
Di Apartement Andin. Sindi langsung menuju kamar untuk tidur, untung saja hasrat menggebunya sekarang sudah mulai menghilang. Mungkin karena tadi dia sempat mengeluarkan hormon dalam tubuhnya dengan berciuman dengan Angga.
Kedatangan Andin menjadi penyelamat bagi mereka berdua dari perbuatan yang tidak terpuji itu. Walaupun, Sindi sempat berpikir bahwa Andin datang diwaktu yang tidak tepat. Dia masih ingin berpelukan dan berciuman bersama Angga. Entah kenapa Angga membuatnya nyaman.
Selama ini Sindi tidak pernah berpacaran, apalagi bersentuhan fisik dengan lawan jenis sebanyak yang dia lakukan dengan Angg tadi. Saat kencan buta, dia hanya sekedar makan dan jalan lalu menonton. Tidak pernah lebih dari itu, Sindi tidak pernah tahu jika berciuman akan semenyenangkan ini. Andai dia tahu, mungkin sejak dulu dia akan membuka diri untuk berpacaran.
Lalu berciuman dengan Angga tadi, entah bagaimana dia akan menghadapinya nanti
Apa dia akan pura-pura tidak pernah ada yang terjadi diantara mereka berdua? Atau dia harus berpacaran dengannya?
"Kamu kenapa senyam-senyum sendiri seperti itu?" Tanya Andin yang berbaring di sampingnya.
"Hah? Siapa yang senyam-senyum? Aku? Mana mungkin. Sudah, ayo kita tidur! Sorry ya, Bestie sudah mengganggu kamu tengah malam seperti ini?" Jawab Sindi. Dia kemudian memunggungi Andin dan mulai memejamkan matanya, tidak lama kemudian mereka berdua tertidur pulas.
Pagi-pagi sekali, saat matahari belum menampakkan sinarnya. Andin sudah terbangun dan bersiap untuk berolahraga disekitar kompleks Apartemennya. Bel Apartmentny berbunyi, Sindi yang juga sudah bangun, mendengar berbunyi dia berniat untuk membukakan pintu.
"Selamat pagi cintaku, kekasihku, pujaan hatiku, cinta mat,..iku..." orang itu mematung didepan pintu tanpa menyelesaikan kalimatnya.
Sindi mengucek-ngucek matanya untuk memastikan penglihatannya. Saat ini Pak Rendra sedang berdiri didepan pintu sambil membawa kantong sarapan tangannya. Apa dia tadi tidak salah dengar, Pak Rendra tadi menyapa "selamat pagi cintaku?"
Bukan hanya Sindi yang terkejut, Pak Rendra juga tidak kalah terkejut. Karena dia melihat Sindi yang membukakan pintu untuknya, bukan Andin. Dia memang tidak tahu jika Sindi menginap di tempat Andin.
"Si-sindi? Kamu menginap di sini?" Tanya Pak Rendra, dia langsung memamerkan senyum terpaksanya.
"Pak Rendra subuh-subuh begini datang kesini?" Tanya Sindi balik.
"Ehm, itu mau nganterin sarapan buat Andin!" Jawab Pak Rendra sambil menyodorkan roti ditangan kirinya dan kopi ditangan kanannya.
Sindi memicingkan matanya.
"Tadi aku tidak salah dengar kan? Pak Rendra memanggil "Cintaku?" Apa itu Andin?" tanya Sindi penuh selidik.
"Ah, tidak! Kamu salah dengar itu," elak Pak Rendra
"Tidak! Aku mendengar dengan jelas bahwa Bapak memanggil Cintaku, manisku, pujaan hatiku, Tadi!" Ucap Sindi lagi.
"Hm, sudah lah kamu salah dengar, mana mungkin saya se alay itu, Sin. Saya mau menaruh ini dulu, apa Andin sudah bangun?" Seru Pak Rendra, sebenarnya dia sangat malu karena kedapatan Alay di hadapan Sindi.
"Seperti sudah!" Jawab Sindi.
Andin baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, begitu melihat Pak Rendra di dapur menaruh sarapan dan kopi yang dia bawa.
"Loh, sayang. Tumben pagi-pagi kesini?" Ucap Andin. Pak Rendra segera memberi kode pada Andin untuk tidak berbicara dulu, dia takut Sindi mendengar pembicaraan mereka. Sindi yang hendak kembali ke kamar seketika menghentikan langkahnya begitu mendengar panggilan Andin tadi.
"Aku tidak salah dengar kan? Andin memanggil Pak Rendra dengan sebutan Sayang? Apa telingaku yang kotor karena sudah lama tidak di bersihkan. Kenapa aku berhalusinasi terus mendengar kata-kata mesra, atau jangan-jangan aku masih dalam pengaruh obat semalam?" Gumam Sindi.
Andin menatap Pak Rendra, mereka berdua saling bertukar kode lewat mata.
"Sindi sudah bangun!" Ucap Pak Rendra tanpa suara. Andin membaca gerak bibirnya.
"Oh,.. Astaga!" Andin segera menoleh ke arah kamar dan nelihat Sindi berdiri di depan pintu kamar.
"Ehm,.. Bapak bawa sarapan, ya?" Seru Andin. Dia sengaja mengeraskan volume suaranya supaya didengar oleh Sindi.
__ADS_1
"Iya, ini aku habis jogging sekalian beli sarapan," jawab Pak Rendra.
"Aku padahal lagi bersiap-siap untuk jogging juga," jawab Andin.
"Ya sudah, selamat berolahraga, ya? Aku pulang dulu!" Sahut Pak Rendra.
Saat berbalik, Pak Rendra dan Andin terkejut karena melihat Sindi sudah berdiri di hadaoan mereka.
"Astaga, Sindi! Kamu bikin aku kaget saja!" Seru Andin.
