KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 45. Di palak


__ADS_3

Ponsel Darwis berdering, dia meminta izin untuk mengangkat telponnya. Tidak lama kemudian dia kembali, lalu meminta izin untuk pulang terlebih dahulu.


"Maaf, Ga, Sin,... aku harus pulang duluan. Klien ku yang besok akan sidang tiba-tiba tidak dapat di hubungi, aku sedang menangani kasus yang sensitif. Jadi aku pamit duluan, ya?"


"It's oke, nanti biar gue naik taxi saja," sahut Angga.


"Habiskan saja dulu makannya, Nak Darwis!"


"Iya, Tante. Masakan tante enak, terima kasih untuk makan malamnya yang lezat ini, Tan." Ujar Darwis.


Seqlah Darwis menghabiskan makanannya, dia menurunkan barang-barang milik Angga lalu bergegas menuju kerumah kliennya.


Darwis menjalankan mobilnya dan menysuri jalan raya. Jam segini adalah jam rawan macet karena bersamaan dengan jam pulang kerja. Benar saja, banyak pengemudi motor yang memotong jalan seenaknya sehingga Darwis harus mengerem mendadak.


****


Sepulang dari mengantar Andin Pak Rendra berniat mampir ke indoapril yang berada di dekat apartementnya. Dia sengaja berjalan kaki dan hanya membawa kunci mobil serta selembar uang seratus ribu saja. Ada sesuatu yang harus dia beli, sepulang dari Indoapril Pak Rendra di cegat oleh 4 orang anak muda berseragam sekolah yang di tutupi menggunakan jaket.


"Malam, Om! Boleh minta tolong, nggak?" Tanya salah satu dari mereka.


"Hm, ada apa?" Tanya Pak Rendra masih dengan gaya coolnya. Satu tangannya dia masukkan kedalam saku celananya.


"Bisa minta sedekahnya nggak, Om? Kami belum merokok seharian ini," ucap temannya yang lain. Pak Rendra mencoba bersabar menghadapi ulah para remaja ini. Bersedekah kok, untuk beli rokok. Pemikiran kolot macam apa itu.


"Kalian sudah malam kenapa berkeluyuran begini? Apa orang tua kalian tidak mencari kalian?" Ucap Pak rendra mencoba menasihati mereka. Namun Pak Rendra salah besar, keempat remaja itu malah menertawakan dirinya.


"Huuust,.. jangan menasihati kami! Gimana Ada enggak, om? Pasti ada dong? Masa pakai jam tangan mewah, dan sepatu mewah enggak ada, kan tidak mungkin ya, kan?" Ledek salah satu dari mereka. Temannya yang lain ikut menganggukkan kepala.


"Tidak ada sedekah!" Jawab Pak Rendra Singkat. Dia kemudian ingin melanjutkan perjalanannya, namun lagi-lagi dia di cegat oleh salah satu dari mereka.


"Eits,.. kok buru-buru banget, Om! Kasihlah keponakanmu ini uang jajan." Serunya, benar menjengkelkan.


"Kalau kalian masih seperti ini, saya akan menelpon kepala sekolah kalian!" Ancam Pak Rendra.


Lalu tiba-tiba salah satu di antara mereka maju kedepan dan menabrakan dirinya ke tubuh Pak Rendra.


"Aduh!" Teriaknya, Dia yang menabrakkan diri dia pula yang berteriak.


"Om Sudah menabrak orang kok enggak minta maaf?" Tanya orang yang menabrakkan diri ke Pak Rendra tersebut. Bemar-benar kesabaran Pak Rendra sedang di uji malam ini, anak-anak sekarang ada-ada saja idenya untuk memeras seseorang.


"Kalian sebenarnya mau apa?"Tanya Pak Rendra, saat ini dia tidak memegang uang. Setelah berbelanja tadi sisa uangnya 5 ribu rupiah.

__ADS_1


"Nah, gitu dong! Kami cuma mau minta uang jajan kok!"


"Ini sisa 5 ribu kalian mau? Ambil saja, nih!" Ucap Pak Rendra sambil menyodorkan uang kembalian tadi.


"Om jangan bercanda! Om pikir kami ini anak TK! Gila saja 5 ribu, cukup apaan!" Ucap Anak yang paling tinggi.


"Kalian tahu tidak, memalak seseorang itu adalah tindakan kriminal? Masih muda kok sudah punya otak kriminal, mau jadi apa kalian nanti jika sudah dewasa?" Jelas Pak Rendra kesal.


"Tidak usah banyak bacot! Berikan saja kami uang 100 ribu, setelah itu kami akan pergi!"


"Tidak ada!" Jawab Pak Rendra seraya berjalan hendak meninggalkan mereka. Namun, anak-anak nakal itu tidak membiarkannya pergi begitu saja.


