
Angga yang tidak mau berdebat lagi, kemudian memperlihatkan foto Andin yang sempat dia ambil secara diam-diam sewaktu itu.
"Nih, kalian lihat sendiri. Saya memiliki fotonya sebagai bukti," ucap Angga.
Untuk melindungi Andin dari orang yang tidak dia kenal, Angga terpaksa mengeluarkan mengeluarkan senjatanya itu.
"Ini dia, dan ini saya!" Kata Angga lagi.
"Kamu dari mana belajar photoshop seperti ini?" Tuduh Darwis.
Angga sempat bengong, foto asli dia dan Andin di sebut photoshop oleh Darwis.
"Begini saja, Kita coba telpon ke nomor handphone Andin. Kalau misalnya diantara kita bertiga ada yang nomornya tidak di save berarti ada yang ngaku-ngaku di sini," usul Angga.
Mereka bertiga setuju, Angga mengambil Handphone milik Andin lalu meletakkannya di atas meja.
"Ok, saya duluan," tutur Angga.
Angga kemudian menelpon Andin, panggilan itu tersambung. Muncul lah sebuah nama "Duda Baik Hati" di layar Hp milik Andin.
"See,.. saya tidak bohong, kan? Kalian bisa lihat sendiri, bahkan Andin menyimpan nomor saya dengan nama yang sesweet itu," seru Angga tersipu malu.
Pak Rendra dan Darwis sedikit kesal melihat nama Angga yang tersimpam di Handphone milik Andin. Darwis langsung penasaran jika Andin memberi nama Angga semanis itu, kira-kira Andin akan menyimpan nomornya dengan nama apa. Darwis kemudian menelpon nomor Andin, muncul lah pada layar tulisan "Mantan terindah". Entah Darwis harus merasa senang atau sedih, nomornya di simpan di kontak Andin sebagai Mantan Terindah.
Kini Pak Rendra juga ikut penasaran, dirinya di kontak Ponsel Andin di simpan sebagai apa. Pak Rendra mulai menelpon, keduanya menatap kelayar ponsel Andin. Ringtone yang berbeda sendiri dari Angga dan Darwis tadi, di layar ponselnya juga tertulis "Bos Ganteng".
Andin terbangun karena mendengar Ringtone yang dia buat khusus untuk Pak Rendra. Andin yang dalam keadaan mabuk itu meraih ponselnya yang ada di atas meja.
"Halo, selamat malam, Pak Rendra!" Jawab Andin dengan mata setengah terpejam, karena Pak Rendra cuma mengetest panggilan saja, dia pun tidak menyahut Andin.
"Halo, halo, halo, Pak Rendra!" Panggil Andin berkali-kali.
"Woi, kenapa berisik sekali! Rendra Dirgasatya apa kau mendengarku? Jawab aku! Oh aku tau, kamu maunya video Call, ya?" Ceracau Andin.
__ADS_1
Andin mulai menatap layar ponselnya, dia merasa Handphonenya bergoyang-goyang sendiri. Andin menertawakan handphonenya yaglng tidak menurut padanya itu, pikir Andin.
"Hahaha, benda ini menantang ku! Apa kau ingin bergelut denganku, hah?" Tantang Andin pada Ponselnya.
Melihat Andin yang rupanya benar-benar mabuk itu, Pak Rendra segera mematikan panggilan telponnya. Angga dan Darwis kini memandang Pak Rendra pmdengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa kalian berdua melihatku seperti itu? Aku tidak menipu kalian, kan? Aku memang mengenalnya, dia karyawanku!" Jelas Pak Rendra.
Angga dan Darwis menatapnya karena mereka melihat nama Pak Rendra di layar ponsel Andin tadi, Andin memberi nama Bos Ganteng. Keduanya menatap Pak Rendra dengan saksama dari ujung kepala hingga ujung kaki. Melihat penampaka Laki-laki yang menurut Andin Ganteng itu.
"Siapa sebenarnya dia? Kenapa Andin memberinya nama seperti itu? Dimana letak gantengnya? Ya, walaupun ada sedikit lumayan wajahnya. Tapi tetap aku lebih unggul untuk masalah ketampanan! Kenapa mesti nama bos ganteng yang Andin Tulis?" Batin Angga bertanya-tanya.
Hal yang sama juga di lakukan oleh Darwis, batin nya juga meronta-ronta bertanya kenapa Andin memberikan nama seperti itu kepada laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Ganteng itu Relatif, tapi menurutku dia enggak ganteng-ganteng amat. Di bandingkan si kuyuk di sebelah ku ini, jauh lebih gantengan dia. Ya, Pak Rendra ini beda tipis saja sama wajahku! Apa yang spesial darinya?" Ucap Darwis Dalam Hati.
