KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 41. Mama Arum


__ADS_3

"Ma,.. maaf, aku tidak bisa lagi menjaga dan merawat mama. Aku sendiri banyak pekerjaan," tolak Andin secara halus keinginan Mama Arum yang ingin Andin merawatnya.


"Kata Samuel kamu menganggur, apa salahnya kamu nemenin Mama. Mama lagi sakit begini enggak ada yang jagain," jawab Mama Arum.


Andin menghela napasnya, bisa-bisanya Samuel bercerita kepada Mamanya begitu. Lagi pula suka-suka Andin kalau mau menganggur atau tidak, mau punya pekerjaan atau tidak, itu semua urusan Andin. Dia yang menjalani, Andin tidak punya kewajiban lagi merawat Mama Arum, titik!


"Ini buburnya lekas di makan, Ma. Nanti keburu dingin, bukannya tadi mengeluh gemeteran karena belum sarapan?" Ucap Andin mengalihkan pembicaraan dan perhatian Mama Arum.


"Mama masih gemeteran, Ndin. Lihatlah memegang sendok saja mama tidak sanggup," rengek. Dia menunjukkan kepada Andin tangannya yang gemeter memegang sendok.


"Sendoknya tidak berat, sedikit-sedikit saja sendokin buburnya. Pelan-pelan pasti bisa, Ma!" Ucap Andin.


Andin sudah tahu arah pembicaraan Mama Arum kemana, Mama Arum meminta Andin untuk menyuapinya. Sama seperti dia sakit dulu, kalau dulu wajar saja Andin merawatnya karena Mama Arum adalah Mertuanyan kala itu. Walaupun Andin tidak dianggap sebagai menantu, Mama Arum orangnya seperti itu tidak tahu malu. Walaupun dia membenci Andin, tetapi kalau sakit dia maunya hanya Andin yang mengurusi dan memanjakannya. Bahkan sekarang sudah tidak jadi menantunya pun, masih saja merepotkan Andin.


Andin mengambil handphone, lalu menjauh sebentar keruang tamu. Dia menelpon Samuel.


Sementara itu, di kantor Samuel sudah senang sekali melihat Andin menelponnya duluan. Bak orang yang mendapatkan tepon dari gebetannya, Samuel senyum-senyum sendiri sambil merapikan rambutnya.


"Halo, Ndin. Ada apa?" Jawab Samuel sambil tersenyum sumringah.


"Kamu ya! Kenapa mama kamu telpon tidak di angkat?" Teriak Andin. Samuel sampai kaget, ponselnya nyaris jatuh. Suara lengkingan Andin bagaikan bunyi petir berkekuatan 10 ribu kilovolt, baru kali ini Andin berteriak seperti ini.


Sindi dan juga Mama Arum sampai terkejut mendengar teriakan Andin, sampai-sampai Mama Arum akhirnya mau menyendoki buburnya sendiri. Dia sekejap melupakan tangannya yang gemeteran.


"I-ya Ndin, maaf." Jawab Samuel lirih.


"Kamu tahu, dia itu lagi sakit. Tadi pagi tidak sarapan, kemudian jatuh pingsan di depan kulkas. Kamu gimana sih jadi anaknya? Kenapa tidak kamu urusin mama kamu!" Omel Andin.


"Maaf, aku tadi sibuk." Elak Samuel.


"Urusin lah Mama kamu itu, ingat aku ini bukan siapa-siapa kamu lagi. Aku tidak bisa dan tidak mau mengurusi mama kamu lagi!" Jelas Andin penuh penekanan.


"Jadi Mama tadi jatuh?"


"Iya, cepat bawa dia kerumah sakit!"


"Baiklah, Ndin. Tolong jaga Mama sebentar ya, aku akan izin pulang." Pinta Samuel.

__ADS_1


Setelah mendengar itu, Andin buru-buru memutuskan sambungan telpon itu. Dia bahkan melempar ponselnya ke sofa, wajahnya terlihat kesal kemudia dia menghampiri Mama Arum lagi.


"Kamu bisa marah dan teriak-teriak sepeeri itu juga ya, Ndin?" Tanya Mama Arum.


