
Mereka berempat melanjutkan makan siang yang sempat terganggu oleh kehadiran Samuel yang tidak di undang.
"Saya sejak kemarin berpikir tentang ini. Bukankah kamu saat ini sedang bingung mencari rumah kontrakan? Saat itu aku serius menawarimu bekerja sebagai Asisten pribadiku," ucap Pak Rendra.
"Bukankah bapak sudah memiliki banyak Asisten? Jadi untuk apa memerlukan saya lagi?" Tanya Andin.
"Saya memang sudah punya banyak Asisten di kantor, tapi saat ini saya membutuhkan kamu sebagai Asisten pribadiku.saya akan menawarkan sekalian tempat tinggal untuk kamu, saya memiliki 1 unit Apartemen kosong di lantai 19. Kamu boleh menempatinya, kamu pasti merasa tidak nyaman setelah bercerai tinggal bersama laki-laki asing di sini." Tutur Pak Rendra.
"Aku bukan laki-laki asing bagi Andin!" Sahut Angga.
"Tapi, Pak. Itu terlihat berlebihan untukku." Jawab Andin, dia merasa tidak enak hati.
Andin tahu mungkin maksud Pak Rendra baik karena ingim membantu Andin yang saat ini masih bingung mencari tempat tinggal. Andin bukannya tidak mempunyai uang, dia bahkan bisa membeli apartment secara cash untuk dia tinggali. Namun sekarang prioritasnya bukan itu, dia belum menentukan dimana di akan tinggal pasca bercerai dari Samuel.
"Pertimbangkan saja dulu tawaran saya," ucap Pak Rendra lagi.
Pak Rendra menatap Andin dalam-dalam, dia masih menunggu jawabannya.
"Sepertinya saya harus membuang gengsi saya sekali lagi, Pak. Saya akan terima tawarannya!" Jawab Andin.
"Good! Saya suka jawaban kamu," seru Pak Rendra sambil tersenyum.
Pelan-pelan tapi pasti, Pak Rendra mulai menyusun rencananya kedepan. Tentu saja dia punya maksud tersendiri kenapa meminta Andin dekat dengannya, walaupun saat ini masih sebatas niat saja. Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya, tentu di barengi dengan usaha yang maksimal pula.
****
Beberapa bulan kemudian,
Andin, Angga, Sindi, Darwis dan juga Pak Rendra kembali setelah healing ke puncak beberapa hari yang lalu.
Andin dan Pak Rendra menggunakan satu mobil yang sama, sementara Angga, Darwis dan juga Sindi memilih mobil terpisah. Mereka memberikan kesempatan kepada Andin dan juga Pak Rendra untuk semakin dekat. Di dalam mobil, Sindi tidak tahan juga untuk tidak bergibah ria.
"Menurut kalian, Pak Rendra dan juga Andin itu sama-sama meliki perasaan dan Perhatian khusus nggak, sih?" Ungkap Sindi.
Darwis yang sedang fokus mengemudi mobilnya tiba-tiba memanting stirnya kekiri dan mendadak berhenti, sementara Angga menatap Sindi dengan lekat.
Kini mereka menatap Sindi bersama-sama.
"Kenapa? Apa perkataanku ada yang salah?" Tanya Sindi.
Angga dan Darwis bukannya tidak tahu dan tidak peka dengan apa yang mereka lihat, hanya saja mereka menepis kenyataan yang ada di depan mereka. Sebagai laki-laki mereka berdua paham segala bentuk perlakuan Pak Rendra kepada Andin tersirat penuh makna.
Selama ini, Andin menganggap Angga hanya sebatas kakaknya sendiri. Di situ Angga menyadari bahwa Andin ingin membuat batasan yang jelas terhadap dirinya, Angga tidak ingin merusak kedekatan dirinya dengan Andin hanya karena perasaan sukanya pada Andin, dengan cepat dia meyadarkan dirinya dan mengalah demi kebahagian Andin. Menjadi kakak adik sudah cukupnya saat ini.
__ADS_1
Begitu juga dengan Darwis, saat makan malam di puncak waktu itu. Darwis terang-terangan ingin meminta balikan dan berharap Andin mau menerimanya, namun sayangnya Andin memberi warning kalau saat ini luka di hatinya belum sembuh, dia masih trauma dengan hubungan percintaannya. Darwis sadar, itu adalah penolakan halus dari Andin.
"Kamu seperti tidak ada pembahasan lain saja!" Seru Angga.
"Bukan tidak ada pembahasan lain, aku hanya ingin tahu pendapat kalian saja!" Jawab sindi.
"Sudahlah, Ayo lanjutkan perjalanan, Bro!" Ucap Angga meminta agar Darwis mengemudikan lagi mobilnya.
Darwis memang sedikit kepikiran, Andin dan Pak Rendra begitu dekat dan mesra. Jika orang luar melihat mereka akan mengira mereka adalah pasangan suami istri yang harmonis, itu artinya harapannya semakin tipis. Darwis menghembuskan napasnya dengan kasar. Di belakang Sindi menatap punggung Angga dan Darwis bergantian.
"Rupanya kalian berdua masih mengharapkan Andin," gumamnya.
Setelah itu, Sindi memilih tidur. Dia tidur sepanjang perjalanan pulang hingga sampai di depan rumahnya, dia tidur dengan mulut menganga untung saja tidak ada bonus iler yang keluar dari sudut bibirnya.
Angga membangunkan Sindi dsri tidurnya.
"Sin, bangun sudah sampai!" Ucap Angga sambil menggoyang bahu Sindi.
"Oh, sudah sampai, ya?" Ucapnya sambil mengucek kedua matanya.
"Buruan turun!" Perintah angga.
Angga kemudian turun dari mobil dan mengambil koper milik Sindi.
Angga membantu membawakan koper milik Sindi masuk kedalam rumah. Keduanya tidak lulut dari CCTV hidup mata elang tetangga yang ada di sana, mereka mulai berkasak kusuk. Lumayan sore ini ada bahan gibah.
"Bunda, Aku pulang!" Teriak Sindi. Bunda Maia yang sedang asyik nonton tv bergegas bangkit dari sofa untuk menyambut anak gadisnya pulang dan bersiap untuk mengomelinya.
"Ayo, Ga,... masuk!" Ajak Sindi.
"Pulang juga kamu gadis nak,.....a,....l" Bunda Maia tidak meneruskan kalimatnya. Dia tidak jadi marah-marah melihat Sindi datang bersama seorang pria.
"Loh, kamu nggak pulang sama Andin? Ini siapa?" Tanya Bunda Maia senang dengan wajah berbinar, dia berharap agar anak gadisnya segera mempunyai pasangan.
"Sore, Tante! Saya Angga, kebetulan Andin ada keperluan lain jadi tidak bisa ikut mengantar." Jelas Angga.
"Oh, tidak masalah. Ayo duduk dulu, Nak Angga!" Ucap Bunda Maia sambil menarik tangan Angga untuk duduk di meja makan.
"Sin, Ambilkan minum! Pasti Nak Angga haus, kan?" Tanya Bunda Maia.
"Enggak kok, Tan."
"Ah, nggak usah sungkan gitu sama Bunda, Nak! Sin, buruan ambilkan minumnya!" Teriak Bunda Maia lagi. Sindi sebal dengan Angga, Bundanya bicara dengan tutur kata lembut. Sedangkan dengan dirinya yang notaben adalah anaknya malah dengan nada tinggi, seperti ngajak ribut.
__ADS_1
"Iya, Bun. Iya,... !"
Meskipun begitu, Sindi langsung menuju kulkas mengambil air dan memberikannya pada Angga.
Nih, minum. Setelah itu boleh pulang!" Tutur Sindi sambil menyodorkan minuman dingin.
"Ih, apaan sih, kamu ini! Orang baru datang di usir. Sudah Nak Angga, tidak usah perdulikan dia, anggap saja dia patung, ya? Buruan di minum," ucap Bunda Maia.
"Bukan begitu, Bun. Masih ada satu teman lagi yang junggu di dalam mobil. Mereka tidak bisa lama-lama," jelas Sindi.
"Kenapa temannya enggak kamu suruh turun sekalian? Ajak teman kamu itu makandi sini sekalian, mumpum sebentar lagi jam makam malam!" Seru Bunda Maia.
"Bun, lain kali saja, deh! Mereka berdua sibuk." Sindi mencoba menjelaskan ke Bunda Maia kalau Angga dan Darwis tidak bisa berlama-lama di rumahnya.
"No,no,no! Bunda mau siapkan makan malam untuk kalian, jemput teman kamu itu dan gabung makan malam sekalian, gih?"
"Tapi, Tante,...."
"Tidak ada bantahan! Bunda mau berterim kasih karena sudah membawa anak Bunda ini pulang dengan selamat," jawab Bunda Maia.
Angga sudah tidak bis berkata apa-apa lagi, dia merasa tidak enak hati untuk menolak Bunda Maia. Apalagi Bunda Maia langsung menyiapkan piring di meja makan, dan menghangatkan lauk-pauk.
"Aku nemuin Darwis du, ya?" Ucap Angga Pada Sindi.
"Maaf, ya. Gara-gara bunda aku, kalian jadi tertahan di sini!" Seru Sindi.
Angg keluar menemui Darwis, dia mengetuk kaca mobil lalu Darwis menurunkannya.
"Bro, turun dulu, deh!"
"Kenapa, Ga?"
"Itu, kita di suruh turun dan makan malam di sini dulu. Aku sudah berusaha menolaknya tapi ya begitu, emak-emak biasalah. Kekeh!" Tutur Angga.
"Oke, Ya sudah!" Akhirnya Darwis mau ikut. Dia memarkirkan mobilnya di halaman rumah Sindi. Saat keduanya memasuki rumah sindi, para ibu-ibu dengan tatapan sinar laser matanya mematap kearah mereka berdua.
"Hah, si Sindi pacarnya 2? Aku pikir laki-laki yang ganteng pertama tadi, eh ini ada lagi yang kedua. Kira-kira yang mana yang akan jadi menantu Bunda Maia, ya?" Ucap Ibu yang berbadan gemuk.
"Eh, jeng! Sepertinya yang Ganteng pertama itu tadi pacarnya, Sindi. Yang kedua itu sopirmya!" Seru Ibu berambut keriting asal bicara.
"Loh, jeng! Kalau anak ku dapat supirnya juga enggak apa-apa!" Sahut yang lainnya.
Bersambung!
__ADS_1
Jempol tinggalin ya!