KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 47. Karma Mulai menghampiri


__ADS_3

Sementara itu, Amel tampak bahagia. Dia sedang mengecek persiapan terakhir ballroom hotel yang akan dia gunakan untuk menikah dengan Samuel besok. Kepuasan tergambar di wajahnya. Akhirnya, dia akan pmenikah juga dengan Samuel.


"Beb,.. gimana? Apa kamu menyukainya?" Tanya Amel, Samuel hanya menganggukkan kepalanya.


Dari tadi Samuel kesana kemari mengikuti Amel dengan tatapan kosong. Dia seperti sebuah manekin, raganya ada tetapi jiwanya kosong. Amel menarik tangan Samuel dan memaksanya untuk mengikutinya.


"Ada apa lagi?" Ucap Samuel malas.


"Ada apa lagi katamu? Coba kamu bercermin bagaimana ekspresi wajah kamu itu. Besok kita akan menikah, tetapi wajah kamu terlihat lesu dan terlihat tidak bahagia begitu!"


Amel mengomel karena memang Samuel terlihat tidak semangat dan bergairah seperti dirinya.


"Aku harus bagaimana? Aku bahagia, kok! Aku hanya kepikiran Mama, itu saja!" Jelas Samuel.


"Kamu sih, aku suruh menitipkan di panti jompo saja tidak mau," gerutu Amel. Sebelumnya dia menyuruh Samuel untuk menitipkan Mama Arum ke panti jompo setelah mengetahui bahwa Mama Arum kini tengah mengidap Alzheimer tahap awal.


"Amel! Aku tahu kamu tidak menyukai, Tapi aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu, bisa-bisanya kamu berpikir ingin membuang Mamaku ke panti Jompo!" Bentak Samuel. Dia menatap tajam kearah Amel, Samuel tidak suka kalau Amel selalu ingin menitipkan Mamanya ke panti jompo.


"Siapa yang membuangnya? Kita hanya menitipkannya saja, Kok! Bukankah kita masih bisa mengunjunginya?"


"Ck, mengunjunginya katamu? Sekarang saja kamu sudah jarang menjenguk Mamaku. Kamu sekarang tidak suka datang kerumahku, bagaimana jika nanti Mama di panti jompo seperti katamu? Kamu akan lebih banyak alasan lagi untuk tidak mengunjunginya!" Pekik Samuel. Dia terlihat marah.


Bagi Samuel baik dahulu maupun sekarang, dia tetap menganggap bahwa ibunya adalah surganya. Apalagi ayahnya sudah meninggal.


Namun sepertinya, pikirannya tidak sejalan dengan Amel. Bagi Amel memiliki Samuel saja sudah cukup, dia tidak butuh yang lainnya. Apa lagi Mama Arum yang dia anggap nantinya akan menjadi beban.

__ADS_1


Pikiran Samuel langsung teringat akan Andin. Jika itu adalah Andin, sedikit pun dia tidak akan terpikir untuk menitipkan Mama Arum ke panti jompo. Dengan tulus dia akan merawatnya, meski sudah dijahati dan diperlakukan tidak semestinya saja Andin tidak pernah membantah ataupun berani dengan Mertuanya selama berumah tangga dengannya. Padahal Samuel juga tahu bagaimana perlakuan Mama Arum waktu itu terhadap Andin.


Membandingkan Amel dan Andin sama aja seperti membandingkan bumi dan langit. Samuel menghembuskan napasnya dengan kasar, dia seperti mendapat balasan langsung atas perbuatannya karena berselingkuh dari Andin.


"Terus kita harus bagaimana? Membawa Mama kamu bersama kita begitu? Aku saja enggan tinggal bersama Mamaku, terus kamu memintaku untuk menampung Mama kamu tinggal bersama kita. Aku hanya ingin tinggal bersama suami dan anak-anakku saja," jelas Amel.


"Kamu masih bertanya seperti itu?"


Amel tidak menjawab, namun wajahnya menggambarkan kalau dia tidak mau Mama Arum ikut tinggal bersamanya.


"Tetap saja, walaupun dia ikut bersama kita. Kita tidak mungkin bisa fokus menjaganya."


"Ya, aku tahu. Tetapi paling tidak aku bisa memantau kondisinya. aku tidak mungkin menaruhnya di panti jompo!" Tegas samuel.


"Ah, terserah kamu sajalah!" Seru Amel akhirnya. Dia terpaksa menyetujui kemauan Samuel.


"Aku akan tetap membawa Mama bersamaku!" Tegas Samuel lagi.