"Tunggu sebentar, tolong kalian jujur! Apa ada sesuatu yang spesial diantara kalian berdua?" Tanya Sindi menatap Pak Rendra dan Andin bergantian.
"Sesuatu yang spesial? Maksudnya apa? Kamu jangan tanya yang aneh-aneh deh, Sin!" Sahut Andin.
"Aku dari tadi mendengar kalian saling menyapa dengan mesra. Apa maksud dari panggilan kalian berdua itu?"
Pak Rendra dan Andin saling menatap.
"Tidak ada yang begitu, kamu itu ngelindur karena masih ngantuk! Buruan cuci muka sana!" Seru Andin sambil membalikkan badan Sindi.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya? Jangan lupa sarapnnya di makan." Ujar Pak Rendra.
***
Di taman depan Apartement. Andi dan Sindi bertemu dengan Angga. Dia terlihat seperti sudah selesai berolahraga.
"Ga, kamu jogging juga?" Sapa Andin.
Angga tidak terlalu memperhatikan perempuan di samping Andin. Karena ada beberapa perempuan lain juga di sekitarnya yang tengah jogging.
"Kamu kenapa lemas begitu?" Tanya Andin lagi.
"Biasalah. Aku kurang tidur!"
"Kenapa lagi?"
"Entah lah, pikiran ku sedang kacau!" Ucap Angga sambil mengacak-acak rambutnya.
"Sudah tau begitu, kenapa tidak lanjut tidur saja?" Tanya Andin.
Angga terlihat membuang nafasnya dengan kasar.
"Tidak bisa, Ndin. Badanku harus capek dulu, nanti kalau sudah capek pasti langsung tertidur. Makanya aku mau berolahraga," jelasnya.
"Kenapa dia tidak bisa tidur? Apa gara-gara semalam? Apa aku yang menbuatnya begitu? Apa karena ciuman panas kami kemarin malam? Terus, sekarang bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak menyapanya? Aku malah pura-pura tidak melihatnya?" Gerutu Sindi dalam hati.
"Sin, jangan diam aja, dong! Ngobrol kek, Ini Angga tidak bisa tidur mungkin gara-gara kamu tadi malam?" Seru Andin saat meluhat Sindi malah memunggungi dirinya.
"Aish, sialan si Andin! Kenapa malah memanggil namaku," Umpat Sindi dalam hati.
Angga yang mendengar nama Sindi langsung bersemangat dan nencari keberadaannya. Dia baru menyadari bahwa Sindi memunggungi mereka berdua.
"Kenapa dia seperti itu? Apa dia sedang menghindariku dan pura-pura tidak mengenaliku?" Batin Angga bertanya-tanya.
__ADS_1
"Sindi!" Teriak Andin sekali lagi.
"Eh, iya, Ndin!" Jawab sindi. Mau tidak mau dia menoleh dan memperlihatkan wajahnya. Dia melirik Angga, dan wajahnya benar-benar lemas tidak bersemangat. Ingin rasanya Sindi bertanya. "Kenapa kamu tidak bersemangat? Apa yang sudah terjadi padamu?"
Angga sendiri hanya bisa diam begitu melihat wajah Sindi. Perempuan yang semalam wajahnya menari-nari di kepalanya itu kini berada di hadapannya. Perempuan yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
Andin yang berada di antara mereka merasa aneh dengan reaksi mereka berdua.
"Aku yakin sesuatu terjadi di antara mereka berdua. Tunggu saja, akan aku selidiki diam-diam," batin Andin.
"Aku mau berlari pagi mengelilingi taman ini, kalau kalian ngantuk, lebih baik pulang kerumah masing-masing saja dan lanjutkan tidur kalian, mengerti!"
Setelah berkata seperti itu, Andin berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Angga dan Sindi terlihat canggung, mereka berdua bahkan masih berdiri.
Angga menyadari kecanggungan diantara mereka berdua.
"Semalam itu,..."
Keduanya mengucapkan kalimat yang sama bersamaan.
"Kamu duluan," ucap Sindi.
"Kamu saja," jawab Angga.
Keduanya menjadi salah tingkah kembali, Angga kemudian menarik tangan Sindi dan membawanya duduk di kursi taman.
"Hei, lepaskan tanganmu. Nanti kalau Andin melihatnya bagaimana?" Ucap Sindi sambil menepis tangan Angga. Namun, Angga tidak mau melepaskannya. Dia terus menuntunnya menuju kursi taman yang kosong.
"Duduklah!" Perintah Angga. Sindi menurut saja, dia langsung duduk.
"Kita harus bicara," tutur Angga.
"Iya. Tapi apa yang mau di bicarakan?" Jawab Sindi, dia berusaha menghindari tatapan tajam Angga.
"Aku awut-awutan begibmni, seperti orang gila, Sin!"
"Apa? Kamu gila? Masa ganteng-ganteng gila?" Ucapnya tanpa sadar. Angga melotot memelototinya.
"Menurut kamu apa penyebabnya?"
"Ya mana aku tahu. Kamu yang gila kok tanya nya ke aku!"
"Sindi! Please,.. serius! Aku sedang tidak ingin bercanda." Seru Angga.
Sindi memang sengaja menjawab asal seperti itu. Dia tidak mau mendengar pembahasan ini dibawa serius, pagi-pagi begini otaknya belum siap untuk membahas sesuatu yang serius.
"Gara-gara semalam aku tidak bisa tidur," ucap Angga lesu. Dia ikut duduk di samping Sindi, dengan spontan Sindi menggeser tempat duduknya supaya agak jauh sesikit dari Angga.
"Kamu ternyata ingin menjaga jarak denganku!" Ucap Angga sedih.
Bersambung!
like, komen ya bestie!
__ADS_1