
Setelah mengenakan baju, Samuel beranjak dari tempat tidur. Dia mendekati Amel lalu memeluknya. Di luar dugaan, Amel mendorongnya agar menjauh.
"Apa kamu sangat marah, sampai aku peluk saja tidak mau?" Tanya Samuel.
Amel tidak menjawab dia justru membuang menoleh ke arah lain.
"Sayang, maafkan aku! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lag." Bujuk Samuel.
Amel memang kesal dengan Samuel. Lalu dia menatap Samuel dengan tajam, tiba-tiba terlintas di kepalanya untuk menanyakan tentang kesuburan Samuel. Dia mendadak menyadari sesuatu, sekian lama dia bercinta dengan Samuel namun sampai sekarang dia belum kunjung hamil juga. Dia tahu selama ini Samuel tidak pernah membuangnya keluar, pikirannya semakin kacau, emosinya semakin bergemuruh. Karena Amel pikir itu sangat penting dia ketahui sebelum besok menikah.
"Kamu jawab jujur pertanyaan ku! Apa kamu benar-benar subur?"
Samuel terkejut mendengar pertanyaan Random Amel, padahal saat ini mereka sedang tidak membahas itu lalu tiba-tiba Amel menanyakan hal tersebut.
""Kenapa kamu bertanya seperti itu, Beb? Tentu saja aku ini subur, dahulu aku pernah melakukan pemeriksaan kedokter. Kenapa memangnya?"
"Kalau memang kamu subur, kenapa sampai sekarang aku tidak hamil-hamil juga?" Tanya Amel lagi.
"Soal itu, mana aku tahu, Beb. Yang penting dokter bilang aku sehat dan subur, kita mungkin kurang mencobanya. Makanya, kamu belum hamil juga,"Samuel tetap bersikukuh pada pendiriannya kalau dirinya adalah pria yang subur.
"Lalu, kenapa saat itu Andin juga tidak hamil pada saat masih jadi istrimu?" Seru Amel lagi.
Amel tahu persis bagaimana perjalanan rumah tangga Andin dan Samuel dahulu yang juga belum mempunyai keturunan. Jangan-jangan Samuel tidak subur, dia susah memiliki anak.
Samuel terkejut lagi mendengar pertanyaan Amel yang menohok itu. Dia mulai ragu, Lantas bagaimana jika ternyata dirinya tidak dapat memberikan keturunan? Mungkinkah pemeriksaan dirinya waktu ada kesalahan? Tetapi, dia yakin dengan jelas melihat hasil pemeriksaan itu bahwa di adalah Subur. Samuel memegangi kepalanya yang mendadak pusing, dia kemudian duduk kebaki di tepi ranjang.
"Apa kamu sekarang meragukan aku? Kamu takut aku tidak bisa memberikan kamu anak?" Tanya Samuel.
Ya, tentu saja aku khawatir dengan itu semua! Jika kamu benar-benar mandul tidak ada yang dapat di banggakan dari dirimu sama sekali!" Tegas Amel.
"Lalu sekarang kamu mau bagaimana? Apa kamu akan membatalkan pernikahan kita besok?"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Samuel, sementara Samuel hanya diam di perlakukan seperti itu.
"Membatalkannya? Enak sekali kamu bilang begitu? Kamu tahu berapa milyar uang yang sudah di gelontorkan krang tuaku untuk acara pernikahan itu? Kamu seenaknya bilang mau membatalkan, mau di taruh dimana muka keluargaku!" Teriak Amel dengan histeris.
__ADS_1
Dikamar sebalah, Mama Arum dan juga perawatnya sampai mendengar teriakan Amel itu.
"Sus, apa itu menantuku? Apa dia sudah pulang?" Tanya Mama Arum ketakutan.
"Bukan, Bu. Itu bukan menantu, Ibu!" Sahut Perawat utu asal-asalan.
"Iya benar, menantuku tidak mungkin berteriak seperti itu. Andin menantuku itu baik hati tidak pernah bersuara lantang apa lagi sampai berteriak sepeeri itu! Hi, takut!"
"Iya, makanya kita di sini saja ya, Bu! Ibu mau menonton acara apa?" Seru perawat itu mengalihkan perhatian Mama Arum.
Mama Arum mengangguk sambil menutup telinga.
"Aku hanya bertanya, apa kamu akan membatalkannya setelah kamu di penuhi keraguan seperti itu. Aku bertanya bukan memintamu membatkannya!" Seru Samuel, dia menyahut dengan nada yang tinggi juga.