"Siapa pun bisa marah, Ma! Selama ini aku hanya memilih diam dan mengalah. Tapi orang sabar juga ada batasnya," ujar Andin.


Mama Arum terdiam mendengar ucapan Andin. Sementara Sindi tidak berhenti tertawa, dia sangat senang melihat Andin berani bersikap tegas begitu.


"Karena buburnya sudah habis, dan Anak Mama juga sebentar lagi akan datang. Aku akan pulang," pamit Andin.


"Tunggu dulu, Ndin. Kamu jangan pulang dulu, mama kesepian tidak ada yang nemenin. Sekarang kamu tinggalnya di mana?" Tanya Mama Arum.


"Mama tidak perlu tahu aku tinggal di mana!" Ketus Andin.


"Apa benar rumah ini milik Amel, Ndin?"


"Mama tanya saja ke Anak kesayangan mama itu. Memangnya dia tidak cerita?" Andin balik bertanya.


"Dia kemarin cuma cerita jika sudah ketok palu dan kalian berdua sudah sah bercerai. Jadi rumah ini bebas mama tinggali karena sudah di terjual." Tutur Mama Arum.


Lagi-lagi Mama Arum terdiam, wajahnya terlihat murung namun Andin sudah tidak memperdulikan.


"Sudahlah, tidak usah di bahas. Ayo, Sin! Kita pulang," Ajak Andin.


"Kamu beneran enggak mau nemenin Mama sampai Samuel datang?"


"Enggak, Ma. Tidak ada hal baik yang terjadi setiap kali aku bertemu dengan Mas Samuel!" seru Andin.


Andin benar-benar beranjak pergi dari rumah yang dia tempati selama 2 tahun itu, Sindi kemudian mengekorinya dari belakang.


"Kamu kenapa tidak dari dulu bersikap seperti itu? Kalau kamu seperti tadi, aku yakin Mama mertuamu itu tidak akan berani menginjak-nginjak kamu!" Ucap Sindi.


"Maklumlah dahulu aku bucin dan bodoh, inilah akibat dari kebucinan dan kebodohanku." Jawab Andin menyesali masa lalunya.


"Ya sudah yang penting sekarang kamu sudah terlepas dari itu dan sudah sadar."


"Tapi ngomong-ngomong, itu Mama mertua enggak apa-apa kalau di tinggal sendiri?"

__ADS_1


Sindi memelototi Andin.


"Baru saja sadar, sekarang sudah kumat lagi! Jangan terlalu baik, nanti kamu di manfaatin." Tegas Sindi.


"Iya, tau. Aku hanya khawatir saja dia kenapa-kenapa lagi."


"Biarkan saja! Tidak usah perdulikan. Biarkan mereka hidup tanpa bayang-bayang kamu lagi, mantan mertua kamu juga harus melepas kamu juga." Seru Sindi.


"Baik, Baik, Nyonya Sindi!" Jawab Andin. Mereka berdua tertawa bersama.


Mereka berdua kemudian kembali kerumah Angga.


"Ah, sial!" Umpat Sindi.


"Kenapa lagi?" Tanya Andin.


"Kita masih punya PR menulis permohonan maaf pada Amel 10 lembar di tulis tangan!"


"Ah, iya. Duh, ayo kita selesaikan." Ajak Andin.


Andin kemudian mengambil kertas HVS yang ada di printer.


"Yang termot kanjeng ratu Amel, yang baik hati dan tidak sombong,..." tulis Sindi. Andin melihatnya langsung tertawa ngakak.


"Kanjeng ratu apa itu?"


"Ratu ular berbisa!" Kelakar Sindi sambil badannya meliuk-liuk menirukan ular.


Saat mereka bersantai mengistrihatkan badannya, tiba-tiba bel rumah berbunyi.


"Siapa kira-kira bertamu siang-siang begini?" Ucap Andin sambil berjalan kearah pintu. Dia kemudian membuka pintu.


"Loh, Pak Rendra? Kok tau saya tinggal di sini?" Tanya Andin spontan, bukannya mempersilahkannya masuk.


Bersambung


Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah

__ADS_1


__ADS_2