
Beberapa meter di depan sana, Angga melihat sebuah Club karaoke. Dia kemudian membelokkan mobilnya kesana, dia bermaksud menghibur Sindi.
Sindi langsung sumringah saat tahu Angga membawanya ketempat karaoke. Sindi berniat untuk happy-happy menghibur dirinya dengan bernyanyi dan berteriak sepuasnya. Setelah sampai, keduanya memesan sebuah ruangan dan beberapa makanan ringan serta minuman pendamping. Setelah itu, mereka di antar oleh pelayanan menuju ruangannya, Sindi dengan cekatan memilih lagu-lagu yang akan dia nyanyikan.
Dari awal Angga feeling Angga sudah tidak enak, selama 2 jam kedepan dia harus merelakan telinganya untuk mendengar suara Sindi yang alakadarnya.
Benar saja, Sindi langsung menyanyikan sebuah lagu dengan penuh semangat. Awalnya suaranya lumayan, lalu lanjut lagi menyanyi hingga nada dan iramanya menjadi tawuran. Sindi terus menyanyi tanpa perduli dengan suaranya yang sudah amburadul tidak karuan, Angga hanya bisa melongo sambil menikmati camilan ringan yang mereka pesan.
"Sudah, sekarang gantian kamu!" Ucap Sindi dengan napas ngos-ngosan.
Dia sudah menyelesaikan 5 lagu bernada tinggi.
"Kamu saja yang nyanyi aku dengerin saja," jawab Angga.
"Ayolah, nyanyi saja. Siapa tahu suaramu bisa menghiburku, Ga!" Sahut Sindi lagi.
Angga menggelengkan kepalanya. Tetapi Sindi terus memaksanya agar bernyanyi.
"Ya sudah, kalau kamu maksa!"
Angga memilih lagu sedih yang sedang menggambarkan perasaannya saat ini. Perasaan sedih karena di anggap sebagai Kakak oleh perempuan incarannya.
Sindi tercengang begitu mendengar suara Angga yang terlihat stabil dan juga bagus. Dia seperti menjiwai lagu yang dibawakannya tersebut, Sindi mendadak ikutan melow. Feel lagu tersebut menyentuh hatinya, selesai satu lagu Angga lanjut menyanyikan lagu selanjutnya.
"Ck, tadi bilangnya tidak mau menyanyi. Begitu nyanyi langsung kecanduan!" Gerutu Sindi. Tentu saja Angga tidak mendengar ucaoan Sindi itu, karena dia sedang sibuk bernyanyi. Sindi menggoyangkan badannya mengikuti irama lagu. Beberapa saat kemudian keduanya menggila bersama dengan memilih lagu duet, setress yang mereka rasakan seolah menghilang seketika. Tidak terasa waktu 2 jam beralu begitu cepat.
"Masa kita pulang, sih?" Tanya Sindi.
"Mau kemana lagi?"
"Ke club lantai atas, yuks?"
"Club? No, no. Nanti kamu berbuat ulah lagi!" Tegas Angga.
"Enggak! Aku janji tidak akan pesan minuman beralkohol. Aku pesan jamu atau Jas jus saja, Please!" Seloroh Sindi.
__ADS_1
"Awas saja kamu kalau aneh-aneh!" Meski begitu Angga tetap menemani Sindi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Penthaouse, saat nya Pak Rendra dan juga Andin menikmati waktu berduan setelah Hana tertidur. Pak Rendra seolah baru memiliki kesempatan memeluk Andin, padahal dari tadi sudah curi-curi peluk terus ketika jauh dari jangkauan mata Hana.
Kucing-kucingan dengan anaknya sendiri ternyata begitu menantang.
"Akhirnya kita bisa berduan juga," ucap Pak Rendra sambil mengelus elus kepala Andin.
"Apa kamu lelah?" Tanya Pak Rendra lagi.
"Tidak, aku hanya ingin bersandar seperti ini saja," jawab Andin.