"Kalian ini memang harus di beri pelajaran supaya jera!" Seru Pak Rendra.


"Wah, Om mau memukul kami? Mana boleh memukuli anak di bawah umur!"


"Ck, anak dibawah umur tidak ada yang memiliki otak kriminal seperti kalian!" Sahut Pak Rendra.


"Orang ini sepertinya butuh tanda cinta dari kita, nih!" Ucap si jangkung.


"Ok, kesini kalian semua. Kebetulan sudah lama saya tidak adu jotos," tantang balik Pak Rendra sambil memasang kuda-kuda. Anak-anak ini sepertiny tidak bisa diberitahu dengan cara halus, dan memang harus di beri pelajaran.


"Hei, apa yang kalian lakukan! Teriak seseorang. Mereka semua menoleh ke arah orang baru saja datang tersebut.


Darwis kemudian mendekati mereka. Dia kebetulan pulang melewati Apartement Pak Rendra.


"Ada apa ini?" Tanya Darwis.


"Kebetulan kamu datang, Bro! Apa kalian tahu, dia ini adalah seorang pengacara? Kalian berempat mau mengeroyok saya, kan?" Tanya Pak Rendra.


"Bohong! Jangan memfitnah, Om! Bukankah Anda yang akan mau menghajar kami lebih dahulu?"


"Apa itu benar, Pak Rendra?" Tanya Darwis.


"Apa menurut kamu, saya orangnya seperti itu? Mereka mau memalak aku meminta uang untuk membeli rokok!" Seru Pak Rendra.


"Kalian ini, mau jadi apa negara ini kalau anak mudanya seperti kalian!"Darwis ikut mengomeli mereka berempat.


"Kalian orang dewasa ini, sudah pelit sok menceramahi lagi!"


Darwis melangkah kedepan kemudian menjewer telinga salah satu diantara mereka.

__ADS_1


"Pulang! Sebelum ku seret kekantor polisi!" Ancam Darwis.


"Huuuu, takut!" Ledek anak yang berbadan tinggi.


"Kalian tidak percaya, kalau aku bisa menyeret kalian ke kantor polisi? Dasar bocah tengik di kira aku bercanda!" Ucap Darwis.


Anak-anak itu tidaj terima di kataikan tengik oleh Darwis, salah seorang dari mereka maju dan memukul wajah Darwis.


Bug!


Pak Rendra dan Darwis kaget, anak itu beraji memukulnya. Selanjutnya yang terjadi adalah mereka berdua dikeroyok anak-anak berandal itu, Pak Rendra dan Darwis tentu saja memberi perlawanan belum sempat mereka ado jotos dengan benar. Security datang melerai mereka.


"Hentikan!" Teriak Pak Tarno. Seketika mereka semua menghentikan perkelahian mereka itu, baju Pak Rendra dan juga Darwis sudah terlihat kusut dan acak-acakan karena di tarik para anak berandalan itu.


"Maaf Pak Rendra, apa yang sedang terjadi?" Tanya Pak Tarnk lagi.


"Telpon polisi sekarang! Anak-anak berandal ini harus diberi pelajaran supaya jera!" Seru Pak Rendra dengan napas terengah-engah.


Pak Tarno langsung menghubungi polisi.


"Tunggu kalian, ya? Aku ini pengacara! Besar sekali nyali kalian menyerang kami!" Ucap Darwis.


"Cih, pengacara? Pengangguran banyak acara kali!" Ledek si gendut.


"Kamu nantangin saya? Lihat saja nanti, akan aku beri pelajaran kalian!" Ucap Darwis lagi geram.


"Kalian lihat saja nanti, akan ku tuntut kalian! Aku ini Bisness Man. Menuntut kalian hal yang mudah untukku!" Gertak Pak Rendra juga.


"Hahaha,... Bisness Man katanya, Guys! Bisness Man apa yang cuma punya uang 5 ribu? Bisness Man kere?" Ledek si tinggi.


"Sialan! Kamu pikir saya bercanda? Mau masuk penjara? Ayo kita buktikan di kantor polisi!" Seru Pak Rendra kesal.


"Yang satunya mengaku sebagai pengacara. Pengangguran banyak acara! Kemudian yang satu lagi mengaku sebagai Bisness Man. Bisness Man kere!" Ledek gendut lagi.


Tidak beberapa lama kemudian, polisi datang ke TKP. Mereka semua di giring kekantor polisi tarmasuk Pak Rendra dan juga Darwis.


"Bro, apa kita juga akan kena tuntutan hukum?" Tanya Pak Rendra kepada Darwis.


"Tentu saja tidak! Tenang saja. Aku akan mengurus semuanya," jawab Darwis.


Bersambung!

__ADS_1


Jempolnya bestie,..


__ADS_2