KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 56. Angga dan Sindi


__ADS_3

Angga gelisah, dia mondar mandir di depan pintu kamar mandi karena sudah 15 menit berlalu, Sindi belum juga keluar dari kamar mandi. Angga akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu.


"Sin, are you, ok? Haruskah aku masuk" tanya Angga. Tidak ada sahutan Angga semakin khawatir dengan keadaan Sindi.


Didalam, tubuh Sindi menggigil kedinginan. Dia meringkuk sambil memegangi kedua kakinya.


"Badanku sudah kedinginan, aku bahkan menggigil seperti ini. Tetapi kenapa pengaruh obat itu belum menghilang? Aliran darahku masih terasa panas, bagaimana ini? Haruskah aku di sini sampai besok pagi?" Gumamnya lirih.


Angga kembali mengetuk pintu, dia bertambah khawatir. Sudah 30 menit sindi di dalam kamar mandi.


"Sin, buka pintunya! Aku masuk, ya? Kamu sudah 30 menit di dalam sana? Jawab, Sin! Jangan buat aku khawatir," seru Angga di balik pintu.


Dengan tubuh gemetaran, Sindi mencoba meraih gagang pintu. Perlahan dia membuka nya, begitu pintu terbuka, Angga syok melihat badan Sindi yang basah serta menggigil kedinginan.


"Astaga, kamu bisa sakit kalau seperti ini!" Teriak Angga. Dia segera memberikan handuk dan membantu mengerinkan rambut Sindi.


"Ga, aku kedinginanan!" Ucapnya dengan suara bergetar.


"Iya, aku tahu! Sekarang kamu ganti bajunya."


Angga menyerahkan piyama kepada Sindi. Setelah berganti baju Sindi masih tetap gemetaran, Angga sudah menyiapkan air jahe hangat untuk Sindi.


"Minumlah ini!" Ucap Angga menyerahkan secangkir jahe hangat.


Angga juga membawakan selimut tebal, dia membantu membalut tubuh Sindi yang duduk di sofa itu, sehingga hanya wajahnya saja yang kelihatan.


"Gimana? Sudah hangat?" Tanya Angga.


"Lumayan!"


Di dalam selimut, tangab Sindi berusaha menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Namun, tubuhnya masih saja merasa kedinginan. Angga dapat melihat Sindi berusaha keras untuk menghangatkan tubuhnya. Kini dia tengah berpikir apa yang harus dia lakukan untuk membantu Angga dalam keadaan seperti ini, Angga kemudian mendekati Sindi lalu membuka selimut yang tadi dia balut di tubuh perempuan itu.


"Kamu mau ngpain, Ga?"


"Aku tidak bisa berdiam saja, aku harus membantumu! Kemarikan tanganmu biarkan aku membantu menggosoknya?"

__ADS_1


"Tanpa menunggu jawaban Sindi, Angga meraih kedua telapak tangan Sindi lalu mulai menggosoknya dengan tangannya. Menurut ilmu yang dahulu dia peroleh dari sekolah, menggosok-gosokkan kedua telapak tangan akan menimbulkan rasa panas. Dia berpikir akan mengurangi dingin yang Sindi rasakan.


Sindi hanya diam saja ketika Angga melakukan itu kepadanya. Angga begitu baik, dan manis kepadanya, dia tidak berkedip menatap Angga.


"Coba kamu sentuh wajahmu dengan telapak tangan ini?" Pinta Angga.


Sindi bagai kerbau yang di cucuk hidungnya, dia tidak banyak bicara dan melakukan apa yang Angga suruh. Sindi menempelkan kedua telapak tangan ke pipinya, wajahnya yag tadi dingin sekarang lumayan hangat. Namun, bibirnya tetap saja memucat dan bergetar. Saat ini menggosok-gosok kembali tangannya, Angga menaruh telapak tangannya ke kedua pipi Sindi.


"Supaya cepat hangat," ucapnya.


Sindi kaget setengah mati. Saat ini jantungnya berpacu lebih cepat dari tadi, Sindi menatap lekat wajah Angga yang kini persis tepat di depan wajahnya. Kedua netra mereka saling bertatapan untuk beberapa saat.


"Kenapa dia malah seperti ini kepadaku. Aku sudah memperingatinya untuk tidak terlalu dekat denganku. Jantungku kenapa? Kenapa berdetak lebih cepat dari pada sebelumnya? Sial! Di malah tersenyum begitu!" Ucap Sindi dalam hati.


Sindi memegang kedua talapak tangan Angga, dan dia memintanya untuk menjauhkankan dari pipinya.


"Lepaskan tanganmu, biar aku saja yang melakukannya!"


"Tidak perlu sungkan! Dengan seperti ini wajahmu akan lebih cepat menghangat." Ujar Angga. Dia tetap bersikeeas meletakkan tangannya di kedua pipi Sindi. Sindi semakin uring-uringan sendiri di dalam hati, dia ingin sekali mendorong Angga menjauh. Posisi seperti ini membuatnya semakin gila. Tubuh Sindi masih saja kedinginan, Angga sudah kehabisan cara.


"Sin, sepertinya hanya ada satu cara. Tapi kamu janji tidak akan menganggapku sebagai orang yang mesum, ya? Niatku cuma ingin membantumu," ucap Angga.


Tanpa berpikir panjang lagi, Angga ikut masuk kedalam selimut Sindi dan memeluknya dari belakang. Sindi terkejutnya bukan kepalang lagi.


"Ga, saat ini berbahaya jika kamu terlalu dekat denganku?" Seru Sindi berusaha menolak pelukan Angga.