"Terima kasih, ya? Sudah mau aku dan Hana repotkan seharian ini"
"Andin mendongakkan kepalanya dan menatap Pak Rendra.
"Kenapa berterima kasih terus, sih?"
Andin tersenyum, dia bahkan tidak melakukan banyak hal. Tetapi Pak Rendra seolah menganggapnya sudah melakukan hal besar. Pak Rendra yang gemas mengusap dengan lembut pipi Andin, lalu menundukkan sedikit kepalanya dan menciumnya.
Dia menciumnya lagi dan lagi sehingga berujung saling berciuman. Pak Rendra baru berhenti setelah merasakan leher dan punggungnya sakit karena terus menundukkan kepalanya.
"Aduh!" Teriaknya.
Andin terkejut karena Pak Rendra berhentibdi tengah-tengah ciuman mereka.
"Kenapa? Ada apa sayang?" Secara spontan Andin langsung duduk tegak dan melihat kearah Pak Rendra yang tengah memegangi tengkuknya.
"Leherku sakit," ucapnya. Andin tertawa.
"Salah sendiri kebanyakan gaya!"
"Kebanyakan gaya? Bahkan satu gaya pun belum aku peraktekan sama sekali." Tutur Pak Rendra.
__ADS_1
Andin merasa terjebak dengan perkataannya sendiri.
"Maksudnya bukan gaya yang itu! Ucap Andin malu-malu. Wajahny merona.
"Bukan yang itu? Tapi kenapa pipi kamu merah merona begitu?" Goda Pak Rendra.
"Mana ada!" Andin langsung memegangi kedua pipinya, dia malu, takut kalau Pak Rendra menyangka dirinya sedang berpikir mesum.
"Masih tidak mau mengaku?" Pak Rendra sengaj menggeser duduknya mempet dengan Andin. Andin menggeser tubuhnya supaya agak menjauh, tapi Pak Rendra tidak mau kalah sampai akhirnya Andin sampai di di ujung sofa dan hampir saja terjatuh.
"Stop! Berhenti di situ, aku hampir terjatuh." Ucap Andin.
"Salah sendiri, aku hanya ingin berdekatan dengan kamu. Kenapa kamu menghindar?"
"Aku hanya merasa kegerahan," jawab Andin sambil mengipasi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Oh ya, sini aku tiupin!"
Pak Rendra seketika meniupi wajah Andin, Fokus Andin malah ke bibir Pak Rendra.
"Ah, aku bisa gila. Aku selalu tidak tahan setiap kali melihat bibirnya, dia seperti sengaja melakukan ini terhadapku!" Maki Andin dalam hati.
Andin memarahi dirinya sendiri yang begitu lemah jika di hadapan Rendra Dirgantara, terutama ketika melihat bibirnya yang menurut Andin sangat Cipokable.
"Sialan! Bagaimana ini, bibir itu begitu menggodaku!" Teriak Andin dalam hati.
"Kenapa kamu memperhatikan bibirku terus?" Pertanyaan Pak Rendra itu membuat Andin kaget setengah mampus, itu membuatnya malu setengah mati Karena Pak Rendra seolah tahu apa yang dia pikirkan.
"S-siapa yang memperhatikannya?" Elak Andin.
"Sudahlah, kalau mau cium, nih cium saja!" Ucap Pak Rendra sambil memonyongkan bibirnya. Tentu saja Andin sangat malu, seberapa inginnya pun dirinya tetap saja dia merasa malu kalau harus terang-terangan seperti itu. Ujung-ujungnya Pak Rendra lagi yang menyosor duluan, Andin pasrah dan membalasnya.
Pak Rendra merasa beruntung bertemu Andin, sementara Andin juga bersyukur akhirnya menemukan orang yang benar-benar mencintai dirinya.
bersambung.
__ADS_1
maaf ya teman-teman kali ini partnya pendek.