
Andin dan Darwis akhirnya sampai di tempat yang mereka tuju, Sebuah restoran steak yang baru buka beberapa waktu lalu. Saking ramainya Andin dan Sindi selalu gagal untuk reservasi di sini. Mereka di minta untuk booking jauh hari, namun mereka tidak mau karena jadwal Andin yang kadang harus pergi keluar kota.
"Disini? Restoran yang kamu maksud milik teman kamu itu?" Tanya Andin. Sewaktu di perjalanan Darwis sudah menghubungi temannya, pemilik Restoran yang mereka datangi saat ini.
Mereka berdua kemudian masuk kedalam Restoran tersebut, keduanya di sambut ramah oleh pelayan di sana.
"Selamat siang, selamat datang di Douphin's Steak. Reservasi atas nama siapa?"
"Darwis," Jawab Darwis singkat.
"Oh, Pak Darwis. Mari ikut saya, Pak! Bos berpesan untuk melayani Anda dan juga teman Anda dengan baik."
"Dimana Bos kamu?"
"Beliau sedang mengecek stock di gudang penyimpanan, mungkin sebentar lagi beliau akan datang, Pak." Ucap pelayan sambil mempersilahkan Darwis dan Andin Duduk.
"Silahkan duduk dulu ya, Bapak, Ibu!"
Darwis kemudian menyiapkan kursi untuk Andin, dan nempersilahkannya duduk. Mereka duduk berhadapan.
Tidak berapa lama kemudian pelayan memberikan daftar menu, dan meminta Darwis untuk melakukan scan barcode untuk memesan pesanannya.
"Yang ini enak lho, Ndin. Ini juga enak, apa lagi yang ini! Makanan disini banyak yang enak." Cerocos Darwis bersemangat sambil menekan tombol pesan.
"Minumnya apa? Mau yang ini? Ini juga enak, sih? Nah, kalau yang ini nyegerin?" Tuturnya lagi.
"Boleh deh!"
Dengan penuh semangat Darwis memilih semua makanan yang dia tunjuk dan sukai tadi. Lalu memanggil pelayan untuk mengkonfirmasi pesanannya.
"Rame banget ya tempat ini, lihat deh semua tempat duduk nya penuh," Tunjuk Andin.
"Iya, kalau enggak reservasi enggak mungkin dapat tempat di sini." Jelas Darwis. Duduk berhadapan begini membuat Darwis dengan leluasa menatap wajah Andin.
"Apa! Gitu amat liatinnya!"
"Dari dulu kan, aku memang suka begini." Ucap Darwis. Memang benar sih, dari dulu Darwis paling suka duduk berhadapan begini dengan Andin, dia bisa leluasa memandangi wajah Andin yang polos kala itu.
__ADS_1
"Andin yang masih polos, dan Butut!" Andin terkekeh sendiri mengingat kejadulan nya saat itu.
"Tapi di situlah pesona kamu, aku jatuh cinta karena ke polosan kamu dan kebututan kamu!" Sahut Darwis sambil tertawa gelak.
"Andin yang dulu sudah berubah menjadi Andin yang seperti ini!" Tunjuk Andin pada dirinya sendiri. Keduanya kemudian cekikikan bersama, sehingga suara mereka mengganggu meja sebelah yang sedang fokus dengan makanannya. Meja mereka terpisah oleh tirai pembatas.
"Berisik banget meja sebelah," tutur Amel yang sedang memotong Steak miliknya. Samuel yang sedang makan siang bersama Amel itupun memundurkan kursinya. Dia ikut penasaran dengan suara di sebelah meja mereka.
Matanya terbelalak begitu mengetahui siapa orang yang sedang asyik bercanda itu.
"Siapa, sih, Beb? Kok kamu sampai bengong begitu?" Amel ikut mengintip, dia melihat Andin sedang asyik cekikikan dengan pria di hadapannya.
"Oh, ternyata dia. Norak banget, sih!" Kesal Amel.
Andin yang menyadari kalau ada Samuel dan Amel yang sedang memandang ke arahnya.
"Mas, sepertinya aku kehilangan selera makan. Bisa enggak kita pindah aja?" Pinta Andin kepada Darwis.
"Kenapa, Ndin? Ada masalah?" Tanya Darwis yang tidak mengerti terhadap perubahan tiba-tiba Andin. Namun Darwis bukanlah orang yang tidak peka dan tidak cepat tanggap. Dia bisa membaca situasi, kemudian dia menoleh kebelakang, terlihat seseorang menatap tajam kearahnya. Darwis malah menggenggam tangan Andin, tentu saja Samuel langsung melotot. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan amarah dan kecemburuannya.
