KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 46. Terpesona


__ADS_3

Sesampai dikantor polisi mereka semua di suruh duduk terlebih dahulu, sebentar lagi mereka akan di introgasi.


"Kalian, lagi?" Seru Pak Polisi menunjuk keempat anak itu.


"Lagi? Apa mereka langganan sini, Pak?" Perjelas Pak Rendra.


"Benar, Pak! Mereka langganan sini, sudah beberapa kali mereka di bawa kesini."


"Oke, kalau begitu sudah terbukti bahwa mereka memang bersalah. Saya membawa pengacara saya kemari, dia akan memperjelas semuanya!" Ucap Pak Rendra menunjuk Darwis.


"Baik, saya akan menghubungi walikelas mereka dahulu." Jawab Pak Polisi itu.


"Wali kelas? Kenapa tidak wali muridnya, Pak?" Tanya Darwis heran.


"Mereka berempat yatim piatu, jadi Wali kelas mereka yang bertanggung jawab." Jelas Pak Polisi lagi.


"Lalu, bagaimana merek akan bertanggung jawab? Lihatlah wajah mereka, seperti tidak merasa berdosa saja. Mereka harus diberi sedikit pelajaran agar jera," Seru Darwis.


"Bapak bisa membicarakan itu dengan walikelas mereka. Biasanya mereka akan langsung jinak jika Wali kelasnya yang berbicara," sahut Pak Polisi.


"Wali kelas itu pasti akan jompo sebelum waktunya, karena memiliki murid seperti mereka! Sungguh malang!" Gerutu Pak Rendra.


Benar saja, tidak lama kemudian datang seorang perempuan berpakaian seksi dengan rok ketat di atas lutut, riasan menor, menggunakan bulu mata anti huru hara, pipinya merah dengan eyeliner yang tebal serta rambut yang rollnya belum di buka. Sepertinya dia buru-buru langsung datang kesini setelah mendapat telpon dari kantor polisi.


"Ini wali kelasnya?" Tanya Darwis tidak percaya.


"Serius, ini wali kelasnya?" Timpal Pak Rendra juga.


Pak polisi yang biasany menangani anak-anak itu pun melongo melihat penampilan wali kelas tersebut.


"Bu Dania?" Sapa Pak Polisi.


Perempuan yang di sapa Dania itu pun langsung menuju ke empat anak itu dan mengomelinya.


"Sudah ibu bilang untuk tidak membuat masalah, kenapa kalian selalu berbuat seperti ini? Apa kalian suka bolak balik kantor polisi? Mau tinggal di sini? Mau jadi penghuni di sini? Begitu?" Cecar Dania.


Ke empat anak nakal itu terdiam, tidak ada yang berani menjawab. Mereka juga menahan tawa melihat penampilan wali kelas mereka.


"Pak Polisi, anak-anak ini membuat masalah lagi. Saya tidak dapat mengontrol mereka, apa lagi ini adalah hari terakhir mereka sekolah sebelum libur semester." Keluh Dania.


"Iya, Bu,... " jawab Pak Polisi.


"Dimana korbannya, Pak?" Tanya Dania. Pak Polisi itu kemudian menunjuk ke arah Darwis dan juga Pak Rendra.

__ADS_1


Dania menghampiri mereka berdua.


"Bapak-bapak yang terhormat, tolong maafkan anak-anak saya. Mereka memang bandel, nanti saya akan memberikan pelajaran kepada mereka."


"Iya, memang harus begitu dong, Bu!" Sahut Darwis sambil menahan tawa.


Dania merasa heran kenapa semua orang menatapnya aneh dan menahan tawa seperti ada yang lucu pada dirinya.


"Ada apa dengan mereka?" Gumamnya.


Lalu dia kembali bertanya kepada Darwis dan Pak Rendra.


"Jadi, apa Bapak-bapak akan memaafkan kesalahan ke empat anak itu?" Tanya Dania penuh harap.


"Tidak bisa, saya tidak akan memaafkan mereka!" Jawab Darwis tegas.


"Tolong ya, Pak! Saya minta kemurahan hati kalian." Mohon Dania.


"No, mereka adalah anak-anak yang harus di beri pelajaran! Jika selalu saja di maafkan tanpa di beri efek jera mereka akan mengukang kesalahan yang sama di kemudian hari. Perbuatan ini sudah termasuk tindakan kriminal memalak dan mengeroyok!" Tegas Darwis lagi.


Dania mengela napas, lalu menghampiri ke empat anak muridnya.


"Kalian berempat, cepat minta maaf kepada mereka!" Seru Kania dengan suara nyaring. Keempat anak itu langsung berlari menghampiri Darwis dan Pak Rendra.


"Bercanda katamu? Bu, berapa usia mereka?" Tanya Pak Rendra pada Dania.


"Tahun depan 17 tahun, Pak!"


"Pak polisi, kurung mereka berempat di penjara supaya mereka bisa mersakan dinginnya tembok jeruji besi!" Perintah Darwis, dia benar-benar tidak tahan melihat kenakan remaja itu.


"Tolong, Pak! Ampuni mereka kali ini saja!" Mohon dania, namun Darwus tidak bergeming. Dia merasa kesal karena tadi kena tonjok hingga sudut bibirnya berdarah.