Tensi mereka berdua terlihat sama-sama meninggi, keduanya bahkan saling menbuang muka.
"Apapun yang terjadi, acara besok tidak boleh gagal. Mengerti!" Seru Amel.
Sudah kepalang basah begini, tidak mungkin mereka akan membatalkan acara pernikahan mereka. Amel bisa-bisa di keluarkan dari silsilah keluarga kalau sampai membuat malu keluarga besarnya.
Kini dia harus menelan bulat-bulat pilihannya. Dia dari awal yang memutuskan semuanya, jadi dia harus terima segal konsekuensinya.
"Kita sudah terlambat untuk pergi kesalon, sebaiknya kita bergegas," ucapnya.
Tanpa menjawab ucapan Amel, Samuel berdiri dan mengikuti Amel di belakang. Mereka berdua menuju salon tempat mereka membuat janji sebelumny.
****
Andin kini masih berada di Penthouse milik Pak Rendra tengah mengobrol asyik dengan Hana.
"Tante Andin,..."
"Ya, kenapa sayang!"
"Menurut Tante, Daddy aku gimana? Dia baik nggak?" Tanya Hana, Andin mengernyitkan dahinya.
"Daddy Hana baik orangnya, kenapa Hana bertanya seperti itu?"
__ADS_1
"Kalau Daddy Hana baik, Tante mau nggak pacaran sama Daddy?"
Andin yang saat itu sedang minum menyemburkan minuman yang ada di dalam mulutnya. Dia kaget dengan pertanyaan Hana.
"Ma-maksud Hana?"
"Tante,.. Hana kasihan sama Daddy. Hana sering melihat Mommy jalan di temani Om, tapi Hana tidak pernah melihat Daddy jalan dengan seseorang. Tante Andin tau kan, kalau Hana sangat menyukai Tante Andin? Hana akan senang kalau Tante mau jadi pacar Daddy," ucap Gadis cilik itu.
Andin melongo, dia tidak menyangka kalau dia akan di lamar gadis cilik itu menjadi pacar ayahnya.
"Hana tau artinya pacar?" Tanya Andin masih dengan rasa tidak percaya.
"Tau! kata Mommy, pacar itu teman dekat. Kalau nanti menikah maka akan menjadi orang tua Hana. Makanya Hana pikir, kalau Tante Andin jadi pacarnya Daddy, berarti nanti kalau menikah Tante jadi mamaku, ya kan tante?"
Andin speechless mendengar penjasan Hana tersebut.
"Astaga Hana, Mommy kamu cerita hal-hal begini pada kamu?" Tanya Andin tidak percaya.
"Memangnya Hana tidak keberatan kalau melihat Daddy dan Tante Andin dekat?" Tanya Pak Rendra yang baru saja datang dari luar.
Daddy lupa, ya? Bukankah Hana minta Daddy buat jadiin Tante Andin jadi Ibunya Hana?" Jawab Hana dengan santainya. Memang benar, sebelumnya Hana pernah menceritakan sosok tante cantik dan meminta Pak Rendra untuk menikahinya.
Lagi-lagi Andin terbatuk-batuk mendengar perkataan Hana tadi. Refleks Pak Rendra menepuk-nepuk punggung Andin, dan memberikan air minumny kepada Andin.
"Minum dulu, pelan-pelan saja. Kenapa buru-buru, sih?" Tutur Pak Rendra. Andin meneguk air minum pemberian Pak Rendra sampai habis.
Pak Rendra kemudian menatap ke arah Hana.
"Hana sayang,... permintaan kamu itu belum bisa Daddy wujudkan dalam waktu dekat. Tante Andin harus memikirkan banyak hal untuk menentukan dia mau menikah sama siapa, karena menikah bukan untuk main-main. Yang penting Hana tau kalau Daddy akan selalu berusaha mewujudkan semua keinginan Hana."
"Tante,... tolong terima Daddy, ya? Please! Biar Daddy nggak kesepian lagi kalau Hana ikut Mommy." Mohon Hana sambil mengatupkan kedu tangannya ke depan dada.
Andin benar-benar tidak mampu berkata apa-apa, bocah cilik itu membuatnya kehabisan kata-kata.
"Hm,... itu, benar kata Daddy kamu. Tante harus memikirkan banyak hal untuk menikah lagi." Jelas Andin.
"Oke Tante!" Jawab Hana penuh semangat. Diam-diam tangan Pak Rendra menggenggam erat jemari Andin, keduanya tidak banyak bicara. Namun, dari tatapan mereka berdua mengisyaratkan sesuatu yang penuh makna.
__ADS_1
Bersambung!