"Apa dia suami kamu yang brengsek itu?" Tanya Darwis. Andin mengangguk tanda membenarkan.
Saat masih bersamanya tidak ada satu orang pria pun yang mendekatinya, kini dia seperti bunga yang di kerubuti kumbang saja.
Saat suasana menegang, muncullah Dafa-temannya Darwis sekaligus pemilik restoran Steak itu.
"Sudah lama, Bro? Pesanan kalian belum di antar juga, ya?" Sapa Dafa.
"Halo, Daf! Ehm,.. sorry Daf. Bisa enggak aku minta sediain 1 ruang VIP yang tertutup untuk 4 orang?" Minta Darwis kepada Dafa.
"Bisalah, apa yang enggak buat elo, Wis! Sebentar, aku minta anak buah buat siapin ruangannya. Jadi perempuan ini pacar, Elo?" Tanya Dafa menunjuk ke arah Andin.
"Soon to be!"
Darwis malah nembalasnya dengan candaan sehingga membuat Dafa tertawa.
"Ok, aku tinggal ya. Sekalian mau ngecek ruangan untuk kalian." Ucap Dafa sambil berlalu pergi dan memberi tahu anak buahnya.
__ADS_1
Sesaat setelah Dafa pergi, Darwis berdiri dari duduknya. Rasanya dia ingin memukul Samuel, namun dia bukanlah Pria bar-bar. Darwis orang yang mengerti hukum, dia tidak akan bertindak bodoh di tempat umum seperti ini.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Apa anda bisa meluangkan waktu sebentar untuk membahas sesuatu?" Tanya Darwis. Dia kemudian memberikan kartu namanya kepada Samuel. Samuel sekilas membaca kartu nama tersebut, di sana tercantum jabatan Darwis Santosa sebagai seorang Lawyer.
"Pengacara macam apa yang menggenggam tangan seorang kliennya?" Sindir Samuel dengan tatapan tajam.
"Yang tadi itu saya bukan berperan sebagai pengacaranya. Saya sedang berperan sebagai mantan pacar yang sedang mencoba menguatkan mantannya yang di selingkuhi oleh suaminya!" Ucap Darwis menyeringai. Samuel sudah mengepalkan tangannya.
"Kenapa Mau memukul saya? silahkan saja, biar sekalian saya masukin ini sebagai bukti kalau Anda adalah orang yang Tempramental jadi langsung sah ketok palu." Tantang Darwis.
Kata-kata Darwis dari tadi terus memprovokasi Samuel, dia sekuat tenaga mencoba bertahan agar tidak tersulut emosinya di sana.
Seorang pelayan restoran mendatangi mereka.
"Pak Darwis, ruangannya sudah siap. Apa mau pindah kesana sekarang?"
"Iya, Mbak! Sekalian ya, yang di meja sini pindahkan juga kesana." Tunjuk Darwis pada meja yang diduduki Samuel dan Amel.
Setelah berkata begitu, Darwis mengajak Andin pindah ruangan.
"Apa kita akan ikut pindah dengan mereka?" Tanya Amel, dia memandang Samuel yang wajahnya dari tadi tampak berubah kesal.
"Ya, ada yang mau aku pastikan dari mereka berdua."
"Baiklah, semoga pertemuan ini menjadi pertemuan terakhir kita dengan Andin. Aku sudah tidak ingin lagi bertemu atau berpapasan seperti ini, aku sudah muak," ucap Amel kesal.
Amel kemudian mengelap mulutnya dengan tissue dan beranjak pergi dari sana sambil menentang tas di tangannya. Dia mengikuti Andin dan Darwis yang lebih dahulu pindah ruangan.
Andin tiba-tiba menjadi gugup.
"Mas, apa tidak apa-apa kita bahas ini di sini?" Tanya Andin.
"Tenang saja, Ndin. Mumpung ketemu di sini. Jadi besok-besok kita tidak perlu repot lagi untuk menemui mereka."
"Tolong tahan emosi ya, Mas! Aku hanya ingin semua masalah selesai dan tidak melebar kemana-mana." Pinta Andin.
"Baiklah, aku mengerti!" Turur Darwis menenangkan Andin.
__ADS_1
Note! Tolong tinggalkan Jempol kalian. Please!
Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah!