
Amel keluar dari restoran itu dengan buru-buru, sementara Samuel mengikutinya dari belakang. Amel terlihat marah, di dalam tadi dia sudah mencoba untuk menahan dirinya. Dia langsung masuk kedalam mobil dan membanting pintunya kuat-kuat.
Samuel sudah menduga jika Amel akan marah padanya, semua itu karena mulut sialan Darwis. Jika tahu begini lebih baik dia di dampingi pengacara masing-masing saja. Gara-gara Darwis, Amel jadi mengetahui semuanya. Kalau Samuel berubah pikiran dan tidak mau menceraikan Andin, perlahan Samuel masuk kedalam mobil. Amel langsung menatapnya dan memukulinya dengan tas yang sedari tadi dia tenteng.
"Sialan kamu! Brengsek kamu, Mas! Aku sudah di hina sebagai pelakor. Aku di caci maki sebagai perempuan murahan oleh Andin. Dan ini yang aku dapatkan dari kamu sekarang? Kamu tidak mau menceraikan Andin? Kamu anggap apa aku ini?" Pekik Amel sambil terus memukuli Samuel. Samuel tidak melawan, dia membiarkan Amel melampiskan kemarahannya dengan memukulinya seperti ini.
"Kamu bilang masalah rumah sudah beres. Kamu bilang kamu tidur di rumah mama kamu. Tengah malam kamu ninggalin aku, karena kamu masih mau kembali sama Andin. Bajingan kamu, Mas!" Maki Amel.
"Maafin aku, Beb! Aku mengaku salah, pukul saja aku sepuas hatimu. Aku akan menerimanya." Pasrah Samuel. Semua sudah terlanjur ketahuan tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengakui dan meminta maaf.
"Kamu memang pantas dipukul, dimaki! Aku sudah mengorbankan banyak hal, dan kamu masih tidak mau bercerai dengannya, gila kamu ya, Mas!"
Amel menghentikan tangannya, dia merasa lelah karena memukuli Samuel terus menerus. Samuel tidak memberikan perlawan sedikitpun, dia hanya duduk diam di tempatnya.
"Ingat, kalau aku dan pengacaraku yang akan mengurus perceraian kamu. Apa kamu lupa janjimu padaku? Kamu akan segera menceraikan Andin dan menikahiku? Jika kamu pura-pura lupa janji itu, lupakan saja tentang keinginanmu menjadi manager keuangan yang baru!" Ancam Amel.
"Please, sayang jangan lakukan itu! Tolong beri aku kesempatan, aku akan menuruti semua kata-kata kamu." Mohon Samuel.
"Aku tidak suka dengan sifat plinplan kamu itu! Sekarang iya nanti berubah jadi tidak"
"Aku janji, aku akan berubah. Tolong beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku juga berjanji tidak akan kerumah itu, selama ada Andin di sana." Ucap Samuel memohon pada Amel.
"Ini terakhir kalinya aku memberi kamu kesempatan! Jika tidak, aku akan benar-benar akan membuat kamu menyesal." Ancam Amel.
"Iya, Beb! Aku janji. Lain kali kalau mukul yang pelan, ya? Sakit semua badan ku."
__ADS_1
"Bodo amat! Udah lekas jalan sekarang. Kamu membuatku sakit kepala saja." Perintah Amel.
Samuel bergegas menyalakan mesin mobilnya, lalu perlahan meninggalkan pelataran parkir restoran tersebut. Dalam hatinya Samuel memaki dirinya sendiri, sekarang dia terlalu tunduk pada Amel. Dia sudah tidak punya harga diri sebagai laki-laki, diancam tidak dikasih jabatan saja Samuel sudah lembek. Semuanya sudah terjadi, sekarang Samuel tinggal menjalani akibat pilihannya sendiri. Selamanya dia akan berada di bawah kontrol Amel.
Samuel menghela napasnya dengan kasar, di harus rela melepaskan Andin. Perempuan yang akan selalu berada di hatinya, sejatinya dia masih mencintai Andin, namun akibat kesalahan fatal yang dia perbuat sekarang harus menerima akibatnya.
...----------------...
Tidak beberapa lama kemudian, Andin dan Darwis juga meninggalkan restoran tersebut. Begitu sampai dikantor Darwis Andin langsung pamit pulang, karena dia masih ada agenda yaitu mencari rumah kontrakan. Namun dia tidak menceritakan itu kepada Darwis, bisa jadi nanti Darwis malah khawatir. Andin tidak mau lagi merepotkan orang lain, dia akan belajar menghadapi dan memecahkan masalahnya sendiri.
