung!

__ADS_1


jempolnya ya bestie!


__ADS_2