"Bu Dania, biarkan saja kami di hukum, Bu?" Ujar salah satu anak itu.


"Diam kamu! Sudah salah masih berani berbicara! Apa kamu tahu artinya di penjara? Hah?" Pekik Dania.


Maaf, Bu! Tadi ibu kesini sudah ngaca belum?" Tanya yang lain.


"Kenapa? Ada yang salah dengan wajah, Ibu?" Ujar Dania.


"I-iini bu, coba lihat!"


Salah satu siswanya memberikan handphone dan membuka kameranya, seketika Dania berteriak histeris.

__ADS_1


"Astaganaga dragon pa pa le, itu saya?" Tanyanya kaget melihat menampilannya sendiri. Pantas saja orang-orang menatapnya aneh.


Pak Rendra yabg dari tadi menahan tawa, begitu juga dengan Darwis dan Pak polisi yang bertugas akhirnya tidak lagi kenahan tawa. Bahkan murid-muridnya juga sekarang menertawakannya.


"Bu Kania sebenarnya mau kemana, berdandan seperti itu?" Tanya Pak polisi.


"Aduh saya jadi malu, tadi itu saya mencoba dress pemberian teman. Lalu mencoba menggunakan makeup yang baru saya beli, ketika bapak menelpon dan memberitahu mengenai anak-anak saya langsung bergegas datang kesini. Saya tidak sadar kalau penampilan say seperti ondel-ondel pasar malam begini," tutur Kania sambi menahan malu.


Pak Polisi itu kemudian menyodorkan tissue, lalu Kania bergegas pamit menuju toilet untuk membersihkaan wajahnya. Begitu kembali Darwis terpana melihat kecantikan Bu guru itu, wajahnya yang manis, kalem, karena riasan menor tadi jadi wajahnya terksan tua dan galak serta judes. Darwis melongo mulutnya terbuka, setelah di senggol Pak Rendra dia baru tersadar dari sihir Kania.


"Hei, mata dan mulut itu di jaga! Kontrol sedikit, jaga imeg mu sebagai pengacara!" Ucap Pak Rendra. Darwis yang kedapatan melongo seperti itu sedikit merasa malu, lalu dia kembali ke mode awal sebagai seorang pengacara yang berwibawa.


"Jadi gimana anak-anak itu, jadi kita tuntut nggak?" Tanya Pak Rendra. Darwis yang tadi sudah kekeh ingin memberi pelajaran kepada anak-anak nakal itu agar masuk penjara kini me jadi galau.


"Tolong ya, Pak! Mohon pertimbangkan tuntutan Bapak. Saya berjanji akan menghukum dan mendisiplinkan mereka," mohon Dania lagi.


Dariwis berpikir keras, kedua belah pihak sama-sama terluka. Mereka semua di bawah umur, sementara dirinya dan juga Pak Rendra sudah dewasa. Mereka juga belum sampai mengambil uang mereka, memang solusi terbaik saat ini adalah berdamai. Eits, Darwis melakukan itu bukan karena Bu Kania yang cantik, tetapi memang untuk menjerat mereka butuh waktu panjang dan juga memenjarakan mereka akan berdampak pada diri mereka di kemudian hari.


"Kalau kami menerima permintaan damai, Bu Kania. Tolong, hukum mereka dengan hukuman sosial. Suruh mereka pergi ke panti jompo dan memeberikan pelayanan di sana, berikan saya setiap hari laporannya!" Tegas Darwis. Pak Rendra ikut saja apa kata Darwis, dia pasti lebih tahu apa yang harus di lakukan dalam posisi begini.


"Hanya itu saja, tidak ada yang lain?" Tanya Kania.


"Mau saya tambahan lagi?" Tantang Darwis.


"Tidak, tidak, Pak! Itu saja sudah cukup" jawab Kania cepat. " Nah, anak-anak kalian dengar sendiri, kan? Mulai besok kalian akan menjalani pelayanan di panti jompo. Awas saja kalau kalian berulah lagi, Ibu tidak akan membantu kalian lagi! Lekas minta maaf dengan benar kepada mereka!" Seru Kania pada keempat anak muridnya.


"Maaf kan kami ya, Om!" Satu persatu dari mereka menyalami Pak Rendra dan juga Darwis sambil meminta maaf.


"Kalau begitu, apa saya boleh meminta kartu namanya, Pak?" Tanya Kania pada Darwis. Darwis segera memberikan kartu namanya yang memang selalu dia bawa kemana-mana.


"Saya akan menghubungi anda secepatnya. Karena sudah selesai, kami pergi dulu!" Ucap Kania lalu pergi dengan keempat anak muridnya dari sana.


"Aheeeem,.. ada yang terpesona nih! Keluar juga tuh lama-lama bola mata!" Ledek Pak Rendra pada Darwis.


"Apa sih!" Ketus Darwis gelagapan salah tingkah karena ketahuan memandangi Bu Kania yang sudah pergi.


"Pepet terus!" Ledek Pak Rendra lagi, sambi berjalan keluar dari sana.


"Awas lo, ya!" Teriak Darwis. Pak Rendra tertawa gelak.


Bersambung!


bestie, jempolnya dong, like, vote juga ya! Sama boleh minta follow gak?

__ADS_1


__ADS_2