Panas-panas Andin berkeliling dan bertanya kepada krang yang ditemuinya, apakah ada kontrakan kosong di dekat sana. Karena capek berputar-putar tetapi belum dapat juga, akhirnya Andin memutuskan untuk pulang besok dia akan mencarinya lagi.
Sesampainya di rumah, Andin langsung masuk kekamar. Tumben Mama Arum tidak nyinyir lagi, komen pun tidak. Biasanya kalau melihat Andin itu, kalau tidak ngomel rasanya kurang afdol. Pikir Andin mungkin Mama Arum sedang sakit gigi, makanya tidak kepo. Andin mulai mengemasi dan memasuki bajunya ke dalam koper, sisanya dia masukkan kedalam kardus. Saat sedang mengemasi barang-barangnya, Angga mengiriminya pesan.
[ Jadi, ini aku sedang mengemasinya. ] balas Andin lalu dia mengirim foto barang yang di kemasinya.
[ Tinggal saja di rumahku! Sampai kamu menemukan temlat tinggal. ]
[ Enggak usah, Ga. Aku tadi juga sudah ada nyari rumah kontrakan, kok! Hanya saja belum dapat. Doain saja, biar aku segera dapat tempat tinggal. Karena aku juga harus segera pergi dari rumah ku, ada yang mau membelinya dan mengembalikan DP rumahku. ]
[Akhirnya laku juga, Ndin. Memangnya siapa yang mau beli?] Balas Angga.
[ Pelakor itu!]
[ Hah!] Angga mengirimkan stiker Kaget.
__ADS_1
[ Iya, kerena dia maunya semua ceppat beres supaya Samuel tidak datang kesini untuk menemui aku lagi. ]
[ Yang penting semuanya cepat beres! Supaya kamu lekas Move on! ]
[Thanks, Ga! ] Tulis Andin mengakhiri pesan.
Andin kembali fokus menyelesaikan Packingnya, setelah selesai semua mempacking barang-barangnya. Andin menemui Mama Arum yang sedang fokus menonton televisi.
"Ma, Andin mau bicara."
Mama Arum meliriknya, kemudian dia mengecilkan volume suara Televisi.
"Apa lagi? Bukankah kamu menyuruhku untuk tidak mencampuri urusan kamu lagi? Mama sudah tidak menegurmu, lalu apa lagi?" Tanya Mama Arum heran.
"Andin mau pamit, sekaligus mau meminta maaf kepada Mama. Maaf kalau kemarin aku kasar sama Mama, maaf juga kalau aku tidak pernah bisa menjadi menantu seperti yang Mama inginkan. Aku sudah mencoba yang terbaik, tetapi mungkin hanya begitu saja yang aku bisa. Maafkan aku kalau sudah berani sama Mama, semoga setelah ini Mama dan Mas Samuel bisa hidup bahagia. Aku juga akan hidup bahagia, Mama boleh tinggal di rumah ini, aku yang akan pergi dari sini. Walaupun kita tidak pernah cocok jadi mertua dan menantu, mudah-mudahan kelak mama bisa mendapatkan menantu yang sesuai kriteria Mama. Terima kasih, Ma. Sudah pernah menjadi mertuaku, sekarang Andin pamit."
Andin kemudian meraih tangan Mama Arum dan mencium tangannya. Mama Arum hanya terdiam tidak berbicara satu patah kata pun, entar tersihir oleh kata-kata Andin atau sedang mencerna kata-kata Andin.
Setelah mencium tangan Mama Arum, Andin menggerek 2 kopernya keluar. Barangnya yang lain akan dia ambil lagi nanti.
Mama Arum menatap kosong kepergian Andin, walaupun dia tidak menyukainya entah mengapa melihat Andin pergi seperti ini hatinya tiba-tiba terasa sakit. Dia sendiri tidak tahu mengapa merasa seperti ini. Mama Arum masih menatap pintu rumah itu, padahal Andin sudah pergi dari tadi, tetapi Mama Arum masih menatap ke arah sana, kearah pintu yang kosong. Dia ditinggalkan oleh menantu yang selama ini telah Mama Arum sia-siakan.
Note! Tolong tinggalkan Jempol kalian. Please!!
Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah!
__ADS_1