"Ya sudah, terserah kamu saja! Sekarang tersenyumlah, besok kita akan menikah. Kalau wajah kamu seperti ini, apa kata orang-orang nanti. Ingat, besok itu banyak orang yang datang selain seluruh karyawan perusahaan ada juga kolega bisnis. Besok kita akan menjadi manusia paling bahagia sedunia."


Samuel tersenyum, walaupun dia terpaksa. Mereka berdua kemudian bergandengan tangan sambil berkeliling sekali lagi melihat ballroom yang tampak ramai oleh vendor yang tengah mendekor ruangan tersebut.


Tema pernikahannya adalah Gold. Hiasan bunga mawar dan bunga tulip menghiasi seluruh ballroom yang megah itu. Amel tersenyum puas begitu selesai berkeliling.


Mereka berdua pulang kerumah Amel begitu selesai mengecek ballroom tempat mereka akan menikah besok. Samuel pamit untuk menjemput mamanya yang kini dirumah bersama seorang perawat.

__ADS_1


Samuel mengajak Amel, namun seperti biasa Amel menolak dan beralasan capek sehingga tidak bisa menemui Mama Arum. Samuel sudah mulai terbiasa dengan sikap Amel seperti itu.


Itulah mengapa, kini Samuel mulai ragu apakah akan tetap melanjutkan pernikahannya dengan Amel. Selama ini dia harus mengikuti semua kemauan Amel, dan Samuel harus menelan pil pahit itu sendirian. Semuanya sudah terjadi seperti ini, demi kelangsungan hidupnya di kantor dan juga hidupnya di masa depan, Samuel harus menerima semua konsekuensi dari perbuatannya itu. Sekarang seumur hidup dia akan terikat dengan Amel, entah itu akan menjadi surganya atau bahkan nerakanya.


Samuel melajukan mobilnya menuju Rumah yang dulu dia tinggali bersama Andin. Sudah beberapa bulan ini dia tidak melihat Andin, sejak terakhir dia mengembalikan handphone Andin di rumah Angga waktu itu.


Dengan langkah gontai Samuel memasuki rumahnya. tiba didalam rumahnya, Samuel terkejut melihat rumahnya berantakan. Perawat yang menjaga Mama Arum berlari kearahnya.


"Pak Sam, saya sudah tidak sanggup lagi menjaga Ibu Arum. Bapak bisa lihat sendiri bagaimana kelakuan Ibu Arum, dari tadi dia menghabmburkan barang-barang dan membuat rumah berantakan. Saya sudah coba membersihkannya, namun Bu Arum malah marah-marah. Dia tidak mau ruangan terlihat bersih." Jelas perawat itu yang sepertinya sudah tidak sanggup lagi menjaga Mama Arum.


"Sus, tolong jangan resign. Bertahanlah! Saya akan menambah gajinya nanti, tolong jangan keluar dulu. Besok saya akan menikah, siapa yang akan menjaga Mama jika kamu resign? Tolong saya, Sus!" Pinta Samuel.


Samuel memohon kepada perawat itu, dia bahkan menjanjikan akan memberikan tambahan gaji kalau perawat itu mau bertahan.


"Tapi Pak, coba anda lihat sendiri bagaimana kelakuan Ibu Arum. Siapa yang tahan menghadapi sikapnya yang begitu? Kalau anak kecil masih bisa di nasehatin, kalau Bu Arum? Malah saya yang di teriakin, Pak! Saya mau menangis dari tadi." Ujar Perawat itu lagi.


"Sus, tolong mengerti kondisi Mama saya. Kalau memang Mbak mau keluar, paling tidak berikan saya waktu untuk mencari pengganti yang mau menjaga Mama. Saya mohon, Sus?" Mohon Samuel. Perawat itu terlihat bimbang, Samuel kemudian menghampiri ibunya. Namun ruangan di depannya tampak kacau. Bu Arum mendirikan tenda di sana dengan mengeluarkan semua selimut dan menyambungnya seperti tenda-tendaan.


Samuel menarik napas dalam-dalam, matanya berkaca-kaca melihat penampakan seperti itu.


"Ma,.. lagi main apa?" Tanya Samuel dengan lembut. Dia melongok kedalam tenda-tendaan dan melihat Mamanya tampak asyik tiduran di bawah selimut.


"Sam,.. kamu sudah pulang? Mama enggak main kok! Ini, kata Andin Mama di suruh nunggu di sini. Andin mau memasak makanan enak buat mama." Sahut Mama Arum dengan raut wajah berbinar bahagia.


Deg!

__ADS_1


Bersambung


jempol Beib,..


__ADS_2