"Jangan terlalu di bawa perasaan, anggap saja ini sebai bantuan pertolongan." Ucap Angga. Kini keduanya berpelukan di dalam selimut, Sindi akhirnya cuma diam, ketika Angga memberinya pelukan.


Masalah baru muncul, beberapa saat kemudian hawa panas mulai tercipta diantara mereka berdua. Angga sendiri baru menyadari sesuatu, entah perasaan apa yang saat ini dia rasakan. Niatnya tadi hanya memberikan pelukan supaya tubuh Sindi cepat menghangat. Tidak di sangka, sekarang dadanya malah berdebar-debar. Dia sendiri tadi yang mengatakan jangan terbawa perasaan, tetapi apa ini yang dia rasakan? Angga seakan terjebak oleh idenya sendiri, berkali-kali Sindi mengingatkannya agar tidak terlalu dekat dengannya seperti ini.


Angga termenung. Pikirannya kini berkelana kesana kemari. Sindi juga merasakan hal yang sama dadanya berdetak diluar batas normal.


Sindi kemudian menoleh kearah Angga, dia bermaksud untuk mengatakan agar menyudahi ini. Pada saat yang sama Angga juga sedang memandang kearahnya, kedua netra mereka beradu. Entah kenapa fokus Angga kemudian berpindah ke bibir Sindi. Bibir yang tadi pucat karena kedinginan.


Rupanya Angga sekarang baru menyadari bahwa antara dirinya dan Sindi adalah manusia dewasa yang berbeda jenis kelamin. Dia berpikir hanya menolong Sindi tampa melibatkan perasaan apapun. Sosok Sindi yang selama ini terkesan suka semaunya, absurd, dan sering membuatnya kesal sehingga sering olok-olokkan terlihat begitu berbeda di matanya. Bahkan kini sosok Sindi itu dapat membuat jantungnya berdebar-debar.

__ADS_1


"Ah, tidak mungkin. Ini hanya karena aku terlalu lama memeluknya saja!" Ucap Angga dalam hati, dia berusah menyangkal apa yang kini tengah dia rasakan. Namun, sedetik kemudian dia melihat bibir Sindi seolah-olah memanggilnya agar segera di sentuh. Sindi membuka mulutnya bermaksud meminta Angga untuk berhenti memeluknya. Namun, otak Angga salah memberi sinyal, seolah olah otaknya memintanya untuk menciumnya.


Sejurus kemudian Angga benar-benar menempelkan bibirnya di bibir Sindi. Tentu saja Sindi terkejut bukan main.


"Hah? Apa ini? Kenapa Angga menciumku? Dia tidak mabuk, bukan? Sepertinya yang salah minum adalah aku? Kenapa dia yang breaksi seperti ini?" Batin Sindi.


Lama-lama Angga memejamkan matanya, dan memagut dengan lembut bibir Sindi yang dingin itu. Seperti orang bodoh, Sindi hanya terdiam mematung di tempatnya.


"Gila, dia sudah berani mengambil ciuman pertamaku!" Serunya dalam hati. Sindi merasakan ciuman itu semakin lama semakin lembut apalagi Angga melakukannya dengan penuh kelembutan.


"Oh, tuhan! Aku ingin membalasnya, tapi bagaimana jika nanti kami berdua kebablasan?" Sindi tidak berhenti merutuk dalam hati.


Hasrat yang tadi sudah sekuat tenaga Sindi redam, kini malah Angga yang memancingnya. Entahlah, dalam suasana seperti begini Sindi harus menyalahkan siapa. Namun yang pasti, dia sangat menikmati sentuhan lembut bibir Angga. Sinsi membuka mulutnya Angga menelisipkan lidahnya sehingga lidah mereka berdua saling bertaut. Di sela-sela aksinya itu, Sindi tengah berpikir, haruskah dia membalasnya? Kepalang tanggung, Sindi kemudian membalikkan badannya, dia bahkan mekingkarkan tangannya di leher Angga.


"Sudah seperti ini! Biar saja kalau setelah ini kami berdua akan menyesali kekhilafan ini!" Ujar Sindi dalam hati.


Keduanya saling berpagutan, jika tadi masih bisa lembut, sekarang keduanya saling berbalas memagut.


"Gila! Kenapa aku tidak bisa berhenti? Aku ingin menghentikannya, tetapi nafsuku telah tersulut!" Seru Angga dalam hati.


Mereka berhenti untuk beberapa saat, kemudian saling pandang dengan napas yang memburu. Keduanya seolah bertanya.


"Bolehkah kita seperti ini?"


Sesaat kemudian mereka kembali berciuman, kali ini keduanya yang menginginkannya. Tubuh Sindi perlahan menghangat, bibirnya yang tadi pucat kini sudah memerah. Ciuman keduanya ini benar-benar menghilangkan rasa dingin yang sejak tadi menyerang tubuh Sindi.


"Angga, apa ini yang kamu bilang memberikan pertolongan?" Tanya Sindi saat mereka mengambil jeda karena napas mereka yang ngos-ngosan.


"Shuut! Diamlah! Aku juga tidak tahu kenapa melakukan ini," jawab Angga.


"Didalam ilmu pengetahuan yang sudah kupelajari, memberi pertolongan bukan seperti ini?"


"Shut, jang bicara lagi. Atau kita akan melakukan yang lebih lagi? Mungkin menciptakan seorang bayi lucu?"


Sindi terdiam dan mengatup bibirnya.

__ADS_1


Bersambung!


like, komen, dan emebel2 yang lainnya, ya? Nyonya dan Tuan!


__ADS_2