Pak Rendra menjadi tidak enak hati, karena di perhatikan oleh mereka berdua. Tetapi di dalam hatinya dia merasa senang dengan fakta yang baru saja dia ketahui. Entah apa alasan Andin menyimpan nomornya dengan nama tersebut. Itu membuatnya menjadi salah tingkah sendiri, dia merasa tersipu malu plus kegeeran.
Sekarang Andin kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja.
"Tunggu sebentar, apa benar Andin tinggal di rumah mu?" Tanya Darwis selidik, karena memang sebelumnya Andin pernah bercerita jika dia keluar dari rumahnya sendiri lalu menumpang di rumah temannya.
"Iya untuk apa aku berbohong! Apa perlu kalian datang berdua ke rumah ku, untuk membuktikan bahwa Andin tinggal di rumahku?" Tantang Angga.
"Apa kamu salah satu penghuni komplek Nusa Indah?" Tanya Pak Rendra. Karena sebelumnya dia pernah bertanya dimana Andin tinggal.
"Nah itu, Anda tahu! Bahwa saya tinggal di komplek Nusa Indah, berarti Anda juga tahu, Dong kalau Andin tinggal bersama saya?" Tanya Angga.
"Tidak, saya tidak tahu! Saya hanya tahu jika Andin tinggal di Komplek Nusa Indah." Jawab Pak Rendra.
"Iya, itu Rumah saya!" Jawab Angga.
"Tetapi aku tidak percaya, kalau kamu pacar, Andin. Andin baru tadi siang ketok palu perceraiannya, bagaimana mungkin dia langsung mempunyai pacar?" Seru Darwis tidak percaya.
__ADS_1
"Oh Jadi, Andin seorang janda, dan sekarang sudah bercerai?" Potong Pak Rendra. Andin pernah bercerita mengenai suaminya namun pada saat itu Pak Rendra tidak terlalu fokus jika Andin sedang nengurus oerceraian Memang hanya dia saja yang belum tahu. Anggan dan Darwis kompak menoleh dan menatap tajam ke arah Pak Rendra.
"Oke, anggap saja aku tidak pernah menanyakannya!" Ralat Pak Rendra sambil mengangkat kedua tangannya.
"Aku tidak bisa menceritakan detailnya, yang jelas aku harus membawanya pulang. Dia sudah sangat mabuk seperti ini!" Tutur Angga.
Saat mereka masih bersitegang tentang siapa yang di percaya untuk mengantar Andin pulang, tiba-tiba Andin berdiri. Perutnya mual, dia mau muntah.
"Hoek,..Hoek!" Andin menutup mulutnya, dengan sigap Pak Rendra mengambil tempat sampah yang berada tidak jauh darinya. Angga jug ikut membantu mendekatkan tempat sampah itu pada Andin.
"Hoek,...!"
Lagi-lagi Andin mau muntah, Angga kemudian membantu menepuk-nepuk punggung Andin. Andin seketika muntah, minuman yang tadi di minum dia muntahkan semua. Mendengar suara orang yang sedah muntah, sindi terbangun. Dia merasakan hal yang sama dengan Andin, perutnya menunjukkan tanda-tanda kalau di juga akan muntah. Darwis yang berada di dekatnya bergegas membantunya mendekat ke tempat sampah, kemudian tidak berapa lama Sindi memuntahkan isi perutnya.
Tanpa mereka sadari, para pengunjung lainnya mulai memperhatikan mereka.
"Sin, kenapa mereka semua ada di sini?" Tanya Andin sesaat kemudian setelah muntah.
"Siapa? Tidurlah kamu sedang mabuk," ujar Sindi.
"Aku melihat, Angga, Darwis dan juga Pak Rendra bosku yang Aneh itu, Sin?" Ucap Andin mengkerutkan Dahi.
Pak Rendra langsung membelalakkan matanya, tadi di sebut bos ganteng sekarang di sebut bos aneh. Jadi yang benar yang mana, pikirnya.
"Andin, Andin! Ayo pulang, sudah mau subuh. Kamu kenapa malah mabuk-mabukkan begini, sih. Aku pikir, kamu cuma mau happy-happy aja. Tau-taunya malah mabuk, kalau tau bakal jadi begini dari awal aku temanin saja." Gerutu Angg.
"Kamu beneran Angga?" Ucap Andin sambil mencubit pipi laki-laki itu.
"Aduh sakit, Andin!"
"Ga, kamu di sini? Kamu kesini mau menjemputku, kan? Tapi kenapa kamu memanggil mereka juga?" Tanya Andin menujuk Darwis dan Pak Rendra.
bersambung..
__ADS_1
Jempolnya beserta titik bengeknya yang kenceng dong, Gais!!